Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Mendapatkan restu ayah


__ADS_3

Sheena menatap Jayden yang berdiri kaku di sampingnya, pria yang hari ini terlihat sangat tampan itu tampak gugup terlihat dari gurat wajahnya yang menunjukkan hal itu.


"Tuan, silahkan masuk." Sheena menggerakkan tangannya, isyarat pria itu untuk masuk ke dalam.


"Apa kau yakin, aku di sini hanya untuk beralasan pada orang tuamu?"


"Iya, ayah akan percaya jika saya membawa atasan saya kesini, tuan tenang saja, cukup diam, saya yang akan menjawab setiap pertanyaan ayah,nanti."


"Baiklah, lalu bagaimana dengan penampilan ku?"


"Eh, apa?" Sheena syok. "Tuan, sudah terlihat sangat tampan kok, hehehe," ucapnya saat mendapatkan tatapan horor dari Jayden.


"Ekhem!" Jayden berdeham keras, berlagak membetulkan posisi dasinya, padahal pria itu sedang di serang kegugupan luar biasa.


Oh ayolah! ini bukanlah pertemuan antara calon menantu dengan calon mertuanya, kenapa dia bisa segugup ini?


"Tuan tidak apa-apa?"


"Tidak!"


"Oh, baiklah."


'Dia menjawab cepat sekali' batin Sheena.


"Sheena, di mana yang katanya kamu bicarakan!" ibu Nafisah keluar dari rumah, tatapannya langsung mengarah pada Jayden yang diam mematung, lalu dia menatap Sheena. melipir mendekati sang putri.


"Jadi ini atasan yang kamu bicarakan itu?" bisiknya pada sang putri.


"Iya Bu," bisik Sheena kembali. Jayden mengerutkan kening melihat mereka.


Ibu ber-Oh ria, lalu segera saja mendekati Jayden. "Pak Jayden, atasannya putri saya?"


Jayden mengangguk pelan, tatapannya jatuh pada Sheena, Sheena mengangguk sambil melebarkan mata sebagai isyarat.


"Iyah, benar."


Ibu tersenyum. "Kalau begitu ayo, silahkan masuk."


***


Di dalam lebih ruwet lagi. ternyata ayah tak mengharapkan kedatangan pria jangkung dengan kumis tipis-tipis itu. wajahnya tertekuk dalam menatap Jayden yang kini semakin di serang canggung.


"Jadi anda atasan putri saya?" ayah bertanya dengan bersidekap dada. ini bukan seperti pertanyaan tapi gertakan.


"Benar, nama saya--"


"Saya sudah tahu." ayah menyela. "Jayden Alexander, Sheena bahkan sudah menceritakan ribuan kali tentang anda."


Dentuman keras dada Jayden terdengar jelas olehnya sendiri, pria itu menatap Sheena dengan wajah memerah, lalu memalingkan muka saat tatapan mereka tak sengaja bertemu.


'Gadis itu menceritakan apa saja tentang ku?' batin Jayden.


"Ayah,ih." Sheena juga malu, pasalnya ayahnya ini suka mengada-ngada, kapan dia menceritakan Jayden dengan jelas? cuma memberitahukan namanya saja kok.


"Kenapa? putri ayah malu?" ayah menaikkan satu alisnya.


"Udah to pak, jangan di goda terus anaknya," ucap ibu, membela, namun raut wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.


"Pak Jayden kalau niatnya kesini mau melamar juga, boleh." imbuh ibu seraya tersenyum.


Sheena mendengkus, ibu dan ayah ternyata sama saja.

__ADS_1


"Ibu,ayah, kenapa ngegoda pak Jayden terus? nanti kalau beliau risih gimana?"


"Gak apa-apa." Jayden menjawab secepat kilat. "saya tidak apa-apa kok." ia berusaha tersenyum.


Ayah tertawa. "maaf ya pak, abisnya wajah anda tegang sekali, sudah kaya mahasiswa mau sidang saja."


Jayden hanya menarik sudut bibirnya. sementara Sheena sudah menahan malu setengah ma ti. beginilah jika punya ayah yang suka sekali berkelakar.


"Bagaimana Sheena di tempat kerja? saya harap putri kecil saya ini tidak terlalu merepotkan bapak."


"Maklum dia anak yang paling di manja, bahkan si bungsu yang cowok selalu cemburu sama kakaknya, jadi saya agak khawatir jika Sheena terlalu ceroboh, atau kekanakan, karna memang saya sebagai ayah menyadari jika saya terlalu memanjakannya."


Jayden menatap kedua orang di depannya ini, dari gestur,cara mengucapkan, sudah bisa di tebak jika mereka sangat mencintai Sheena, meskipun bukan putri kandung, Sheena di perlakukan bak tuan putri di keluarganya.


"Tidak apa-apa, kinerja Afsheena di perusahaan sangat bagus," jawab Jayden singkat. sudah bisa di tebak pria itu memang tidak pandai dalam merangkai kata.


Sheena mengambil alih perannya.


"Ayah tuan Jayden di sini, ingin membicarakan tentang kepergian ku, selama tiga bulan."


"Pergi? pergi kemana?" ayah mengerut dahi, pembicaraan mulai serius.


"Begini pak, Afsheena sekarang menjabat sebagai asisten saya, jadi dia akan tinggal bersama saya untuk tiga bulan ini."


Sheena berdecak dalam hati, tuan yang satu ini selain tidak pandai merangkai kata juga tidak pandai berbohong ternyata.


"Tidak!" ayah berdiri. "Sheena tidak boleh pergi kemana-mana!" sentaknya.


"Tapi ayah--"


"Tidak Sheena, kamu akan tetap di rumah ini, dunia luar terlalu kejam, kamu tidak boleh kemana-mana!" ayah menggeleng tegas.


"Maaf pak, jika bapak akan memecat Sheena pun tidak apa-apa, sebenarnya kami pun mempunyai uang berlebih tanpa Sheena harus bekerja, jadi bapak silahkan pergi, karna saya tidak akan menyutujuinya."


Ayah tetap menggeleng. "pokoknya kamu tidak boleh pergi kemana-mana." ayah lalu berlalu masuk ke kamar dengan langkah lebar.


Ibu ikut berdiri. "Ayahmu terlalu menyayangi mu Sheena, maafkan dia ya." lalu ibu pergi menyusul ayah.


Sheena terduduk mengambil nafas panjang, ia memijit kepalanya yang terasa berdenyut.


"Dari pada berbohong begini, lebih baik kau katakan saja yang sebenarnya."


"Katakan jika kau ingin mencari tahu tentang keluarga aslimu."


"Tapi ayah tetap tidak akan mengijinkan saya pergi,tuan."


"Coba saja. jangan mengira, di saat kau bahkan belum mencoba."


Sheena menatap Jayden kepercayaannya meningkat.


"Baiklah, saya akan mencoba."


"Tuan terimakasih telah membantu saya,maaf jika saya membuang waktu tuan yang berharga."


Jayden berdeham singkat. "tidak apa-apa. sekarang kau pergilah, jelaskan pada ayahmu.


Sheena mengangguk lalu berdiri dengan pasti, Jayden menatap punggung gadis itu dengan tatapan sulit terbaca. lalu berdiri dan meninggalkan tempat.


***


"Ayah, dengarkan penjelasan Sheena dulu."

__ADS_1


"Apalagi? ayah tetap tidak akan mengijinkan kamu pergi, apalagi dengan pria asing itu."


"Dia atasan Sheena yah."


"Ayah tidak peduli, ayah tetap tidak mengijinkan kamu meninggalkan rumah ini."


"Ayah tapi ini kesempatan Sheena, kesempatan Sheena untuk mencari tahu tentang keluarga asli Sheena."


Ayah diam selama beberapa detik. "Jadi ini alasannya? alasan kenapa kamu sangat ingin pergi?"


Sheena mengangguk lemah. "selama ini sudah cukup Sheena hidup dalam kebohongan yah, Sheena ingin mencari tahu tentang keluarga asli Sheena."


"Lalu bagaimana dengan ayah? apa keluarga ini tidak cukup memberikan mu kasih sayang?"


Mata Sheena sudah berkaca-kaca, "tidak ayah, bukan begitu maksud Sheena, ayah dan ibu sudah sangat baik merawat Sheena selama ini, tapi Sheena juga ingin tahu tentang asal-usul Sheena."


Ayah menyerah, beliau menghembuskan nafas kasar. "Apa kamu tetap akan pergi walaupun ayah melarang mu?"


"Restu ayah sangat penting untuk Sheena yah."


Ayah tak berkata lagi, itu artinya Sheena memang sangat ingin pergi.


"Baiklah, ayah ijinkan kamu pergi."


***


Sheena mengepakki beberapa potong bajunya ke dalam koper, di bantu ibu dengan deraian air mata.


"Di sana, keselamatan kamu pasti terjamin kan?" tanya ibu entah yang ke berapa kalinya.


"Pasti Bu, tuan Jayden akan memberikan tempat tinggal yang layak buat Sheena, ibu tak usah khawatir."


"Kamu ini, tentu saja, semua orang tua akan khawatir saat melihat anaknya akan pergi."


Sheena tersenyum. "Terimakasih ya sudah menjadi ibu terbaik buat Sheena selama ini."


Mereka berpelukan, ibu mengusap lembut pucuk kepala Sheena dengan sayang. "Jaga diri baik-baik selama di sana."


"Pasti Bu."


Sheena menarik kopernya sampai ke luar teras, di sana sudah ada Jayden yang menunggu di samping mobil. anak buah Jayden berpencar mengelilingi sang tuan.


"Kakak, kakak mau pergi kemana?" Dimas, bocah kecil itu menarik-menarik ujung baju Sheena.


Sheena berjongkok. "Kakak mau pergi sebentar, kamu jaga ayah, ibu selama kakak tidak ada ya."


Sementara ayah menghampiri Jayden di samping mobil.


"Apa jaminan dari anda jika anak saya bisa aman bersama anda?"


Jayden menyerahkan secarik kertas atas namanya. "Ini kartu nama saya, anda bisa melaporkan saya ke polisi jika saya berniat jahat atau tidak bisa menjaga putri anda."


Ayah menatap intens mengambil kartu itu.


"Baiklah, tolong jaga putri saya baik-baik, nanti setelah apa yang dia cari bisa dia temukan, tolong pertemukan kembali dia dengan keluarganya di sini."


Jayden mengulas senyum. "Pasti, putri anda selamanya akan tetap menjadi milik anda."


***


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗

__ADS_1


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨


__ADS_2