Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tidak Tenang


__ADS_3

• Sebelumnya di Indonesia


" Aku masih ngantuk. Bisakah tidak ada yang mengangguku " pekik suara serak calon Nyonya Remkez yang masih berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk.


Namun suara dering dari benda pipih yang berada di atas nakas membuat dirinya harus membuka mata, " siapa sih ? " gumamnya begitu kesal, dengan tangan yang bergerak menjangkau benda yang terus bersuara.


" Daniel " ucapnya, menatap layar dengan mata yang setengah terbuka.


" Ya sayang, ada apa kau meneleponku sepagi ini hemm. Disini masih jam setengah 6 pagi " cercahnya. Sementara Daniel yang berada di balik telepon kini tertawa, " maafkan aku, tapi aku sungguh tidak sabar ingin memberitahumu "


" Kalau begitu cepat katakan " kata Elin dengan mata yang kembali di pejamkan.


" Besok aku sudah bisa pulang " ucap Daniel, yang membuat mata Elin yang semula terpejam kini terbuka lebar.


" Huh, kau yakin sayang " pekiknya, " kau sungguh sudah bisa pulang besok ? ".


" Ya, semua berjalan dengan lancar sayang. Hari ini di pastikan semuanya sudah selesai dan aku bisa pulang besok ".


Elin tersenyum dengan tubuh yang kini duduk di sisi tempat tidur.


" Itu berarti besok lusa kita sudah akan menikah "


" Huh.. ! " pekik Elin terkejut.


" Huh.. ? " ulang Daniel.


" Emmm ya maksudku apa itu tidak terlalu cepat ?, besok lusa itu tinggal dua hari la... "


" Kenapa harus menundanya " potong Daniel seraya tertawa.


" Bukan begitu sayang. Maksudku apa ini tidak akan merepotkan orang-orang. Kasiha... "


" Tidak, jangan pikirkan itu, Mami pasti akan menyelesaikan semuanya, jangan khawatir "


" Justru itu yang aku pikirkan, kasihan Mami.. "


" Jangan memikirkan hal yang tidak penting sayang " balas Daniel begitu lembut, " untuk menyiapkan pernikahan sesuatu yang mudah untukku.. "


" Kau mulai lagi Daniel.. " sergah Elin dan lagi lagi Daniel tertawa, " itu karena kau seperti meremehkan calon suamimu ".


" Bukan begitu, hanya saja.. "


" Tidak usah memikirkan apapun lagi " potong Daniel lagi, " pokoknya satu hari setelah aku kembali kita akan menikah ".


" Apa Mami sudah tahu kau akan pulang besok ? "


" Setelah ini aku akan memberitahunya "


" Kau benar-benar merepotkan ibumu " cercah Elin memarahi Daniel.


" Siapa bilang aku merepotkan. Justru Mami senang menyiapkan hal ini, tidak ada yang merepotkan untuknya "


" Ya baiklah "


" Apa kau keberatan menikah denganku besok lusa ? " tanya Daniel dengan nada bicara yang serius.


Mendengar itu Elin tersentak sesaat" Huh ?, mana mungkin aku keberatan ".


" Baguslah " ucap Daniel kembali tersenyum, " jangan khawatirkan apapun oke, semua akan berjalan dengan lancar " katanya begitu lembut, " sekarang silahkan calon istriku ini tidur lagi " sambungnya, membuat Elin tersenyum geli, " ya, calon istrimu ini baru saja tidur dua jam yang lalu " katanya menahan diri untuk tidak tertawa.


" Ya setelah ini tidurlah, aku ingin menelepon Mami untuk memberitahukan ini padannya "


" Ya baiklah "


" Sampai bertemu di pelaminan sayang " sambungnya, membuat Elin semakin tersenyum geli. Namun begitu senang, " ya sampai bertemu nanti " balasnya, " emmm, tunggu Daniel ! "


" Ya "


" Aku belum memberitahu Hannah, aku ingin dia ad... "


" Tidak ada yang melarang untuk kau mengundang siapa pun sayang, cepat kasih tahu dia bahwa kita akan menikah besok lusa "


" Kau juga belum memberitahu Mike ? "


" Aku sungguh belum punya waktu untuk memberitahunya, mungkin nanti. Tapi ada baiknya kau beri tahu Hannah setelah ini sayang "


" Iya, dia pasti akan terkejut "


" Itu pasti.. "


" Sayang " panggil Daniel.


" Hemm.. "

__ADS_1


" Undang saja siapa pun yang kau mau, bahkan untuk teman kantormu disini. Aku akan memberi izin cuti pada mereka ".


" Kau yakin. Apa itu tidak akan terdengar tidak adil untuk karyawan yang lain ? "


" Ntahlah, tapi memangnya siapa yang akan berani protes " kata Daniel tertawa


" Ceh ".


" Anggap saja itu keberuntungan untuk mereka yang menjadi temanmu dan katakan bahwa kita akan menanggung semuanya.. "


" Kau memang calon suami terbaik Daniel " seru Elin, bahkan perasaan senangnya bisa di rasakan sampai di tempat Daniel saat ini, " tentu " sahutnya begitu pecaya diri.


" Baiklah, kalau begitu sekarang aku akan menghubungi Hannah dan teman kantorku "


" Ya sayang, bye " tutup Daniel.


" Bye " sahut Elin tersenyum, setelah telepon itu berakhir dengan cepat dirinya mencari kontak Hannah di dalam handphonenya, " semoga dia tidak akan memakiku nanti " gumam Elin sambil menunggu panggilannya tersambung pada Hannah.


****


Sore ini hampir semua penghuni rumah keluarga Vernandes nampak begitu sibuk. Tidak ada yang menetap dirumah dengan waktu yang lama. Bahkan Alfin dan Nathan mengambil cuti kerjanya hari ini, demi membantu acara pernikahan Daniel dan Elin.


Selain para pelayan, yang tersisa di rumah besar itu hanya Meili dan Naina.


" Aunty "


" Hemm.., ada apa cantik ? " sahut Meili pada putri kecil Green yang kini tengah duduk bersamanya di sofa.


" Kenapa semua orang begitu sibuk aunty ? " tanyanya lagi, " Mommy dan Daddy pergi terus, bunda dan ayah juga, oma juga " ratapnya lagi, wajah imutnya kini berubah cemberut.


Dengan gemas Meili menangkup wajah kecil Naina, " semua orang sibuk karena besok hari pernikahan papa Daniel dan Mama Eyin " jelasnya pada gadis kecil Green yang kini menatapnya dengan serius, lalu kemudian mengangguk, " Aunty kenapa tidak sibuk ? ".


Mendengar itu Meili langsung saja tertawa, " karena Aunty tidak bisa melakukan apapun " jawabnya begitu jujur,dan bersamaan handphonenya berdering.


" Ya Mam " jawabnya tanpa menunggu, saat mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah Viona.


" Kau dimana nak ? "


" Dirumah Mam, dimana lagi ! , kenapa ? ".


" Tolong jemput kakakmu di bandara " ujar Viona di balik telepon, dahi Meili mengerenyit, " aku tidak tahu jalanan Jakarta Mam, bagaimana bisa aku menjemput kak Daniel. Apa tidak ada sopir lagi ? ".


" Siapa yang menyuruhmu membawa mobil, kau hanya perlu pergi ke bandara ".


" Aku naik taksi. Itu tidak mungkin Mam, aku tidak bisa pergi sendiri di kota ini, lagi pula tidak ada yang akan menjadi Naina jika aku pergi "


" Mam... " pekik Meili sedikit kesal, " mana mungkin aku akan membawa Naina ".


" Green sudah mengijinkan, kakakmu akan tiba satu jam lagi disini, semua orang begitu sibuk saat ini, jadi hanya kau yang bisa menjemput kakakmu ".


" Apa dia tidak bisa pulang sendiri "


" Apa itu akan begitu sopan ?, dia datang bersama Hannah, Mike dan Vale "


Meili menghela nafas, " baiklah " ucapnya pasrah.


" Bersiaplah, beberapa menit lagi dia akan menjemputmu "


" Menjemput ? "


" bukankah kau tidak bisa membawa mobil sendiri ke bandara ? ".


" Ya, tapi siapa yang akan menjemputku Mam, memangnya masih ada sopir yang tersisa ".


" Kau lihat saja nanti siapa yang datang. Sudah ya Meil, Mami masih begitu sibuk ".


" Mam.. " seru Meili, tapi ternyata panggilan itu sudah di akhiri oleh Viona.


" Jangan jangan " gumamnya dengan dahi yang berkerut, " Mami benar-benar gila kalau sampai dia yang menjemputku "


" Apa itu oma Viona, Aunty ? " seru Naina, membuat Meili sedikkt tersentak, " emm ya nak "


" Ayo temani Aunty ganti baju, sebentar lagi kita harus pergi menjemput Papa Daniel dan Aunty Hannah di bandara "


" Jadi kita akan jalan-jalan Aunty ? ".


" Emmm.. mungkin " jawab Meili ragu, " ayo " ajaknya lagi, dan dengan senang hati putri kecil Green menyambut tangannya.


~


Seraya menuruni anak tangga, jantung Meili semakin berdebar saat melihat seorang laki-laki kini tengah duduk di sofa.


" Saya baru saja ingin memanggil Nona " ucap seorang pelayan mendekat, " Tuan Jerry baru saja tiba " sambungnya lagi, dan itu membuat pupil mata Meili membesar seketika.

__ADS_1


" Kau sudah selesai ? " tanya laki-laki yang kini telah melihat pada Meili dan juga Naina yang berjalan bersamanya.


Meili masih tak bersuara.


" Hai Naina " sapa Jerry


" Hai Om " balas gadis kecil itu, " apa kita sudah akan pergi ? " tanyanya sambil melepas tangannya dari genggaman Meili dan mendekat pada Jerry.


" Ya, kita harus pergi sekarang cantik " sahut Jerry sambil melirik ke arah Meili yang kini hanya diam, " ayo " ajaknya pada perempuan itu.


" Emmm.. ya " sahut Meili, sambil perlahan ikut bergerak.


Suasana di dalam mobil masih menghening, hanya pertanyaan pertanyaan kecil Naina yang terus terdengar, selain menjawab gadis kecil itu, Meili akan kembali menutup rapat mulutnya.


" Apa om pacar Aunty ? " tanya Naina tiba-tiba membuat mata Meili membulat sempurna, sedangkan Jerry justru kini tersenyum sambil melirik ke arah Meili.


" Kalau menurut Naina ? ".


" Hemm.. " jawab gadis kecil itu sambil mengangguk, " bukankah Om sama Aunty juga akan menikah seperti Papa Daniel dan Mama Eyin ? " tanyanya. Membuat Meili tidak bisa berkata-kata. Namun juga tidak ada keinginan untuk menepis ucapan gadis kecil itu.


" Ya, tapi itu jika Aunty Meili mau " sahut Jerry yang lagi-lagi tersenyum melirik ke arah Meili.


" Apa Aunty mau menikah dengan Om Jeyyi ? " tanya Naina tiba-tiba, dan itu berhasil membuat Meili menelan ludah tiba-tiba, " Emm, Naina coba lihat itu pesawat terbang " katanya mengalihkan sambil menunjuk pesawat yang memang sedang ingin turun.


Dan benar saja, gadis kecil itu tak lagi menghiraukan pertanyaannya dan sibuk melihat ke arah pesawat yang terbang, " apa itu papa Daniel dan Aunty Hannah ? " tanyanya.


" Mungkin " sahut Meili tersenyum, sambil sesekali melihat ke arah Jerry yang kini terdiam dengan melipat bibirnya.


" itu berarti sebentar lagi kita akan bertemu papa Daniel kan Aunty ? "


" Iya nak "


" Yeeaay " seru Naina begitu senang, dan setelah itu tidak ada lagi obrolan sampai mobil mereka tiba di parkiran bandara.


****


Viona dan Reymond baru saja kembali ke rumah keluarga Vernandes, setelah melakukan banyak hal untuk persiapan pernikahan putra mereka besok malam. dan saat ini langit sudah gelap.


" Hai Mam " sapa Green yang tengah bersandar di sofa.


" Kalian juga baru pulang ? " tanya Viona ikut mendekat, sementara Reymond melanjutkan langkahnya menuju ruang tidur mereka.


" Hemm.., pulang sebentar Mam, habis ini aku dan Amel akan kembali lagi ke rumah Elin " sahut Green dengan wajah yang nampak begitu lelah.


" Maaf ya nak, karena pernikahan mendadak ini kalian jadi begitu sibuk " ucap Viona.


" Jangan berlebihan Mam " sahut Green tersenyum, " kami semua senang melakukannya " sambungnya lagi, dan Viona ikut tersenyum, lalu ia terdiam sejenak menatap ke arah penjuru ruangan yang terasa begitu sepi, " kemana orang lain ? " tanyanya.


" Amel sedang istirahat di kamarnya, Nathan dan kak Alfin masih pergi, begitu pun Bunda " jelas Green.


" Bukankah seharusnya Daniel dan yang lain juga sudah di rumah ? " ucap Viona, membuat Green akhirnya ikut tersadar, dan bersamaan handphone Viona berdering.


" Meili " ucapnya setelah melihat nama putrinya tertera di layar handphonenya, bukannya menjadi legah justru panggilan itu membuat hatinya menjadi tidak tenang, " ya nak " jawabnya saat panggilan itu telah tersambung.


" Mam kenapa kak Daniel belum juga tiba, kami sudah tiga jam disini " seru Amel dari seberang telepon, bahkan suaranya terdengar sedikit bergetar, " nomornya juga tidak bisa di hubungi, begitu pun Hannah dan Mike " sambungnya.


Deg


Viona menelan ludahnya dengan jantungnya berdebar. Bahkan kini ia seperti tidak bisa bersuara.


" Mam, minta Papi memeriksa dimana keberadaan pesawat kita saat ini, aku benar-benar tidak tenang " ucap Meili.


" Ya, semoga tidak ada apa-apa " ucap Viona yang kini sudah memucat dan itu terlihat jelas di mata Green, " ada apa Mam ? " tanyanya yang kini ikut menyadari bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi.


" Tentu. Beri kabar padaku secepatnya mam " sambung Meili.


" Ya, tentu. Kau juga " sahut Viona lalu menutup panggilan.


" Mam Apa yang terjadi ? " tanya Green semakin penasaran.


" Pesawat yang membawa Daniel dan yang lainnya juga belum tiba " ucap Viona lemah.


Deg


Jantung Green ikut berdebar seketika saat mendengar kabar itu,bahkan ia ikut tidak bisa mengucapkan apapun.


" Ya Tuhan lindungi putraku " seru Viona dengan mata yang sudah berkaca-kaca, " mami naik dulu " ucapnya pada Green sambil bergegas menuju kamarnya untuk memberitahu Reymond untuk apa yang sedang terjadi.


" Green " panggilnya di sela langkahnya.


" Ya mam "


" Tolong jangan beritahu Elin "

__ADS_1


" Tentu Mam "


" Tolong bantu doa " pinta Viona lirih dan Green mengangguk, " itu pasti Mam ".


__ADS_2