
Daniel baru saja selesai dari pertemuan bersama klien di dalam ruangannya , " Terimakasih " ucapnya tersenyum dan kembali menjabat tangan dua laki-laki paruh baya yang baru saja ingin beranjak dari pintu ruangannya.
" Tuan telepon aku jika anda membutuhkan sesuatu " ujar Reza yang ikut ingin beranjak untuk menikmati waktu istirahatnya , Daniel mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruangannya , namun ia menghentikan langkahnya sesaat lalu bergerak menuju meja kerja Maria dan spontan saja perempuan itu berdiri dan membungkuk kearahnya.
" Apa yang bisa saya bantu Tuan ? " tanya Maria.
" Emmm.. tolong siapkan makan siang untukku dan Nona muda " pintanya dan Maria dengan cepat mengangguk , " emmm..dan minta di keruanganku " tambahnya lagi , namun kali ini Maria tidak kembali mengangguk malah tersenyum begitu lebar , " sepertinya Nona Muda punya telepati " ujarnya terus tersenyum sambil terus menatap ke balik punggung Bossnya.
Mendengar itu Daniel membalikkan tubuhnya dan bibirnya langsung melengkung saat melihat seseorang yang ia tunggu kini tengah berjalan ke arahnya , " sayang " panggilnya dengan wajah berbinar , dan dari jarah yang masih sedikit jauh Elin juga sudah tersenyum ke arahnya dengan langkah yang terlihat semakin ia percepat untuk segera sampai padanya.
" Aku baru saja meminta Maria untuk menyuruh kau datang ke ruanganku " ujar Daniel tak kala tubuh Elin semakin dekat dengannya , " benarkah ? " balas Elin tersenyum gemas.
" Berarti aku begitu peka , tanpa di minta aku sudah berinisiatif untuk datang kemari "
" Ceh " decih Daniel tersenyum , lalu menarik tangan perempuan itu untuk membawanya kembali ke dalam ruangannya.
Maria terus tersenyum menyaksikan tingkah Daniel dan Elin di hadapannya dan ikut bahagia untuk Bossnya itu , karena semenjak bersama Elin ia tidak lagi menjadi laki-laki yang begitu dingin dan menyebalkan , " tunggu Daniel " pinta Elin dengan menghentikan langkahnya lalu kembali bergerak mendekat pada Maria.
" Emmm.. masuklah lebih Daniel "
" Kenapa ? " tanya Daniel dengan dahi yang sedikit berkerut.
" Aku ingin menanyakan sesuatu hal kepada Maria dan ini tentang urusan perempuan jadi kau tidak boleh mendengarnya ? " jelas Elin sedikit tersenyum dan itu berhasil membuat Daniel mengalah untuk tidak lagi kembali bertanya dan segera masuk ke dalam ruangan , namun tidak lama ia kembali lagi , " jangan lama " pintanya dengan senyum yang menggoda ,membuat Elin ikut tersenyum namun matanya berdelik padanya.
" Ya Nona " kata Maria , saat Daniel benar-benar telah pergi.
Sebelum menyampaikan maksudnya , Elin terlebih dahulu bergerak dan mengambil tempat dengan duduk di kursi di hadapan wanita itu lalu sesaat ia menarik nafasnya.
" Ada apa nona ? " tanya Maria saat melihat Elin terlihat ragu untuk berbicara.
" emmm..boleh aku meminta bantuanmu ? "
" Tentu Nona dengan senang hati " jawab Maria bersemangat bahkan senyumnya tak lepas pada Elin.
" emm apa kau mau membantuku untuk melihat rekaman cctv di ruang kerja Direktor ? " pintanya begitu hati-hati ,
Maria terdiam sesaat dan menatap lamat pada wajah polos calon istri CEO , " apa yang sudah terjadi nona ? " tanyanya serius.
" Emm.. tidak tidak , tidak terjadi apapun Maria " sahut Elin cepat dengan tawa hambar dari bibirnya , " lupakan saja kalau begitu " katanya lagi sambil bergerak untuk beranjak dari hadapan Maria.
" Nona " panggil Maria pelan dan Elin kembali melihat padanya.
" Apa yang sebenarnya terjadi ? " ulang Maria dan kali ini tatapannya penuh dengan keseriusan.
Elin kembali terdiam dan menarik nafas , sekali pun saat ini ia telah membantalkan niatnya untuk melihat rekaman cctv di ruang kerjanya itu tak akan membuat Maria ikut berhenti untuk tahu , justru akan membuatnya begitu penasaran dan mencari tahu dengan sendirinya , " tidak terjadi apapun Maria , aku hanya ingin mengetahui sesuatu " jelasnya.
" Baiklah Nona , kapan anda ingin melihatnya ? "
" Apa bisa begitu cepat Maria ? "
" Tentu jika itu untuk anda " balas Maria tertawa , " permintaan itu sangat mudah nona " sambungnya dengan masih terus tertawa.
__ADS_1
" emmm.. apa kau bisa menunjukkan padaku setelah jam makan siang ? "
" Tentu Nona "
" Baiklah Maria , terimakasih " ucapnya dan Maria mengangguk , " dan tolong rahasiakan ini dari Daniel ".
" Baik Nona "
" Terimakasih Maria "
" Anda sudah mengucapkan itu berulang kali Nona " kata Maria dengan kembali tertawa.
" Emmm.. boleh aku minta bantuan lagi padamu ? "
" Tentu Nona jika itu selama aku masih bekerja disini "
" Ceh " decih Elin ikut tertawa , " tolong siapkan Makan siang untukku dan Tuan , dan untukmu juga "
" Itu tidak perlu lagi Nona , tuan sudah meminta itu sejak tadi "
" Benarkah ? "
" Ya , yang berbeda Tuan tidak meminta untukku juga " kata Maria tertawa.
" Ya kau harus pesankan untukmu juga " kata Elin serius.
" Tidak terimakasih nona , aku sudah membawa bekalku sendiri "
" Ya Nona segera temui aku jika anda sudah siap untuk melihat rekaman cctv "
" Oke Maria " balas Elin tersenyum lalu kembali bergerak menuju pintu ruang kerja calon suaminya.
" Sayang " panggil Elin begitu lembut sambil menutup kembali pintu ruangan.
Daniel yang terlihat masih berkutat dengan handphone hanya menanggapinya dengan tersenyum lalu kembali melihat pada layar benda pipih itu , " apa kau begitu sibuk ? " tanyanya seraya berjalan mendekat.
" emmm... "
" Tidak bisakah itu di kerjakan nanti , sekarang waktunya istirahat sayang "
" Tidak bagiku ini sangat penting dan aku tidak ingin menundanya " balas Daniel.
" Baiklah " kata Elin dengan wajah kesal dan ia kembali berjalan menuju soffa.
Wajahnya terus ia tekuk sambil terus melirik pada Daniel yang benar-benar tidak mengidahkan dirinya dan terus sibuk dengan benda pipihnya itu , " kalau tahu seperti ini lebih baik aku makan siang di dalam ruanganku " omelnya penuh kesal dengan tangan yang kini terlipat di dadanya.
Daniel yang sebenarnya mengetahui kekesalan kekasihnya hanya bisa menahan senyuman sambil menyelesaikan kesibukan dengan benda pipihnya , " selesai " ucapnya puas dengan bibir yang melengkung dan kini melirik pada wajah yang sudah di tekuk.
" sayang aku sudah selesai " ulangnya , namun Elin tetap mengacuhkannya.
" Apa kau marah ? " tanyanya sambil berjalan mendekat.
__ADS_1
" Tidak , selesaikan saja pekerjaanmu " balas ketus Elin.
" Aku bilang sudah selesai "
" Ya sudah "
" Ya sudah apa ? " tanyanya lagi dengan tubuh yang kini berada di sisi perempuan itu.
" Ya sudah kalau selesai , memangnya mau apa lagi ? "
" Apa kau tidak ingin tahu aku sedang melakukan apa ? "
" Tidak "
" Serius ? "
" Ya Daniel "
" Baiklah kalau tidak ingin tahu " ucap Daniel sambil menahan senyumnya.
Sesaat suasana menghening dengan Elin yang masih menekuk wajahnya dengan tangan yang menyilang , " memang apa yang sedang kau lakukan ? " tanyanya pelan dan penuh gengsi , dan itu membuat Daniel tidak bisa menahan untuk tidak tertawa , " kau begitu manis saat sedang marah " katanya menggoda sambil menangkup gemas wajah Elin.
" Cepat katakan apa yang kau lakukan Daniel ? "
Dengan masih tertawa Daniel kembali membuka layar handphonenya , " sebenarnya aku hanya sedang mengatur jadwalku dan memeriksa pekerjaanmu " katanya sembari memperlihatkan layar handphonenya pada Elin.
" Apa ini ? " tanya Elin dengan dahi sedikit berkerut.
" Astaga Daniel , apa secepat ini ? " tanyanya kembali dengan mata yang membulat sempurna saat melihat nama dirinya sudah berada di dalam jadwal keberangkatan penerbangan luar negeri, " ya sayang , aku tidak lagi bisa menunggu untuk bertemu dengan orang tuamu " kata Daniel bersama dengan raut wajah yang bersungguh-sungguh untuk ucapannya.
Cup " Elin mengecup tanpa pamit bibir merah Daniel , semula lelaki itu sedikit terkejut , namun dengan senang hati menerimanya bahkan membalasnya dengan begitu lembut , membuat kedua bibir itu saling bersentuhan sedikit lebih lama.
" Permisi Nona tuan , makanan.... oh maafkan aku " ucap Maria yang kalang kabut kembali menutup pintu saat menemukan pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.
Sedangkan Elin segera melepas bibirnya dari bibir Daniel dengan wajah yang sudah bersemu merah , " bagaimana ini Daniel , Maria melihat kita berciuman " ujarnya begitu ketakutan bercampur malu.
" Memangnya kenapa jika Maria melihat " balas Daniel begitu enteng.
" Kenapa ? apa kau tidak punya malu huh ? "
" Sayang bukan tidak punya malu , tapi bukankah sudah begitu wajar sepasang kekasih saling berciuman "
" Tapi ini bukan di waktu yang tepat Daniel "
" Jangan terlalu di pikirkan Maria pasti mengerti "
" Tapi aku malu Daniel "
" Tapi aku mau lagi " kata Daniel menimpali dengan tertawa , membuat mata Elin kembali membesar dengan bibir yang siap mencercah lelaki itu , namun kenyataannya itu tidak terjadi karena bibir Daniel lebih dulu menyerbu bibirnya dan ********** dengan begitu lembut.
" Daniel hentikan " teriak Elin tertahan.
__ADS_1
" Tidak , diam dan nikmati " pintanya di tengah ciuman dan Elin tidak mempunyai pilihan selain pasrah dengan takdirnya hari ini.