
" Duduklah , dan lakukan apapun sesukamu " ucap Daniel yang kemudian beranjak dari duduknya.
" Kakak mau kemana ? " tanya Meili panik.
" Mandi , apa kau mau ikut? " sahut Daniel tertawa seraya berjalan menuju kamar tidurnya , dan meninggalkan Meili yang sedang menatap kesal kearahnya.
" Astaga , kenapa pikiranku begitu kacau " ujar Daniel yang tertawa karena dirinya sendiri , untuk pertama kalinya otaknya tidak bekerja dengan benar dan untuk pertama kalianya juga , pikiran tentang semua perkerjaannya terganti dengan bayangan satu perempuan yang terus berputar di otak seorang Daniel Remkez , dia pernah jatuh cinta saat bersama Hannah , namun tidak pernah seperti ini , hanya dengan megucapkan namanya saja , jantung Daniel langsung bedebar dengan garis senyum yang langsung merekah dari bibir merahnya.
" Aku tidak bisa terus begini , sepertinya aku harus mandi , supaya otakku bisa kembali bekerja dengan baik " gumam Daniel sambil membuka kancing kemejanya , dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk merendam kepalanya di dalam bathup , mungkin dengan begitu pikiran tentang Elin akan sedikit berkurang.
****
Drrrttt drrttt "
Dengan mata yang masih terpejam Elin mengambil handphonenya yang terus berdering di atas nakas , " siapa yang mengganggu tidurku " kesal Elin dengan suara yang serak ,
" ya , hallo " jawab Elin tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya sepagi ini.
" Elin " teriak seorang perempuan di seberang telepon , Elin membuka matanya dan segera melihat layar handphone untuk memastikan siapa yang sebenarnya menelepon.
" Meili " balas teriak Elin setelah melihat nama kontak penelepon dan segera ia duduk di pinggir tempat tidurnya.
" Kapan kau pulang Nona ? , aku sudah merindukanmu " ucap Meili.
" Sungguh ? " tanya Elin tertawa.
" Jangan meragukan aku Elin, cepatlah kembali , aku tidak suka berada di kampus tanpa kamu , semuanya membosankan , harusnya aku ikut saja bersamamu ke Indonesia " gerutu Meili di balik telepon'.
" Hari ini aku pulang Meili , apa kau menginginkan sesuatu ?"
" benarkah ? " teriak Meili bahagia.
" Aku hanya ingin kau sampai di New York dengan selamat , jam berapa kau akan tiba di sini ? "
" Mungkin aku akan tiba disana siang hari Meili "
" Oke , aku akan menjemputnya "
" Terimakasih , tapi aku bisa sendiri, aku tidak ingin terlalu banyak merepotkanmu"
" Tidak ada kata merepotkan dalam persahabatan Elin , jadi jangan membantah lagi , aku akan menjemputmu nanti "
" Baiklah , Terimakasih Meili , sampai bertemu di New York "
" Iya , nyamanlah dalam perjalannanmu , dan sampai bertemu disini " ucap Meili sebelum ia mengakhiri sambungan telepon mereka.
" Meili tunggu " teriak Elin.
" ya lin"
" Apa kau sungguh tidak ingin sesuatu ? " tanya Elin memastikan.
" Jika tidak merepotkan , bisakah kau membawakan aku makanan Indonesia , kadang aku sering merindukan makanan penuh rempah rempahan itu "
__ADS_1
" Tidak ada kata merepotkan dalam persahabatan Meili " balas Elin tertawa.
" Jangan mengcopy paste kata kataku Elin " ujar Meili yang ikut tertawa.
" Baiklah akan aku tutup teleponnya dan sampai bertemu disini Elin , bye "
" Bye , Meili " pamit Elin , setelah menutup teleponnya bersama Meili,segera ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar menuju lantai satu rumahnya.
~
" Bu , ibu " teriak Elin dari lantai dua dan berlari menuju teras belakang rumahnya , tempat dimana kedua orang tuanya menikmati waktu pagi.
" Bu " panggil Elin lagi.
" Iya ibu di sini , ada apa ? " tanya Mala , yang beranjak dari duduknya saat mendengar Elin memanggilnya .
" Bu , apa ibu sibuk hari ini ? " tanya Elin.
" Apa yang kamu inginkan nak ? " tanya balik Mala , yang langsung mengerti dengan perkataan Elin, putrinya itu memang selalu sungkan untuk mengatakan keinginannya.
" emm.. Elin mau membawa masakan ibu nanti " jelas Elin yang merasa tidak enak karena harus merepotkan ibunya , Mala tersenyum melihat tingkah Elin " tidak perlu kau minta pun , ibu sudah menyiapkannya "
" Benarkah ? , Terimakasih bu " kata Elin yang kegirangan dan langsung mencium pipi Mala.
" Astaga anak gadis ini " teriak Mala karena Elin menciumnya tanpa mencuci muka terlebih dahulu , " kenapa anakmu begitu jorok ayah " lanjut Mala tertawa pada Bimo
" Ibu akan merindukan bau ilerku nanti " kata Elin tertawa setelah selesai mencium gemas kedua pipi Mala.
" Cepat cuci wajahmu dan segera sarapan , ibu sudah menyiapkan roti coklat kesukaanmu "
" ya sudah , jangan kembali , ayah dan ibu memang tidak pernah memaksamu untuk bersekolah di New York , ayah lebih suka kamu di sini , bersama kita " timpal Bimo sambil meminum kopi.
Elin menarik nafas pelan , dan kemudian duduk di kursi samping Bimo " ayah memang tidak pernah memaksa Elin , tapi Elin juga harus tahu diri , setidaknya Elin sudah berusaha untuk menjadi anak yang berguna untuk ayah dan ibu nanti, semua demi ayah dan ibu kok , Elin juga harus bisa berdiri karena usaha Elin sendiri yah " kata Elin sambil memegang lembut tangan Bimo , dan hatinya sedikit terenyuh saat menyadari bawah ayahnya kini semakin menua , bahkan wajah yang dulu terlihat begitu tegas sudah hampir tertutup dengan garis wajah yang mulai berkerut.
" Sudah cepat mandi , dan segera sarapan " ucap Mala memegang pundak Elin,
Elin mengangguk dan tersenyum pada ibunya , perasaan berat untuk kembali ke New York semakin bertambah setelah menyadari bahwa ia akan kembali meninggalkan kedua manusia yang begitu berharga di hidupnya ini.
****
" Siapa yang meneleponmu ? " tanya Daniel yang berjalan mendekat pada Meili dengan pakain santai , dan langsung duduk di samping Meili
Sahabatku" sahut Meili yang masih serius menatap layar handphonenya
Daniel berdesis " Sejak kapan kau mempunyai sahabat dan siapa yang ingin berteman dengan manusia aneh seperti mu " ujar Daniel tertawa.
" Ada , buktinya sekarang aku punya sahabat "
" Ntah mengapa aku begitu menyukainya dari saat pertama kami bertemu , dan kau tahu aku manusia yang jarang menyukai orang lain dalam satu kali pertemuan , tapi dengan dia berbeda kak , dan aku langsung mengajaknya berteman " jelas Meili pada Daniel.
" Mungkin karena dia sama aneh sepertimu " ujar Daniel kembali tertawa.
" Aku yakin kau juga pasti menyukainya nanti , dia bebeda dari teman temanku , ah aku benci mengingat mereka "
__ADS_1
" Dulu kau juga membanggakan mereka seperti dia sekarang , dan akhirnya mereka menyakitimu , sudahlah Meili belajarlah dari pengalamanmu , orang seperti kita sangat susah mencari teman yang benar benar teman sesungguhnya "
Meili menarik nafas , perkataan Daniel memang ada benarnya , dulu dia pernah sangat kecewa karena persahabatan yang begitu ia banggakan , dan ternyata mereka hanya memanfaatkan Meili yang mempunyai status keluarga kaya raya, dunia memang terlalu kejam untuk mencari orang yang benar benar tulus , termasuk dalam persahabatan.
" Tapi dai tidak mengetahui status keluarga kita kak "
" Mungkin kau yang tidak tahu Meili , siapa yang tidak mengetahui keluarga Remkez di kota ini " bantah Daniel yang kemudian beranjak dari duduknya menuju dapur .
" Tapi sungguh kak , dia tidak mengetahui apapun tentang keluarga kita , bahkan dia tidak menyukai pertemanan dengan sosial yang tinggi "
" Pertemanan dia sangat tulus kak " lanjutnya.
" Jangan terlalu polos Meili , belajarlah dari pengalamanmu , aku hanya tidak ingin kau kembali kecewa" ujar Daniel
" Itu hanya masalalu di Jerman kak , mungkin di New York masih menyimpan orang orang yang mempunyai hati yang tulus "
" Terserah , yang terpenting aku sudah memperingatkanmu " ucap Daniel serius.
" Iya kakak " sahut Meili dengan menyengirkan deretan gigi putihnya.
" dan kau tahu kak , kenapa alasanku menyukainya lagi ? , itu karena dia berasal dari negara yang sama dengan mami "
" indonesia " perjelas Daniel memastikan dan langsung menatap dengan serius,
" yup " Meili menganggukkan kepalanya.
" ah aku jadi kembali merindukannya " gumam Daniel pelan dan tersenyum saat menginggat Indonesia , atau lebih tepatnya pada satu gadis yang sekarang berada di Indonesia.
" Aku sudah tidak sabar untuk menjemput Elin di bandara nanti " ujar Meili dan itu terdengar dari pendengaran Daniel.
" kamu mengatakan apa Meili " tanya Daniel dengan raut wajah yang sedikit terkejut.
" Apa ? " tanya Meili bingung.
" Ulang perkataanmu "
" yang mana ? , tentang menjemput Elin , atau apa ? tanya Meili semakin bingung , dan Daniel semakin membesarkan kedua matanya saat Meili mengulang kata " Elin " ,
" Apa itu temanmu yang berasal dari Indonesia ? " tanya Daniel memastikan dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
" iya , ada apa ? "
" Sungguh , Meili " tanyanyal yang semakin tak percaya.
" Ada apa denganmu Daniel ?
iya dia Elin sahabat yang baru saja aku ceritakan padamu tadi , dan kalau tidak salah nama lengkapnya MERLINDA , iya Merlinda "
dug " jantung Daniel semakin berpacu lebih cepat saat Meili memperjelas nama itu.
" Hey , ada apa ? , Kenapa kau begitu penasaran dengan sahabatku ? " tanya Meili yang semakin kebingungan melihat wajah terdiam Daniel.
" ceh , kalau benar itu dia , aku harap ini bukan permainan takdir " ucap Daniel tersenyum sambil memegang dadanya karena jantung yang semakin berdetak tak karuan , dan ia sudah tidak peduli dengan Meili yang menatap bingung kearahnya..
__ADS_1
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚