
Elin bangun dari pembaringan, lalu menghidupan lampu tidur di atas nakas. Di ambilnya binder hadiah, yang di berikan kedua sahabatnya tadi malam.
Ia sempat tersenyum ,saat memandang sampul pada benda itu, tertera foto mereka bertiga saat hari kelulusan di Darmabangsa dan ia semakin tersenyum ketika tulisan The Most Wanted, tertulis besar di bagian bawah foto itu.
Ia seolah kembali di buat teringat oleh tulisan itu. The Most Wanted bukan julukan yang di buat oleh mereka sendiri, melainkan oleh murid laki-laki Darmabangsa. Dan sampai saat ini julukan itu masih tersemat lekat pada mereka. Kali ini ia kembali mengenang, tetapi mengenang sebuah kenangan yang indah.
Senyumnya semakin melebar ketika mengingat kembali semua kejadian di Yayasan Darmabangsa, ia teringat kembali bagaimana nakalnya mereka saat itu dan begitu bodohnya. Mereka akan mau di hukum, jika salah satu dari mereka kena hukuman, ia teringat saat Green terlambat datang, dan di minta untuk berdiri di tengah lapang sekolah. Dengan bodohnya ia dan Amel meminta untuk ikut di hukum.
Dan ia menjadi teringat lagi pada hukuman skors Green, perempuan itu kena hukuman karena membelanya, dia mengamuk tanpa ampun pada Zahra yang saat itu mencela statusnya sebagai anak angkat. Padahal bukan dia yang di pojokan, tapi dirinya. Tapi Green mengamuk, seolah kalimat menyakitkan itu di tunjukan padanya. Dan mata sembab Elin kembali berair karena mengenang saat itu. Tapi setelahnya ia kembali tersenyum oleh foto pertama di dalam binder itu. Foto yang tadi di perlihatkan di hadapan semua orang. Saat tadi ia tidak memperhatikan dengan baik, karena air mata yang mengumpul di pelupuk matanya.
Tapi sekarang ia bisa melihat jelas pada wajah-wajah lucu mereka saat remaja. Wajah polos tanpa make up, dan begitu lugu. Saat ini melihatnya terasa begitu aneh, seperti bukan diri mereka. Rambut kepang dua, kuncir kuda dan Bandana berwarna ping di kepalanya sendiri. Tapi saat itu mereka menganggap mereka sangat cantik, begitu pun semua orang yang melihat mereka. Tidak ada yang pernah mengatakan kalau penampilan mereka aneh saat itu. Terlebih untuk Green, ia adalah gadis yang paling cantik di antara mereka, cantik tanpa make up, dan selalu cantik saat menggunakan apa pun, termasuk saat bangun tidur.
Elin teringat oleh julukan Dewi yang di sematkan untuk perempuan itu, dan ia tak menyangkalnya. Bukan hanya orang lain yang melihatnya cantik, tapi dia sendiri yang mengetahui segalanya tentang perempuan itu, mengetahui bagaimana aneh tingkahnya, galaknya, saat ngamuknya, wajah bangun tidur, wajah tidak mandinya. Dan setiap itu, dia selalu tetap cantik. dan Elin mengakuinya. Meski saat ini ia sedikit ragu, saat kembali melihat wajah remaja mereka. Kuncir kuda yang menjunjung di kepala, serta jepitan-jepitan kecil yang memenuhi kepala perempuan itu, begitu aneh saat melihatnya saat ini. Dan Elin tersenyum. Di usapnya wajah-wajah polos di dalam gambar itu, " waktu benar-benar cepat berlalu ", gumamnya, nada suaranya mulai serak saat itu. Dan kemudian, ia berlanjut pada lembaran berikutnya, yang ia buka dengan perlahan. foto saat dia tertidur di meja kelas dan dengan teganya Green dan Amel selfie dengan background wajah mangap tidurnya itu, " menyebalkan",gumamnya tersenyum. Dan beberapa detik kemudian ia nyaris tertawa, tapi dengan cepat mendekap mulutnya, agar suaranya tak membangunkan Daniel. Ia terkekeh menemukan gambar dirinya tidur terjengkang di kursi belakang mobil Green, dan seperti tadi, tanpa merasa bersalah kedua sahabatnya itu selfie dengan background dirinya yang menyedihkan. Tapi tawanya tak lama, saat ia kembali berlanjut pada foto berikutnya, foto selfie mereka bertiga dengan mata yang sembab, itu terlihat sangat lucu untuk di lihat, tapi perih untuk dirasakan Elin. Ia menjadi teringat kembali ketika foto itu di ambil setelah mereka bertiga menangis bertiga. Saat itu berada di rumah Amel, Green disana karena di usir dari rumahnya oleh Martin, ayahnya. Dan dirinya sendiri datang ketika Amel memberi kabar hal itu. Dan saat itu Amel tengah merasa hancur karena perceraian orang tuanya, ia di biarkan sendiri.
Elin ingat ketika itu, dia yang memulai menangis, karena merasa bersalah pada Green, perempuan itu di usir karena hukuman skorsing yang ia dapat, dan hal itu di sebabkan oleh, Green di hukum karena membelanya.
Green yang saat itu rapuh karena perkataan Ayahnya, menjadi ikut menangis. Di susul Amel yang ikut menangis, mulanya perempuan itu hanya diam, tapi saat melihat kedua sahabatnya menangis, bendungan di pelupuk matanya seperti pecah saat itu, lalu ia menceritakan apa yang sedang terjadi padanya. Dan setelahnya tangis mereka semakin menjadi-jadi. Dan itu momen yang tidak mungkin terlupakan dalam hidup Elin.
Setelah bagian gambar yang mengharukan itu, Elin berlanjut pada lembaran berikutnya, Foto-foto keceriaan mereka terpajang dalam beberapa lembar, tidak ada kisah yang patut di ceritakan ulang dalam bagian-bagian gambar itu, yang pasti saat itu mereka sedang bahagia. Senyum mereka selalu mengembang di sepanjang lembaran foto .
Dan kemudian tangan Elin terhenti tepat pada foto pernikahan Green, foto mereka sedang berdiri dan saling memeluk. Begitu lucu saat melihat itu saat ini, mereka terbalut pakaian kebaya dengan wajah yang begitu muda, di hari pernikahan Green yang tidak terduga-duga,dan begitu cepat.
Hari itu mereka menangis, dan banyak penyebab mengapa hari itu air mata mereka terus mengalir tanpa henti. Semua perasaan bercampur menjadi satu saat melepas status lajang perempuan itu, tapi hari itu mereka juga bahagia, dan senyum Elin terukir saat mengingatnya, dan terus berlanjut saat ia berpindah pada gambar berikutnya, gambar yang di ambil ketika mereka terdampar di depan pintu Villa keluarga Vernandes di Lombok. Elin teringat, saat itu mereka berpelukan karena udara malam yang begitu dingin, sementara mereka menggunakan baju yang terbuka. Begitu lucu saat mengingat hal itu kembali, mereka yang marah karena ke tiga pria mereka berbicara dengan wanita lain, lalu mereka pergi, dan kemudian terdampar di depan Villa karena tidak bisa masuk, seban kunci bangunan itu berada pada Alfin.
__ADS_1
Elin kembali menahan tawa, mengingat begitu bodohnya mereka waktu itu,dan ketidak dewasaan mereka saat itu. Seharusnya, semuanya bisa di tanyakan, tapi mereka gengsi dan memilih pergi, padahal saat itu Green tengah hamil muda. Gadis kecil Naina, masih berada dalam perutnya saat itu, meski dalam bentuk janin kecil.
Tangan Elin mulai bergerak untuk membuka lembaran berikutnya, dan saat itu tangannya sedikit bergetar. Ia seperti tak siap untuk melihat bagian selanjutnya. tapi kemudian ia terkesiap, ia tak menemukan gambar yang ia cemaskan, sesuatu yang ia takutkan untuk di lihat, tidak ada disana, " mereka pasti sengaja ", gumamnya, lalu menghela. Dan itu memang lebih baik. Foto yang sudah ia simpan di dalam kotak di dalam lacinya, memang sebaiknya tidak lagi berada di bagian lembaran itu. Meski semula ia berpikir, bahwa kedua sahabatnya akan meletakkannya disana. Tapi kedua perempuan itu, memang orang yang paling mengerti dirinya, harusnya ia tak sempat ragu.
Kini ia kembali tersenyum, saat melihat gambar di hari penuh bahagia. Hari kelahiran Naina Pragiya Vernandes. Mereka bertiga selfie, dengan Green yang masih berada di atas tempat tidur rumah sakit, sambil menggendong Bayi Naina yang masih terpejam. Perasaan haru kembali muncul di saat itu. Itu moment-moment paling bahagia di antara hari yang pernah mereka lalui, kehadiran gadis kecil Naina, seperti menghelau awan mendung yang sempat berada di antara mereka. Sosoknya, seperti menggantikan tempat seseorang yang sudah pergi sebelum dia hadir.
Dan saat ini, Elin mengusap permukaan foto itu, bahkan ia kembali bisa merasakan, bagaimana perasaannya pada hari itu. Ia ingat, bagaimana ketakutannya ia dan Amel, pada saat melihat Green merontah, karena perutnya yang sakit, dan ia tak berhenti menangis ketika melihat perempuan itu berjuang di dalam ruang bersalin, peluhnya yang tumpah, teriakan kesakitannya, semuanya masih teringat jelas di ingatannya. Dan tangisa Elin pecah ketika pertama kali suara tangis Naina terdengar. Bukan hanya dia, tapi semua orang saat itu menangis. Menangis karena terharu dan juga sangat bahagia atas kehadiran gadis cantik bermata persis seperti ibunya.
Dan setelah gambar kenangan itu, hampir semua bagian foto selanjutnya, gambar gadis kecil Naina tak pernah tak hadir. dan Elin kembali tersenyum sepanjang melihat bagian-bagian kenangan itu. Walau saat itu, kondisi batinnya belum sepenuhnya pulih. Ia masih berkabung oleh kehilangan, tapi ia berusaha untuk kembali bahagia, dan Naina menjadi penyejuk hatinya saat itu.
Kemudian ia bertemu pada foto selanjutnya, foto pada hari kelulusan mereka. Hari itu Green sudah menjadi seorang Ibu, dan ia menjadi teringat, ketika mereka memilih untuk ikut home schooling, karena Green yang tidak bisa bersekolah karena kehadiran Naina. dan kembali ke Darmabangsa pada hari itu, di hari kelulusan mereka.
Dan mulut Elin bergerak mengulang kalimat yang di lontarkan oleh Kepala Sekolah pada hari itu, bahkan matanya juga terpejam, seperti yang di minta pada saat itu, " Terimakasih untuk segala hari indah, dan aku sudah memaafkan kesalahan apapun yang pernah terjadi disini. Dan sekarang mari kita mulai tanpa saling melupakan", gumam Elin mengulang ucapan Kepala Sekolah dengan sangat lancar, tidak ada bagian dari kalimat itu yang terlupakan olehnya, semua masih teringat jelas di dalam ingatannya, bahkan semua kenangan yang terjadi pada hari itu. dan kembali ia memandang pada baju putih abu-abu yang penuh coretan di dalam lemari kaca, dan saat itu hatinya langsung terenyuh. Seketika ia merasa begitu bersyukur karena telah memiliki hari itu, hari yang tidak akan pernah terulang seumur hidupnya. Di saat itu mereka begitu bahagia, namun juga menangis karena hari itu menjadi hari terakhir mereka berada di Darmabangsa.
Lalu berpindah pada gambar berikutnya. Gambar ketika pertama kali ia akan pergi ke New York, saat itu mereka berada di bandara. Saling berpelukan dengan mata yang sembab, ketika itu mereka menangis, karena pertama kalinya mereka akan di pisahkan oleh jarak.
" Kenapa kami begitu cengeng", gumamnya tertawa, tapi hatinya terasa perih saat mengingat kembali hari itu.
Dan kemudian ia menemukan foto mereka bertiga berpelukan. Foto itu di ambil saat beberapa hari menuju hari pernikahan Amel. Disana Dia dan Green tertawa, tapi Amel menangis. Menangis karena telah di bohongi bahwa ia tak akan pulang pada hari itu. Dan Elin kembali tertawa saat mengingat hari itu. Dan gambar-gambar setelahnya adalah moment-moment yang bahagia. Kenangan yang di ambil tidak lama ini.
Dan salah satunya gambar mereka bertiga ketika pertama kalinya bertemu di New York, kedua perempuan itu datang memberi kejutan di hari yang membanggakan untuknya. Dan ia tak pernah menyangka jika ke dua sahabatnya akan hadir pada hari itu.
Ia teringat, juara yang ia dapatkan memang membuatnya sangat senang, begitu pun lamaran mendadak yang berikan oleh Daniel pada hari itu. Tapi dari semuanya, ia lebih bahagia saat ke dua perempuan itu ada disana. di hari bahagianya. Dan kebahagiannya menjadi komplit ketika kedua perempuan itu ada.
__ADS_1
Halaman binder itu di tutup oleh foto mereka bertiga pada hari pernikahannya, yang terjadi pada beberapa hari yang lalu.
Foto itu di ambil saat kedua perempuan itu menghampirinya ke dalam kamar pengantin. Eyeliner di mata Green, terlihat sedikit meleleh di sana, begitu pun riasan wajah Amel, aliran air mata membekas di atas pipinya yang memerah oleh warna blush on.
di dalam gambar itu, ia berada dalam himpitan mereka berdua. Ia tersenyum manis disana, dengan sebelah pipi yang di cium oleh Amel, dan Green menjadi orang yang mengambil gambar itu.
Air matanya kembali mengalir deras saat menyadari foto itu menjadi bagian terakhir. dadanya sesak, seolah kisah mereka di tutup pada hari itu, pada hari pernikahannya.
Seolah itu menjadi moment terakhir mereka bersama, dan memang seperti itu, besok dia sudah akan pergi ke New York. Setelahnya mereka akan mempunya jarak dan mereka akan berpisah.
Hatinya menjadi hancur, di peluknya erat binder penuh kenangan itu.
Mengulas satu-satu kenangan yang mereka lalui, tidak membuat suasana hatinya menjadi baik, justru menjadi hancur.
Ternyata waktu begitu cepat berlalu di antara mereka , dan seolah kini, waktu membawa mereka pada penghujung dari kisah mereka.
Persahabatan mereka akan kekal, Amel benar. Tapi waktu akan membuatnya tak sama, jarak akan membuatnya berbeda. Seharusnya semua itu sudah mulai terasa saat Green menikah. Waktu mereka bermain tidak lagi bisa seperti sebelum perempuan itu memiliki keluarga. Kemudian saat dia pergi ke New York, saat itu seharusnya mereka juga mulai menyadari, bahwa suatu hari, jarak akan menjauhkan mereka. Dan mereka tak lagi seperti dulu setelah kepergiannya. Mereka memang masih saling bertukar kabar, tapi sangat berbeda bukan, semuanya tak lagi sama seperti dulu. Ada banyak waktu yang tidak lagi bisa di korbankan, walau hanya untuk mereka bersendau gurau di balik layar. Semuanya memang tak lagi sama semenjak itu.
Dan hari ini kenyataan yang sebenarnya menyadarkan mereka. Waktu yang mereka lalui begitu berharga dan lambat laun tertinggal. kisah mereka tak pernah sama lagi.
Elin menangis tersedu-sedu memeluk binder penuh kenangan. Pada saat itu ia ingin memutar waktu, mengembalikan segalanya, mengembalikan saat mereka mempunyai waktu banyak untuk bertemu, untuk bermain, untuk bersendau gurau, dan melakukan banyak hal yang belum pernah mereka lakukan bertiga. Tapi itu sesuatu hal yang mustahil, ia tidak akan pernah bisa melakukan itu, bahkan tak akan mungkin.
Dan yang paling membuat hatinya tersayat adalah,karena binder itu di tutup oleh gambar di hari pernikahannya. Seolah memang seperti itu yang terjadi, pernikahannya seolah penutup dari kisah persahabatan mereka yang panjang. Karena kenyataannya memang seperti itu, saat besok dia pergi, kisah mereka tak kan pernah lagi sama.
__ADS_1