Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Trauma !


__ADS_3

Mala tersenyum lebar saat membukakan pintu rumahnya, " silahkan masuk Nyonya, Bunda " ucapnya pada dua wanita paruh baya.


" Padahal baru saja aku yang berniat datang ke rumah bunda " sambung Mala. Wilna tertawa kecil, sementara Viona hanya diam dengan sesekali tersenyum kaku.


" Tadinya kami juga ingin begitu, tapi calon besan anda sepertinya sangat bosan terus berada di rumah dan mengajakku mengunjungi keluarga calon menantunya. Bukankah begitu Mami Daniel ? " tanya Wilna pada Viona. Ia sengaja melakukan itu karena melihat Viona yang kembali termenung dan gugup.


Viona mengangguk pelan. Lalu kembali terdiam dengan wajah yang tertunduk.


Mala terus tersenyum, Namun ia juga sedikit menyadari sikap Viona yang sedikit tak biasa, " Apa Ibu Daniel sakit ?, anda terlihat pucat Nyonya ? " tanyanya.


" Aaahh.. " ujar Viona sedikit tersentak.


" Tidak. Aku baik-baik saja ibu Elin " sambungnya dengan kembali tersenyum.


Tiga cangkir minuman hangat baru saja di hidangankan di hadapan tiga wanita paruh baya oleh salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah indah Mala, " hanya teh hangat " ujar Mala tersenyum.


" Kau terlalu sungkan Ibu Elin. Memangnya minuman apalagi yang cocok untuk wanita tua seperti kita " sahut Wilna tertawa, " siapa tahu anda ingin Wine mungkin " balas Mala ikut terkekeh.


" Boleh. Jika ada " kata Wilna yang semakin tertawa begitu keras.


Sementara Viona hanya diam dan sesekali tersenyum kecil.


" Dimana Ayah Elin ? " tanyanya lagi.


" Oh ayah. Dia sedang pergi ke tempat kerabatnya "


" Hemm.., pantas saja aku tidak melihatnya " ujar Wilna dengan mengangguk kecil dan sesekali melirik ke arah Viona.


" Jadi bagaimana keinginan kalian tentang rencana pernikahan anak kalian nanti ?. Ah aku terlihat lebih bersemangat dari pada Ibunya sendiri " sindir Mala tertawa.


" Saya sudah membicarakannya pada Ayah Elin. Dan dia mengatakan kami akan setuju seperti apapun keinginan dari keluarga nak Daniel " Balas Mala dengan begitu sopan.


" Tidak bisa seperti itu Ibu Elin. Ini pernikahan anak pertama kalian. Jadi kalian juga harus punya keinginan seperti apa nanti pestanya. Atau seperti kalian ingin di dalam pernikahan itu di masukan adat jawa sesuai tradisi kalian. itu tidak apa-apa, aku yakin keluarga Remkez tidak akan keberatan. Iyakan Viona ? "


" Emmm.. Iya. Kami juga akan setuju seperti apapun keingingan keluarga anda Ibu Elin" sahut Viona dengan sedikit terhenyak.

__ADS_1


Mala kini terdiam dengan sesekali tersenyum. Ia terlihat ingin bicara. Namun, berulang kali ia urungkan.


" Ada apa Ibu Elin ? , katakan saja jangan ragu " ujar Wilna tertawa.


" Emm.... " katanya sedikit ragu untuk mulai berbicara.


" Emmm.., saya bingung untuk memulai dari mana bicaranya " ucapnya tersenyum hambar.


" Bicara saja Ibu Elin " pinta Wilna yang menjadi penasaran. Begitu pun Viona yang kini tidak lagi melamun dan menjadi fokus dengan apa yang akan di bicarakan oleh calon besannya itu.


" Emm, apa Nyonya Viona sudah mengetahui betul bagaimana keluarga Elin ? " tanyanya begitu lemah dan penuh hati-hati. Sambil sedikit melirik ke arah Wilna.


" Maksud anda Ibu Elin ? " tanya balik Viona. dengan perasaan yang mulai tidak nyaman, sebenarnya dia sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan wanita di hadapannya ini.


" Emm Nyonya Viona.. " seru Mala pelan.


" Emmm.. "


" Maaf saya harus berbicara tentang hal ini. Supaya anda tahu bagaimana kehidupan putri saya yang sesungguhnya. dan saya berharap ini bukan sesuatu yang membuat keluarga kalian kecewa " lanjutnya dengan penuh hati-hati.


" Sebenarnya Elin... , bukanlah putri kandung kami Nyonya. tapi dia juga bukan orang lain, dia keponakan ku sendiri yang aku angkat menjadi anakku " jelasnya dengan menatap penuh lamat pada Viona.


Ia sedikit heran dan juga legah bersamaan saat melihat tidak ada keterkejutan dari wajah Viona.


" Apa sebenarnya anda sudah mengetahui hal ini Nyonya ? " tanyanya lagi.


Viona perlahan menganggukkan kepalanya, " kami sungguh tidak masalah tentang hal itu Ibu Elin " katanya begitu yakin. Namun, perasaannya semakin kacau saat mengetahui suatu hal yang baru. Bahwa jika yang ia tabrak di masa lalu adalah benar keluarga Elin, itu berarti sepasang suami istri yang meninggal itu bukanlah orang lain untuk orang tua Elin. dan itu berarti bukan hanya Elin yang akan kecewa dalam hal ini.


" Benarkah ? , syukurlah " ucap Mala begitu legah.


" Aku benar-benar tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal ini. Aku begitu takut anda akan membatalkan pernikahan putriku saat anda mengetahui yang sebenarnya Nyonya "


" Terimakasih Nyonya. Terimakasih telah menerima putriku dengan sangat baik " ucapnya dengan begitu senang.


" Justru saat ini aku yang begitu takut kalau kalian yang akan membatalkan pernikahan ini " ucap Viona membatin dengan perasaan yang semakin tidak karuan.

__ADS_1


" Maaf Ibu Elin. Apa aku boleh tahu kenapa sebab Elin di angkat menjadi anak di dalam keluarga kalian ? " tanya Viona.


" Tentu Nyonya. Aku memang sudah berniat untuk menceritakan ini, supaya suatu hari tidak cerita ini tidak menjadi suatu masalah dalam rumah tangga anak kita " balas Mala dengan bibir yang tersenyum hangat.


Ia benar-benar terlihat begitu senang setelah mengetahui kalau Viona tetap menerima dengan baik putrinya meski sudah mengetahui suatu rahasia yang besar. Yang mungkin bukan sesuatu hal yang mudah untuk di terima di sebuah keluarga yang sangat terpandang. Namun, sepertinya Elin bernasib baik, bertemu dengan keluarga yang sangat baik. Dan itu membuat Mala benar-benar sangat senang, sampai ia tidak sabar ingin menyampaikan ini pada suaminya.


" Elin berumur tepat dua tahun ketika aku membawanya ke keluarga kami... " jelas Mala yang terhenti untuk menarik pelan nafasnya.


Sementara Viona dan Wilna kini telah diam untuk menyimak sebuah cerita yang akan menentukan kebenaran untuk sebuah masalah yang kini tengah terjadi.


" Tepat di hari ulang tahunnya di bulan Mei. Kedua orang tuanya meninggal dunia karena sebuah kecelakaan " lanjut Mala.


Deg


Mata Viona terpejam dengan jantung yang berdegub sangat cepat. Kali ini tidak lagi ada sebuah cela untuk berkilah. Ia sangat ingat betul kejadian kecelakaan itu terjadi di bulan Mei.


" Elin juga berada disana. dan beruntungnya dia di selamatkan oleh orang yang juga menjadi korban dalam kecelakaan itu. Kami sungguh berterima Kasih padanya, tapi pada saat itu kami tidak sempat bertemu orang itu karena kedua jenazah orang tua Elin sudah harus di makamkan " lanjut Mala menjelaskan.


Viona kembali terdiam. Ntah kenapa perasaannya menjadi sedikit lebih legah saat mendengar Mala tidak menyalahkan dirinya dalam kecelakaan itu. Justru malah berterima Kasih karena telah menyelamatkan Elin.


" Jadi setelah kecelakaan itu, aku dan Bimo memutuskan untuk merawat Elin karena memang kebetulan kami juga belum memiliki keturunan pada saat itu. Butuh hampir lima tahun untuk menghilangkan Trauma pada Elin ".


" Trauma ? " ulang Wilna.


" Hemm.., dia menjadi sangat pendiam dan takut. Dia tidak bisa mendengar suara yang keras. Bahkan selama itu dia tidak bisa masuk ke dalam mobil. setiap kami mencoba membawanya masuk ke dalam mobil dia akan menangis dengan sangat kencang. Bahkan melihat mobil saja dia sudah begitu ketakutan " jelas Mala, bahkan raut wajah yang tadinya bahagia kini berubah menjadi begitu sedih, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Begitu pun Viona. Yang tadinya sedikit legah kini menjadi kembali sangat takut setelah mendengar sebuah trauma yang telah di alami Elin karenanya.


" Aku tidak tahu kalau Elin pernah mengalami hal sesulit itu " ucap Wilna yang ikut merasa teriris oleh trauma yang pernah di alami gadis periang itu.


" Iya dan beruntungnya dia gadis yang sangat kuat Bunda yang akhirnya bisa sembuh. Dia kembali jadi gadis yang periang. Tapi justru.... " kata Mala terhenti.


" Apa Ibu Elin ? " tanya Wilna penasaran.


" Justru hal itu membuat aku takut. Sampai kemaren aku tidak pernah melihat dia menangis dan dokter bilang kalau hal itu sangat tidak baik untuknya dan itu berarti trauma itu telah merusak mental di dalam dirinya Bunda.. " sambungnya takut. Namun kemudian dia sedikit tersenyum, " tapi kemaren di acara lamarannya kami melihat dia menangis, dan itu membuatku sedikit bersyukur karena ketakutan selama ini menjadi berkurang " lanjutnya sedikit legah. Dan ada hal yang ia sembunyikan disana bahwa pertama kali ia melihat Elin menangis bukanlah pada saat acara lamaran melainkan pada satu hari sebelum acara itu terjadi. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu dan kenapa sebab Elin menangis pada saat itu di hadapan calon mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2