Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Dejavu


__ADS_3

Sheena mengangguk, benar bagaimana pun mereka adalah rekan yang terikat kesepakatan. Bodohnya dia mengharapkan jawaban lain.


"Tuan benar ... oh ya, untuk ponselnya saya pasti akan mengganti biayanya."


"Tidak perlu."


Sheena menggeleng. "Eumm, bagaimana pun saya tidak ingin ada hutang dengan tuan."


"Tapi ... "


"Saya Pasti akan menggantikannya, secepatnya." Sheena berusaha tersenyum, namun ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa yang dia sendiri pun tak tahu apa.


"Baiklah, terserah kau saja."


"Terimakasih tuan, kalau begitu saya permisi ya." Sheena membungkuk.


"Hei, kau mau kemana?" Jayden menahan tangannya.


"Eh, bukannya udah selesai, apalagi tuan?"


"Ekhem! temani aku makan siang."


...----------------...


Dan di sinilah Jayden dan Sheena berada, di sebuah restoran pinggir jalan yang lumayan terkenal, sebenarnya Jayden ingin mengajak Sheena ke restoran bintang lima langganannya, tapi perempuan itu menolak dengan alasan tak ingin memberatkan Jayden.


Padahal Jayden sendiri yang mengajak Sheena, tapi kenapa gadis itu yang merasa terbebani? Kadang-kadang Jayden tak mengerti pola pikir para kaum hawa ini.


"Kenapa? makanannya tak enak?"


Perkataan Jayden menyentak Sheena dari lamunan, gadis itu melebarkan mata dan bibirnya. "Gak kok, enak, enak banget malah."


Jayden meliriknya. Terlihat gadis itu sedang melamun.


"Biasanya kau paling suka dengan yang namanya makanan, tapi kenapa sekarang seakan tak berselera?"


Sheena menatap pria itu, terkejut.


Sheena sedikit mendengus geli. "Padahal kita baru bertemu beberapa kali dan saya baru kemarin tinggal bersama anda, tapi tuan seakan sangat tahu tentang saya ya."


"Karna aku selalu memperhatikan mu," kata Jayden santai sambil memasukkan sepotong daging beef steak di tingkat kematangan medium rare, yang menjadi favoritnya.


Hah?! Sheena hampir terjungkal ke belakang saking terkejutnya, oke itu lebay! tapi dia benar-benar syok demi mendengar ucapan Jayden tadi.


Pria di depannya ini selalu memperhatikannya? apa di mimpi?

__ADS_1


Jayden melirik Sheena sekilas, terlihat gadis masih terbelalak, shocked!


"Jangan terus melihat ku, habiskan makanan mu."


Dam*n it! Sheena seperti pencuri kecil yang tertangkap basah, dia hanya mengangguk sambil memasukkan kembali potongan steak dua sekaligus ke dalam mulutnya.


Diam-diam Jayden melirik, tanpa sadar mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


...****************...


Setelah makan Jayden dan Sheena berjalan bersisian ke arah mobil yang terparkir di pelataran, tentu di saat seperti ini Jayden selalu menjadi pusat perhatian, terbukti dengan beberapa orang yang terang-terangan menatap ke arahnya, para gadis muda berbisik-bisik, berdecak kagum padanya.


Bibir Sheena terkulum senyum. "Anda terkenal ya, tuan."


Jayden menoleh, seraya memasukkan tangan ke kantong celana. "Tidak juga." pria itu berjalan santai.


Tidak juga apanya? bahkan kini Sheena seperti Upik abu yang sedang mengawal pangerannya. Ck, ck!


Mereka berjalan di pinggir jalan melewati beberapa stan makanan yang memang menjadi lapak para pedagang di sana.


"Eh, ada es dung-dung!" Sheena berseru heboh, sontak saja beberapa mata melirik ke arahnya tak terkecuali Jayden.


Sebelum Jayden menghentikannya gadis mungil itu sudah lebih dulu melangkahkan kaki ke arah stan makanan di sampingnya.


Jayden mendesah pelan, mau tak mau mengikuti langkah gadis itu.


"Siaaap mbak!"


Sheena menatap dengan penuh binar, Jayden diam-diam mendengus geli melihat tingkah ke kanak-kanak kan gadis itu.


Pesanan Sheena jadi, gadis itu hendak membayar namun sebuah tangan kekar menghalanginya. Sheena melirik Jayden yang menyerahkan sebuah kartu pada sang penjual.


"Ada uang pas, tidak pak?"


"Ah, ya." Jayden menyerahkan selembar kertas berwarna merah muda di dalam dompetnya.


"Ada uang lima puluhan tidak pak?" tanya si penjual lagi.


"Kembaliannya sambil saja."


Wajah si penjual langsung sumringah. "Terimakasih pak."


Jayden mengangguk, Sheena mengulum senyum, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sesekali Jayden akan melirik Sheena yang tampak begitu khusyuk menukangi satu cup eskrim di tangannya itu.


"Terimakasih tuan," Ucap Sheena hampir saja lupa, Jayden hanya mengangguk sekilas. Lalu gadis itu kembali khusuk pada es krimnya, bisa Jayden lihat dari mata tajamnya beberapa orang mengambil gambar mereka, memotret diam-diam.

__ADS_1


Melihat itu ia menjadi geram, menarik pinggang Sheena serentak hingga membuat si empunya terkejut, Jayden lalu memindahkan posisi Sheena di sampingnya, melindungi tubuh Sheena dari orang-orang itu.


"Kepa*rat! ini pasti ulah kakek." Jayden mengumpat dalam hati, melirik para orang-orang yang memotretnya itu dengan tatapan tajam, hingga mereka berlindung diri.


Sheena menyadarkan tatapan Jayden, tanpa sadar menyodorkan cup eskrim itu di hadapan Jayden. "Tuan mau?"


"Ini namanya es dung-dung, bukan es krim biasa, jajan pas saya kecil, sekarang susah untuk menemukannya lagi, jadi saya terkejut ketika tahu di sini ada yang jual." tutur Sheena tanpa di minta, jelas sekali binar cerah mata indahnya.


"Tuan, mau?" sekali lagi Sheena menyodorkan cup es krim-nya.


"Tidak, kau saja." tolak Jayden halus.


Aneh, gadis ini unik. Kapan lagi melihat seseorang yang tampak begitu bahagia hanya karna seCup eskrim?.


......................


Kini mereka sudah sampai di pelataran perusahaan, Jayden melirik ke jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, masih ada waktu 5 menit sampai rapat di adakan, dia tak bisa mengantar Sheena, namun pria itu ingin memastikan keselamatan gadis ini, hingga dia menunggu sampai sopir yang menjemput Sheena datang.


"Tuan tidak apa-apa jika masuk ke dalam duluan, saya bisa menunggu sendirian di sini kok."


"Tidak masalah, aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar," kilahnya.


Sheena mengangguk, tak lagi bertanya, karna bosan dan terserang gugup Sheena mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke aspal jalan.


Jayden melirik sekilas apa yang di lakukan gadis itu, lagi, ia mengalihkan pandangan menahan bibir yang berkedut ingin tersenyum.


Mobil yang menjemput Sheena tiba di depan mereka, pintu kaca terbuka, pak Harto membungkuk dengan hormat di dalam mobil pada Jayden.


Jayden mengangguk, Sheena berbalik seraya tersenyum.


"Di mansion nanti tunggu lah kepulangan ku, jangan kemana-mana tanpa seijin ku."


"Mungkin kita akan malam bersama nanti."


Baiklah, Sheena mengerti, mungkin pria itu mengatakannya karna mereka terikat kesepakatan.


"Baiklah, tuan semangat, Kerjanya ya, hehehe, Semangat!" Sheena mengacungkan pergelangan tangannya ke udara, entah kenapa Sheena mengatakan itu keluar sendiri dari mulutnya.


Oh, baiklah, Sheena butuh kantong plastik sekarang, untuk menyembunyikan wajahnya.


Deg! sementara Jayden merasa Dejavu saat gadis itu mengatakannya, hal yang pernah ia dengar sebelumnya.


"Kakak janji ya kalau sudah besal nanti bakal nikahin aku, Kakak semangat! hehehe, semangat!"


Perkataan juga gestur yang di berikan Sheena sungguh mengingatkan Jayden pada gadis kecil itu.

__ADS_1


Sial!


__ADS_2