
Mereka terdiam selama beberapa saat, Jayden yang duduk bergeming di tempatnya, dan Sheena yang terpekur di sofa dengan canggung. Mereka seperti dua sejoli yang baru merasakan kasmaran, benar-benar tak ada yang bersuara, hening, dengan pikiran masing-masing.
Sheena menggigit bibir, dadanya bergemuruh hebat, tak nyaman dengan kecanggungan yang menyeruak, ia hendak bersuara, namun di saat itu jayden juga hendak bicara.
"Anu ... tuan ... "
"Sheena!"
"Eh, ya?" Sheena melebarkan mata. "K-kenapa tuan?"
"Tidak, kau duluan," ucap Jayden.
"Eh enggak, tuan duluan saja," kata Sheena mempersilahkan, tersenyum kikuk. Mereka sama-sama serba salah.
Namun Jayden menegakkan tubuhnya. "Hari sudah semakin gelap, istirahat lah."
"Tuan!" Sheena ikut berdiri menahan langkah Jayden. "Apa arti ciuman kita tadi."
"A-aku gak ngerti, tapi aku bukan wanita rendahan yang seenaknya bisa kau pakai seperti tadi."
Jayden membalikkan badan, rahangnya mengeras dengan tatapan tajam. "Kenapa kau berpikir seperti itu?!"
Sheena ciut, ia menunduk. "Aku ... aku ... " mendadak lidahnya kelu, irama jantung yang semakin cepat membuat ia tak tahu harus berkata apa.
Jayden mendekat, mengikis jarak di antara mereka kembali.
"Sheena,ayo kita menikah!"
Kata yang terlontar itu sukses membuat Sheena terdiam.
...----------------...
Jayden menyandarkan punggung di kursi kebesarannya, mengusap bibir bawah tampak berfikir, ingatannya kini malah terlempar jauh kembali pada masa ia bersama gadis manis
Jayden ingat saat dia dan Kayla berjalan di sekitar lorong rumah sakit membuat kelimpungan para perawat dan. dokter yang mencari keberadaan mereka, Jayden dan Kayla sering bertemu diam-diam, membolos dari pemeriksaan rutin yang selalu menyiksa Jayden.
__ADS_1
Bocah lelaki yang berusia sepuluh tahun yang saat itu bernama Daniel, tak merasa kesepian lagi sejak kehadiran seorang gadis kecil berpita merah bernama Kayla.
"Kak, kalau emang benel kita nikah kalau sudah besal, emang kakak mau nunggu aku besal?"
"Tentu saja mau, aku akan menunggu mu karna hanya di dekat kamu rasa sakit ku bisa berkurang," kata Daniel kecil menjawab pertanyaan Kayla saat itu.
"Benarkah?" mata gadis kecil itu berbinar, Daniel mengangguk, karna terlampau senang gadis itu berjingkrak dengan bersorak gembira.
"Belalti aku obat dong buat kak Daniel," kata Kayla membuat Daniel kecil tersenyum saat itu.
"Benar, kamu adalah obat untuk ku." mereka ada di bangku taman saat itu, kabur dari kejaran para suster yang meminta mereka untuk tetap diam di brankar, Daniel mencebik jika mengingatnya, rumah sakit memang merepotkan!
"Kakak ini," Kayla mengulurkan sesuatu untuk nya, membuat Daniel terperanjat.
"Kenapa kau memberikan ku jepitan merah mu?"
Kayla, si gadis kecil bermata bulat itu tersenyum. "Untuk kenang-kenangan."
Jayden membuang nafas panjang ke udara, mengingat kenangan indah sekaligus menyakitkan itu membuat rasa sakit di kepalanya kembali kambuh.
Di saat itu Jayden seperti kehilangan cahaya hidupnya, spekulasi berujung kecurigaan pun ia layangkan pada sang kakek, seseorang yang mengadopsi sehari setelah ia kehilangan kedua orangtuanya.
Saat itu seorang pria berbadan tegap berwajah tegas mendekati dan berbicara padanya, di saat ia masih meraung pada semesta kenapa atas kehilangan orang tuanya.
"Hai, Daniel Wicaksono, kau tahu siapa aku?" ucap kakeknya saat itu.
Ia tentu tak mengerti dan hanya menggeleng. Lalu pria dengan tongkat di tangan kanannya itu berjongkok, mensejajarkan tinggi tubuh dengannya.
"Aku adalah teman karib ayahmu, mulai hari ini aku yang akan merawat mu."
"Tapi aku ingin ayah dan bunda."
"Mereka sudah tak tidak ada, pahami itu, mulai hari ini kau hanya hidup sendiri, bersama dengan ku."
"Panggil aku Kakek," katanya kemudian, tatapan mengintimidasi itu, Daniel ingat sekali.
__ADS_1
"Dan mulai sekarang, nama mu adalah Jayden, bukan Daniel lagi, tapi Jayden Alexander."
Lalu semuanya berubah setelah hari itu, hidupnya bukan untuknya lagi. Daniel mulai hidup dan terbiasa dengan nama Jayden Alexander yang di beri sang kakek.
Ia juga ingat saat hari di mana, sang kakek marah karna dia sering bertemu diam-diam dengan gadis kecil yang bernama Kayla.
"Jauhi dia Jayden, dia tak baik untuk mu."
"Kenapa? hanya Kayla yang mau berteman dengan ku, di saat anak-anak lain yang aku temui di sini, menatap penuh ketakutan padaku, hanya Kayla yang menenangkan ku."
Namun lagi-lagi tatapan mengintimidasi itu membuat Jayden kecil menjadi ciut, dan esoknya ia baru mengetahui jika Kayla sudah tak ada di rumah sakit tempat ia di rawat.
Di mana ia sekarang? Jayden tak pernah tahu, bertahun-tahun ia mencari, tak pernah ada titik temu, sampai akhirnya ia di sibukkan oleh berbagai aktifitas sebagai pewaris tunggal juga cucu seorang mafia besar, Yudistira Alexander, Jayden perlahan melupakan tujuannya untuk mencari Kayla.
Namun kenangannya bersama Kayla tak akan pernah ia lupakan, terlalu berharga meskipun berujung menyakitkan.
Lalu Setelahnya selama bertahun-tahun menjaga jarak dari wanita, meyakinkan diri jika suatu hari dia akan bertemu Kayla, takdir malah mempermainkannya dengan mempertemukan dirinya dengan seorang gadis yang bernama Afsheena Daisy.
Lalu kini ia terbagi antara menunggu Kayla atau membuka hati yang selama ini beku dan hanya bisa di cairkan oleh Afsheena seorang, dia bimbang.
Di tatapnya jepitan merah yang masih di genggamannya hingga kini. Teringat kembali perkataan Dava tempo lalu.
"Hidup itu terus berjalan Jay,kita gak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi setidaknya jangan sampai menyesal untuk hari ini."
"Kayla, gadis yang selama ini lo cari, mungkin sekarang dia udah bahagia entah di belahan dunia bagian mana, yang pasti jika emang kalian berjodoh pasti di pertemukan, lah ini? enggak kan?"
"Lo cuma membuang waktu doang Jay, mending nikmati yang sekarang, jika memang suatu hari ada wanita yang berhasil naklukin gunung es lo itu, gue harap lo gak akan nyangkal jika wanita itu yang akhirnya di takdirkan untuk lo, walaupun bukan Kayla."
Nasihat panjang lebar Dava waktu itu kini terngiang di otaknya, kini benar apa yang di katakan Dava, ada wanita yang berhasil menaklukkan nya, dan itu bukan Kayla.
Apa inilah saatnya Jayden membuka lembaran baru? bukan untuk melupakan tapi berjalan ke depan, tidak selalu harus menengok ke belakang.
"Kayla ... maaf, sepertinya aku harus membuat keputusan ini."
"Di mana pun kamu, ku harap kau juga bahagia, sama seperti yang ku rasakan saat ini."Batin Jayden meremat jepitan merah itu.
__ADS_1