Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Gugup


__ADS_3

Elin, kini masih terpaku di hadapan pintu utama. Setelah mobil yang membawa keluarga besar Remkez dan Vernandes menghilang dari penglihatannya.


Kakinya masih tak bergerak untuk masuk dengan jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Bahkan saat ini lebih mendebarkan dari saat ia akan mengikrarkan janji suci tadi.


" Ayo masuk " ajak suara serak dari laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya.


Deg


Jantungnya berdebur semakin kencang. Dan itu lah alasan dari kegugupannya saat ini, menyadari bahwa malam ini ia tidur bersama lelaki itu, " hemmmm.. " balasnya tak bisa berkata-kata oleh rasa gugup yang semakin menjadi-jadi.


" Kau lelah ? " tanya Daniel begitu lembut padanya, sembari menggenggam tangannya yang masih di penuhi henna berwarna putih, " ya... "


" Sedikit " sambungnya lagi dengan tersenyum kaku.


Tanpa bertanya Daniel menarik tangannya berjalan dan itu membuat jantungnya semakin berdebar tak karuan. Berulang kali ia menelan paksa ludah yang terasa tercekat di tenggorokannya. Kata kata Green benar-benar memenuhi otaknya saat ini.


" Istirahatlah " kata Mala tiba-tiba yang membuatnya tersentak di tengah langkahnya menuju kamar tidur, yang hari ini di sebut kamar pengantin oleh semua orang, " emmm ya bu " balasnya tersipu. Dan kini Mala tersenyum menyadari ada kegugupan dari ucapannya. Namun ia mengidah dan menatap kepada laki-laki muda yang kini telah resmi menjadi menantunya, " ibu harap kau tidur nyenyak disini " katanya pada Daniel.


" Tentu ibu. Tidak ada alasan untuk tidak tidur dengan nyenyak. Sekarang aku punya istri yang bisa aku pelu... "


Belum selesai ia bicara, tangan Elin lebih dulu menarik pinggangnya dengan cubitan dan membuatnya meringis tertahan.


Mala menahan tertawa, begitu pun Bimo yang juga masih berada disana.


" Ya istirahatlah. Jangan sungkan meminta bantuan apapun pada Ibu dan Ayah " sambung Mala.


" Ya Ibu " sahut Daniel, sementara Elin mengangguk tanpa berani menatap ke arah ibunya.


Mala dan Bimo masih berada di ujung bawah tangga, ketika Daniel dan Elin beranjak menuju kamar mereka, " aku tahu betul bagaimana perasaan dia saat ini " kata Mala tersenyum bahkan hampir seperti menahan tawa membicarakan putrinya. Dan Bimo ikut tertawa mendengar itu, " dia begitu gugup, tapi baguslah itu berarti putriku masih begitu suci " katanya menyambung. Dan bersamaan mereka di kejutkan oleh teriakan Elin menyebut nama Daniel.


" Ada apa nak ? " tanya mereka menjadi panik dengan kembali melihat ke bagian atas arah anak tangga.


" Tidak Ayah. Aku hanya terkejut " jelas Elin yang kini sudah berada di dalam gendongan Daniel, " Maaf ayah, aku hanya tidak sabar karena dia terlalu lambat berjalan karena kainnya ini " tambah Daniel menjelaskan.


Sementara Mala dan Bimo hanya mengangguk dengan menahan senyum, " ya ya. Usahakan untuk tidak berteriak lagi " ucap Bimo tertawa dan itu membuat Mala melayangkan pukulan pada lengannya.

__ADS_1


" Kenapa bu ?, Apa kau juga mau. Ayah sungguh tidak keberatan "


" Pikirkan Asam uratmu " sahut Mala tertawa sambil berlalu menuju kamar tidurnya.


~


" Kau ini, kenapa harus menggendongku " protes Elin menahan malu.


" Memangnya kenapa ? " balas Daniel tanpa rasa bersalah, dan terus melanjutkan langkahnya tanpa berniat menurunkan Elin dari gendongannya, "apa kau tidak malu pada Ayah dan Ibu huh "


Daniel menggeleng tanpa ragu, " Memang apa yang salah sayang. Kau istriku, lagi pula aku melakukan hal yang benar. Kalau saja aku tidak menggendongmu bisa saja kau terjatuh tadi " jelasnya membela diri. Dan Elin bungkam untuk kembali berbicara, karena jika di pikir apa yang di ucapkan lelaki ini benar. Mungkin saja ia akan jatuh kalau saja Daniel tak cepat menggendongnya tadi. Namun bersamaan ia masih begitu malu pada kedua orang tuannya, " Terimakasih sayang " ucapnya pelan, dan bersamaan langkah kaki Daniel berhenti.


" Kenapa ? " tanyanya sedikit panik.


" Buka pintunya sayang, tanganku tidak bisa... "


" Oh astaga.. "


" Turunkan saja aku "


Elin tersenyum, " padahal dengan begini malah semakin repot " gumamnya sambil berusaha menekan knop pintu yang berbalik arah dengan tangan kanannya.


Jantungnya kini kembali berdebar ketika masuk ke dalam kamar tidurnya, yang saat ini ia baru menyadari kalau ruangan itu di penuhi oleh aroma bunga mawar dan melati segar yang menghiasi di penjuru ruangan, Bahkan ia seperti baru tersadar dengan ribuan kelopak mawar merah yang tersebar di atas tempat tidurnya, " kenapa ? " tanya Daniel kebingungan melihat tingkahnya yang mengamati ruang tidurnya sendiri.


" Tidak " sahutnya menggelengkan kepala, " aku hanya baru menyadari hiasan kamar ini..." sambungnya, dan belum selesai bicara tubuhnya kini sudah terhempas ke atas tempat tidur oleh Daniel. Dan sekali lagi ia menelan ludahnya disana. Jantungnya kembali berdebar tak menentu.


" Kau cantik sekali hari ini " ucap Daniel dengan mata biru yang menatap lekat pada bola matanya, " emm.. terimakasih sayang. Kaaauu juga tampan " balasnya sangat gugup.


Apa ia akan melakukannya sekarang, begitu isi dalam otak Elin saat ini. Dan ia pasrah ketika wajah Daniel semakin dekat dengan wajahnya. Matanya terpejam dengan jantung yang berdegub semakin kencang dan bersamaan ucapan Green kembali memenuhi otakknya.


Tok tok tok


Pintu kamar tiba-tiba di ketuk. Ketika baru saja Daniel ingin mengecup bibir ranum di hadapannya, " ceh " decihnya sedikit kesal.


" Mandilah sayang " pintanya sambil beranjak menuju pintu.

__ADS_1


" Apa aku bau " gumam Elin sambil mengendus tubuhnya sendiri.


" Kak.. " panggil Seni, adik bungsu Elin. Ketika pintu sudah terbuka, " oh kak Daniel. Maaf mengganggu kak.. " ucapnya begitu sungkan.


" Tidak apa-apa, Ada apa ? "


" Emmm ini.. "


" Ada apa Seni ? " tanya Elin sambil menyusul ke arah pintu.


" Ini kak.. " kata Seni berusaha menjelaskan, dengan menyodorkan satu kotak dengan bingkai pita jepang berwarna merah di atasnya, " ini dari teman kakak. Dia mengatakan hadiah ini harus di buka malam ini, itu sebabnya aku kemari memberikannya "


" Siapa ? "


" Teman kakak yang model itu "


" Oh Hannah " ucap Daniel dan Elin bersamaan, " terimakasih Dek " katanya lagi pada Seni yang tanpa menunggu sudah beranjak dari hadapan pintu kamarnya.


" Apa ini ? " gumam Elin penasaran, sambil membawa kotak itu menuju tempat tidurnya. Namun langkahnya terhenti ketika sepasang tangan memeluk erat pinggangnya, " sayaang... " panggil Daniel begitu manja, bahkan lebih manja dari yang pernah ia lakukan.


" Hemmm... "


" Ayo mandi bersama " sambungnya, membuat mata Elin membulat seketika bersama pipi yang merona.


Elin gelagapan saat ini. Bingung apa yang harus ia lakukan. Menuruti lelaki itu, tapi ia masih begitu malu, " sayang aku harus membersihkan riasanku. Mandilah lebih dulu hmm ".


" Aku akan menunggu " balas Daniel tersenyum.


" Emmm.. tapi sayang. Ini akan sedikit lebih lama.. dan... "


Cup


Daniel mengecup singkat bibir Elin, " aku tahu kau pasti masih sangat malu, tidak apa apa. Kita masih mempunya ribuan hari untuk melakukannya " katanya dengan senyum nakalnya. Namun begitu manis, bahkan sangat manis dari biasanya. Elin yang tadi begitu gugup kini tersenyum, " terimakasih telah mengerti suamiku " ucapnya senang.


" Untuk saat ini.. " ucap Daniel tegas lalu kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Elin, " tapi nanti tidak ada pengertian lagi " ucapnya pelan. Namun penuh penakanan dan itu berhasil membuat Elin merinding, " bahkan tanpa ampun " tambahnya lagi, dan setelah itu ia tertawa sambil berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Elin yang kini terdiam dengan berulang kali menelan paksa ludahnya, " Setidaknya biarkan aku berjalan dengan normal besok pagi " gumamnya ketakutan, dan ia yakin laki-laki itu tidak sedang bercanda saat ini.

__ADS_1


__ADS_2