
" Meil ini aku ", seru Elin dari balik pintu. Meili yang saat itu masih menangis, menjadi tersadar. Ia butuh seseorang di dekatnya. Ia butuh seseorang untuk ia peluk begitu erat dan menangis sejadi-jadinya disana. Dan Elin orang pilihannya. Dengan tergesa-gesa ia membuat pintu kamar tidurnya, dan berhamburan memeluk tubuh perempuan itu. Memeluknya begitu erat. Dan air matanya kembali tumpah. " Aku sangat jahat Elin. Aku begitu tega menyakiti hati orang lain ", racaunya di dalam tangisan. Saat itu, Elin masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Dan ia masih mencernanya. Di bawanya tubuh lemah perempuan itu kembali ke dalam ruang tidurnya. Meili, butuh ruang untuk menangis. Dan dia tak pernah melihatnya sehancur ini. Meili bukan wanita cengeng sepertinya. Dia perempuan kuat. Perempuan yang dapat menyembunyikan kesedihannya ketika hatinya terluka. Tapi saat ini, Elin menemukan titik itu. Satu titik dimana perempuan itu begitu hancur.
" Aku menyakiti Brian ", katanya di tengah isak tangisnya, dan perlahan, kini Elin mengerti.
" Tapi kau akan lebih menyakitinya lagi, kalau kau tidak cepat mengatakannya Meil ".
" Bahkan aku tidak sempat mengatakan apapun Elin. Dia sudah menebaknya. dan aku hancur, Aku hancur melihat tangisannya. Aku sungguh hancur, karena kesalahanku sendiri ", katanya masih terisak.
" Kau menyesal telah jatuh cinta pada Jerry ? " tanya Elin hati-hati. Tapi tebakannya salah. Meili menggeleng. " seharusnya aku tidak pernah menjanjikan apa pun pada Brian. Dia terluka karena janjiku. Janjiku yang akan terus mencintainya. Memberi harapan padanya. Bahwa, semuanya akan baik-baik saja. Perjodohanku bersama Jerry tidak berarti sama sekali. Tapi kenyatannya aku salah. Aku jatuh cinta dan mengingkari janjiku ". Elin tidak bicara. Dan ia mengerti rasa bersalah yang di rasakan Meili. Ia pernah merasakan itu, meski kisah mereka berbeda. Tapi rasa bersalah, tetaplah menyakitkan, dari sudah kisah mana pun.
Elin hanya bisa mendekap tubuh tak berdaya perempuan itu begitu erat. ia tidak mampu untuk mengatakan, bahwa itu memang sudah jalannya. Kalimat itu terlalu sulit di ucapannya. Dan memang terdengar sangat enteng, untuk orang yang tidak merasakan, bagaimana sakitnya menjadi Brian. Bagaimana terluka perasaannya. Mengatakan, bahwa semua yang terjadi adalah takdir. Hanya dari sudut orang yang tidak merasakan terluka.
Ia tahu bagaimana menjadi Brian, dan ia juga merasakan bagaimana menjadi Meili. Bahkan saat ini, ia tahu bagaimana menjadi Jerry. Lelaki itu menghubunginya beberapa menit yang lalu. Bertanya begitu cemas, kenapa perempuan itu tidak memberi kabar padanya. Dan saat itu, dia terpaksa harus berbohong. Menyebut kalau Meili berada di kamarnya dan sedang tertidur. Sebenarnya ia tak ingin melakukannya. Tapi itu harus di lakukannya. Mengatakan kebenarannya pada Jerry, hanya akan membuat lelaki itu semakin cemas. Memberitahu kalau Meili sedang menangis, hanya akan membuat lelaki itu gelisah. Lebih gelisah ketika tangis itu, di sebabkan oleh lelaki lain.
Elin tidak suka melihat orang lain terluka. Karena ia pernah merasakannya. Jadi sekali pun akan berbohong, dia akan rela melakukan itu. Asal orang lain tidak terluka. Dan itulah kenyataanya selama ini. ia terlalu sering membohongi dirinya untuk terlihat baik-baik saja. Hanya karena tidak ingin orang lain terluka karenanya. Menyembunyikan kesedihannya, seperti menjadi kebiasannya. Dan kini ia melakukannya pada orang lain. Mungkin nanti Jerry akan mengetahuinya, tapi itu lebih baik, dari pada mengetahui apa yang tengah terjadi dari mulutnya.
Di luar kamar Meili. Mobil Hannah, baru saja tiba. Ia datang bersama Vale. Perempuan itu pergi dengan tergesa-gesa ketika Vale memberitahu tentang apa yang telah terjadi pada Meili. Saat itu, baru sedetik berlalu saat dia menyelesaikan langkah terakhirnya di lantai catwalk. Setelah memastikan pakaian desainer yang ia peragakan, tidak lagi tertambat pada tubuhnya. Ia segera menarik tubuh Vale, untuk pergi, dan kini mereka sampai di Mansion keluarga Remkez.
" Mam, boleh kami masuk ? ", tanya Hannah pada Viona yang ia temui di ujung tangga.
" Dia memang butuh kalian ", ucap wanita itu, seraya memandang cemas pada pintu kamar putrinya.
Hannah dan Vale menggangguk, lalu bergegas menaiki tangga untuk sampai cepat ke pintu kamar Meili.
" Boleh kami masuk ? ", seru mereka saat tiba di ambang pintu kamar perempuan itu.
Tanpa menyebut nama. Elin dan Meili langsung mengetahui, siapa yang berada di balik pintu. Pemilik kamar mengangguk, menyetujui pertanyaan,Elin tanpa bicara. Perempuan itu hanya menatapnya. Tapi dia mengerti.
Saat itu, Meili tidak lagi menangis. Tapi Hannah tetap memeluknya erat. Ia sama seperti yang lain, tidak bicara, tapi mengeratkan pelukannya. Ketika sedih, semua orang hanya butuh pelukan, bukan ucapan. Kadang ucapan. Justru bisa menjadi membuatnya semakin terluka. Hannah hanya tahu. Dia harus ada disana. Ada di saat temannya terluka. Karena Hannah tak memiliki siapa pun selain, orang-orang itu.
~
Jerry, sedikit legah ketika berhasil menemukan jawaban, kenapa Meili tak kunjung memberi kabar padanya.
Beruntung ia terpikir untuk menghubungi Elin, satu-satunya orang yang bisa membantunya, ketika dia gundah karena menanti kabar perempuan itu
" Dia tidur ", katanya mengulang untuk meyakin dirinya sendiri. Mengulang kembali kalimat yang di ucapkan oleh Elin, beberapa menit yang lalu. Ia membuatnya yakin dengan jawabannya. Meski sesungguhnya, hatinya bergejolak. Tapi setiap perasaan tak percaya itu melambung. Ia selalu meyakinkan, kalau Elin tak kan membohonginya.
__ADS_1
Dan sampai saat dia kembali ke apartemennya lagi. Wanita itu belum juga memberi kabar. Rasanya begitu mustahil untuk meyakinkan dirinya lagi, kalau perempuan itu benar tertidur.
Sebenarnya dia hanya takut. Di takut Meili mengingkari janjinya. Di takut semuanya tak sesuai harapannya. Dan kebahagian yang ia rasakan beberapa hari ini harus selesai. Rasa cemasnya karena itu. Karena takut ia akan kembali terluka, karena mencintai seorang perempuan.
Jerry membaringkan tubuhnya. Menatap hampa pada langit-langit kamar. Sungguh dia tidak ingin terluka. Rasa itu cukup pernah di rasakan lima tahun yang lalu. Saat ia pernah jatuh hati pada perempuan yang menjadi kakak ipar, dari perempuan yang kini ia cintai. Tidak ada yang tahu, kalau cintanya pada perempuan itu, begitu dalam. Dan juga tidak ada yang tahu, ketika dia terluka sedalam cintanya waktu itu.
Bahkan tanpa orang ketahui, cinta itu telah lama hadir. Bahkan sebelum perempuan itu mencintai laki-laki yang meninggalkan dia selamanya. Ia pikir saat itu, Tuhan memberi kesempatan padanya. Berharap perempuan itu membuka hati untuknya. Meski saat itu, dia sendiri tidak yakin.
Dan benar terjadi. Seolah semesta tidak memberikannya kesempatan untuk memiliki perempuan itu sekali saja. Beruntungnya, dia masih berada begitu dekat dengannya. Masih bercanda dengannya. Masih bicara dengannya. Karena status pertemanan yang begitu naif. Tidak ada yang bisa berteman, setelah pernah jatuh cinta. Tapi demi tetap dekat dengan perempuan itu, dia mau melakukannya. Ia mau menjadi badut, demi perempuan melihat perempuan itu tertawa. Sejatuh cinta itu dia dengan Elin saat itu. Dan tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Ia terlalu mahir dalam berperan. Menyembunyikan rasanya seolah itu tak pernah ada.
Ia baru benar-benar menjauh, ketika mengetahui perempuan itu sudah memiliki kekasih.
Saat itu, tidak ada yang tahu bagaimana di hancur, bagaimana dia terlukanya, oleh sebuah pengharapan, bahwa mungkin suatu hari, wanita itu akan menjadi miliknya.
Dan setelah sekian lama, mereka bertemu kembali di Bali. Setelah ia berusaha menjauh, sejauh mungkin. Hidup di pulau Dewata bukan menjadi pilihannya. Tapi demi menjauh dia datang kemari. Berasalkan perkerjaan. Padahal tetap tinggal di Jakarta, tak akan membuat usahanya bangkrut. Tapi demi menghilangkan perempuan itu. Demi tak bertemu dengan orang-orang terdekat perempuan itu. Dia menjauh.
Tapi kuasanya tak sebesar sang Maha pemilik kehidupan.
Tidak ada yang bisa menghindari takdir pertemuan, jika Dia menginginkannya. Sekali pun kau pergi sejauh mungkin, jika waktunya bertemu. Maka dia yang akan di datangkan ke tempatmu pergi.
Membuat bibirnya tersenyum lebar di hadapan Green dan Amel. Sungguh saat itu, mengoda Meili hanya pengalihan dari hatinya yang hancur, karena melihat Elin bersama Daniel.
Yang tidak ia sangka-sangka dari pertemuan menyakitkan itu, Mata biru milik Meili, terus terngiang di pikirannya. Tak lepas, bahkan sampai dia ingin tertidur dan terbangun lagi. Wajah Meili ada di pikirannya.
Dan sampai saat ini. Seolah kecewanya selama bertahun-tahun oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan mendapati jawaban. Elin memang bukan di takdirkan untuk menjadi miliknya. Tapi menjadi saudaranya. Takdir memang selucu itu. Setelah setengah mati menahan rasa sakit, lalu mereka di pertemukan kembali menjadi saudara.
Tidak ada orang yang bisa kembali berteman setelah pernah jatuh cinta. Tapi ini lebih sulit dari itu. Bukan hanya teman, tapi saudara. Dan beruntungnya, Jerry sudah terbiasa dan lebih beruntung, kini rasa itu tidak lagi tersisa. Hanya saja, kini ia takut. Takut kecewa itu akan kembali muncul kembali.
Matanya terpejam tanpa dia mau. Kini, alam mimpi mengelabuinya. Mengistirahatkannya. sementara dari memikirkan tentang Meili.
Hampir pukul sepuluh malam dia terbangun. Menyadari dirinya telah tertidur dengan pakaian kantor yang masih lengkap di tubuhnya. Dan ia menghela. Saat ini ia tak seyakin sebelumnya untuk membuka handphonenya yang masih tergeletak di sampingnya.
Ia takut, ia kembali kecewa, saat menemukan benda itu belum memiliki kabar dari seseorang yang dia tunggu.
Jerry beranjak dari pembaringannya. Tanpa berniat menyentuh handphonenya lebih dulu. Saat ini, dia ingin mengurangi rasa kecewanya. Mengurangi rasa berharapnya pada perempuan itu.
Ia memilih memandangi kemerlip lampu-lampu kecil di tengah laut. Tanpa sadar ia melakukan hal yang sama, seperti tiga tahun yang lalu. Saat ia kecewa karena mengetahui, kalau hati Elin telah berlabu pada seorang pria di New York.
__ADS_1
Ia memilih memandangi kemerlip lampu-lampu kecil di tengah lautan di bawah malam. Menatapnya dengan berulang kali menghela nafas, dan ini terjadi lagi. Sudah ketiga kalinya dia menghela, saat memandangi, laut tanpa ombak malam ini.
" Jika ini akan mengecewakan. Aku harap rasanya tak sehebat dulu ", gumamnya lirih.
Sayup dari tempatnya. Ia mendengar suara handphonenya berdering. Meski ragu, dia memberanikan diri untuk melihat ke dalam kamar tidurnya lewat kaca besar, yang jadi pemisah, antara dirinya dan benda itu.
Dan ia tersentak, ketika mendapati layar benda itu hidup. Dan itu berarti telinga tidak sedang berhalusinasi.
Langkah kakinya bergerak cepat. Mencapai letak benda pipihnya. Harapannya besar, bahwa yang menghubunginya saat ini, benar Meili. Dan seharusnya memang begitu. Tidak ada orang yang berani menggangu waktu istirahatnya kecuali perempuan itu.
Semua rasa cemas, rasa gundah, dan rasa khawatirnya seolah melebur saat itu juga. Saat nama Meili tertera di layar handphonenya yang menyala. Rasa kecewanya menghilang begitu saja. Oleh satu panggilan telepon dari perempuan itu, Hatinya terlalu lemah. Tapi seperti itu lah orang jatuh cinta. Rasa rindu lebih melambung dari rasa kecewa.
" Darimana saja ? ", serbu perempuan itu. Padahal baru sedetik panggilan mereka tersambung. Garis bibir Jerry melengkung. Mendengar suaranya, sudah membuatnya begitu senang. " aku tertidur ", katanya memberitahu. Dan seperti biasanya. Meili langsung berpindah panggilan dari panggilan telepon, menjadi panggilan video call.
" Kau lihat. Aku masih menggunakan pakaian kerjaku " kata Jerry, menyakinkan Meili, kalau tidak ada kebohongan. Ia tertegun saat melihat wajah perempuan itu. Matanya sembab dan sinar birunya meredup. " apa yang terjadi ? ", katanya bertanya dan tidak bisa menahan hal itu.
Meili terdiam sejenak. Ini yang tidak dia inginkan. Saat lelaki itu mendapati mata sembabnya. Tapi ia terlalu rindu untuk menunda melihat wajah lelaki itu. Dan tak bisa menahannya.
" Kau benar tertidur ? ", tanya Jerry lagi.
Meili masih terdiam. Ia memikirkan dari mana dia akan mulai bercerita.
" Aku menemuinya kemari sore ", katanya mulai bicara. Wajah Jerry langsung terlihat berbeda pada saat itu. Tapi ia tak berusaha untuk menyela. Meski kini, seperti jarum kecil sedang tertancap di daging dalam tubuhnya.
" Semua sudah selesai ", sambung wanita itu tersenyum. Meski terlihat sedikit hambar. Dan Jerry menyadarinya. " kau menyesal ? ", tanyanya dan perempuan itu menggeleng. " Aku hanya sedih karena menyakitinya ".
" Itu sama saja kau tengah menyesal ", sergah Jerry tanpa sadar.
" Menyesal itu dalam banyak hal Jerry ? ", katanya tak mau kalah. " aku menyesal karena menyakitinya, tapi aku tidak menyesal karena jatuh cinta padamu ", sambungnya.
Garis bibir Jerry langsung merekah mendengar itu. Kebahagiaanya seolah tanpa perasaan. Disini ia begitu senang. Sementara di suatu tempat, ada seseorang yang tengah terluka karena kebahagiannya. Tapi kali ini, dia sungguh tidak ingin mengalah. Tak apa di katakan tak punya hati, asal perempuan yang di cintainya juga, mencintainya.
Ia tak pernah merebut perempuan itu dari siapa pun. Dia tidak pernah memaksa perempuan itu mencintainya. Bahkan, dia sempat berpikir untuk menyerah ketika mengetahui perempuan itu memiliki kekasih. Sungguh saat itu, ia ikhlas kembali terluka. Asal Meili bahagia. Dia tidak datang ke bandara hari itu untuk memohon. Dia hanya ingin melihat wajah perempuan itu terakhir kalinya, sebelum dia pergi.
Tapi Meili yang memberinya harapan. Menjanjikan kebahagian padanya. Dan bukan kesalahannya ketika kini ia tersenyum, sebab keinginannya telah terjadi.
Jiika posisinya di balik, mungkin saat ini dia lah menjadi orang yang terluka, sementara lelaki disana tersenyum. Ini hanya tentang keberuntungan di antara mereka. Dan beruntungnya, Meili memilih dirinya.
__ADS_1