Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Permainan Takdir


__ADS_3

" Duduklah , dan lakukan apapun sesukamu " ucap Daniel yang kemudian beranjak dari duduknya.


" Kakak mau kemana ? " tanya Meili panik.


" Mandi , apa kau mau ikut?  " sahut Daniel tertawa seraya berjalan menuju kamar tidurnya , dan meninggalkan Meili yang sedang menatap kesal kearahnya.


" Astaga , kenapa pikiranku begitu kacau " ujar Daniel yang tertawa karena dirinya sendiri , untuk pertama kalinya otaknya tidak bekerja dengan benar dan untuk pertama kalianya juga , pikiran tentang semua perkerjaannya terganti dengan bayangan satu perempuan yang terus berputar di otak seorang Daniel Remkez , dia pernah jatuh cinta saat bersama Hannah , namun tidak pernah seperti ini , hanya dengan megucapkan namanya saja , jantung Daniel langsung bedebar dengan garis senyum yang langsung merekah dari bibir merahnya.


" Aku tidak bisa terus begini , sepertinya aku harus mandi , supaya otakku bisa kembali bekerja dengan baik " gumam Daniel sambil membuka kancing kemejanya , dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk merendam kepalanya di dalam bathup , mungkin dengan begitu pikiran tentang Elin akan sedikit berkurang.


****


Drrrttt drrttt "


Dengan mata yang masih terpejam Elin mengambil handphonenya yang terus berdering di atas nakas , " siapa yang mengganggu tidurku " kesal Elin dengan suara yang serak ,


" ya , hallo " jawab Elin tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya sepagi ini.


" Elin " teriak seorang perempuan di seberang telepon , Elin membuka matanya dan segera melihat layar handphone untuk memastikan siapa yang sebenarnya menelepon.


" Meili " balas teriak Elin setelah melihat nama kontak penelepon dan segera ia duduk di pinggir tempat tidurnya.


" Kapan kau pulang Nona ? , aku sudah merindukanmu " ucap Meili.


" Sungguh ? " tanya Elin tertawa.


" Jangan meragukan aku Elin, cepatlah kembali , aku tidak suka berada di kampus tanpa kamu , semuanya membosankan , harusnya aku ikut saja bersamamu ke Indonesia " gerutu Meili di balik telepon'.


" Hari ini aku pulang Meili , apa kau menginginkan sesuatu ?"


" benarkah ? " teriak Meili bahagia.


" Aku hanya ingin kau sampai di New York dengan selamat , jam berapa kau akan tiba di sini  ? "


" Mungkin aku akan tiba disana siang hari Meili "


" Oke , aku akan menjemputnya "


" Terimakasih , tapi aku bisa sendiri, aku tidak ingin terlalu banyak merepotkanmu"


" Tidak ada kata merepotkan dalam persahabatan Elin , jadi jangan membantah lagi , aku akan menjemputmu nanti "


" Baiklah , Terimakasih Meili , sampai bertemu di New York "


" Iya , nyamanlah dalam perjalannanmu , dan sampai bertemu disini " ucap Meili sebelum ia mengakhiri sambungan telepon mereka.


" Meili tunggu " teriak Elin.


" ya lin"


" Apa kau sungguh tidak ingin sesuatu ? " tanya Elin memastikan.


" Jika tidak merepotkan , bisakah kau membawakan aku makanan Indonesia , kadang aku sering merindukan makanan penuh rempah rempahan itu "

__ADS_1


" Tidak ada kata merepotkan dalam persahabatan Meili " balas Elin tertawa.


" Jangan mengcopy paste kata kataku Elin " ujar Meili yang ikut tertawa.


" Baiklah akan aku tutup teleponnya dan sampai bertemu disini Elin , bye "


" Bye , Meili " pamit Elin , setelah menutup teleponnya bersama Meili,segera ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar menuju lantai satu rumahnya.


~


" Bu , ibu " teriak Elin dari lantai dua dan berlari menuju teras belakang rumahnya , tempat dimana kedua orang tuanya menikmati waktu pagi.


" Bu " panggil Elin lagi.


" Iya ibu di sini , ada apa ? " tanya Mala , yang beranjak dari duduknya saat mendengar Elin memanggilnya .


" Bu , apa ibu sibuk hari ini ? " tanya Elin.


" Apa yang kamu inginkan nak ? " tanya balik Mala , yang langsung mengerti dengan perkataan Elin, putrinya itu memang selalu sungkan untuk mengatakan keinginannya.


" emm.. Elin mau membawa masakan ibu nanti " jelas Elin yang merasa tidak enak karena harus merepotkan ibunya , Mala tersenyum melihat tingkah Elin " tidak perlu kau minta pun , ibu sudah menyiapkannya "


" Benarkah ? , Terimakasih bu " kata Elin yang kegirangan dan langsung mencium pipi Mala.


" Astaga anak gadis ini " teriak Mala karena Elin menciumnya tanpa mencuci muka terlebih dahulu , " kenapa anakmu begitu jorok ayah " lanjut Mala tertawa pada Bimo


" Ibu akan merindukan bau ilerku nanti " kata Elin tertawa setelah selesai mencium gemas kedua pipi Mala.


" Cepat cuci wajahmu dan segera sarapan , ibu sudah menyiapkan roti coklat kesukaanmu "


" ya sudah , jangan kembali , ayah dan ibu memang tidak pernah memaksamu untuk bersekolah di New York , ayah lebih suka kamu di sini , bersama kita " timpal Bimo sambil meminum kopi.


Elin menarik nafas pelan , dan kemudian duduk di kursi samping Bimo " ayah memang tidak pernah memaksa Elin , tapi Elin juga harus tahu diri , setidaknya Elin sudah berusaha untuk menjadi anak yang berguna untuk ayah dan ibu nanti, semua demi ayah dan ibu kok , Elin juga harus bisa berdiri karena usaha Elin sendiri yah " kata Elin sambil memegang lembut tangan Bimo , dan hatinya sedikit terenyuh saat menyadari bawah ayahnya kini semakin menua , bahkan wajah yang dulu terlihat begitu tegas sudah hampir tertutup dengan garis wajah yang mulai berkerut.


" Sudah cepat mandi , dan segera sarapan " ucap Mala memegang pundak Elin,


Elin mengangguk dan tersenyum pada ibunya , perasaan berat untuk kembali ke New York semakin bertambah setelah menyadari bahwa ia akan kembali meninggalkan kedua manusia yang begitu berharga di hidupnya ini.


****


" Siapa yang meneleponmu ? " tanya Daniel yang berjalan mendekat pada Meili dengan pakain santai , dan langsung duduk di samping Meili


Sahabatku" sahut Meili yang masih serius menatap layar handphonenya


Daniel berdesis " Sejak kapan kau mempunyai sahabat dan siapa yang ingin berteman dengan manusia aneh seperti mu " ujar Daniel tertawa.


" Ada , buktinya sekarang aku punya sahabat "


" Ntah mengapa aku begitu menyukainya dari saat pertama kami bertemu , dan kau tahu aku manusia yang jarang menyukai orang lain dalam satu kali pertemuan , tapi dengan dia berbeda kak , dan aku langsung mengajaknya berteman " jelas Meili pada Daniel.


" Mungkin karena dia sama aneh sepertimu " ujar Daniel kembali tertawa.


" Aku yakin kau juga pasti menyukainya nanti , dia bebeda dari teman temanku , ah aku benci mengingat mereka "

__ADS_1


" Dulu kau juga membanggakan mereka seperti dia sekarang , dan akhirnya mereka menyakitimu , sudahlah Meili belajarlah dari pengalamanmu , orang seperti kita sangat susah mencari teman yang benar benar teman sesungguhnya "


Meili menarik nafas , perkataan Daniel memang ada benarnya , dulu dia pernah sangat kecewa karena persahabatan yang begitu ia banggakan , dan ternyata mereka hanya memanfaatkan Meili yang mempunyai status keluarga kaya raya, dunia memang terlalu kejam untuk mencari orang yang benar benar tulus , termasuk dalam persahabatan.


" Tapi dai tidak mengetahui status keluarga kita kak "


" Mungkin kau yang tidak tahu Meili , siapa yang tidak mengetahui keluarga Remkez di kota ini " bantah Daniel yang kemudian beranjak dari duduknya menuju dapur .


" Tapi sungguh kak , dia tidak mengetahui apapun tentang keluarga kita , bahkan dia tidak menyukai pertemanan dengan sosial yang tinggi "


" Pertemanan dia sangat tulus kak " lanjutnya.


" Jangan terlalu polos Meili , belajarlah dari pengalamanmu , aku hanya tidak ingin kau kembali kecewa" ujar Daniel


" Itu hanya masalalu di Jerman kak , mungkin di New York masih menyimpan orang orang yang mempunyai hati yang tulus "


" Terserah , yang terpenting aku sudah memperingatkanmu " ucap Daniel serius.


" Iya kakak " sahut Meili dengan menyengirkan deretan gigi putihnya.


" dan kau tahu kak , kenapa alasanku menyukainya lagi ?  , itu karena dia berasal dari negara yang sama dengan mami "


" indonesia " perjelas Daniel memastikan dan langsung menatap dengan serius,


" yup " Meili menganggukkan kepalanya.


" ah aku jadi kembali merindukannya " gumam Daniel pelan dan tersenyum saat menginggat Indonesia , atau lebih tepatnya pada satu gadis yang sekarang berada di Indonesia.


" Aku sudah tidak sabar untuk menjemput Elin di bandara nanti " ujar Meili dan itu terdengar dari pendengaran Daniel.


" kamu mengatakan apa Meili " tanya Daniel dengan raut wajah yang sedikit terkejut.


" Apa ? " tanya Meili bingung.


" Ulang perkataanmu "


" yang mana ? , tentang menjemput Elin , atau apa ? tanya Meili semakin bingung , dan Daniel semakin membesarkan kedua matanya saat Meili mengulang kata " Elin " ,


" Apa itu temanmu yang berasal dari Indonesia ? " tanya Daniel memastikan dengan jantung yang berdetak lebih cepat.


" iya , ada apa ? "


" Sungguh , Meili " tanyanyal yang semakin tak percaya.


" Ada apa denganmu Daniel ?


iya dia Elin sahabat yang baru saja aku ceritakan padamu tadi , dan kalau tidak salah nama lengkapnya MERLINDA , iya Merlinda "


dug " jantung Daniel semakin berpacu lebih cepat saat Meili memperjelas nama itu.


" Hey , ada apa ? , Kenapa kau begitu penasaran dengan sahabatku ? " tanya Meili yang semakin kebingungan melihat wajah terdiam Daniel.


" ceh , kalau benar itu dia , aku harap ini bukan permainan takdir " ucap Daniel tersenyum sambil memegang dadanya karena jantung yang semakin berdetak tak karuan , dan ia sudah tidak peduli dengan Meili yang menatap bingung kearahnya..

__ADS_1


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚


__ADS_2