Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tidak Semua harus di Ceritakan


__ADS_3

Mala mengadakan makan malam besar, malam ini.


Meletakkan meja makan besar di taman kecil di belakang rumahnya, menghiasi dengan lampion dan mempermanisnya dengan bunga-bunga segar.


Malam ini, malam terakhir putri pertamanya dan menantunya berada di rumah, sebelum besok pagi, sepasang manusia itu akan membali ke New York.


" Ada apa bu ? " tanya Bimo menghampiri. Mala tengah berdiri terpaku di hadapan dinding yang di penuhi bingkai foto, dan beberapa hari yang lalu, bingkai foto itu bertambah.


Ia mengusap cepat matanya, ketika Bimo mendekat, lalu menggeleng dengan tersenyum hambar, " ibu hanya baru menyadari, kalau waktu begitu cepat berlalu Yah ", katanya seraya kembali melihat pada foto kecil Elin, foto satu-satunya yang ia miliki. Lalu kemudian pandangannya berpindah pada bingkai foto yang baru terpajang di sana. Foto Elin dengan kebaya putihnya di hari pernikahan, " apa selama ini Ibu sudah jadi ibu yang baik ya Yah ?", tanyanya lirih, dengan menghela kecil.


" Tentu Bu, ibu sudah jadi Ibu yang hebat selama ini ", balas Bimo, sambil menyentuh pundak istrinya, " dia jadi anak yang cantik dan hebat, karena ibu, Ibunya ", katanya lagi, melemparkan senyum teduh pada mata yang kini di banjiri buliran kristal.


Mala menundukan wajahnya, dengan berulang kali mengusap matanya, " ternyata seperti ini rasanya, kalau anak akan di bawa pergi oleh suaminya. Padahal dulu, saat dia pergi sekolah, Ibu tidak sesedih ini Yah ", katanya parau. Ia tak lagi ingin menyembunyikan kesedihannya di hadapan Bimo, dan Bimo hanya terdiam saat itu.


Bahkan sebenarnya, hatinya lebih hancur dari istrinya sendiri. Hanya saja ia menyembunyikannya dengan sangat baik.


Meski akan ada pesta kecil nanti malam, tapi rumah besar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Padahal beberapa orang terus berlalu lalang untuk menyiapkan acara itu.


Tidak ada satu pun dari pemilik rumah yang menampakan diri. Hanya Bimo, yang sesekali memeriksa ke halaman belakang, sementara Mala, setelah berada di hadapan puluhan bingkai foto di dinding rumahnya, ia memilih mengurung diri di kamar tidurnya.


Elin, kini tengah duduk di atas ranjang tidurnya, mengamati setiap sudut ruang pribadinya itu. dan Menatap cukup lama pada pakaian putih abu-abu dengan coretan warna-warni, serta puluhan tanda tangan yang terukir. Bibirnya melengkung saat itu, saat ia mengingat hari penuh bahagia, di penghujung harinya sebagai murid dari Yayasan Darmabangsa. Dan beberapa detik kemudian, senyum itu memudar.


Ia ingat, hari itu dia sangat bahagia, namun, juga sangat sedih. Ia benci, ketika semua yang ia lalui akan menjadi kenangan. Dan hari itu, adalah awal dari cerita Darmabangsa akan menjadi kenangan.


Waktu begitu cepat belalu, tapi semua yang terjadi, tidak sedikit pun bisa terlupakan.


Semua kenangan menyelinap masuk ke dalam pikirannya, ketika menyadari, bahwa besok pagi dia akan pergi. Bahwa besok pagi, dia akan pergi sebagai seorang istri yang mengikuti kemana suami membawanya. Bukan lagi seorang Elin yang hanya pergi untuk bersekolah dan yang akhirinya juga ia sadari adalah, bahwa di New York lah sebenarnya, cerita hidupnya di mulai.


Ia mengusap matanya. Menatap baju putih abu-abu yang tergantung rapi di lemari kaca, membuatnya begitu emosional. Semua kenangan tentang Darmabangsa tidak berhenti-hentinya menyelinap di pikirannya. Kadang ia tersenyum saat menyadari betapa nakalnya mereka, betapa pemberontaknya mereka sebagai murid SMA, tapi walau begitu semuanya indah, sangat indah.

__ADS_1


Tidak ada kenangan yang lebih indah tercipta di hatinya, melebihi dari kenangan saat ia, Green dan Amel menjadi murid di Darmabangsa.


Dan saat itu, Matanya melirik pada bingkai foto yang berada di atas nakas. Foto di hari kelulusan mereka.


" Oh God, mengapa begitu cepat berlalu ", gumamnya dengan menghela dalam nafasnya, kemarin ia tak berpikir, bahwa hari ini dirinya akan merasa begitu sedih. Kembali ke New York adalah hal yang biasa ia lakukan, ia tidak terpikir bahwa kali ini suasana hatinya akan jauh berbeda. Ia baru menyadari, kalau rumah yang ia tinggali bersama keluarganya saat ini, bukan lagi tempatnya untuk pulang. Rumah sebenarnya bukan lagi ini.


Sekelibat rasa penyesalan, karena menikahi pria dari asal negara yang begitu jauh muncul, tapi kemudian dengan cepat ia tepis perasaan itu. Ini memang jalan hidupnya yang di takdirkan.


Karena jika di ingat kembali, lima tahun yang lalu, datang ke New York bukanlah pilihannya. Kota itu menjadi pilihan kesekian, setelah Paris. Tak pernah terbesit di pikirannya untuk datang ke kota itu, tapi memang mungkin takdirnya, setelah satu tahun berpikir, akhirnya hati kecilnya menentukan kota itu lah tempatnya akan melanjutkan sekolahnya, mengejar cita-cita dan tempatnya untuk memulai kembali segala yang sudah hancur. Saat itu dia hanya ingin pergi. Pergi sementara dari tempat yang membuat hatinya sesak, karena terus mengenang seseorang yang tidak akan pernah lagi kembali ke kehidupannya, Saat itu, hanya itu yang ada dalam pikirannya.


Tapi yang tidak di tahu, bahwa itu bukan keinginannya, tapi keinginan Tuhan.


Sang Maha Besar itu, telah menciptakan takdir yang luar biasa untuknya, Dan New York adalah tempat semua takdir indah itu akan terjadi.


Elin menangis tersendat menyadari semua yang sudah berlalu, semua hal yang baru di sadari kalau ternyata begitu berharga. Semua kenangan adalah hal yang paling berharga di dalam hidup setiap orang, karena kenangan adalah hal yang tidak akan bisa kembali dalam keadaan yang sama. Dan itu yang membuat Elin hancur saat ini. Semua yang terjadi tidak akan pernah bisa kembali lagi. Semuanya tidak akan pernah sama.


Ia bergerak membuka laci di bagian nakas. Tepat, di tempat ia menyimpan banyak kenangan di masa lalunya. Tempat berbentuk segi empat itu, di penuhi lembaran foto-foto. Matanya langsung berair ketika menemukan selembar foto penuh kenangan pahit, meski di dalamnya mereka saling tertawa. Dan itu adalah salah satu kenangan terbesar yang tidak akan pernah kembali lagi di dalam hidupnya.


Dirinya tak akan berlarut sesedih ini jika lelaki itu masih hidup, Meski memang tak akan bersama, tapi masih melihatnya tetap hidup itu jauh lebih baik, dari pada memandanginya di sebuah bingkai foto.


Dan yang tidak dia pahami adalah hal itu, meski dia merasa takdir kepergian lelaki itu sangat tidak adil, tapi di situlah awal mula takdir hidupnya sendiri. Seperti yang dia sendiri sadari, bahwa tidak akan sama jika lelaki itu masih ada.


Kadang, setiap manusia selalu berpikir bahwa yang meninggalkan berperilaku tidak adil pada yang tinggalkan, selalu seperti itu.


Padahal sesungguhnya adalah sang meninggalkan lah yang merasa tidak adil. Semesta mengakhiri cerita hidupnya demi awal cerita hidup orang lain.


Orang yang hidup tidak akan tahu, bagaimana dia memohon untuk kembali hidup, dan tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari, aku ingin hidup.


Jarinya masih mengusap lembut pada bagian wajah lelaki itu. Memandanginya dengan penuh rasa sesak, hari ini perasaannya jauh berbeda dari biasa ia melihat wajah lelaki itu. Saat ini, ia menyadari bahwa semuanya sudah jauh tertinggal, lelaki itu hanya benar-benar tinggal kenangan. Pemanis dari kenangannya sebagai anak remaja, dan kenangan dari cerita yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya, " Terimakasih Gery ", ucapnya serak, " Terimakasih karena kemarin telah datang ", dan saat ini, air matanya sudah berlinang deras di pipinya yang memerah.

__ADS_1


Ia teringat kembali pada malam di hari pernikahannya. Lelaki itu datang, di tempat terakhir mereka memiliki kenangan, dan tersenyum ke arahnya. Meski itu hanya sebentar, tapi ia sangat bersyukur.


" Sekarang aku menyadari Gery, bahwa yang sebenarnya paling sakit dari perpisahan kita adalah kamu, bukan aku ".


" Maaf Gery. Maaf karena aku sudah begitu egois untuk bahagia sendiri disini.Maafkan aku...", katanya tersendat. Di saat itu matanya kembali menemukan gambar yang lebih menyakitkan. Gambar yang hanya ada mereka berdua di dalamnya.


Air matanya semakin mengalir deras. Rasa bersalah pada lelaki itu membesar seketika. Ia merasa apa yang sudah ia dapatkan di dunia, begitu tidak adil untuk pria itu, " maafkan aku ", ulangnya, dengan mendekap lembaran foto itu di dadanya.


Setelah puas menangis, Elin mengambil kotak yang di simpan dalam salah satu laci, lalu mengambil beberapa lembar foto yang di isi oleh wajah lelaki itu. Disusunnya dengan begitu rapi, dan di masukannya ke dalam kotak. Lama ia tertegun memandangi gambar lelaki itu, menghela panjang nafasnya, sebelum akhirnya ia menutup kotak itu, lalu kuncinya dengan gembok kecil yang sudah tersedia.


Ia kemudian beranjak dari duduknya dengan menggegam anak kunci. Berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke arah taman, " maafkan aku Gerry, tapi aku tidak akan membukanya lagi ", gumamnya, sambil melempar dengan sekuat tenaga anak kunci ke dalam rumputan.


" Maafkan aku ", ucapnya terakhir kali, sebelum ia kembali ke tempatnya semula.


Ia meletakan kotak berwarna merah tua itu ke dalam urutan laci paling bawah. Naif memang, ketika menyadari dirinya masih menginginkan untuk menyimpan lembaran foto itu. Tapi seperti itu lah kenangan. Kau tidak pernah akan bisa membuangnya. Kau hanya perlu menyimpannya di tempat terbaik, tanpa perlu membukanya kembali. Karena seperti itulah seharusnya sebuah kenangan.


" Hei ", sapa Daniel dari balik pintu kamar. Elin mengusap cepat bagian matanya, meski ia tahu, matanya yang memerah tetap akan terlihat oleh lelaki itu, " Hei ", balasnya tersenyum, dan mendekat pada lelaki itu, " kau sudah pulang ? ", katanya lagi, sembari melayangkan kecupan di bibir Daniel.


Daniel mengangguk, tapi matanya tak berhenti memandangi mata istrinya, " are you oke , Honey ? ", tanyanya dan Elin tersenyum, meski terlihat sangat hambar.


" Aku baru saja menemukan foto-foto dulu. Foto-foto bersama Green dan Amel. Aku sedih karena menyadari, ternyata semuanya begitu cepat berlalu ", katanya menjelaskan, sambil kembali ke tempat hamparan foto yang baru saja ia keluarkan dari dalam laci. Sebenarnya saat itu ia merasa bersalah karena telah berbohong pada suaminya, " maafkan aku sayang ", ucapnya membantin, dengan menatap pada wajah yang kini tersenyum teduh padanya.


Lelaki itu tak bicara, dia hanya mendekat dan mengusap lembut ujung kepalanya, " kau bisa membawa semua ini sayang ",katanya. Elin menoleh cepat, " kau bisa membuat kenangan ini di dalam sebuah binder ", katanya lagi. Mata Elin berbinar mendengar saran itu, " ya kau benar. Aku akan menempel semua foto-foto ini di dalam binder ", katanya setuju, " kelak aku akan menceritakan satu persatu kenangan dari foto ini pada anak kita ", sambungnya.


Daniel tersenyum, " kenangan masa kenakalanmu, maksudmu ", katanya sambil mengacak rambut Elin. Dan dia tertawa, " tapi kenangan masa itu menarik untuk di ceritakan sayang ".


" Benarkah, semenarik itu ? " kata Daniel menggoda, sambil menyentuh pinggangnya, dan Elin bergeliat karena rasa geli, " tentu ", sahutnya.


" Apa kau juga akan menceritakan, cerita pertemuan kita pada anak kita nanti ? ",

__ADS_1


" Tentu ", katanya sekali lagi, " aku akan menceritakan semua cerita hidupku padanya " , sambungnya lantang, lalu kemudian ia terdiam, " tidak, tidak semuanya ", katanya lagi, dengan nada yang begitu pelan, bahkan sangat pelan sampai Daniel tidak bisa mendengarnya. Nafasnya tertahan saat itu, dengan mata yang kembali memandang pada bagian laci paling bawah, " tidak semuanya harus di ceritakan ", gumamnya sesak, dan bulir kristal kembali muncul di matanya.


__ADS_2