
Di tengah musik yang masih bergema tiba-tiba Green menghentikan goyangannya , " ah tidak bisa di bohongi kalau jiwaku memang sudah ibu-ibu " ujarnya tertawa dengan nafas yang tersengal karena kelelahan , semua orang tertawa tak terkecuali Hannah walau ia tidak mengerti apa yang sedang di katakan oleh perempuan itu , " kalian lanjutkan saja " lanjutnya sambil bergerak keluar dari kumpulan mereka , " mau kemana ? " tanya Elin dan Amel bersamaan.
" Aku sudah tidak kuat dan ingin duduk , kalian lanjutkan saja " balasnya dengan kembali melanjutkan langkahnya menuju meja mereka , " ternyata aku masih begitu lemah dengan alkohol " gumamnya sambil memegang kepala yang merasa pusing karena pengaruh sedikit alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya ,matanya tidak lagi bisa melihat dengan jelas namun ia tidak lupa dimana meja letak mereka.
Dengan langkah sedikit sempoyongan akhirnya ia sampai di mejanya dan segera menyenderkan tubuh yang sedikit basah oleh keringat di senderan kursi , " kau baik-baik saja ? " tanya Elin yang ternyata ikut mengakhiri goyangannya di lantai dansa dan ikut bergabung di sisi Green yang sudah terpejam menikmati tubuh lelahnya dan darah yang menghangat karena alkohol.
" Kenapa kau menyusulku ? , aku hanya lelah " ujar Green tanpa membuka matanya untuk melihat siapa yang berada di sampingnya saat ini , " aku juga lelah bodoh " cercah Elin , lalu mereka saling tertawa bersamaan.
" Tubuhku benar-benar terasa kaku "
" Aku juga Green ,selama disini hanya satu kali aku berada disini dan itu saat acara ulang tahun Meili , selebihnya aku benar-benar menjadi anak baik " balas Elin sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal , Green kembali tertawa dengan mata yang kini terbuka , " sekarang aku benar-benar menyadari kalau kita harus menikmati setiap step dalam hidup kita " katanya tiba-tiba membuat Elin yang memang begitu sadar melihat kearahnya , " kenapa kau tiba-tiba menjadi begitu bijak , apa ini karena pengaruh sedikit alkohol yang kau tenggak tadi " balasnya mengejek , namun membuat mereka kembali tertawa " mungkin , tapi kau lihat pada saatnya semua akan berubah dan terasa asing , seperti kita saat ini ! " katanya menjeda.
" Dulu hal ini kita lakukan hampir setiap malam , sampai kita bisa begitu paham dengan goyangan untuk setiap musik yang berbeda dan kau menjadi ahli dalam minuman tapi sekarang semua bukankah terasa asing... " lanjutnya dengan senyuman penuh arti.
" Itu berarti kita sudah memiliki kehidupan lebih baik Green... " balas Elin yang terdiam sesaat lalu menyenderkan tubuhnya di bahu Green sambil memeluk lengan wanita itu , " dulu kita sering melakukan itu karena kita ingin mencari kebahagiaan dan sekarang mungkin kita benar-benar telah bahagia makanya kita tidak lagi membutuhkan dunia malam seperti ini " lanjutnya dengan kalimat yang begitu dalam.
" Semoga kita semua benar-benar saling bahagia " balas Green dengan mata yang menerawang ke arah gemerlap lampu.
" itu harus Green , kalian sudah memiliki segalanya lalu apa lagi alasan untuk tidak bahagia "
" Kata bahagia itu hanya mudah di ucapkan Elin tapi tidak mudah di dapatkan ".
" Maksudmu , apa kau tidak bahagia Green ? " tanya Elin yang kali ini terlihat lebih serius dengan membuatnya kembali menegakkan posisi tubuhnya hanya untuk melihat wajah Green , wanita itu tertawa karena tingkah panik Elin " Tentu aku sangat bahagia Elin seperti katamu apalagi yang kurang dari hidupku , hanya saja menjadi istri dan seorang ibu benar-benar tidak mudah "
" Terlebih untuk Naina , aku selalu takut menjadi ibu yang tidak tepat untuknya " sambung Green dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca , ntah kenapa malam ini perasaannya begitu sensitif hingga membuat air matanya begitu mudah untuk terjatuh.
" Green.. " panggil Elin lembut dan kembali menggenggam tangan perempuan itu lebih hangat , " kau sudah menjadi ibu yang hebat dan mungkin saat ini Naina belum paham tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan mengatakan dia bangga punya ibu sepertimu ".
" Ya ibu yang bodoh " balasnya dengan air mata yang sudah mengalir.
" Hei apa yang kau katakan Green , kau tidak lihat seperti apa perkembangan otak dan cerewetnya anakmu itu dari mana lagi ia menurunkannya kalau bukan darimu , jadi kau bukan ibu yang bodoh "
" Aku hanya menuruni cerewetnya Elin , untuk kepintarannya itu jelas dari Nathan " balasnya dengan tertawa sambil menepis air mata yang masih mengalir di pipinya " tidak ada lagi yang bisa aku turunkan untuknya " sambungnya dengan suara yang kembali serak.
__ADS_1
" Green yang mengatakan kau bodoh hanya ayahmu dan itu dulu ,bukankah sekarang dia sudah mengakui kalau kau anak yang hebat hemmm... "
" Jangan mengutuk dirimu sendiri Green kau sudah sangat sempurna untuk menjadi seorang ibu untuk Naina , bahkan aku begitu bersyukur mempunyai sahabat sepertimu "
" Ceh , jangan berlebihan hanya untuk menyenangkan aku Elin " kata Green tertawa dengan mata yang masih menangis , " tidak , ini tidak berlebihan aku sungguh mengatakannya dari dalam hatiku , aku sungguh beruntung memilikimu dan Amel dalam hidupku , kau sangat sempurna Green kau cantik , smart , setia dan begitu pemberani " katanya menjeda dengan sesaat menarik nafasnya, " sampai saat ini pun aku tidak lupa kalau kau pernah hampir di keluarkan dari sekolah hanya karena membelaku "
Dahi Green berkerut sambil mengingat kejadian yang baru saja di ulas kembali oleh Elin lalu ia tertawa setelah kembali mengingatnya , " ya aku benar-benar menghajar Zahra tanpa ampun saat itu " .
" hemmm.. seharusnya kau tidak melakukan itu karena dia mengatakan yang sebenarnya " balas Elin tertawa , namun berbeda dengan Green yang seketika menghentikan tawanya bahkan kini matanya menatap tajam pada Elin , " kebenaran atau tidak , tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh menghina sahabatku dan dia masih beruntung karena aku tidak membunuhnya saat itu " ucapnya dengan begitu marah , namun terlihat lucu untuk Elin yang melihat " Ceh , kau selalu saja bisa membuat aku tertawa dan menangis bersamaan " katanya sambil mengusap air mata haru yang sudah jatuh di pipinya.
" Tolong peluk aku Green " pintanya begitu manja dan Green dengan senang hati melakukannya , " terimakasih telah begitu baik padaku " ucapnya di dalam pelukan.
" Apa kau ingin aku pukul huh " balas Green namun dengan senyum di bibirnya , bahkan tangannya bergerak mengusap lembut rambut sahabatnya itu.
" Kenapa kau masih begitu galak huh "
" Itu karena kau menyebalkan "
" Padahal aku bersungguh-sungguh dengan ucapan terimakasihku "
" Ceh , tapi aku sungguh menyayangimu dan juga Amel "
" Tentu kami juga " balas Green yang semakin memeluk gemas tubuh Elin , " kau masih saja begitu manja "
" Dan kau masih saja begitu galak " balasnya yang akhirnya kembali membuat mereka saling tertawa dengan pelukan yang semakin erat.
sambil mengusap air mata yang mengalir , pandangan Elin tiba-tiba terhenti pada sekelompok orang yang tidak jauh dari tempat mereka , " tunggu apa mataku tidak salah melihat " gumamnya sambil melepas pelukannya bersama Green.
" Ada apa ? " tanya Green yang ikut penasaran.
" Green apa tadi aku menggunakan contact lensku "
" tentu bagaiamana kau bisa melibat sekarang kalau kau tidak menggunakannya , ada apa Elin ? "
__ADS_1
" Aku rasa aku juga tidak mabuk " sambungnya lagi dan Green mengangguk membenarkan.
" Emangnya ada apa Elin ? "
" Ntahlah , tapi aku seperti berhalusinasi melihat Daniel dan suami kalian ada disini "
" Itu tidak mungkin Elin ,kau terlalu memikirkannya "
" Tapi sekarang aku kembali melihat dan wajah mereka masih tetap sama " katanya dengan mata yang kini menatap tidak berkedip pada satu meja yang letaknya tidak jauh dari mereka , Green yang penasaran pun ikut melihat kearah pandangan mata Elin dan tiba-tiba matanya ikut membesar , " aku memang sedikit mabuk tapi aku tidak buta , itu memang benar mereka Elin " katanya dengan begitu terkejut dan matanya semakin membesar saat menemukan beberapa wanita juga ikut duduk disana.
" Kau lihat Elin mereka duduk dengan beberapa wanita " tunjuknya dengan dada yang mulai panas.
" Ternyata yang aku lihat memang benar "
" Ya benar , kenapa kau masih duduk disini "
" Memang apa yang harus kita lakukan Green "
" Astaga Elin kenapa kau masih begitu bodoh huh , kau tidak melihat mereka bersama wanita lain " ucap Green yang sudah emosi bahkan sekarang ia sudah bangun dari duduknya dan siap melabrak empat lelaki itu.
" Tapi kita juga salah karena telah membohongi mereka Green "kata Elin lemah dan Green terdiam sesaat , " tidak, walau kita bohong tapi kesalahan mereka lebih fatal "
" Cepatlah bangun Elin dan terimakasih telah mengingatkan ke bar-baran ku dulu dan sepertinya saat ini Nathan ingin mencobanya " geramnya dengan emosi yang sudah memuncak , " apa aku harus memanggil Amel dan Hannah Green ? " .
" Tidak perlu sekarang kita berdua dulu biarkan mereka berjoget ,
lalu sekarang buka heelsmu " ucap Green sambil ikut membuka sepatu di kakinya sendiri.
" Apa yang ingin kau lakukan Green " ujar Elin sedikit takut , namun tetap menuruti permintaan sahabatnya itu.
" Akan ku hancurkan mereka dan tempat-tempatnya "
" Mereka saja Green ,tempatnya jangan kasihan Ken "
__ADS_1
" Ada apa denganmu Elin, apa kau tidak panas calon suami sedang bersama wanita lain " teriak Green yang sudah tidak bisa mengontrol emosinta membuat Elin terdiam sejenak , " ya kau benar sebaiknya kita hancurkan bersama tempat-tempatnya " sambung Elin yang kini telah ikut Emosi dan melupakan kesalahannya bahkan ia sudah berjalan lebih dulu menuju tempat dimana calon suaminya duduk bersama para wanita , " kau benar-benar akan mati di tanganku Daniel " geramnya dengan emosi yang sudah memuncak.