Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Kedatangan wanita tak terduga


__ADS_3

Pagi saat sarapan, baik Sheena maupun Jayden sama-sama diam. Tak ada yang bersuara, Sheena yang biasanya berisik dan ramai kini hanya diam saja menikmati sarapannya.


Meja makan yang panjang ini, Jayden dan Sheena duduk bersebrangan dengan jarak yang lumayan jauh. Sebenarnya Sheena ingin makan dengan para maid saja, di pantry belakang, beramai-ramai.


Namun Jayden ingin dia makan di sini, di satu meja bersamanya. Hal itu sudah terjadi di hari pertama dia bekerja dan kini sudah terhitung seminggu Sheena berada di mansion ini.


Dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menggema di keheningan yang terjadi di antara mereka, para maid yang menatap tak jauh dari mereka pun bertanya, ada apa dengan tuan Jayden dan wanitanya?


Sesekali Sheena akan melirik ke arah Jayden, pria itu terlihat sangat gagah memakai kemeja hitam di padukan dengan tuxedo abu-abu tua lalu seperti biasa, selalu ada jubah hitam yang menutupi punggung lebarnya. Sangat berwibawa.


"Eh, tuan sudah selesai?" Sheena berseru tepat setelah Jayden berdiri dari kursinya.


"Ya, ambilkan tas ku."


Sheena langsung berdiri. "Baik."


Mereka lalu berjalan hingga di depan pintu ruang utama, tanpa sadar para maid mengintili mereka diam-diam.


"Uh, sudah seperti suami-istri saja ya." celetuk di antara mereka.


Meskipun Sheena sejak awal di perkenalkan sebagai asisten Jayden, namun mereka tak percaya status Sheena hanya sekedar itu saja. Mereka pun mengira bahwa Sheena adalah wanitanya Jayden, mengingat Jayden yang begitu perhatian pada gadis ini.


Karna sebelumnya tuan mereka itu sangat dingin terhadap wanita.


Sheena dan Jayden berhadapan, namun tak ada yang berani untuk menatap satu sama lain. Sheena lalu menyerahkan tas Jayden, sang empunya menerimanya, saat adegan itulah tangan mereka sempat bersentuhan.


Sheena tersentak, dadanya kembali berdebar, sementara pria di depannya ini hanya menatap tanpa minat.


Sheena berdecak dalam hati. Barusan kulit Jayden yang menyentuh kulitnya, entah kenapa sangatlah dingin?


Apa jangan-jangan pria ini bukan manusia ya? Haisst!


Sheena berani mendongak. "Tuan, nanti saya ijin pergi lagi ya."


Jayden menatap serius, tangan pria itu berpindah ke depan dada. "Kemana?"


Sheena berusaha untuk tersenyum. "Ada urusan tuan."


"Sepertinya kau harus di disiplinkan kali ini."


"Eh?" pupil mata Sheena melebar menatapnya.


"Kalau memang ingin pergi, maka kau harus kembali sebelum jam 7 malam."


"Kok ada batasan waktunya sih tuan?" Sheena berkerut alis.

__ADS_1


"Harus, karna aku tak ingin kejadian seperti kemarin terjadi."


Blush! pipi Sheena merona merah seketika. Jayden sepertinya salah bicara. kejadian apa menurut tuan dingin itu? tentang ciuman mereka? Haisst, Sheena rasa jantungnya ingin meledak.


"Tuan maksudnya apa ya?"


Jayden berdeham keras. "Maksud ku, aku tak ingin sesuatu terjadi padamu."


Sheena semakin terbelalak. Apa lelaki ini khawatir padanya?


"Karna kalau sesuatu terjadi padamu, aku yang akan repot, dan aku tak ingin ini."


Pundak Sheena perlahan merosot dengan pupil mata matanya yang perlahan terkulai. Tak sesuai ekspektasinya.


"Baik, tuan." Sheena mengangguk patuh pada akhirnya.


"Selamat pagi, tuan." seseorang datang,Sheena dan Jayden sama-sama menoleh.


"Oh, Kevin!" Sheena berseru senang, menghampiri laki-laki tampan dengan kaca mata itu, ia tersenyum lebar melihat Sheena.


"Selamat pagi juga nona Nana." mereka seperti teman lama yang kembali di pertemukan.


Di sini, hanya Kevin yang bisa Sheena ajak bercanda, karna mungkin mereka berdua sefrekuensi, sama-sama berisik dan suka tertawa tidak jelas.


"Akhir-akhir ini aku tak melihat mu, kamu kemana saja?" pembicaraan mereka pun kini sudah mulai ringan, tak seformal dulu.


"Aaaaaa!" Sheena tiba-tiba berteriak, Kevin dan Jayden otomatis terkejut, mulai, berisiknya gadis ini mulai lagi.


"Kamu keluar negeri? kemana? ke Korea Selatan bukan?" Sheena tiba-tiba hiperbola.


Kevin menggeleng. "Bukan nona, ke Barcelona tepatnya."


"Ih keren banget. begitu ya orang kaya bisa kemana aja asal ada uang, keliling dunia pun serasa keliling kampung saja, ck, ck, keren."


"Biasanya nona, saya kerja kok di sana, bukan buat main-main."


"Sama saja. Kau tahu aku pengen banget ke Korea Selatan, ke kota Seoul, kota indah yang ingin sekali ku kunjungi, sayangnya belum bisa karena ayah sangat overprotektif padaku,padahal waktu kuliah semester dua, aku sudah mau ke sana tapi ... "


Sheena menyadari sesuatu. "Eh, maaf aku malah curhat hehehe."


Kevin menggeleng, tersenyum. "Gak apa-apa kok nona, saya suka nona yang ekspresif gini."


Sheena semakin tersenyum canggung, Jayden yang sudah tak tahan menghampiri mereka.


"Kau terlalu berisik," sarkasanya pada Sheena.

__ADS_1


"Ayo Kevin, waktu lima menit ku jadi terbuang sia-sia karna kau dan dia," ujar Jayden menatap Kevin dan Sheena bergantian.


"Eh ya, maaf tuan. Kalau begitu kami permisi nona Nana."


Sheena tersenyum, "Baiklah, daaah!"


Wajahnya berubah cemberut saat ia menatap Jayden yang akan memasuki mobil.


"Ck, dasar tuan dingin, lihat saja mukanya itu, datarnya bahkan mengalahkan kanebo kering."


...----------------...


Di kamarnya Sheena bersiap untuk pergi, di tatapnya pantulan wajah di cermin, ia mengoleskan make up tipis-tipis, rambut coklat panjang bergelombang nya ia ikat kuncir kuda, benar sejak berada di sini, Sheena tak pernah menguraikan rambutnya, ia lebih nyaman selalu diikat.


Sheena lalu memakai jam tangan serta tas selempangnya, juga sebuah kartu nama yang kini berpindah ke tangannya.


"Nona Kanaya, mungkin tahu panti asuhan itu." gumamnya.


Sheena hampir putus asa, namun saat ia mengingat kembali wanita paruh baya yang ia selamatkan, Sheena seperti menemukan harapan baru.


...----------------...


Jayden berjalan di koridor menuju lift di ikuti oleh jajaran bawahannya di belakang, Kevin kini sibuk menjelaskan apa saja jadwal Jayden hari ini di tablet yang dia bawa.


Sampai di ruangan Presdir nya, Jayden terkejut melihat kehadiran seorang wanita yang kini duduk menunduk di kursi sofa, wanita itu seketika menoleh ketika menyadari kehadiran seseorang yang ia tunggu-tunggu.


"Jayden ... !!"


"Vania? sejak kapan kau ada di sini?"


Vania de chullen, adalah kakak dari Viona de chullen, wanita dengan gaun ketat yang menunjukkan belahan dadanya itu, adalah anak pertama dari David de chullen, setahu Jayden dia adalah aktris dan model terkenal di kalangan entertainment yang kini sedang naik daun.


Meskipun tak terlalu dekat, namun Jayden dan Vania pernah terlibat obrolan di beberapa acara. Sekian lama tak pernah bertemu lagi, kenapa wanita itu ada di ruangannya?


"Maaf menganggumu, aku di sini sejak beberapa jam lalu," ucapnya dengan nada mendayu-dayu.


Jayden mengernyit, begitupun Kevin yang di belakangnya, entah memang berniat menggoda atau apa, tapi dari raut dan nadanya membuat mereka risih.


"Kenapa? kamu terlihat sangat terkejut?" Vania tersenyum, lipstik merah menterengnya seakan mengkilap di cahaya lampu.


"Tidak apa-apa, kenapa kau ada di sini?" tanya Jayden to the point. Ia memang tak suka berbasa-basi.


Vania tampak terdiam sejenak. "Bisakah kita bicarakan berdua saja?" ia mengerling, seperti ingin mengusir Kevin.


Kevin mengerti lalu ia membungkuk hormat pada Jayden. di luar pintu yang tertutup Kevin bergumam.

__ADS_1


"Nenek lampir berulah lagi."


__ADS_2