Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Bahagialah di Surga


__ADS_3

Bibir Elin bergetar hebat menatap benda tak bernyawa di hadapannya. Dadanya kian sesak oleh tangisan.


Kerinduan yang ia tahan selama ini kini pecah disana.


Di peluknya dengan begitu erat batu yang bertuliskan nama ibunya. Tidak ada suara disana hanya isak tangis pilu yang tersendat oleh rasa sesak.


Ada banyak yang ia ungkapkan. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia katakan tapi mulutnya tidak mampu untuk bergerak. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti.


" Aku hebat bukan bu ? " ucapnya serak. Beberapa kali tangannya bergerak untuk menyeka air matanya. Namun, bulir kristal itu seperti tidak mengerti dan tanpa malu terus membasahi wajahnya.


" Bu yang aku lalui sangat menyakitkan " sambungnya terisak. Wajahnya kini tertunduk di atas nama ibunya.


Semua orang yang berada disana kini menyekah air matanya masing-masing. Tidak ada yang bisa menahan diri untuk tidak menangis saat menyaksikan sesuatu yang begitu menyedihkan.


" Setelah hari itu, ini pertama kalinya kita bertemu bu " ucapnya begitu lemah, " aku rindu ibu, bahkan sangat rindu bu " ungkapnya penuh sesak, " tidak ada satu pun yang bisa membuat aku lupa akan kalian. Aku selalu rindu bu, aku rindu pelukanmu,suara nyanyianmu sebelum aku tertidur dan aku rindu kita bersama " sambungnya, tangis Elin semakin pecah disana.


Tetesan air langit seolah memahami apa yang sedang di rasakan oleh Elin, membuatnya seirama dengan racauan Elin dan air matanya yang terus mengalir.


Green mendekat. Di pelukannya tubuh lemah yang memeluk erat sebuah batu. Bahkan ia sendiri tidak mampu berkata-kata saat ini, walau hanya mengucapkan kalimat menenangkan untuk sahabatnya.


Isak tangisnya ikut pecah saat tubuhnya merasakan getaran tubuh Elin, " Kau kuat, kau orang yang kuat Elin " ucapnya dan hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Walau ia tidak merasakan seperti apa menjadi Elin, tapi ia tahu itu tidak mudah. Bahkan sangat tidak mudah.


Amel kini ikut mendekat, lalu merengkuh kedua tubuh sahabatnya bersama isak tangis.


" Kami selalu ada untukmu Elin. Dan semua orang disini ada karena menyayangimu bahkan sangat menyayangimu " ucap Amel di dalam tangisannya.


Daniel kini hanya bisa terdiam mematung dengan sesekali menyeka air matanya. Hatinya begitu sakit saat melihat wanita yang di cintainya tengah menangis dengan pilu, dan tidak ada yang bisa menahan diri untuk tidak menangis melihat itu.


Daniel ingin sekali mengehentikan air mata itu dan memeluknya dengan sangat erat. Namun setiap kali ia ingin mendekat tangan Nathan selalu menghentikannya, " biarkan dia menangis. Biarkan untuk terakhir kalinya " ucap Nathan. Walau ia sendiri sebenarnya ingin menghentikan itu, terlebih saat melihat istrinya ikut menangis bersama Elin.


Tapi Nathan tahu. Memang ini yang di inginkan dan Ini yang harus terjadi. Perempuan itu harus meluapkan perasaannya demi hidup yang benar-benar bahagia.

__ADS_1


" Tapi Jo.. "


" Ini demi kesembuhannya Rem. dan berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah membiarkan air mata itu kembali menetes " ucap Nathan.


Daniel menarik nafas bersama mata yang terpejam. Rasanya ia tidak sanggup untuk terus melihat wanitanya menangis.


Semua orang semakin terisak, terlebih tiga perempuan yang saling merengkuh di atas makam.


Berulang kali Green menyeka air mata yang tidak berhenti mengalir. begitu pun Amel.


Semua orang seperti merasakan apa yang kini tengah di rasakan oleh Elin, " menangislah Elin. Luapkan semua kerinduanmu disini " kata Green di sela isak tangisnya.


" Bahkan aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa Green " ucap Elin dengan tangis yang tersendat, " aku tidak tahu apa lagi yang akan aku katakan padanya ".


" Tapi bu aku ingin marah. Ibu harus tahu kalau aku benci menjalani hidup ini. Aku benci menghadapinya sendiri. Kenapa kalian harus meninggalkan aku sendiri bu. Aku takut dan aku kesepian " racaunya, bahkan di ujung perkataannya ia tidak lagi bisa bersuara.


Dengan kaki bergetar Viona mendekat ke sisi makam. Air matanya sudah mengalir sejak tadi dan kini semakin deras mengalir, " maafkan aku " ucap Viona terisak.


Viona mengusap lembut kepala Elin, " Aku mungkin tidak bisa melakukan apa-apa untuk kesalahanku, tapi aku berjanji. Aku berjanji akan menjaga dan menyayangi putri kalian dengan sepenuh hatiku. Aku berjanji " ucapnya lemah. Namun dengan penuh kesungguhan.


Reymond mendekati tubuh istrinya, lalu membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukannya, " mereka pasti mendengar permohonan maafmu " ucapnya pada Viona. Lalu kemudian membawa tubuh itu sedikit menjauh dari sisi makam, dengan air mata Viona yang masih belum berakhir.


Daniel kini telah mendekat ke sisi calon istrinya, dan di saat itu Green dan Amel melepas pelukan mereka lalu bergerak sedikit menjauh.


Di pegangnya lembut tangan Elin yang masih memeluk erat batu nisan, " Ibu, ayah ini aku calon menantu kalian " ucapnya lemah.


Elin mengangkat kepalanya dan melihat pada wajah laki laki yang kini berada di sisinya.


Hatinya terenyuh saat melihat setetes air mata mengalir dari wajah laki laki itu, walau dengan cepat dia menyekanya.


" Aku berjanji akan membahagiakan dan mencintai putri kalian dengan segenap jiwaku " ucapnya begitu tegas. Namun suara serak dari nada ucapannya tidak bisa menyembunyikan kalau hatinya hancur saat ini, " aku berjanji akan membuat putri kalian bahagia setiap harinya, tidak ada kesepian atau pun air mata yang mengalir " tambahnya bersungguh sungguh.


Mendengar ungkapan itu tangis Elin kembali pecah, ia beranjak dari tempatnya dan masuk dalam pelukan Daniel. Lalu menangis sejadi-jadinya disana.

__ADS_1


" Setelah ini kau akan terus bahagia sayang. Aku berjanji " ucap Daniel yang kini tidak bisa untuk menahan tangisannya, " kau tidak akan lagi kesepian atau pun merasa sendiri. Itu janjiku "


Elin tidak bisa berkata-kata, hanya isak tangis yang terus terdengar dari wajah yang ia tenggelamkan di dada Daniel, dan seiring itu air langit semakin deras terjatuh.


" Ayo kita pergi nak " ajak Mala mendekat pada Elin dan Daniel.


" Mereka pasti merestui kalian " tambahnya dengan menyeka air matanya yang kembali menetes. Lalu kemudian ia kembali mendekat ke sisi makam " Berbahagialah di tempat kalian. Karena anakmu sudah akan bahagia disini " ucapnya serak. Mala kembali terisak dengan wajah yang tertunduk, " aku mungkin tidak menjadi ibu yang sempurna untuk putrimu, tapi aku sudah mencoba memberi yang terbaik Mer. Cinta yang kami berikan sama besarnya dengan anak kandungku, tidak pernah kurang dan aku yakin kau tahu itu " katanya sambil menyeka air mata yang mengalir dan saat itu Bimo ikut mendekat.


" Terimakasih telah memberikan kami putri yang sangat baik " tambah Bimo sambil mengusap makam di hadapannya, " sampai kapan pun kasih sayang kami tidak akan pernah berkurang pada putri kalian " lanjutnya dengan mata yang kini mulai berair.


Semua orang menabur bunga di atas makam bersama rintik air hujan yang mulai deras terjatuh.


Lalu Green memberikan dua bucket bunga lily putih kepada Elin, " berikan pada Ibu dan Ayahmu " ucapnya.


Dengan air mata yang kembali mengalir, Elin meletakan satu bucket bunga Lily di makam ibunya, " Bu aku rindu " ucapnya seraya mencium batu bertulis nama ibunya, " aku mohon datanglah ke mimpiku, walau hanya sebentar. Aku ingin bertemu bu, sekali saja " ucapnya terisak dan itu membuat semua orang kembali menangis.


" Sekali saja. Aku mohon " ulangnya penuh sesak.


Dengan lemah ia beranjak ke makam di sampingnya, sambil meletakan bucket bunga Lily tangisnya kembali pecah, " kau begitu tidak adil ayah. Kau lebih memilih menjaga ibu dan pada aku " ungkapnya. Ia terdiam sejenak, mengatur nafas yang mulai tersendat karena sesak, " aku juga sangat merindukanmu dan cintaku tidak pernah berkurang ayah ".


" Seperti ibu, tolong datang ke dalam mimpiku walau hanya sebentar Ayah. Aku ingin bertemu dan jika boleh aku ingin memeluk kalian " pintanya dengan tersendat, " aku mohon datanglah. Katakan kalau kalian merestui pernikahanku " sambungnya.


Hujan semakin deras mengalir dan itu berarti tangisan itu harus segera berakhir, " ayo sayang " ajak Daniel.


Elin terdiam sejenak menatap bergantian pada makam yang mulai terlihat sedikit usang. Rasanya tak sanggup ia pergi dari sana, mengingat setelah kejadian itu, ini kali pertamanya ia datang, " sampai bertemu lagi ayah, Ibu " ucapnya lemah, lalu menarik nafas begitu dalam, dan beranjak dari tempatnya, " aku mohon datanglah, aku benar benar ingin bertemu " ucapnya dalam diam.


Kembali di seka sisa air mata di wajahnya, langkahnya kini semakin menjauh. Namun, matanya terus menatap pada dua makam orang yang begitu berarti di dalam hidupnya, " selamat tinggal Ayah, Ibu dan sampai bertemu lagi " ucapnya. Tubuhnya masih bergetar oleh sisa tangisan. Namun, ntah mengapa justru saat ini ia merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Seperti sebuah perasaan yang akhirnya bisa di ungkapkan. atau lebih tepatnya seperti sebuah rindu yang begitu dalam akhirnya bisa tersampaikan.


Walau hanya di ungkapkan di hadapan benda yang tidak bernafas, tapi itu terasa jauh lebih baik dari pada ia menangis sepanjang malam karena kerinduan.


Elin kembali sekali lagi melihat pada dua makam yang di hiasi bunga Lily, " aku mencintai kalian lebih dari apapun Ayah, Ibu dan selamanya akan begitu " ucapnya dengan air mata yang kembali menetes. " Bahagia lah di surga " sambungnya dalam diam, lalu ia masuk ke dalam mobil yang siap melaju meninggalkan pemakaman dan bersamaan hujan deras turun.


" Mereka pasti senang karena kau datang " ucap Daniel dan Elin mengangguk, meski tanpa senyum disana.

__ADS_1


__ADS_2