
Sheena segera saja menutup mulut Dimas, "Ssst, adek, kamu bicara apa sih!" please deh, jangan malu-malu in kakak, batinnya.
Sementara Dimas, bocah lelaki itu mencebik, menatap dengan delikan pada sang kakak.
"Tidak apa-apa, secara tidak langsung dia sedang memuji ku," sanggah Jayden cepat.
Pak Hamid tertawa, mencairkan suasana. "Hahaha, benar-benar. Bahkan sama si Andre kutu kupret itu kamu mah jelas lebih unggul nak Jay." puk!puk! ayah menepuk-nepuk punggung Jayden, merasa bangga.
Jayden menunduk, tersenyum jumawa,merasa lebih unggul.di depan sang calon ayah mertua.
keluarga sang kekasih memang memiliki aura yang Positif hingga membuatnya merasa tak sungkan.
Sheena tertawa samar, saat matanya tertuju pada Jayden, laki-laki itu malah mengalihkan pandangannya. Sheena mengerut alis. "Apa dia masih marah padaku ya?" batinnya, bertanya.
"Ya udah ayo kita masuk, hari sudah gelap, kebetulan istriku sudah menyiapkan makan malam istimewa, kita makan malam bersama ya." pinta ayah.
Sheena mengangguk begitupun Jayden, ayah dan anak gadisnya sudah masuk lebih dulu, tertinggal Dimas dan Jayden.
"Hei, bocah." Jayden memanggil Dimas pelan.
Bocah lelaki itu berbalik. "Manggil aku,om?" tanyanya menunjuk diri sendiri.
Jayden mengangguk pertanda mengiyakan, kelakuannya sebelas duabelas sama dengan kakaknya, Jayden mendengkus geli.
"Kau barusan memanggil ku, kakak ipar, benar?"
Dimas yang memang polos hanya mengangguk menatap Jayden.
"Bagus, aku suka panggilan itu," ujar Jayden mengusap kepala Dimas, pelan.
__ADS_1
Dimas meskipun tergolong namun untuk anak seusianya dia sudah cukup mengerti tentang apa yang terjadi di dunia orang dewasa, pria di depannya ini yang Dimas tahu memang sudah menyukai kakaknya saat pertama kali Dimas melihatnya.
Dan itu membuatnya senang, teringat awal-awal sang kakak di khianati dan pernikahannya gagal, membuat Dimas ikut sedih, namun setelah datang om tinggi ini Dimas jadi tak khawatir lagi pada sang kakak, di banding kak Andre yang manis di luar tapi busuk di belakang, om tinggi jika di lihat auh lebih baik.
"Om tinggi, tolong buat kak Nana bahagia ya," kata bocah itu dengan polos, tersenyum.
Jayden setengah tertegun, berkedip beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
"Janji?" Dimas menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Jayden, membuat ikatan perjanjian.
Jayden tersenyum tipis, menerimanya, jari kelingking mereka kini saling bertautan, menyimpul sebuah janji dengan senyum terukir.
"Apa kau mau sesuatu? atau hadiah yang kau inginkan?" Jayden menarik sebelah alis, menawari.
"Eummm ... " bocah laki-laki itu tampak berfikir, mengetuk-ngetuk.
"Boleh aja kan om--eh maksudku, kakak ipar?"
"Kalau begitu Dimas, pengen jalan-jalan sama kak Sheena dan kakak ipar, bersama,nanti malam."
Jayden bergeming sejenak lalu ia mengangguk. "Baiklah."
...----------------...
Suara piring yang di letakan di atas meja kaca beradu memecah keheningan yang kian menyelusup, Sheena merapikan tempat makan untuk semua malam ini, ada banyak lauk yang terhidang, ibu menaruh dengan apik berbagai macam lauk pauk yang sudah di buat, sesekali ia akan melempar candaan pada ayah lalu semuanya tertawa. Sementara Jayden yang masih tampak asing dengan situasi ini hanya duduk diam sambil sesekali itu tersenyum tipis.
Sudah sangat lama, kehangatan seperti ini tak Jayden rasakan, bahkan ingatan masa kecil bersama orang tuanya dulu seperti memori lama yang tenggelam dan tak bisa ia Ingat lagi.
Jayden rindu, tentu saja, sejak kecil ia tak pernah merasakan bagaimana bahagianya makan bersama dengan keriuhan seperti ini, kini, bisa merasakannya lewat keluarga Sheena, membuat hatinya seketika menghangat, karna dia di terima baik di sini.
__ADS_1
"Ah ya, mama gak tau apa makanan kesukaan nak Jayden, tapi mama harap ini sesuai dengan selera nak Jayden ya," pungkas ibu Nafisah, ramah.
Jayden mengangguk, Sheena ikut menimpali. "Tuan Jayden gak pilih-pilih makanan kok mah, dia mah omnivora, pemakan segala nya hehe."
Jayden melirik Sheena seraya, sementara gadis itu malah menunjulurkan lidahnya, mengejek. "Siapa suruh cuekin aku terus?" batinnya.
"Wah bagus kalau gitu, walaupun nak Jayden pimpinan besar anak kolongmerat tapi gak pilih-pilih makanan, mama suka, makan yang banyak ya." Ibu Nafisah mengambil kan nasi juga lauk paling banyak untuk Jayden.
"Tenang kakak ipar,masakan ibu mah gak usah di ragukan lagi, juara," timpal Dimas mengacungkan dua jempolnya, memuji.
"Kecuali sih kak Nana yang gak bisa masak. Goreng telur mata sapi aja gosong,hahaha!" bocah lelaki itu tertawa mengejek, Sheena melotot.
"Heh jidat lebar, ngomong mu di filter ya!" Sheena melayangkan garpu, namun suara ayah lebih dulu menghentikan.
"Sudah, sudah, kalian ini malah ribut di meja makan!" suara ayah terdengar berwibawa, menengahi.
"Dimas nya dulu yah, ngejek Sheena!"
"Emang bener kok, wlee! kakak juga gak sadar diri,kak Nana juga jidatnya lebar, hahaha!" Dimas tertawa terbahak-bahak sambil menggelengkan kepala juga menjulurkan lidahnya.
"Ish, bocah!" Sheena menjitak kepala adiknya, lalu akhirnya mereka ribut- ribut sambil tertawa.
Diam-diam Jayden yang memperhatikan ikut mengulum senyum, beginikah rasanya kehangatan keluarga? Jayden harap ia bisa merasakannya bersama ayah dan bundanya. Andai.
*
*
*
__ADS_1
Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗
Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨