
Mata Elin mengercap saat cahaya matahari mulai mengganggu tidurnya ,
" Morning " ucap suara berat yang membuat matanya terbuka dengan sempurna.
" Daniel " ucapnya dengan terkejut , dan melihat ke segala sudut ruangan yang nampak aneh dari pandangan matanya , " aku dimana ? "
" Dirumahku " sahut laki-laki itu dengan begitu enteng , sambil berjalan kearah tempat tidur disisi Elin dan membaringkan tubuhnya disana , " apa semalam aku tidur disini ? " tanya Elin dan Daniel menganggukkan pelan kepalanya dengan wajah yang masih mengantuk , " tidur denganmu ? " tanyanya lagi dengan sedikit berteriak.
" Daniel , apa kita tidur berdua ? " tambahnya karena laki-laki itu tidak menghiraukan kepanikkannya , " itu tidak mungkin sayang , mami akan membunuhku " sahutnya.
" Syukurlah " ucap legah Elin sambil menghela nafasnya.
" Lalu kenapa aku tidur disini ? "
" Sayang bisa kau bertanya lagi nanti , aku sungguh masih mengantuk " ucap Daniel dengan mata yang sulit untuk kembali di buka ,
Elin segera melihat kearah jam yang berada di atas nakas , " sudah jam enam pagi Daniel , jangan tidur lagi , kau harus mengantar aku pulang "
" Kenapa pulang ? "
" Kau bertanya kenapa pulang ? , apa kau ingin aku berangkat ke kantor menggunakan pakaian tidur ini huh ? "
" Sayang kenapa kau begitu cemas , semua pakaian kerjamu sudah aku siapkan " sahut laki-laki itu sedikit kesal , karena matanya terus tertunda untuk terpejam.
" Sudah kau siapkan ? , dimana ? "
" Apa kau sudah mau pergi bekerja ? " tanya Daniel sedikit panik , karena kenyataannya pakaian kerja itu masih belum sampai dirumahnya , " aku bukan satpam kantor yang datang sepagi ini " sahutnya kesal.
" Baguslah " jawab Daniel legah lalu kembali memejamkan matanya.
" Dimana pakaiannya Daniel ? "
" Pakaiannya belum di antar sayang dan ini masih sangat pagi , belum ada ada tokoh yang buka sepagi ini " jelas laki-laki itu dan Elin terlihat sudah tenang dengan tidak lagi kembali bertanya , " ayo tidur lagi " ajak Daniel , membuat perempuan itu dengan cepat melihat kearahnya , " sepertinya kau benar-benar ingin segera menikahiku " ujarnya kesal dan laki-laki itu hanya tersenyum setelah puas menggoda kekasihnya.
" Tidurlah ini masih sangat pagi , dan aku sungguh masih sabar untuk menunggu empat bulan lagi " tambahnya , sambil menepuk bantal yang tadi Elin tiduri , " ceh " desis Elin , lalu beranjak dari tempat tidur ,
" mau kemana ? " tanya Daniel cepat , sambil menarik tangan kekasihnya.
" Akan sangat tidak sopan jika perempuan terlambat bangun di rumah calon mertuanya " sahutnya sambil tersenyum geli dengan perkataannya sendiri , " kau memang calon istri idaman " puji Daniel dengan bibir yang ikut kembali tersenyum.
" Tidurlah " ucapnya lagi sambil kembali ingin beranjak.
" Mau kemana ? "
" Turun sayang , aku harus melihat apa yang sudah di lakukan calon mertuaku sepagi ini "
" emmm.. cium " ucap Daniel tiba-tiba sambil menunjuk kearah bibirnya.
" Jangan gila Daniel , bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang masuk , " itu tidak mungkin , semua orang pasti akan mengetuk pintu terlebih dahulu "
" Nanti saja "
" Tidak , aku mau sekarang " paksa Daniel yang tak ubah seperti tingkah anak kecil , Elin menghela nafasnya , lalu mencondongkan tubuhnya ke hadapan laki-laki.
Cup " ciuman singkat Elin mendarat di bibir Daniel , namun ia saat ingin melepas ciuman itu kepalanya sudah di tahan oleh Daniel dan laki-laki itu kembali ******* bibirnya dengan panas , " terimakasih sayang " ucap Daniel tanpa rasa bersalah setelah puas mengecup bibir seksi milik kekasihnya , " kau benar-benar gila Daniel , ini memalukan " ucapnya begitu kesal sambil memukul tubuh kekasihnya.
__ADS_1
" Apa yang memalukan ? , kita hanya berciuman sayang "
" Tapi aku belum menggosok gigi " sahutnya pelan dengan wajah yang sudah memerah karena begitu malu , Daniel melipat sempurna bibirnya menahan untuk tidak tertawa karena tingkah lucu kekasihnya , " kau benar-benar menggemaskan " ucapnya sambil menangkup gemas pipi Elin.
Cup " Daniel kembali mendaratkan ciuman singkat di bibir merah itu.
" Daniel jorok " teriak Elin.
" Aku tidak peduli " sahutnya.
Cup
Cup
Cup
Cup " Daniel terus mencium singkat bibi kekasihnya , tak peduli perempuan itu terus memberontak .
" Morning " ucap tiba-tiba dari balik pintu dan reflek Elin langsung mendorong tubuh Daniel yang masih menghadap begitu dekat dengan wajahnya , " pejamkan matamu " perintahnya dan laki-laki itu langsung menurutinya dengan bibir yang menahan untuk tersenyum.
" Ada apa Meili ? " tanya Elin dengan pipi meronanya.
" Aku hanya ingin memastikan , apa kau sudah bangun " sahut perempuan itu , " boleh aku masuk ? "
" Tentu , masuklah " sahut Elin.
Mata Meili sedikit tertegun di sertai bibir yang melengkung setelah melihat tubuh kakaknya yang sedang berbaring di sebelah Elin.
" Meili ini tidak seperti yang pikirkan " ucap perempuan itu , yang langsung mengerti maksud dari senyum nakal calon adik iparnya , " aku tidak memikirkan apapun " sahut Meili.
" Hentikan Meili , sungguh tidak terjadi apapun antara aku dan kakakmu "
" Kalau pun terjadi juga tidak apa-apa " sahutnya dengan begitu enteng dan Elin kembali menghela nafas untuk menepis rasa kesalnya pada Meili , " kau terlihat sangat tidak sabar ingin mempunyai ponakan Meili ? "
" Tentu , rumah besar ini sudah sangat membosankan untukku dan aku yakin dengan ada anak kecil rumah ini pasti akan terasa ramai " jelasnya dengan bibir tersenyum sambil membayangkan bahagianya jika yang dia sedang bicarakan terjadi , " kau sama gilanya dengan kakakmu " ucap Elin kesal dan Meili semakin tertawa mendengar gerutu perempuan itu.
" Apa Daniel masih tidur ? "
" Sepertinya " sahut Elin , saat mendengar suara dengkuran halus dari nafas laki-laki itu , " biarkan dia tidur , ini memang masih terlalu pagi " ujar Meili sambil berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan itu , " apa kau tahu kenapa aku bisa tidur disini ? " tanya Elin yang masih penasaran kenapa dia tidak pulang tadi malam , " apa kau lupa setelah makan malam , kau tertidur di soffa "
" Benarkah ? " tanyanya terkejut.
" Ya kau terlihat begitu kelelahan dan mami meminta Daniel untuk tidak membangunkanmu " jelas Meili.
" Apa kau ingin lari pagi ? " tanya Meili tiba-tiba , " apa waktunya masih cukup ? "
" Tentu , kita hanya berkeliling di sekitar rumah ini saja "
" Tapi kau tidak membawa pakaian olahraga "
" Kau selalu seperti itu " ucap Meili sambil berjalan kearah Elin , " aku punya banyak pakaian olahraga " ucapnya sambil terus berjalan dengan menarik tangan perempuan itu untuk ikut kekamarnya.
~
" Morning mam " ucap Meili sambil menuruni anak tangga rumahnya.
__ADS_1
" Hai , mau kemana ? " tanya Viona yang bingung saat melihat pakaian anak dan calon menantunya.
" Kami ingin berlari-lari kecil di taman " jelas Meili yang lebih dulu mendekat kearah Viona , " pagi mam " ucap Elin menyusul.
" Pagi nak " balasnya tersenyum.
" Calon menantuku begitu cantik " tambahnya pada Elin.
" Tentu , mana mungkin putramu menyukai wanita sembarangan " sambung seseorang.
" Ceh menggelikan " ucap Meili.
" Kau sudah bangun ? " tanya Elin saat melihat Daniel sudah berada di belakangnya , " emm.. karena kamu pergi aku tidak lagi bisa tidur " sahutnya.
" Daniel itu sungguh menggelikan " teriak Meili dan Elin mendelikan matanya kearah laki-laki itu.
" Morning mam "
" Morning nak ? "
" Apa tidurmu nyenyak ? " tambah Viona dan laki-laki mengangguk , " tentu bahkan sangat nyenyak " sahutnya dengan senyum menggoda ke arah Elin.
" Mam , aku sungguh tidak ingat apa-apa tadi malam " jelas Elin secara spontan pada Viona , membuat wanita paruh baya itu langsung tersenyum , " mami tahu nak , justru kau tidur bersama mami tadi malam "
" Benarkah ? " tanya Elin terkejut.
" Tentu , mami tidak mungkin membiarkan kau tidur sendiri " jawab Viona sambil menatap tajam ke arah putranya.
" Mami memang payah " ucap Daniel sambil melanjutkan langkah kakinya , " kau " teriak kesal Viona sambil memukul lengan anaknya , " mam sakit "
" itu hukuman untuk anak nakal sepertimu "
" Sayang bantuin " pinta Daniel pada Elin , namun perempuan itu tidak menghiraukannya , " pukul lagi mam , buat dia jera karena selalu berpikir mesum " kata Elin memberi dukungan pada Viona , sambil memeletkan lidahnya pada Daniel.
" Rasain wweeekkk " tambahnya menantang , sambil berlalu meninggalkan Daniel yang masih meringis karena pukulan Viona.
" Kau tunggu pembalasanku sayang " teriak Daniel.
" Aku tidak takut " sahut Elin tertawa.
" Apa yang ingin kau lakukan pada menantu mami huh ? " ucap Viona sambil kembali memukul lengan anaknya.
" Mam aku hanya bercanda "
" Awas saja kau menyakiti menantuku " ancam Viona begitu serius dan Daniel hanya mengangguk sambil terus meringis kesakitan , " begitu mudahnya tempatku di gantikan " gumamnya pelan.
Hai salam hangat dari saya untuk kalian semua💚🤗 dan terimakasih atas semua dukungannya selama ini🙏
dan disini saya juga ingin memperkenalkan karya terbaru saya yang berjudul " KITA Hanya MENIKAH "
semoga kalian menyukai dan mohon dukungannya🙏
Sekali lagi terimakasih dan semoga kalian semua selalu di berikan kesehatan😇
💚Salam hangat : author🤗
__ADS_1