Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tuhan tidak Akan Sejahat itu


__ADS_3

Sayup mata bulat milik kekasih Daniel Remkez kini perlahan terbuka. Mata indah itu mengercap menerima sinar matahari pagi yang masuk ke dalam ruang tidurnya, " kenapa ibu tidak membangunkanku ? " gumamnya saat matanya menemukan angka jam yang kini menunjukkan hampir pukul sembilan pagi.


Di renggangkan otot tubuh yang terasa kaku karena tidur, sambil menggapai benda pipih yang ia letakan di atas nakas.


Brukk


Dengan mata yang membesar ia terperanjat dari tempat tidur, " astaga kenapa bisa aku tidak tahu di meneleponku sebanyak ini " katanya merutuki dirinya sendiri. Suasana hatinya mendadak kacau saat mengetahui kekasihnya kini telah pergi ke New York tanpa ia ketahui.


" Harusnya dia menelepon sekali lagi " katanya setengah menangis. Dan suasana hatinya amat semakin kacau saat membaca pesan yang di kirim oleh Daniel, " kenapa mengirim pesan seperti ini sih. Kenapa seolah kau akan pergi tan.... " katanya menggantung dan itu membuat jantungnya berdebar begitu cepat.


" Tidak, tidak buang jauh-jauh pikiran ini. Tidak, tidak akan terjadi apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Itu pasti " katanya meyakinkan diri sendiri. Ada ketakutan yang tidak bisa ia ungkapkan saat ini. Seolah rasa trauma beberapa tahun yang lalu kini muncul kembali ke permukaan, " kami pasti akan menikah " ucapnya begitu yakin, dengan menahan detak jantung yang semakin berdebar.


" Aku pasti akan baik-baik saja sayang. Kau juga harus baik-baik saja di sana dan harus kembali secepatnya. Aku sungguh sudah merindukanmu " tulisnya pada balasan pesan Daniel.


Ia terdiam sejenak saat melihat pesan yang i kirim kini tengah pending pada penerimanya, " dia masih di pesawat saat ini " ucapnya, " jangan berlebihan Elin. Kau sendiri yang membuat ke khawatiran ini " sambungnya, lalu jari jemarinya kembali berkutat di layar benda pipih yang berada di tangannya.


" Hubungi aku ketika kau sudah sampai nanti " tambahnya pada pesan yang kembali ia kirim pada Daniel.


Sejenak ia menarik nafas cukup dalam, sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya yang empuk.


" Buu.. " panggil Elin sambil berjalan menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti sesaat mendengar suara orang berbincang dari arah ruang tamu di rumahnya, " bu.. " ulangnya memanggil Mala.


" Kenapa kau begitu berisik " ujar Tama yang berjalan dari arah belakangnya, Elin terdiam sesaat karena terkejut, " kau mengejutkan aku " cercahanya, " dimana Ibu ? " tanyanya lagi.


Tama mengangkat kedua bahunya, " apa kau tidak salah bertanya, aku juga baru turun " sahut Tama seraya berlalu.


" Sepertinya ibu di ruang Tamu " sambungnya saat langkah kakinya sudah tiba lantai bawah rumah mereka.


Mendengar itu cepat-cepat Elin berjalan menuju ruang tamu.


" Mam.. " serunya terkejut, saat melihat Viona sudah berada di rumahnya sepagi ini.


" Kau sudah bangun ? " tanya Viona tersenyum.


" Emm iya... " sahutnya begitu malu, bagaimana tidak ia baru saja kedapatan bangun siang oleh calon mertuanya sendiri.


" Tidurmu begitu nyenyak sampai ibu tidak tega membangunkanmu tadi " timpal Mala.


" Ibu sudah ke kamarku ? " tanyanya dan Mala mengangguk, " saat calon mertuamu datang, kemarilah " pinta Mala.


Elin bergerak mendekat duduk di sisi ibunya, yang juga tepat berada di hadapan Viona, " apa dia sudah memberitahumu ? " tanya Viona tersenyum. Elin terdiam sejenak mencerna maksud dari perkataan calon ibu mertuanya itu.

__ADS_1


" Jangan khawatir dia pasti akan cepat kembali " sambung Viona, mendengar itu barulah kemudian Elin tersenyum, " hemm.., sepertinya aku harus terbiasa seperti ini Mam. Aku yakin setelah menikah nanti, Daniel juga akan lebih sering pergi karena perkerjaannya "


" Ya, berbedanya saat itu kau bisa ikut kemana pun dia pergi " timpal Viona tertawa. Sementara Elin tersipu malu saat membayangkan hal itu sudah terjadi.


" Kau sudah tahu maksud calon mertuamu kemari ? " tanya Mala pada Elin.


Dan perempuan itu kembali terdiam sejenak, " tentang pernikahanku dan Daniel ? " tanyanya menggantung dan sedikit malu mengucapkannya.


Mala tersenyum, " Calon suamimu ingin pernikahan kalian di percepat. Setelah kembali dari New York dia ingin segera langsung menikahimu " jelasnya, sementara Elin masih terdiam, meski ia sudah mengetahui itu lebih dari dua wanita paruh baya di hadapannya.


" Daniel bilang kau sudah setuju, apa itu benar ?, Atau justru kau tidak tahu apa-apa tentang ini ? " sambung Viona serius.


" Aku tahu Mam.. " sahut Elin.


" Jadi kau setuju untuk pernikahan kalian di percepat ? " tanya Mala menyela, dan perlahan kepala Elin mengangguk, " itu jika ibu dan Ayah juga setuju " ucapnya.


" Ayahmu sudah mengatakan setuju dan mengikuti saja mau mu, Ibu pun begitu " cercah Mala begitu senang.


" Jangan khawatir tentang persiapan pernikahannya ibu Elin. Walau waktunya begitu singkat tapi semuanya pasti akan terselesaikan dengan baik " ucap Viona menyela.


Mala mengangguk, " saya sangat yakin tentang itu. Yang terpenting saat ini putri saya juga setuju dan tentang bagaimana tema pernikahannya, saya serahkan semuanya padanya. Saya dan suami saya akan ikut aja seperti apa dia maunya "


Perempuan itu kembali terdiam, " apa aku boleh membicarakan ini terlebih dulu bersama Daniel Mam. Aku tidak bisa menentukannya sendiri "


" Dia mengatakan pada Mami, semuanya mengikuti apa mau mu dan untuk apapun dia akan menyetujuinya " sahut Viona tersenyum.


" Ada lebih baiknya aku tetap akan membicarakan lebih dulu padanya Mam, Beri waktu kami satu hari "


" Baik satu hari. Kalian harus ingat waktunya begitu singkat saat ini " kata Viona tertawa, begitu pun Mala.


" Mereka begitu tidak sabar " kata Viona pada Mala, dengan senyum yang tidak berakhir dari bibirnya.


***


Matahari semakin mencondong, di tengah ke gusaran kekasih Daniel Vernandes.


Handphonenya tak lepas dari tangannya, hampir setiap menit ia memeriksa benda pipih itu, menanti panggilan atau pesan masuk.


" Seharusnya dia sudah sampai ? " gumamnya lemah, dahinya sedikit berkerut dengan mata yang terus menatap cemas pada layar handphonenya, " ya Tuhan aku mohon. Jangan ada apapun lagi " katanya memohon, dengan hati yang terasa sedikit perih.


Drrrtttt drrrttt

__ADS_1


Tiba-tiba handphone itu berdering, wajah yang semula berbinar saat mendapati benda pipih itu berbunyi. Kini meredup, mengetahui panggilan itu bukan berasal dari seseorang yang dia tunggu, " Green " katanya lemah, seraya menerima panggilan perempuan itu.


" Ya Green, ada apa ? " tanyanya.


" Kau sakit ? "


" Tidak, aku baik-baik saja. Ada apa ? "


" Benarkah, tapi suaramu begitu lemah "


" Aku baik-baik saja Green "


" Tidak, tidak aku sangat tahu bagaimana kau, ada apa ? " hardik Green, dan itu membuat Elin terdiam sejenak, " katakan ada apa Elin ? ".


" Ntahlah Green. ntah mengapa aku merasa begitu khawatir saat ini. Sejak tadi Daniel belum menghubungiku, padahal seharusnya dia sudah tiba di New York " ucapnya mulai serak, bahkan dari tempatnya Green bisa merasakan ketakutan perempuan itu dan ia mengerti, " tenangkan dirimu Elin, semua baik-baik saja. Mungkin kak Daniel memang belum tiba disana. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Bahkan buang jauh-jauh pikiran itu "


Mendapati kata-kata Green, justru membuatnya kini terisak, " aku begitu takut Green, bahkan sangat takut. Aku sungguh tidak ingin berprasangka seperti ini, tapi semuanya tidak terkendali Green, aku sangat takut " katanya yang kini benar-benar telah menangis.


Green menarik nafas dalam dari balik telepon, " aku mengerti, tapi tenangkan dirimu. Yakin semua tidak akan terjadi apa-apa. Kak Daniel baik-baik saja.... " ucapnya dengan terdiam sejenak, " Tuhan tidak akan sejahat itu padamu Elin " sambungnya begitu lemah, karena ia sangat tahu apa yang kini tengah di rasakan oleh sahabatnya itu.


" Tunggu aku akan kesana sekarang " katanya lagi, dengan suara yang terdengar tergesa-gesa.


" Tidak Green tidak perlu, aku baik-baik saja "


" Kau yakin ? " tanya Green yang kembali tenang.


" Hemm.. " sahutnya sambil menghentikan tangisannya.


" Sepertinya aku memang sedikit berlebihan... "


" Tidak, kau tidak berlebihan. Itu sangat wajar " ucap Green, lalu suasana mengening sesaat.


" Lin kau yakin baik-baik saja ? " tanya Green kembali.


" Green... " panggil Elin lemah.


" Yaa.. "


" Semua pasti akan baik-baik saja bukan ? " kata Elin dengan nada yang begitu lemah, bahkan nyaris terbata-bata saat ia mengucapkannya.


Green kembali menghela nafas, " semua akan baik-baik saja Elin. Seperti yang aku bilang, Tuhan tidak akan sejahat itu padamu ".

__ADS_1


__ADS_2