Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Kedatangan tuan Yudis


__ADS_3

"Orang tua tuan Jayden meninggal dalam sebuah kecelakaan."


"Dan itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya."


Deg! darah Sheena berdesir seketika mendengar apa yang di katakan Kevin barusan, penglihatannya entah kenapa menjadi buram, dadanya berdentum tak karuan, ada perasaan berkecamuk di dalam benaknya.


Kevin menarik sudut bibirnya, sudah bisa menebak akan reaksi Sheena yang seperti itu. "Hanya itu yang saya ketahui nona. Tak ada lagi."


"Jadi ... itulah sebabnya, hingga tuan memiliki trauma setiap melihat kecelakaan?"


Kevin mengangguk. "Saat itu mobil yang di kendarai ayah tuan Jayden masuk ke dalam jurang, tuan Jayden selamat karna ibunya yang melindungi tubuhnya."


"Saat itu usianya masih sepuluh tahun, tuan Jayden menjadi yatim piatu tepat di hari dia bertambah usia."


Tanpa di duga Sheena menyeka ujung matanya, hal itu membuat Kevin terkesiap, segera memberinya sehelai tisu.


"Nona menangis?" tanyanya sambil menjulurkan tisu ke hadapan Sheena.


Sheena malah tertawa yang mana tersirat kepedihan di sana. "Tidak seharusnya aku menangis ya?" ia menyelesaikan menyeka matanya dengan tisu.


"Tapi,ini begitu tragis, aku bahkan tak sanggup untuk membayangkan bagaimana hancurnya tuan Jayden saat itu, umur bahkan masih sangat kecil saat dia kehilangan kedua sandarannya sekaligus."


Kevin mengulas senyum getir, ia turut merasakan apa yang Sheena rasakan.


"Itulah sebabnya tuan hampir tak bisa untuk melihat tragedi kecelakaan di depan matanya, hal itu akan mengingatkannya akan kedua orang tuanya."


"Trauma itu akhirnya melekat padanya sampai ia dewasa, terkadang tuan akan konsultasi ke psikiater pribadinya untuk masalah ini, namun tetap saja trauma itu terus muncul seperti yang terjadi barusan."


Sheena mengangguk lemah. "Pasti sulit untuk menghilangkannya."


Hening sejenak, hanya suara dentingan jam dinding yang menggema di keheningan, Kevin sedikit mencondongkan tubuhnya ketika Sheena masih tenggelam dalam lamunannya.


"Nona, bisakah nona merahasiakan ini? karena tak ada yang tahu bagaimana cerita aslinya, hanya kepada nona saya menceritakan ini semua."


Sheena sedikit terhenyak, bukan karna perkataan Kevin tapi karena wajah pria itu sangat dekat. Sheena perlahan mengangguk. "Baiklah."


...----------------...


Kevin akhirnya mengantar Sheena kembali ke mansion, karna masalah ini membuat Sheena mau tak mau harus bersabar hingga besok tentang pengajuannya ingin bekerja di perusahaan Jayden.


"Maaf ya nona tuan Jayden saat ini lagi tak bisa di ganggu, mungkin besok anda bisa kembali ke perusahaan dan meminta tuan untuk menempatkan anda di posisi bagian mana."

__ADS_1


Sheena mengangguk paham. "Aku mengerti."


"Oh ya, bisakah kita mengganti kata panggilan?"


"Kenapa?" dahi Kevin mengekerut..


"Begini, aku kadang risih ketika kamu memakai 'Anda' dan 'Nona' tapi terkadang kamu memakai kata 'Aku' dan 'kamu'. Itu terkadang membingungkan."


"Jadi bagaimana kita memakai nama saja sebagai panggilan, tak usah pakai embel-embel nona, aku kan bukan majikan mu.".


Kevin tertawa, tawanya begitu renyah hingga membuat Sheena mengerut alis, tak paham.


"Benarkah?" baiklah, kalau begitu ... Nana, bagaimana?"


"Nah itu jauh lebih baik," ucap Sheena seraya manggut-manggut setuju dengan panggilan yang di berikan Kevin.


"Jangan manggil nona lagi ya!"


"Kevin mengangguk. "Baiklah,kalau tidak lupa."


Sheena mencebik. "Gak tuan gak asistennya sama-sama ngeselin."


Di luar dugaan Kevin meletakkan tangannya di atas kepala Sheena, sedikit menekannya.


"Hahaha, baiklah dah."


Sheena melambaikan tangan saat Kevin sudah masuk ke dalam mobil, lalu ia maju hingga ke pekarangan demi melihat mobil Kevin yang sudah menjauh pergi.


Sheena tanpa sadar mengusap kembali kepala yang di elus Kevin.


"Apasih, aneh banget."


...****************...


Malam semakin larut, tanpa sadar Sheena kembali menunggu kedatangan Jayden. seperti saat ia sampai ketiduran karna menunggu pria itu.


Sheena menatap jam dinding antik yang menempel di sudut ruangan, jam kuno yang jika jarumnya menunjuk tepat di angka dua belas maka bel yang ada di dalamnya akan berdentum keras.


Sheena taksir Pasti jam dinding kuno itu sangatlah mahal harganya,ia baru tahu Jayden ternyata pengoleksi barang-barang antik terbukti dengan perabotan dan juga hiasan di mansion ini yang sebagiannya terlihat kuno dan tua.


Setengah jam menunggu sambil membaca sebuah buku novel di tangannya namun suara deru kendaraan Jayden tak kunjung terdengar.

__ADS_1


Sheena pun tak mengerti kenapa juga dia mau capek-capek menunggu laki-laki itu?


Tapi Sheena ingin. Kata hatinya mengatakan dia harus menunggu kedatangan Jayden, dan dia menurutinya.


Suara deru kendaraan mobil terdengar, Sheena berdiri seketika dari sofa nyaman itu, dia dengan tergesa menggapai pintu utama dan menarik pegangannya, Namun bukan Jayden yang ada di sana, tapi orang lain, yang sama sekali tak Sheena duga.


Para maid berjejer seketika, ketika kepala maid, Pak Hans memerintah di samping tubuh ringkih yang di topang oleh tongkat di tangan kanannya.


"Selama datang tuan besar!" serempak mereka bersamaan, Sheena refleks ikut membungkuk, ada rasa was-was yang kini menyerang dirinya.


Sheena bukan tak tahu tapi dia memilih mengabaikan, menunduk takut-takut saat pria tua yang tuan Jayden panggil kakek-- itu mendekatinya.


Tuk!tuk! suara tongkat yang memukul lantai marmer seketika menggema di ruangan luas itu, aura mengintimidasi langsung menyeruak bersamaan dengan udara yang masuk.


"Jadi kau, parasit itu," ucap tuan Yudistira begitu tajam dan menusuk pada Sheena.


Sheena perlahan menegakkan wajah, namun tetap saja dia tak berani untuk menatap wajah bringas itu, dia terlalu takut.


"Sudah berapa lama dia tinggal di sini?" tanya tuan Yudistira menatap pak Hans, semua maid tak ada yang bergerak sedikit pun, mereka semua menundukkan wajah dalam-dalam.


"Sekitar dua mingguan,tuan besar." jawab pak Hans terdengar lirih, takut intonasi yang dia keluarkan terlalu tinggi dan bisa menyinggung tuan besar mereka.


"Sudah lama berarti ya." perlahan tuan Yudistira mengikis jaraknya dengan Sheena.


"Gavin!" suara tuan Yudis menggelegar memanggil nama sang asisten.


Tak lama, pria berperawakan besar dengan jambang menghiasi wajah sangarnya, datang menghampiri dan membungkuk hormat di hadapan tuan Yudistira.


"Sudah bawakan apa yang ku minta?"


Pria yang di panggil Gavin itu mengangguk. "Sudah tuan besar."


"Berikan." ia mengulurkan tangan melambaikan jarinya. Gavin dengan hormat memberikan apa yang tuannya minta.


Brak! suara benda terjatuh membuat Sheena kaget, tidak bukan hanya Sheena tapi semua yang ada di situ.


Sheena lalu menatap sebuah tas yang lumayan besar berwarna hitam yang jatuh tepat di hadapannya, kemungkinan tas itulah yang menimbulkan suara benda terjatuh tadi.


"Di dalam koper itu berisi uang, 1 milliar!"


Semuanya terkesiap melongo seketika mendengar apa yang tuan Yudis katakan.

__ADS_1


"Uang 1 milliar itu akan menjadi milikmu asal kau menjauhi cucuku!"


__ADS_2