
Ctak! suara dari cangkir keramik dengan meja kaca beradu, dengan sikap elegan, Viona memangku satu pahanya di satu paha yang lain, hingga sebelah paha lainnya terpampang jelas, entah memang berniat menggoda atau tidak, namun Jayden tak peduli, ia lebih memilih mengalihkan pandangan.
Viona benar-benar berubah drastis, make up tebal dengan gaun yang terbelah di belahan dadanya, cukup berani, sekarang ia benar-benar mirip dengan kakaknya, Vania.
"Jayden, apa yang kakek lakukan, semata-mata hanya karna dia menyayangi mu," kata Viona memulai percakapan. Mereka sekarang ada di sebuah ruangan yang di siapkan sebelumnya oleh bodyguard Jayden, ruangan rahasia yang kedap suara, agar yang terucap di sini tidak terdengar sampai keluar.
"Aku tahu, siapa wanita yang selama ini telah mencuri hatimu."
Perkataan Viona kali ini sukes membuat atensi Jayden terpaku.
"Afsheena daisy, gadis biasa-biasa saja yang bahkan tak memiliki apa-apa. Kau mencintainya bukan?"
"Tapi sadarlah Jayden, selamanya kalian tidak akan pernah bisa bersama."
Jayden mengepalkan tangan menahan geram.
"Dunia kalian saja berbeda, bagaimana bisa kalian bersama?" katanya menyulut api di dalam diri jayden, namun pria itu masih tetap bergeming, pintar mengatur emosinya.
"Tidak seperti aku tau Vania yang memiliki kalangan yang sama, Sheena adalah gadis biasa dari kalangan rendah bukan putri mafia, anak kolongmerat atau keluarga terpandang."
"Bagaimana bisa kalian menyikapi perbedaan di antara kalian nanti?"
"Urusan ku tidak ada urusan dengan mu." tekan Jayden.
"Aku tahu, tapi aku hanya ingin bilang padamu, hubungan kalian akan sangat sulit nantinya."
"Bayangkan jika dia tahu, jika pria yang selama ini dia cintai adalah seorang bos mafia terbesar, seorang kriminal, yang mempunyai dunia gelap, apa reaksinya nanti?"
"Aku yakin dia tidak akan bisa menerima mu."
Viona lalu mencondongkan tubuh lebih mendekat, tangannya yang kecil mengambil kedua tangan besar Jayden.
"Tangan ini, telah menghabisi ratusan bahkan ribuan nyawa, kekejaman mu sudah pasti bukan hanya isapan jempol belaka, tangan yang sudah menghilangkan banyak nyawa ini, tidak mungkin bisa mengenggam tangan seorang gadis polos yang lugu seperti Afsheena, aku yakin wanita baik seperti dia tidak akan bisa menerima penjahat seperti mu."
__ADS_1
"Oleh karna itu di bandingkan dengan nya lebih baik kau melanjutkan perjodohan dengan kakak ku."
Jayden menarik sebelah alisnya. "dengan kakak mu? apa kau sudah menyerah?"
Perlahan Viona tersenyum, mengangguk. "Aku akan mengalah, aku akan biarkan kakak ku menikah dengan mu."
"Percayalah Jayden jika kau tetap melanjutkan hubungan mu dengan Afsheena, akan banyak yang menentang, akan banyak yang mengincar nyawanya nanti, kau tidak tahu selicik apa kakek dan Daddy ku."
Jayden menarik tangan dengan kasar. "Aku bisa melindungi nya."
Viona terperanjat lalu seperkian detik berikutnya dia tersenyum.
"Jika memang kau bisa melindungi nya itu bagus, aku bisa melihat cinta mu yang begitu besar pada gadis itu bahkan hanya lewat tatapan mata saja."
"Betapa beruntungnya dia," katanya dengan gamang.
"Jayden, Sebenarnya ... apa kau pernah melihat ku sebagai seorang wanita?"
Hening, Jayden masih bergeming.
"Aku menyukai sifat lembut mu, perhatian diam-diam mu, aku menyukai semua tentang mu, aku rela berubah menjadi orang lain itu karena dirimu."
"Aku kira jika aku berdandan dan bersikap seperti kakak ku, kau akan melirik ku, memperhatikan ku, tapi nyatanya tidak." wanita itu menunduk, terdengar isakan kecil yang berhasil lolos.
"Tapi ternyata aku salah, aku hanya menyakiti diri ku sendiri."
Jayden menyentuh punggung tangan Viona, sekilas.
"Ada banyak pria di luar sana yang lebih dari diriku, yang mengejar mu Viona, kau tidak perlu melakukan hal sejauh ini demi untuk mendapat perhatian ku," katanya menasehati seperti seorang kakak.
"Percayalah, kau lebih baik dari kakakmu, jadi jangan mengikuti gayanya dan jadilah dirimu sendiri."
Viona menarik cairan di hidungnya perlahan. "Kau benar, aku sadar sekarang, bagaimana pun aku tidak akan bisa mengambil mu dari Afsheena."
__ADS_1
"Dan aku bukanlah wanita gila yang terobsesi hanya dengan satu pria," katanya berkelakar.
"Terimakasih untuk lima tahun ini sudah mau berpura-pura dalam perjodohan ini bersama ku. Mungkin ke depannya, kakak ku lah yang akan menggantikan posisi ku."
Kali ini raut wajah Viona lebih serius. "Jayden, Vania adalah wanita berbahaya, terlepas dia adalah kakak ku atau bukan, aku mengatakan ini karena ingin kau berhati-hati dengan nya."
"Vania adalah anak kesayangan Daddy ku, semua keinginan nya pasti akan selalu di penuhi, termasuk keinginan untuk memiliki mu, jadi berhati-hatilah."
...----------------...
Jayden terpekur setelah pembicaraan nya dengan Viona tadi, setiap perkataan yang di lontarkan Viona seakan terngiang di otaknya.
"Bayangkan kalau dia tahu jika pria yang di cintainya adalah seorang bos mafia terbesar, seorang kiriminal, apa dia masih mau menerima mu?"
Jayden tak yakin, cepat atau lambat Sheena pasti akan tahu semuanya.
Sementara di tempat lain, Viona berjalan agak tergesa-gesa di sekitar lorong menuju parkiran, ketika ia tak sengaja menabrak punggung seseorang, tubuhnya hampir terhuyung ke belakang.
"Maaf, aku tak sengaja," ujarnya menunduk, menyembunyikan wajah yang sembab karna habis menangis.
"Nona Viona ... " suara pelan seorang pria membuatnya tertegun, ia mendongak.
"Kau siapa?" tanyanya menatap pria di depannya ini.
"Saya Kevin nona, sekretaris juga kaki tangan tuan Jayden."
Sheena mengkerut dahi mengingat seperkian detik ia manggut-manggut, ingat. Kevin, mereka pernah sesekali berpapasan karena pria itu selalu mengintili Jayden.
"Maaf, aku harus segera pergi," katanya pamit.
Kevin menoleh menatap kepergian Viona dengan raut wajah tak terbaca, ia tahu tidak seperti Vania si nenek lampir, Viona sangatlah berbeda, walaupun mereka adalah adik dan kakak, Viona adalah seorang peri.
"Ck, ada apa dengan lo Vin?" gumamnya memegang dada yang tiba-tiba berdebar kencang.
__ADS_1