
Pagi menyingsing di temani hawa sejuk sehabis guyuran hujan lebat semalam, di kamar luas dengan ranjang besar itu terdapat dua insani yang tengah memeluk dalam dekapan hangat yang begitu nyaman.
Sheena terbangun lebih dulu karena cahaya matahari yang masuk menyilaukan matanya, Ia menyadari jika tangannya kini melingkar di pinggang Jayden membuat Sheena mengulum senyum sekilas, malu.
Sementara pria itu tetap tenang dalam tidurnya, Sheena sedikit mendongak untuk menatap wajah tenang yang kini sedang terlelap, pahatan wajah Jayden memang sungguh sangat sempurna, dan yang paling Sheena suka adalah hidungnya yang sangat mancung, sungguh bikin gagal fokus.
"Hihi, lagi tidur aja ganteng," ungkapnya terkikik sendiri.
Matanya berpendar menatap ke seluruh arah, masih tak percaya dengan semuanya, takdir begitu pandai mengatur skenario yang begitu indah, seperti saat ini, pemandangan pertama yang ia lihat saat bangun tidur adalah melihat seorang jayden Alexander, yang bahkan tak pernah Sheena bisa gapai sebelumnya.
Menatap lekat, perlahan jarinya tergerak menyusuri setiap inci wajah Jayden, sejajar dari atas kening lalu turun ke bawah melewati hidung bengir itu, pelan hingga mencapai bibir namun belum sempat sampai kesitu, tangannya keburu di cekal hingga membuatnya terkesiap kaget.
Tep! perlahan mata setajam elang itu terbuka. "Apa yang kau lakukan?" pria Itu beraut datar dengan suara beratnya.
Seperti kembali ke setelan pabrik, dingin! ck, ck, Sheena bersungut-bersungut.
"Hehehe maaf tuan, kamu terlalu tampan jadi tangan ku tergerak sendiri tadi," kilah Sheena nyengir kuda.
"Pfffft!" pria itu membuang muka ke sembarang arah, percayalah di puji seperti itu, bahkan untuk seorang jayden Alexander bisa salting.
"Tuan, kamu kenapa? salting kah?" goda Sheena tersenyum jahil.
"Jangan mengada-ada, apa itu salting?" kilah Jayden ingin tetap mempertahankan sikap coolnya.
"Ituloh salah tingkah, shy shy cat, malu-malu meong, kaya tuan sekarang," tutur Sheena menjabarkan.
"Tidak ada hal yang seperti itu, bangun lah jika kau masih bermimpi," ujar Jayden masih berkilah.
"Isssh," Sheena mencebik. "Udah ketauan jelas masih aja gak ngaku."
Jayden di buat geleng-geleng kepala. "Lebih dari itu, kenapa kau masih tidak merubah panggilan mu."
"Eh?" Sheena menarik senyum samar. "Maksudnya apa ya, tuan?"
"Itu!" sergah Jayden cepat. "Kenapa kau masih memanggil tuan?"
"Kan kita memang tuan dan asisten, kita kan masih ada kontrak dua bulan lagi."
Jayden maju lebih mendekat. " Itu tidak di perlukan lagi, di saat kau akan menjadi ratu di rumah ini, untuk apalagi status sebagai asisten."
__ADS_1
Sheena mengerjap-ngerjap, terperanjat, tep! di tangkupnya kedua pipi Jayden, hingga bibir pria itu melengkung membentuk huruf O, percayalah hanya Sheena yang punya keberanian seperti ini.
"Tuan, apakah ini sungguh dirimu? atau makhluk jadi-jadian yang lagi nyamar?"
Jayden speachless dengan pertanyaan Sheena. "Kau bosan hidup?" katanya berpura-pura mengancam.
Pertanyaan itu kontan membuat Sheena menghela nafas lega. "Haaaah! ternyata dugaan ku salah, ini benar-benar tuan Alexander."
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" tanya Jayden.
"Tuan terlalu banyak bicara biasanya kan irit bicara, tuan juga jadi sering menggombal."
"Kau berfikiran itu tentang ku?" Sheena mengangguk, mengiyakan.
Jayden menggeleng pelan. "Sepertinya kau salah besar."
"Aku seperti ini hanya padamu," kata jayden mendekat, Sheena terkesiap bola matanya hampir menyatu karna wajah Jayden yang sangat dekat.
"Apa kau tidak suka aku yang seperti ini?" tanya jayden dengan suara dalam.
Sheena menggeleng cepat, kedua sisi pipinya bersemu merah. "Hangat ataupun dingin, aku selalu menyukai tuan."
Sheena mendesis sebal hendak berkata lagi, dering ponsel dari atas nakas membatalkan niatnya.
Jayden menoleh, yang berdering adalah ponsel miliknya, dengan cepat ia mengambilnya, tertera nama 'Mr. Ravin' di sana, dia adalah asisten pribadi sang kakek.
Jayden menggeser ikon berwana hijau, telepon tersambung.
"Tuan muda, kondisi tuan Yudistira semakin memburuk, anda segeralah kesini."
Suara penuh kepanikan dan kecemasan itu seketika membuat Jayden terkesiap, pun dengan Sheena yang merasakan perubahannya.
"Tuan muda?"
"Baiklah, aku akan segera kesana." Tut! sambungan terputus.
Raut wajah jayden berubah drastis, membuat Sheena ikut panik. "Tuan ada apa? apa terjadi sesuatu?"
"Kondisi kakek semakin memburuk, aku harus segera pergi." Jayden bangkit dari ranjang, bersiap-siap, Sheena membantu menyiapkan jas pria itu, suasana mendadak suram.
__ADS_1
Selang beberapa saat jayden sudah siap dengan setelan jas rapi. Pria itu memasukan gawainya kembali setelah menghubungi Kevin.
Sheena menghampiri. " Tuan, apa aku boleh ikut?"
Jayden berhenti. "Tidak, kau tetap di sini."
"Aku juga mau melihat keadaan kakek."
Jayden bergeming seketika, menatap lamat pada Sheena, padahal kakeknya telah banyak menaruh rasa sakit pada Sheena, tapi gadis ini masih saja perduli?
"Tidak, tetaplah di sini." bagaimana pun hanya di mansion lah tempat teraman untuk Sheena, para musuhnya cepat atau lambat tentu akan mengetahui tentang Sheena, dan pastinya akan menjadikannya target ancaman karna Sheena adalah kelemahannya.
Sheena mau tak mau menurut, mengangguk pelan. "Tuan, hati-hati."
Jayden mengangguk, raut wajahnya kali ini cukup serius. sebab ia juga berniat akan mengunjungi markas besar sang kakek, karna biasanya saat sang kakek berada di titik terlemah seperti ini, markas mafia terbesar itu pasti akan kehilangan arah, ricuh Karna tak ada yang memimpin dan Jayden lah yang akan menjadi pemimpin sementara.
Melihat ke sekeliling sekilas, Jayden sedikit menunduk mengecup singkat kening Sheena. "Kau juga berhati-hati lah di sini, jika terjadi sesuatu, cepat hubungi aku."
Sheena mengangguk, lalu deru kendaraan mobil bersahutan di luar, Kevin sudah datang, Jayden lalu keluar lalu masuk ke mobil untuk menuju ke rumah sakit tempat sang kakek di rawat.
...----------------...
Di rumah sakit, di ruang VVIP yang di jaga ketat, para perawat dan seorang dokter berdiri mengitari brankar yang mana terdapat tuan Yudistira di sana, yang mana masih terlihat santai tak kurang satu apapun.
"Bagaimana? apa dia percaya?" tanya tuan Yudis pada asistennya yang berdiri di samping.
"Tenang tuan, akting saya cukup terpercaya," kata pria berumur sekitar lima puluhan bernama Ravin itu.
"Bagus, buat seakan-akan aku memang begitu sekarat."
"Baik tuan besar!" ucap semuanya di ruangan itu dengan serempak.
Tuan Yudistira tersenyum miring. "Jayden, jika perkataan ku tak bisa lagi menekan mu, maka mau tak mau aku harus melakukan ini."
"Akan ku manfaat kan sifat baktimu padaku."
"Kau sudah terlalu jauh tersesat, maka kau harus segera kembali pulang."
__ADS_1
Apapun yang terjadi, keinginan Yudistira harus terwujud, Jayden harus tetap melanjutkan perjodohannya dengan keluarga de cullen, entah itu dengan Vania atau pun Viona, yang terpenting adalah keuntungan yang akan di dapatkannya.