
Mata Elin tertegun saat melihat lelaki di hadapannya yang terlihat begitu kacau , bahkan tanpa ia sadari hatinya merasakan begitu perih melihat keadaan yang begitu memperihatikan pada laki-laki yang masih memiliki sepenuh hatinya itu,
wajah yang pucat , pipi yang sedikit menirus dan pakaian yang terlihat begitu berantakan , dan Elin menyadari kalau laki-laki itu masih menggunakan pakaian yang sama pada saat terakhir mereka bertemu.
" Kau kemana saja ? , aku sudah mencarimu dimana- mana ? " ucap Daniel yang langsung memeluk tubuh perempuan yang begitu ia rindukan.
" Jangan lagi menghilang , aku mohon " ucapnya lagi.
" Lepaskan aku Daniel dan pulanglah , aku sungguh lelah dan ingin beristirahat " ucap Elin melepas paksa tubuh besar yang merengkuhnya , " tidak , aku ingin tetap disini " kata Daniel menatap Elin.
" Terserah padamu " ujar Elin dan beranjak dari hadapan Daniel.
" Maafkan aku " ucap Daniel menarik tangan Elin , " aku sungguh bersalah tapi semua itu tidak seperti yang kau bayangkan "
" Aku sedang tidak ingin membicarakan ini Daniel , pulanglah " ucap Elin begitu dingin.
" Jangan menghindar , kita perlu bicara supaya kau tidak kembali salah paham "
" Aku memang tidak salah paham " jawab Elin sambil memutar tubuhnya dengan kembali menatap Daniel , " lalu kenapa kau pergi ? "
" Karena aku bukan lagi salah paham padamu melainkan kecewa " jelasnya tanpa keraguan.
" Sungguh yang terjadi tidak seperti apa yang kau lihat sayang , perhatian yang aku berikan pada Hannah tidak lebih dari rasa khawatir sebagai seorang teman , dia tidak lagi memiliki siapa.."
" Sampai membuat kau mengabaikan kekasihmu "
" Aku tidak melihat itu perhatian dari seorang teman Daniel "
" Tapi sungguh seperti itu yang terjadi "
" Aku akan berpikir seperti itu , jika aku tidak mengetahui kalau dulu kau begitu mencintai Hannah " ucap Elin dengan sedikit meninggikan suaranya , " kau sungguh salah paham sayang , tidak ada yang tersisa antara aku dan Hannah "
" Tidak ada yang tersisa " kata Elin mengulang dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.
" Kenyataan justru berbeda Daniel , kau seperti terlihat begitu mencintainya " ucap Elin lirih , " tidak , tidak ada lagi rasa seperti itu , percayalah " kata Daniel memohon.
" Percaya , bagaimana bisa kau mengatakan itu dengan mudah huh ? "
__ADS_1
" Apa kau tahu bagaimana perasaanku , saat melihat kau langsung memutar arah mobilmu karena mendengar kabarnya , berlari dengan begitu tergesa-gesa hanya untuk tahu bagaimana keadaannya dan memberikan pelukan yang begitu hangat seolah kau satu-satunya orang yang akan menjaganya "
" Aku tanya padamu Daniel , bagaimana perasaanmu jika yang melakukan itu adalah aku dan memeluk tubuh mantan kekasihku begitu erat di hadapanmu " teriak Elin dengan emosi dan air mata yang menetes tanpa pamit.
" Bisa kau menjelaskan padaku bagaimana persaaanmu huh ? " lanjutnya dengan begitu lirih , namun setelah itu ia segera menghapus air matanya , " ya , kau memang tidak akan tahu bagaimana rasanya , jika cinta yang kau berikan padaku tidak sebesar apa yang aku berikan padamu " lanjutnya sambil menarik nafas untuk menenangkan sedikit perasaannya yang kembali kacau.
Daniel benar benar terdiam oleh perkataan Elin , tentu ia tidak akan bisa terima jika itu terjadi pada dirinya sendiri , namun semuanya sungguh tidak seperti yang di bayangkan , ia benar-benar tidak lagi memiliki perasaan apapun pada Hannah , selain perasaan khawatir karena mengetahui perempuan itu hanya hidup sebatangkara dengan masalah besar yang baru saja menimpanya.
" Beri aku kesempatan , aku mohon " kata Daniel dan hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk semua kesalahannya.
" Pulanglah , tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan " ucap Elin dingin dan kembali melangkah menuju ruang tidurnya , " apa kau ingin mengakhiri hubungan ini ? " tanya Daniel begitu takut , Elin menghentikan langkahnya dan kembali melihat kearah laki-laki itu , " karena memang tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari hubungan ini Daniel " ucapnya begitu lemah dan rasa sesak yang ia tahan , sebenarnya pikiran untuk mengakhiri hubungan mereka tidak pernah terlintas di dalam pikiran Elin , namun otaknya tidak lagi bisa berpikir saat Daniel mengungkit hal itu , selain menyetujuinya dan kembali memutar tubuhnya untuk menyembunyikan air mata yang tidak bisa lagi tertahan untuk menetes.
Bruukkk " suara yang mampu membuat Elin kembali memutar tubuhnya begitu cepat , " Daniel " teriaknya saat menemukan tubuh besar lelaki itu sudah tergeletak di lantai dengan mata yang terpejam.
" Daniel bangunlah "
" Daniel ini tidak lucu " kata Elin panik sambil terus berusaha menyadarkan laki-laki itu.
" Kenapa tubuhnya begitu dingin " ucap Elin semakin panik dan begegas mencari benda pipih miliknya.
" Kau dimana ? " sambungnya cepat.
" Aku masih berada di apartemen Mike , ada apa Elin , kenapa kau terdengar begitu panik ? "
" Kemarilah , Daniel tiba-tiba tidak sadarkan diri " jelasnya , tidak ada lagi terdengar jawaban dari seberang telepon dan sambungan pun tidak di hentikan , yang terdengar hanya suara langkah yang tergesa-gesa.
" Apa yang terjadi ? " tanya Meili setelah tiba di dalam apartemen Elin di ikuti oleh Hannah dan Mike.
" Aku tidak tahu , tiba tiba saja tubuhnya ambruk di lantai " jelas Elin penuh ketakutan , " tubuhnya begitu dingin Meili " lanjutnya dengan hampir menangis.
Mike terlihat terus sibuk dengan benda pipihnya , " Meili segera putuskan , dokter yang kemari atau kita yang membawanya kerumah sakit " ucap Mike dengan handphone yang masih mengarah pada telinganya.
" Kita harus membawanya kerumah sakit " potong Elin , yang tidak peduli jika pertanyaan itu bukan mengarah padanya , " dia lebih berhak memutuskan " sambung Meili pada Mike.
" Baiklah " jawab Mike yang ikut menuruti keinginan Elin.
****
__ADS_1
" Apa kita harus memberitahu tante Viona ? " tanya Mike pada Meili , kini mereka sedang menunggu di depan pintu ruangan Daniel yang sedang dalam pemeriksaan , " Jangan , dia pasti akan lebih panik" sahut Meili , karena ia yakin Viona akan sangat terkejut mendengar kabar putranya tiba-tiba jatuh sakit dan itu akan mengganggu pikirannya , " rahasiakan ini darinya Mike " sambung Meili.
" Apa kau sudah menghubungi Reza ? " tanya Mike lagi dan Meili menganggukkan kepalanya , sedangkan Elin terlihat begitu tidak tenang dengan duduknya , berulang kali ia terus melihat kearah pintu yang belum kunjung terbuka , " Dia pasti akan baik baik saja " ucap Hannah dengan memegang lembut tangan Elin.
Elin hanya bisa tersenyum dengan penuh arti pada Hannah , lalu kembali melihat kearah pintu.
Klek " suara pintu terbuka , membuat semua orang langsung beranjak menuju dokter yang baru keluar dari balik pintu , " bagaimana keadaan kakak saya dokter ? " tanya Meili dengan Elin yang berada disisinya.
" Saya harus bicara dengan keluarga terdekatnya " ucap dokter dengan wajah yang terlihat sedikit cemas , " dimana Nyonya Viona ? " tanyanya karena tidak melihat ibu dari pasiennya itu , " aku belum memberitahunya , jadi anda hanya perlu berbicara dengan saya dokter " sahut Meili , lalu seketika menyadari keberadaan Elin yang tidak kalah penting darinya , " dia juga harus ikut " sambungnya menunjuk Elin.
Dokter menatap sekilas pada perempuan itu lalu menganggukkan kepalanya ," ikut keruangan saya " kata dokter yang langsung berjalan.
" Kami akan tetap disini " ucap Mike yang langsung mengatakan itu , untuk sedikit menenangkan Meili , bahwa Daniel tidak akan sendiri ketika mereka pergi menuju ruang dokter.
" Terimakasih Mike " ucap Meili.
" Dia saudaraku Meil " sahut Mike dan Meili hanya tersenyum kecut lalu tanpa bicara segera menarik tangan Elin menuju ruang Dokter Albert , sesuai dengan Nametag yang tersemat pada jas putih kedokterannya.
" Apa yang terjadi pada kakak saya dokter ? " tanya Meili lagi setelah mereka berdua tiba di dalam ruang kerja dokter pribadinya keluarganya itu ,
sebelum menjawab pertanyaan Meili , Dokter Albert mengela nafasnya , " Bagaimana bisa Tuan Muda mengalami dehidrasi separah ini " ucapnya dengan wajah kekecewaan , " dehidrasi ? " ulang Meili.
" itu hanya penyebab terbesarnya " jelasnya kembali menarik nafas.
" Tuan Muda sedang mengalami Syok Hipovolemik " lanjutnya dengan mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Daniel.
" Syok Hipovolemik dokter ? " ulang Meili begitu tergejut dan Elin yang sudah menundukkan wajahnya , " kami akan segera melakukan tindakan penanganan darurat pada Tuan Muda dan saya harap kalian membantu kami dengan berdoa supaya semuanya bisa di lancarkan " ucapnya lagi.
" Tolong selamatkan dia " ucap Elin memohon dengan air mata yang kembali menetes.
" Kami akan melakukan semampunya nona "
" dan anda Nona Muda , tolong tanda tangani ini " lanjut Dokter memberikan secarik kertas putih yang baru saja di berikan oleh asistennya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚
__ADS_1