
Jayden mengamati dengan seksama ke sekelilingnya, bangunan ini tak terlalu luas, persegi lebar yang katanya di sebut sebagai ruang tamu ini mungkin hanya sekitar 2x4 m, ada dipan minimalis di sisi kiri, kursi kayu yang sudah renta di buktikan dari suara berderit keras saat ia dudukan, panti asuhan ini terbilang sederhana namun terlihat sangat nyaman karena banyaknya pohon-pohon di sekitarnya dan rumahnya yang di dominasi oleh banyak jendela yang terbuka, hingga udara sejuk itu bisa di rasakan hingga ke dalam rumah.
Kedua wanita yang duduk di sampingnya masih asyik bercengkrama seperti seorang ibu dan anaknya yang sudah terpisah lama, begitu harmonis.
Melihat wanitanya tersenyum sangat cantik setelah beberapa saat yang lalu menangis tersedu-sedu karena terharu membuat Jayden ikut tersenyum diam-diam, syukurlah, batinnya.
Belum ada topik yang berat, mereka masih mengulang sejarah saat Sheena di rawat di panti ini selama beberapa minggu sebelum akhirnya di adopsi oleh keluarga pak Hanif.
Ibu Ratih tersenyum, "Bunda bersyukur karena pak Hamid dan Bu Nafisah begitu menyayangi mu, dan membesarkan mu dengan penuh cinta."
Sheena tersenyum. "Ini semua juga berkat bunda, jika saja saat malam itu bunda tidak menemukan, entah bagaimana nasibku."
Bu Ratih menepuk pelan punggung tangan Sheena. "Itu sudah takdir Tuhan nak."
Hening sejenak, Sheena menoleh menatap Jayden, dari sorot matanya gadis itu seperti meminta persetujuan, Jayden perlahan mengangguk.
"Bunda, apa bunda tahu di mana panti asuhan (terima kasih bunda)"
Kedua alis ibu Ratih bertaut. "panti asuhan terima kasih bunda?" ia sendiri seperti baru pertama kali mendengar nama panti asuhan.
Sheena mengangguk. Sebentar, aku ada fotonya." gadis itu lalu merogoh siling bag nya dan menunjukkan sebuah foto pada ibu Ratih.
"Ini, apa bunda mengenalinya?" tanya Sheena.
"Ah, foto ini, bunda ingat," katanya membuat kedua pasangan itu terperanjat.
__ADS_1
"Saat pertama kali menemukan kotak hitam yang ada bersama mu, bunda memeriksanya dan menemukan foto ini, namun bunda tidak terlalu teliti hingga tidak tahu nama panti asuhan itu."
"Tapi ... apa bunda tahu di mana panti asuhan ini?"
Dahi ibu Ratih berkerut dalam, matanya memejam mengingat-ingat. "Sebentar ... sepertinya bunda ingat."
Ia lalu beranjak dari kursi tempatnya duduk, beralih ke laci kecil di pojok ruangan, ia mencari-cari sesuatu di sana, setelah menemukan nya ia kembali lagi.
"Bunda ingat, dahulu saat kamu masih berada di sini, ada seorang wanita yang sering mengunjungi panti ini, ia selalu menyumbang untuk panti dan selalu berpesan untuk menjaga mu baik-baik.
Sampai akhirnya kamu di adopsi wanita itu tak pernah kembali lagi setelah memberikan sejumlah uang yang banyak untuk panti, bunda ingat dia pernah menyebut nama panti asuhan yang kamu sebut, mungkin dia bisa menjadi petunjuk untuk mu."
Sheena menjadi antusias, entah kenapa dadanya menjadi berdebar-debar seiring dengan pencarian ibu Ratih di buku usang yang dahulu ada buku pemasukan dan pengeluaran panti.
Sheena melihat, matanya membesar seketika demi melihat nama yang tertera di situ.
"Kanaya pradipta." gumamnya lirih, Jayden juga melihat ia menyadari keterkejutan wanitanya.
"Kenapa? kau mengenalnya?" tanya Jayden.
"Tuan ... dia?"
"Siapa nak? apa kamu mengenalnya juga?" tanya ibu Ratih yang juga ikut penasaran.
Sheena mengangguk, ia masih tak percaya, kenapa dunia begitu sempit? konspirasi macam apa ini?
__ADS_1
...----------------...
"Maafkan bunda ya nak,andai bunda lebih banyak mengetahui tentang masa lalu mu, sayang nya selain kotak hitam itu dan isinya, tak ada lagi yang bunda ketahui termasuk orang tua aslimu."
Sheena menggeleng menggenggam erat tangan tua itu. "Tak apa Bun, informasi yang bunda berikan sudah lebih dari cukup dan sangat membantu kami."
Keduanya saling melempar senyum hangat. waktu sudah menjelang malam, terpaksa mereka harus menghentikan pencarian untuk hari ini, beruntungnya mereka punya kunci besar kali ini yang membuka jalan mereka menuju kebenaran yang akan segera terungkap.
Jayden memperhatikan lamat. "Apakah sudah lama bangunan itu tak di renovasi?"
Ibu Ratih dan Sheena mengikuti arah pandang Jayden.
"Ah, yang di sana, benar tuan. Kami terhalang biaya, sudah sejak lama panti tidak memiliki donatur tetap, hidup sehari-hari pun kami hanya mengandalkan sumbangan dari sekitar juga kegiatan amal," katanya tersenyum getir.
Jayden menenggakkan bahu, membenamkan tangan di saku celana. "Baiklah, paling cepat dua hari ke depan, orang-orang ku akan datang kesini untuk merenovasi panti asuhan ini."
"Juga untuk donatur, Mulai sekarang JA group perusahaan ku, akan menjadi donatur tetap untuk panti ini."
Sheena tertegun ia tersenyum senang terlebih ibu Ratih ia sampai menangkup kan tangan di depan dada saking gembiranya. "Terimakasih tuan, terima kasih, anda sungguh dermawan."
Jayden menggeleng pelan. "Jika ingin berterima kasih, berterima kasih lah pada Sheena." ia menatap begitu dalam, dengan tatapan teduhnya.
"Eh,aku?" kebiasaan gadis itu mulai lagi. Jayden mengangguk.
"Tidak apa-apa ibu Ratih, jangan berterima kasih. Jika bukan karena dirimu dan juga panti ini, aku tidak akan mungkin menemukan wanita yang selama ini kucari," kata Jayden menatap penuh cinta pada Sheena.
__ADS_1