
" Meili " panggil Hannah saat masuk ke dalam lobby apartemen , " Bagaimana " tanya Hannah mendekat pada Meili yang sedang duduk di kursi dengan wajah yang begitu khawatir.
" Ntahlah Hannah , aku belum mendapat kabar dimana keberadaannya " jelas Meili prustasi , Hannah ikut terdiam dengan kebingungan " coba kau hubungi lagi handphonenya , mungkin kali ini dia menjawab" saran Hannah dan Meili segera menurutinya.
Tuutttt tuuttt " suara sambungan telepon yang sedang menunggu untuk di jawab.
" Hallo " jawab seseorang di balik telepon , wajah Meili yang semula bahagia menjadi mengerenyitkan dahi karena mendengar suara laki laki dari jawaban telepon Elin.
" ini siapa ? tanya Meili pada orang yang sedang berbicara di telepon " Mike meil "
" Oh astaga , aku kira kau siapa ? " sahut Meili sambil menghela nafas legah " dimana Elin ? "
" Dia sedang bersamaku "
" Dimana dia , aku ingin bicara dengannya "
" Kami sedang berada di Rumah Sakit Meil , aku menemukan dia pingsan di taman apartemen " jelas Mike , " Kau tidak sedang bercanda kan Mike " ucap Meili semakin panik , dan Hannah sedikit terkejut saat nama laki laki yang tidak ingin ia temui di sebut oleh Meili.
" Ini bukan lelucon Meili dia masih belum sadarkan diri dan kau harus ke Bellevue Hospital sekarang" kata Mike kembali menjelaskan " baiklah , sekarang juga aku menuju kesana " sahut Meili dan menutup panggilannya pada Mike .
" Elin sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit " ucap Meili "Benarkah "
" Ya , kita harus kesana sekarang ,dia tidak memiliki siapapun di sini " lanjut Meili yang langsung bergegas menuju tempat mobilnya terparkir , Hannah berjalan setengah ragu mengikuti Meili karena ia yakin Mike sedang berada di sana " Ayo Hannah " teriak Meili yang sudah hampir sampai pada mobilnya
" iya " sahut Hannah lemah.
Meili segera melajukan mobilnya menuju Bellevue Hospital dengan Hannah yang duduk di kursi samping kemudi.
Drrrrttt drrrtttt " Handphone Meili kembali berdering.
" Hannah , bisa bantu ambilkan handphoneku di tas " pinta Meili karena kedua tangannya sedang sibuk pada stir mobil.
" Terimakasih " ucap Meili.
" Apa yang harus aku katakan padanya " gumam pelan Meili dan melirik sebentar pada Hannah sebelum ia menjawab telepon yang terus berdering " Ya Daniel " jawab Meili.
Hannah menarik nafasnya saat nama laki laki di sebut , walau tadi ia sendiri sudah melihat nama Daniel pada layar handphone Meili .
" Kau harus ke Bellevue Hospital sekarang juga " perintah Daniel yang terdengar begitu tergesa gesa " Kau juga sudah tahu ? " tanya Meili sedikit terkejut " ya , aku sedang dalam penerbangan pulang ke New York ".
__ADS_1
" Baiklah , aku juga sudah menuju Bellevue bersama.. " jelas Meili menggantung karena tangan Hannah lebih dulu memegang lengannya dan menggelengkan kepala supaya Meili tidak mengatakan jika sedang bersamanya.
" Ada apa ? "
" Tidak , kau jangan khawatir aku kan mengurusnya di sini " ujar Meili yang sesekali matanya melirik pada Hannah .
" Baiklah , jangan tinggalkan dia selama aku belum tiba disana "
" tentu , berhati hatilah " ucap Meili yang kemudian menutup panggilannya pada Daniel.
Meili mempercepat jalan mobilnya supaya bisa lebih cepat tiba di rumah sakit tempat Elin di rawat.
****
" Mike " panggil Meili sambil berjalan masuk ke dalam ruang rawat , Mike yang duduk di membelakangi pintu langsung memutar tubuhnya saat mendengar namanya di sebut " oh Meil " sahut Mike , namun sesaat tatapan matanya sedikit membulat melihat seseorang yang ikut datang bersama Meili.
" Bagaimana keadaannya Mike " tanya Meili yang langsung menghampiri ranjang tempat Elin terbaring.
" Masih belum sadarkan diri , tapi dokter sudah mengatakan tidak terjadi hal buruk padanya , dia hanya terlambat makan dan kelelahan " jelas Mike dan sesekali matanya melirik pada perempuan yang masih terdiam di sisi ranjang Elin.
" Kau benar benar membuatku takut " gumam Meili yang sudah duduk di sisi tempat tidur sambil memegang tangan Elin , " Apa yang terjadi ? " tanya Meili menatap Mike.
" Aku menjawab teleponnya di handphone Elin " jelas singkat Mike " pulanglah Mike , aku akan di sini menjaganya " ucap Meili tanpa melihat pada Mike.
" Jika kau ingin pulang tidak apa apa Hannah , Mike bisa mengantarmu " lanjut Meili.
" Tidak , aku akan tetap disini " sahut Hannah cepat , bahkan ia tidak berani melihat pada Mike.
" Aku hanya pulang sebentar untuk membersihkan diri , setelah itu aku akan kembali lagi " kata Mike yang langsung melangkah menuju pintu.
" emm.. Apa kalian menginginkan sesuatu ? " tanyanya sebelum beranjak " tidak Mike , emm.. mungkin Hannah " sahut Meili dan Hannah langsung membesarkan kedua matanya " Kau bisa membawa makanan jika kembali " lanjut Meili.
" Apa kau sudah makan Hannah "
" emmm... sudah " sahut Hannah ragu , karena sejak tadi dia sudah menahan perutnya yang baru saja terasa lapar setelah terakhir kali mengisi perutnya bersama Vale saat sarapan tadi pagi , dan sekarang dia akan memilih kelaparan dari pada harus meminta bantuan pada Mike.
" Bawa makanan apa saja Mike , mungkin nanti kami akan membutuhkannya "ujar Meili.
Sesaat mata Mike menatap begitu lama pada Hannah sebelum akhirnya dia beranjak dan menghilang dari balik pintu " Kau sungguh akan terus di sini Hannah "
__ADS_1
" Ya Meili aku juga harus menjaganya " sahut Hannah menghela nafas dan menatap wajah Elin yang masih tertidur " Apa dia sungguh baik baik saja Meili " tanyanya karena merasa begitu bersalah telah mengabaikan Elin akhir akhir ini.
" Ya , dia hanya sedang tertidur mungkin karena pengaruh obat dokter " jelas Meili " istirahatlah Hannah , aku akan menjaganya "
" Tidak , aku akan menemanimu "
" Baiklah , aku tidak akan memaksa , tapi sebaiknya kau duduk di sana karena jika kita berdua tetap memaksa untuk duduk disini maka Elin akan benar benar kembali pingsan karena kekurangan oksigen " ujar Meili tertawa dan Hannah ikut tertawa namun segera menuruti perkataan Meili dengan beranjak menuju sofa besar yang sudah menjadi fasilitas dari rumah sakit.
" Terimakasih Hannah " ucap Meili tiba tiba
" Untuk apa ? " tanya Hannah bingung , ia membatalkan niatnya yang baru saja ingin memejamkan mata dengan tubuh yang bersandar pada sisi sofa " untuk tadi malam " jelas Meili singkat.
" ceh.. aku pikir apa " ujar Hannah tertawa " Kau tidak perlu berterima kasih meili , itu sudah seharusnya aku lakukan "lanjutnya dengan bibir tersenyum " tapi yang kau lakukan sungguh luar biasa Hannah bisa saja banyak orang yang kecewa karena keputusanmu dan aku bersyukur akhirnya nama Elin tidak lagi di seret dalam hubungan kalian "
" itulah yang aku pikirkan Meili , kesalahanku pada Daniel sudah cukup membuatku merasa bersalah dan aku tidak ingin lagi menambah penyesalan itu dengan membiarkan nama Elin semakin buruk dan menghalangi Daniel mengejar cintanya " jelas Hannah dengan ucapan yang terdengar bergetar.
" Bagaimana dengan kariermu Hannah ? "
" ntahlah , aku sudah tidak lagi peduli akan hal itu yang terpenting sekarang aku tidak lagi hidup di dalam penyesalan " sambung Hannah menatap kosong.
" Kau wanita yang hebat Hannah " ucap Meili.
" kau berlebihan Meil , wanita hebat tidak akan menyakiti orang yang di cintainya " ujar Hannah dengan senyum yang tersungging
" jangan mengungkit itu lagi , aku akan kembali membencimu "
" ceh , kenapa tidak kau lakukan "
" Aku sudah membencimu tapi kesalahanmu pada Daniel bukan padaku , jadi aku tidak berhak untuk memakimu Hannah " jelas Meili tertawa.
" Dunia begitu sempit " ucap Hannah yang kini sedang menatap pada wajah tertidur Elin.
" Bukan dunia yang sempit , tapi karena tuhan sedang menghukummu " Ledek Meili.
" Ternyata kau benar benar membenciku Meili " ujar Hannah tertawa dan Meili ikut tertawa namun ia segera menutup bibirnya karena suara yang takut mengganggu orang lain.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚
__ADS_1