Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
188 boy Vs 155 girl


__ADS_3

Pagi hari menyapa. Sheena perlahan membuka kelopak matanya, di lihatnya langit-langit yang tampak berbeda dengan milik kamarnya.


Seketika Sheena menegakkan tubuh, dengan raut wajah paniknya, ia membuang muka ke samping, di saat itulah matanya tak sengaja menangkap pemandangan ciptaan Tuhan yang luar biasa.


"AAAAAA!!"


Sheena seketika berteriak kencang, sementara pria yang berdiri di sampingnya itu hanya beraut datar.


"Ada apa dengan mu?"


Sheena menutup mata, membalikkan tubuh ke berlawanan arah.


"Astaga,astaga! aku melihat apa tadi? Astaga, astaga, roti sobek!"


Sheena seakan kembali menjerit dalam hatinya, padahal pemandangan di sampingnya sangatlah luar biasa menakjubkan, kenapa dia malah menutup mata?


Ragu-ragu Sheena melirik ke samping, ingin melihat tapi malu, tak melihat tapi rezeki nomplok, sayang jika di lewatkan.


"Hei, kau. Kau kenapa, he?"


Sheena tampak menimang-nimang.Noleh jangan? noleh jangan? noleh Jangan? oke, noleh!


"Tuan! k-kenapa tuan telanjang?"


Pletak! terdengar suara sentilan keras seiring dengan suara mengaduh Sheena yang menjerit. Kenapa dengan pria ini? kenapa suka sekali menyentil dahinya?


"Tuan sakit tahu!"


"Bocah mesu*m. Kau tidak melihat aku memakai handuk!"


Mata Sheena mengerjap-ngerjap beberapa kali. "Y-ya tapi tetep aja, itu roti sobeknya keliatan."


Jayden menarik sudut bibirnya, dengan sengaja ia malah lebih mendekatkan tubuh ke arah Sheena.


"Kenapa, kau tergoda bocah? kau tergoda dengan tubuh ku?"


"Tuan ngapain? kenapa malah mendekat." Sheena memasang wajah waspada, tanpa sadar kaki kecilnya mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kenapa? kau takut. kau bilang kita hanya orang asing kan?" Entah kenapa darahnya memanas ketika mengingat pernyataan itu, ia tak suka tak mau jika Sheena hanya menganggapnya seperti itu.


"Tuan mau ngapain?" sumpah demi Upin Ipin yang gak lulus TK. Sheena takut, ya ... antara takut dan mau sih. Eh?


"Heh, sudah ku bilang otak mu memang perlu di bereskan." Jayden mendengkus geli saat melihat Sheena yang terpejam dengan wajah bodohnya itu.


"Kenapa tadi malam kau menunggu ku? kau tahu, karna itu aku harus membawa tubuh beratmu itu dengan susah payah."


"Y-ya maaf tuan, a-aku kira anda akan pulang dan kita akan makan bersama."


Deg! Jayden tertegun mendengar hal itu. Benarkah gadis ini mengharapkan makan malam bersamanya?


"Tidak usah, lain kali tidak usah menunggu ku." Jayden berkata dingin, Sheena mendongak menatapnya, mata pria itu ... entah kenapa seperti menyiratkan kekosongan yang mendalam.


Apa pria ini kesepian?


Sheena mengangguk ragu, melipir hingga ke tembok dan berjalan pelan-pelan, seperti seekor kepiting. Jayden menatapnya, hampir saja ingin menyemburkan tawa jika saja tidak ia tahan.

__ADS_1


"Hei, jangan lupa lakukan tugasmu."


"Eh, tugas apa tuan?" Gluk! entah kenapa melihat otot kotak-kotak. yang begitu menantang, membuat imannya menjadi koyak.


"Ck, apa kau tidak membaca surat perjanjian?"


Sheena menggeleng polos, wajah Jayden menjadi merah padam seketika.


"Siapkan pakaian ku dan urus keperluan ku, apa kau lupa?"


"Ingat, aku tidak memberi mu tumpangan dengan cuma-cuma." imbuh Jayden ketika Sheena hendak membuka suara.


Baiklah, Sheena mengerti kali ini. Lagipula jika saja dia tidak ingin mencari tahu tentang keluarga aslinya,dia tidak akan berada di sini.


Benar, dari kemarin Sheena belum mencari tahu apa-apa tentang keluarga aslinya, mungkin hari inilah saatnya.


"Baiklah, saya akan menyiapkan keperluan anda."


Sheena harus bertahan, untuk tiga bulan saja.


...----------------...


Sheena kembali lagi ke kamar Jayden saat ia sudah lengkap dengan kemoceng dan peralatan kebersihan lainnya. Mula-mula ia membersihkan kamar Jayden dulu, kamar yang lebih pantas di sebut sebagai dalamnya sebuah istana, karna saking fantastisnya.


Sheena membersihkan meja besar di samping ranjang, menaruh buku yang mungkin habis pria itu baca kembali ke dalam rak di samping lemari besar.


Oh ya sebelum menyentuh barang-barang ini, ia pun sudah ijin dulu dengan si empunya kamar. Yang kini sudah keluar dari walk in closed dengan kemeja hitam, yang entah kenapa ... membuat penampilannya semakin tampan dan maskulin.


"Pakai kan jas ku." titahnya saat Sheena masih sibuk membereskan sprei.


"Baik." Sheena segera menghampiri menaruh kemoceng di atas meja.


Sheena, meskipun dia anak manja dan selalu di limpahkan kasih sayang berlebih oleh kedua orang tuanya, bukan berarti Sheena tak bisa mengerjakan tugas rumah, Sheena malah di cap anak rajin meski dia terkadang suka bangun kesiangan, namun jika soal mengurus rumah Sheena hampir bisa menguasai semua bidangnya.


Sheena merapikan kerah jas Jayden dengan teliti lalu tersenyum puas. "Sudah."


"Pakaian kan dasiku." Sheena dengan ragu mengambil dasi di tangan kekar pria itu, jujur ini baru hari pertamanya mengurusi semua keperluan lelaki ini jadi dia-- agak canggung, mungkin.


Sheena hendak mengalungkan dasi itu kepada Jayden, namun kenapa dia tidak bisa? Ah, ya benar, dia tidak sampai.


"Tuan, bisa ... menunduk sedikit."


"Kenapa?" Jayden mengangkat sebelah alisnya. Entah kenapa Sheena sampai hafal kebiasaan kecil pria itu.


"Saya gak sampai."


Pfffft! terdengar Jayden yang menahan tawa. Sheena mencebik, merasa terhina.


"Pendek." sahut pria itu yang membuat mata terbelalak seketika. Tak terima.


"Saya gak pendek ya tuan, tuan nya saja yang ketinggian." kilahnya.


"Bocah! sudah tahu tapi tidak menerima fakta."


Sheena mengerjap-ngerjap, asli, pria ini sangat menyebalkan sekali. "Kita itu hanya beda beberapa senti saja ya. Memangnya berapa sih tinggi tuan? saya yakin tidak sejomplang itu."

__ADS_1


"188 centimeter."


Whaat! Mata Sheena terbelalak sempurna. Apa dia tidak salah dengar, tinggi sekali.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, berapa tinggi mu?"


"155 centimeter ... hehehehe."


Jayden menutup mulut dengan telapak tangan, Sheena benar-benar merasa terhina sekarang, apalagi saat melihat senyum jahil yang terbit di wajah pria itu.


"Pendek!"


"Tuan!"


"Apa begini sudah sampai?" Sheena terkejut sampai memiringkan tubuh saat Jayden tiba-tiba membungkuk di depannya, kini entah kenapa ia rasakan dadanya yang tiba-tiba berdebar, apalagi saat wajah Jayden begitu dekat dengannya.


Dengan perlahan ia memakai kan dasi pria itu, meskipun Jayden sudah membungkuk entah kenapa Sheena tetap harus berjinjit kaki. Dari awal bertemu, memang dia sudah tahu pria ini sangat tinggi, tapi kenapa jomplang sekali dengan tinggi tubuhnya?


Haissh, menyebalkan! sepertinya Sheena harus rajin meminum susu setelah ini, agar tinggi tubuhnya tidak lagi menjadi bahan lelucon pria ini.


"Sudah." lirih Sheena. Jayden menenggakkan tubuhnya kembali, di lihatnya air muka Sheena yang berubah sendu.


Tangan kekar Jayden bergerak mengusap lembut pucuk kepala gadis itu.


"Bocah, aku hanya bercanda."


Sheena terkejut dengan perlakuan tiba-tiba pria itu. Di tatapnya wajah Jayden dengan lekat, begitu pun dengan Jayden. Kedua mata mereka bertemu begitu intens.


Sumpah, Sheena semakin yakin jika pria ini memiliki dua kepribadian.


Tatapannya entah kenapa begitu dalam dan lembut.


Ekhem! Jayden berdeham mengusir kecanggungan yang mendadak menyeruak, ia menarik kembali tangannya dan menenggelamkannya di saku celana.


"Lakukan tugas mu yang lain."


Sheena mengangguk perlahan. "Baik."


...----------------...


Sheena kini sudah membersihkan bagian mansion tengah.


"Nona, biarkan kami yang melanjutkan, nona sudah bekerja keras." dua orang maid menghampirinya.


"Eh tapi ini sudah bagian belakang kok."


"Itu bagian kami nona, nona silahkan istirahat saja."


"Jangan memanggilku nona, aku sama kok seperti kalian." Sheena tersenyum canggung.


Para maid terlihat saling melempar pandang, Bagaimana pun Sheena adalah wanita yang di bawa Jayden ke sini. Otomatis dia adalah wanita yang harus mereka hormati.


"Tidak apa-apa non, kami yang sudah terbiasa." Mereka mengambil peralatan kebersihan di tangan Sheena.


"Kami permisi." mereka segera melipir pergi. Sheena menatap kepergian mereka dengan aneh. Kenapa sih?

__ADS_1


Sheena menggidikkan bahu, melepas celemek juga bandana yang ia dapat dari Gia, dan menaruhnya di atas meja.


Di saat itulah ia meraba leher dan tersadar. "Astaga, kalung ku!"


__ADS_2