Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Jayden dan wanita itu


__ADS_3

Malam rembulan bersinar terang, langit tampak bersih terlihat tanpa di hiasi bintang, tampak sangat cantik.


Mobil Fortuner hitam jayden berhenti di pelataran gedung hotel berbintang lima, tempat acara pesta di adakan.


Sheena di tempatnya,terserang gugup luar biasa, Jayden membawanya ke acara sepenting ini dan akan memperkenalkan dirinya sebagai tunangan, bagaimana bisa Sheena tak gugup? ia takut, pada tatapan semua orang padanya nanti.


Tapi, sebuah tangan terulur ke hadapan nya, membuat Sheena seketika menoleh.


"Jangan gugup, aku ada bersama mu."


Mendengar hal itu, Sheena yang awalnya cemas dan takut, jadi bisa bernafas lega. Gadis itu mengangguk, menerima uluran tangan jayden dengan senyum terkembang.


"Semuanya akan baik-baik saja, Sheena," ucapnya pada diri sendiri.


Suasana tampak ramai saat kaki jenjang Sheena menuruni mobil satu persatu, bunyi jepretan kamera mengalun seperti irama musik, flash cahaya yang menembus membuat matanya silau.


Para bodyguard Jayden segera menghampiri, mengamankan situasi, melindungi nyonya mereka, jayden merangkul Sheena, berlari pelan hingga beberapa kilometer, Menjauh ke tempat yang lebih aman.


Pada saat itu amarahnya tercetak jelas pada salah seorang bawahan sang kakek yang menghampiri.


"Sudah kubilang kan, tak boleh ada kamera, apa ini?"


"Maaf tuan muda, kami tidak berdaya, tuan besar ingin mendokumentasikan acara ini, jadi kamera harus setia berada."


Jayden membuang nafas gusar, padahal tahun kemarin pun tak ada kamera dalam acara perhelatan untuk acara perusahaan ini, kenapa sekarang harus ada?


"Baiklah itu tak lagi penting, perintahkan para cameraman itu untuk menghapus foto Sheena, tak boleh ada yang menyimpan nya!"


Sang bawahan kakeknya itu melirik sekilas ke arah Sheena, lalu ia menatap jayden. "Baik, tuan muda."


...----------------...

__ADS_1


Suara riuh rendah orang-orang yang tengah berbincang sayup-sayup terdengar oleh Sheena, gadis itu tampak menyendiri, kecil dan tersisih di pesta yang besar ini.


Setelah kejadian Jayden memarahi salah satu bawahan sang kakek, pria itu pamit padanya untuk ijin sebentar, menyambut para kolega penting padanya. Dan tinggallah ia sendiri di sini.


"Nona muda, anda terlihat sangat cantik.".


Sheena menoleh ke asal sumber suara yang tengah memujinya, ia mengulum senyum ketika melihat Kevin dengan balutan tuxedo biru kelabu dengan dasi batik berwarna coklat, tampak sangat gagah dengan kacamata yang selalu menjadi ciri khasnya.


"Kevin ... sudah lama." gadis itu berdiri canggung, melihat ke sekeliling, wanita-wanita yang hadir di pesta ini nampak sangat berkelas dan glamour, beda dengannya. Tiba-tiba ia merasa tak percaya diri.


"Kevin, apa beginikah rasanya kehidupan orang-orang kaya?" tanyanya yang terdengar ngawur untuknya sendiri.


"Kenapa Na?" Kevin menarik satu alisnya. "Apa sekarang kamu sedang merasa tidak percaya diri?"


Sheena mengangguk perlahan. "Orang-orang di sini terlihat sangat berkelas dan mewah, beda dengan diriku--"


"Tidak. tidak." belum sempat Sheena menyelesaikan ucapan, Kevin lebih dulu menyela.


"Semua orang punya porsinya masing-masing, kelebihan dan juga kekurangan nya, tak ada yang berbeda."


Sheena menatap Kevin sejenak, berkedip lalu mengangguk. "Kamu benar, gak seharusnya aku berpikiran seperti tadi."


"Nah, seperti inilah Sheena yang ku kenal. Periang dan murah senyum."


Mendengar penuturan Kevin membuat kepercayaan diri Sheena semakin meningkat tinggi.


"Kamu kesini bareng tuan kan Na?" tanya Kevin.


Sheena mengangguk. "Iya, tapi sekarang tuan lagi Pergi, menyambung tamu pentingnya, jadi ya ... aku di tinggal di sini dulu."


"Tidak apa-apa, tuan pasti akan kembali secepatnya," ucap Kevin menenangkan.

__ADS_1


Sheena mengangguk seraya tersenyum tipis, semakin mengeratkan genggaman di dompet kecilnya, ketika menyadari tatapan orang-orang yang mengarah padanya.


"Hai, honey, lama tidak berjumpa." seorang wanita menghampiri mereka dengan gaun ketat berwarna merah menyala juga bibir berwarna serupa..


"Hai," Kevin tampak sumringah, kedua matanya jelas terbuka lebar. "Lama tidak berjumpa, kau semakin sexsy saja." terdengar suara sensual dari pria itu, hal tak pernah Sheena lihat sebelumnya, seketika Sheena ingat jika Kevin adalah buaya tingkat internasional. Gadis itu menggeleng jengah.


"Aku rindu dengan buaian indah mu, kenapa tidak kembali datang lagi ke bar Devils, i miss you so much."


"Akupun merindukan mu," ucap Kevin sambil tangannya lincah bergerak meraba ke sekitar pinggang ramping wanita itu.


Sheena seketika mendelik. "Astaga apa dia tidak melihat situasi nya ya?" batin Sheena tak habis fikir.


Kedua orang yang sedang mabuk kepayang itu malah bermesraan di depannya, Sheena menghela nafas gusar sambil memutar bola matanya.


Kevin memanggil nya membuat wanita berbibir tebal itu juga ikut menoleh..


"Na, aku ada urusan penting, kamu gak apa-apa kan di tinggal sendiri?"


Sheena cepat-cepat mengangguk. "gak apa-apa." daripada jengah melihat kedua orang yang sepertinya sedang di mabuk has*rat itu.


Kevin dan wanita itu akhirnya pergi. Sheena menatap punggung keduanya yang mulai menjauh di antara ramainya para tamu di ballroom besar ini.


Matanya yang berpendar lalu tak sengaja menatap punggung lebar seseorang, tak salah lagi, ia hafal pundak seluas samudera itu.


"Tuan ... " suaranya tiba-tiba mengecil lalu lirih seakan tertiup angin, Sheena malah berdiri mematung dengan mulut terkatup rapat.


Tak kalah melihat seorang wanita di samping Jayden dengan gaun mewah berwarna ungu, mereka tampak asyik bercengkrama, tak pernah ia melihat jayden yang seperti itu sebelumnya, ia bisa melihat Jayden yang begitu ekpresif.


Matanya dengan mata wanita itu bertemu, bisa ia lihat wanita itu tersenyum sinis padanya.Dengan sengaja wanita itu menggandeng tangan jayden, bergelayut manja pada pria itu.


Membuat rasa nyeri tiba-tiba menghampiri Sheena.

__ADS_1


__ADS_2