
Sepasang mata masih terjaga di tengah malam yang sudah begitu larut. Jantungnya tak berhenti berdebar saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, " bagaimana bisa dia yang di jodohkan denganku " gumamnya tak habis pikir.
Berulang kali ia menghela nafas hanya karena memikirkan hal itu.
" Jerry " ucapnya tanpa sadar, serta jantung yang semakin berdetak lebih cepat saat nama itu terucap dari bibirnya.
" Astaga " pekiknya setelah menyadari apa yang tengah ia ucapkan.
Ting
Bersamaan sebuah pesan masuk ke dalam handphonenya.
" Hai, Apa kau sudah tidur ? " tulis pesan yang tertera di layar benda pipih miliknya, dahinya berkerut saat melihat pesan itu di kirim oleh nomor kontak yang tidak tersimpan dari benda itu.
" Siapa ini ? " gumamnya. dan seperti itu lah yang ia tulis pada balasan pesan yang baru saja masuk.
Sebenarnya kini di kepalanya telah terpikir siapa yang baru saja mengirim pesan padanya. Namun saat menyadari itu, segera ia menepisnya, " tidak, tidak mungkin dia. Dia tidak mempunyai kontakku " gumamnya, " tapi bisa saja dia memintanya pada.... ".
Ting
Sebuah pesan kembali masuk, dan tanpa menunggu Meili dengan cepat melihat ke layar handphonenya.
" Ini aku Jerry, kenapa belum tidur ? "
Deg
Jantung Meili benar-benar terpompa semakin cepat saat membaca kalimat itu di layar handphonenya, " kenapa dia bisa mempunyai nomorku " pekiknya.
" Aku tidak ngantuk, darimana kau dapat nomor teleponku ? "
" Rahasia " balas singkat Jerry dengan pesannya.
" Aku serius ! "
" Aku juga serius cantik. tidak penting dimana aku mendapatkan nomormu ".
" Bagiku itu penting "
" Benarkah ?, tapi aku rasa itu tidak sepenting kamu untukku. Tidurlah, jangan terlalu di pikirkan tentang perjodohan kita "
" Ceh " decih Meili dengan kedua sudut bibir yang terangkat, " kenapa dia begitu percaya diri " ucapnya, matanya tidak berpaling menatap pada kolom pesan.
Ting
__ADS_1
Pesan kembali masuk.
" Senang mengenalmu Meili. Aku harap kau tidak menutup kesempatan kita untuk saling lebih mengenal. Selamat tidur " isi pesan yang kembali di kirim oleh Jerry padanya.
" Selamat tidur juga " balasnya, yang ia ketik tanpa sadar.
Lalu matanya membesar setelah menyadari itu. Namun tak bisa lagi membatalkan isi pesannya, " ini bukankah aku terlihat seperti aku mengiyakan " ucapnya merutuki kebodohannya sendiri.
" Bodoh bodoh bodoh " pekiknya.
Ting
Pesan kembali masuk, dan dengan cepat ia melempar benda pipih itu menjauh dari tangannya. Namun rasa penasarannya berhasil membuat beberapa detik kemudian ia menggapai kembali benda itu.
" Mimpi yang indah cantik " tulis pesan singkat Jerry.
" Ceh " decihnya dengan sedikit tersenyum, dan kali ini ia benar-benar tidak berniat untuk membalasnya. Namun ucapan itu berhasil membuat matanya benar-benar mengantuk dan terbawa ke alam mimpi.
***
" Kau serius akan pergi ?, tidak bisakah Reza menyelesaikannya ? " tanya Viona beruntun di tengah pembicaraan bersama putra dan suaminya, di jam yang hampir melewati tengah malam.
Daniel menghela nafas, " kalau itu bisa aku tidak akan mengatakan ini Mam " balasnya, wajahnya nampak gusar, terlebih setelah Reza kembali memberitahukan masalah yang terjadi pada perusahaannya, dan itu berarti pagi nanti ia harus benar-benar akan terbang ke New York.
Kini bergantian Viona yang menghela nafas, " di saat seperti ini kenapa harus terjadi hal seperti ini " keluhnya.
" Temui segera orang tua Elin Mam, bicarakan apa yang sudah aku bicarakan pada Mami tadi " pinta Daniel kembali berbicara.
" Elin menyetujui ? " tanya Viona.
" Hemm.. " Daniel mengangguk, " kami sudah membicarakan semuanya dan dia mau Mam " ucapnya sedikit lemah, lalu kembali menarik nafas. Sesaat kemudian ia menatap lamat pada wajah ibunya, memegang lembut tangan perempuan itu dengan penuh arti, " tolong persiapkan pernikahanku mam " pintanya serius, " tolong yakinkan kedua orang tua Elin untuk menyetujui hal ini, aku sungguh tidak ingin menunda pernikahanku " ucapnya lemah, dan itu membuat hati kedua orang tuanya mengibah.
Tidak biasanya lelaki itu berbicara begitu lemah .
" Aku pasti akan melakukan apapun untuk putraku " ucap Viona dengan mata yang sedikit berair.
" Apa kau membutuhkan papi ? " tanya Reymond menyela.
" Emmm... untuk saat ini tidak, tapi jika aku membutuhkannya aku pasti akan menghubungi papi " sahut Daniel, lalu kembali menatap pada Viona, " Mam.. " panggilnya lirih.
Perempuan paruh baya itu langsung mengerti arti tatapan putranya, " Mami pasti akan menyiapkan semuanya dan mami pastikan setelah kau kembali kau akan langsung menikah " ucapnya sedikit tertawa. Namun tidak di pungkiri ada sedikit ke khawatiran di lubuk hatinya.
" Percayalah semua pasti akan berjalan sesuai rencana " tambahnya untuk meyakinkan putranya, " sekarang tidurlah ? " pintanya lagi dan Daniel mengangguk, " sebentar lagi mam, masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum nanti aku tiba di New York ".
__ADS_1
" Baiklah, jika sudah selesai kau harus istirahat " pinta Viona, sembari beranjak dari duduknya dan Daniel mengangguk.
" Katakan jika aku membutuhkan Papi " timpal Reymond, sambil menepuk pundak putranya.
" itu pasti " sahutnya lagi, " Selamat malam " ucpanya pada ke dua orang tuanya.
" Selamat malam "balas Viona dan Reymond bersamaan yang kini tengah bergerak menuju ruang tidur mereka.
" Mi... " panggil Daniel kembali. membuat Viona kembali memutar tubuhnya untuk menghadap ke arahnya, " Nak.. " serunya, " jangan khawatirkan hal itu, Mami akan melakukan yang terbiak disini. Selesaikan saja pekerjaanmu disana " ucapnya.
" Ada hal yang tidak kalah penting dari itu Mam " ucap Daniel, membuat dahi Viona mengerenyit dengan menatap penuh penasaran padanya, " emmm.. tolong jaga Elin ketika aku tidak ada disini " pintanya bersungguh-sungguh.
" Itu pasti " sahut Viona begitu yakin.
Mendengar itu, ada seutas senyum dari bibir Daniel, " Terimakasih Mam " ucapnya dan Viona mengangguk, lalu kembali bergerak menuju kamar tidur mereka.
Daniel menghela nafas di tengah suasana yang menghening di dalam kelarutan malam. Di sandarkan tubuhnya di sisi sofa, " kenapa rasanya aku begitu khawatir " gumamnya pelan, dan bersamaan pikirannya terlintas oleh bayangan seseorang yang selalu ia rindukan.
Di gapainya benda pipih yang berada tidak jauh darinya. Dan di tatapnya layar handphonenya dengan gambar wajah wanita pujaannya itu.
Kini garis tangannya bergerak mengusap lembut benda pipih itu, lebih tepatnya pada gambar dalam benda pipih itu, " Tuhan, aku benar-benar mencintai perempuan ini ? " gumamnya dengan sepenuh hati. dan bibirnya kini tersenyum saat melihat senyum manis di hadapannya.
" Apa dia sudah tidur ? " katanya bergumam kembali, dengan jari jemari yang seraya bergerak mencari kontak perempuan itu, " Selamat tidur sayang, mimpi yang indah and I Love you so much " tulisnya pada pesan yang baru saja di kirim kepada Elin.
Setelah kembali menatap cukup lama pada walpaper di dalam layar handphonenya. Di tutupnya benda pipih itu dan beralih pada layar laptop yang berada di hadapannya.
" Aku harus segera menyelesaikannya " ucapnya.
***
Kini Daniel sudah berada di dalam jet pribadi yang siap membawanya terbang ke New York.
Ia benar-benar di buat kalang kabut oleh telepon Reza pagi tadi, bahkan hal itu membuatnya harus meninggalkan meja sarapan bersama keluarga Vernandes.
" Ini benar-benar merepotkan " pekiknya kesal. dan sesaat ia kembali tersadar pada seseorang yang hampir ia lupakan karena kesibukannya.
" Hampir saja aku lupa memberitahunya " gumamnya seraya bergerak mengambil benda pipih miliknya.
Panggil telepon tengah tersambung pada kontak kekasihnya. Namun belum ada jawaban dari panggilannya itu, hingga ia kembali mengulang dan lagi lagi tidak ada jawaban, " sepertinya ia masih tidur ? " gumamnya.
" Sayang aku sudah di dalam pesawat, sebentar lagi aku akan berangkat ke New York. Selama aku pergi tolong jaga dirimu baik-baik dan selalu ingat kalau aku begitu mencintaimu, tunggu aku kembali " tulisnya pada pesan yang ia kirim kepada Elin, dan bersamaan seorang perempuan datang untuk memberitahukan pada dirinya, bahwa sudah saatnya ia mematikan benda pipih di tangannya karena pesawat akan segera berangkat.
" Jaga dirimu baik-baik sayang " gumamnya lemah, sambil menatap pada layar handphone yang perlahan kini meredup.
__ADS_1