
Mata Elin terus berkaca-kaca sampai akhir kedua sahabatnya menghilang dari pandangannya , ntah mengapa suasana hatinya terasa begitu sunyi saat menyadari dia akan kembali jauh dari ke dua sahabatnya walau sebenarnya mungkin sebentar lagi mereka akan kembali bertemu , namun perpisahan tetaplah perpisahan tidak ada yang benar-benar baik-baik saja ketika itu terjadi , meski rencananya akan segera kembali bertemu , namun kembali lagi itu hanya sebuah rencana dan tidak ada yang tahu bagaimana hari esok.
Kini ia sudah di dalam perjalanan pulang , namun suasana hatinya masih saja belum membaik hingga suasana di dalam mobil terus menghening.
Ia terus melihat ke arah luar jendela dengan sesekali menepis air mata yang masih mengalir di pipinya tiap kali perasaan sedih karena kepulangan dua sahabatnya itu kembali muncul , " sayang " panggil Daniel pelan , dan ia menyadari kesedihan yang sedang di rasakan oleh calon istrinya itu.
" Secepatnya kita akan pulang ke Indonesia " ucapnya , Elin menoleh kearahnya dengan tersenyum , " ya " jawabnya singkat dan memaksakan bibirnya untuk tetap melengkung meski itu terlihat begitu hambar.
" Jangan lagi sedih ,jika kau seperti ini aku merasa seperti tidak berguna dan tidak lebih berharga dari ke dua sahabatmu " ujar Daniel pelan , namun itu terdengar penuh dengan kejujuran dari dalam hatinya meski ia mengatakan itu dengan tersenyum ,
Elin terdiam sejenak dengan menatap pada wajah kekasihnya , " maaf bukan begitu Daniel , ini memang selalu terjadi setiap kali aku berpisah dengan mereka , perasaanku selalu kacau saat menyadari aku akan kembali menjalani hari tanpa mereka , mereka sudah seperti bagian dari hidupku dan mungkin selamanya akan tetap seperti itu "
" Aku harap kau bisa mengerti " tambahnya dengan menatap dalam pada wajah calon suaminya.
" Ya sayang aku mengerti tapi coba tersenyumlah karena disini ada aku yang membutuhkan itu " kata Daniel mencoba merayu dan itu berhasil membuat garis senyum di bibir Elin melengkung dengan begitu manis , " jangan lupa kalau disini juga ada seseorang yang akan jadi bagian dari hidupmu " tambahnya lagi.
" Aku mencintaimu " ucap Elin sembari menggenggam lembut tangan Daniel membuat laki-laki itu tersenyum begitu manis.
~
Pagi ini Elin sudah rapi menatap cermin , dress berwarna kuning tua menjadi pilihan hari ini yang ia gunakan untuk memulai kembali sebagai karyawan magang di perusahaan calon suaminya.
Ada kecemasan disana , dimana hari ini seisi perusahaan itu pasti tidak akan lagi memandangnya sebagai seorang karyawan magang melainkan sebagai kekasih dari pemilik perusahaan dan ia bingung dari mana akan memulai menjelaskan kepada teman-teman kantornya tentang status yang telah di sembunyikan itu , " ini benar-benar mendebarkan " gumamnya gugup seraya menarik dan kemudian menghela kembali nafasnya.
" Sayang " panggil seseorang dari luar pintu kamarnya.
" Ya Daniel tunggu sebentar " sahutnya beranjak dari hadapan cermin lalu mengambil tas kerjanya sebelum menjumpai calon suaminya yang sudah menunggu di depan pintu ,
Pagi ini Elin masih berada di rumah mewah keluarga Remkes , keinginannya untuk pulang ke apartemennya tadi malam tidak di ijinkan oleh Nyonya besar rumah itu dan mendapat dukungan sepenuhnya oleh Tuan muda dan nona muda yang tidak lain adalah Daniel dan Meili , dan ia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal disana.
Tok tok tok
" Iya sayang " balas Elin pada ketukan pintu yang menjelaskan ketidak sabaran orang yang berada di baliknya.
" Ayo " ajaknya setelah pintu kamarnya ia buka.
Bibir Daniel spontan saja melengkung dengan sempurna saat melihat bidadari hatinya kini telah berada di hadapannya sepagi ini dan begitu menyenangkan untuk memulai kesibukan hari ini bersamanya , " ada apa? " tanya Elin dengan dahi yang sedikit berkerut saat menemukan Daniel terus tersenyum padanya.
Daniel menggelengkan kepala , " tidak , hanya saja kau begitu cantik pagi ini " balasnya memuji membuat pipi Elin merona seketika , " siapa yang mengajari kau merayu Daniel " ujarnya dengan tersipu.
" Aku tidak sedang merayu sayang " bantah Daniel begitu serius.
" Ya ya baiklah " balas Elin tidak percaya lalu berjalan mendahului lelaki itu.
" Morning mam " sapanya sambil berjalan ke arah Viona lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu sebelum ikut duduk di antara kursi meja makan ,
bibir Viona melengkung dengan sempurna setelah mendapat perlakuan begitu sopan dari calon menantunya itu , belum sempat ia memuji tiba-tiba saja ia di kejutkan oleh Daniel yang tiba-tiba ikut mencium punggung tangannya lalu mencium singkat dahinya , " morning mam " ucap laki-laki itu.
__ADS_1
" Kau sangat manis pagi ini nak " puji Viona pada putranya , membuat Elin ikut tersenyum senang melihat sikap manis Daniel pagi ini.
" dan juga tampan " tambah Daniel begitu percaya diri.
" Makanlah , Mami sudah menyiapkan ini untuk kalian " tunjuknya pada beberapa sandwich yang terhidang di atas meja serta roti coklat yang tinggal tersisa beberapa potong , " kau membuat pagiku benar-benar sempurna mam " ucap Daniel yang tersenyum begitu senang saat siap melahap makanan favoritnya , " apa aku boleh memintanya ? " tanya Elin dan laki-laki itu mengangguk.
" Ceh " decih Viona tertawa , " jika kau bukan calon istrinya , mami yakin dia tidak akan mungkin membagi sandwich itu padamu " ujarnya terus tertawa di sertai gelengan kepala karena tingkah lucu dari putranya " ya aku juga yakin mam" tambah Elin membenarkan membuat Daniel ikut tertawa.
" Apa kau mau belajar membuat sandwich ini ? " tanya Viona pada Elin , semula perempuan itu terdiam lalu melihat kearah daniel sejenak sebelum akhirnya ia menganggukan kepalanya , " jika mami tidak keberatan untuk membagi rahasianya " balasnya tertawa.
" Tentu tidak , kau harus belajar karena ini adalah makanan kesukaan calon suamimu, jadi jika suatu hari nanti kalian berada jauh dari mami dan Daniel merindukan sandwich ini kau bisa langsung membuatnya "
" Emmm.. tapi aku rasa tidak perlu mam " sambung Daniel memotong membuat dua wanita di hadapannya langsung melihat kearahnya dengan dahi yang sedikit berkerut , " biarkan Sandwich ini menjadi makanan favoritku dari buatan mami ".
" Apa kau tidak yakin padaku Daniel ? " potong Elin cepat dan sedikit rasa tersinggung dari penolakan kekasihnya , " bukan begitu sayang , dengarkan aku dulu "
" Aku hanya ingin memiliki sesuatu hal yang berbeda dari dua wanita yang paling aku cintai di dunia ini , emmm..tiga termasuk Meili "
" Ya maksudku biarkan sandwich ini menjadi makanan favoritku dari tangan mami , aku ingin yang berbeda lagi darimu jadi ketika aku mencoba sandwich di tempat lain aku tidak harus memilih buatan siapa yang harus aku rindukan " kata Daniel mencoba memberi pemahaman.
Viona mengangguk mengerti dan membenarkan perkataan yang sebenarnya tidak logis dari putranya itu , begitu pun Elin namun yang berbeda dari perempuan itu bibirnya terlipat menahan senyuman.
" Baiklah katakan padaku makanan apalagi yang kamu suka ? "
" Kau terlihat begitu bersemangat sayang " kata Daniel menggodanya membuat pipi chubby itu sedikit bersemu merah , " emmm.. baiklah jangan katakan "
" Ceh " desis Elin yang tidak bisa lagi berkata apapun setelah mendengar kata manis Daniel untuknya.
" Emmm.. Elin " panggil Viona di sela menikmati hidangan sarapan mereka.
" Ya mam " sahut Elin yang langsung menatap ke arah lawan bicaranya , " mami rasa sebaiknya kamu tidak lagi tinggal sendiri "
" Maksud Mami ? " tanya Elin yang memang belum mengerti maksud dari perkataan calon mertuanya , begitu pun Daniel yang lansung menjeda aktivitas makannya demi ingin tahu apa yang sedang ingin di utarakan oleh Ibunya , " ya maksud Mami tinggallah disini " sambung Viona membuat mata Elin membulat sempurna lalu melihat ke arah Daniel.
" Tapi kita belum menikah mam ? "
" Ya , mami tidak memang menyuruh kalian tidur di kamar yang sama , Mami hanya meminta kamu tinggal disini "
" Lagi pula pernikahan kalian tinggal sebentar lagi " lanjutnya begitu egois untuk menerima penolakan dari calon menantunya , " boleh aku pikirkan dulu mam ?"
" Silahkan nak , hanya saja Mami ingin kamu tahu satu hal dan ini bukan untuk menakut-nakutimu tapi kamu pasti paham , menjadi kekasih seorang Miliader tidaklah mudah dan sekarang seluruh negara ini sudah mengetahui tentangmu.. " katanya menjedah dengan Elin yang benar-benar menyimak.
" Mami hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu , kita tidak tahu kapan ancaman dari luar akan datang dan kau tidak selalu bersama dengan Daniel , jadi maksud Mami lebih aman jika kau tinggal di sini "
" Aku setuju apa kata Mami " sambung Daniel begitu bersemangat membuat Viona sedikit tersenyum geli.
" emmm , ijinkan aku memikirkannya Mam ! " ucap Elin.
__ADS_1
" Tentu " balas Viona.
" Tapi mami benar sayang , memang sebaiknya kau tinggal disini dan itu akan membuat aku jauh lebih legah saat harus berada jauh darimu "
" Hentikan Daniel , kenapa kau menjadi begitu mengelikan "
" Aku serius "
" Ya ya , akan aku coba pikirkan "
" Tidak , aku tidak memberi kesempatan untuk berpikir , nanti aku akan mengirim beberapa pelayan untuk membereskan semu barang-barangmu di apartemen "
" No Daniel , kau tidak bisa seenaknya mengambil keputusan di atasku "
" Tidak sayang aku memang mempunyai hak atas itu dan jangan lupa disini kau adalah tanggung jawabku dan aku calon suamimu " balas Daniel tegas tanpa ingin ada bantahan.
Mendengar itu Elin hanya bisa menghela nafas , kata Calon Suami benar-benar berhasil membuatnya tidak bekutik untuk egois , " ya ya baiklah calon Suamiku " sahutnya dengan begitu menekankan kata Suami.
" Bagus , sekarang sudah waktunya kita berangkat ke kantor " kata Daniel yang langsung beranjak dari tempat duduknya , " pergilah lebih dulu " kata Elin yang masih ingin sedikit bersantai.
" Sayang aku ada meeting pagi ini "
" Lalu? "
" Lalu kita harus berangkat sekarang atau aku akan terlambat "
" Kau berangkat dengan mobilmu dan aku berangkat dengan mobilku , jadi apa yang membuat aku harus ikut buru-buru "
" Masalahnya mulai hari ini kita akan berangkat kerja bersama "
" Oh itu tidak mungkin Daniel "
" Apa yang tidak mungkin , apalagi yang kau khawatirkan ? "
" Semua karyawan akan curi... "
" Satu negara ini saja sudah tahu kalau kau dan aku adalah sepasang kekasih jadi apalagi semua karyawanku , apa kau lupa hemm... ? "
" Atau kau memang tidak ingin mengakuiku sebagai kekasihmu "
" Ayo kita berangkat sebelum kau mulai gila " ujar Elin yang langsung beranjak dari tempat duduknya , berpamitan pada Viona lalu berjalan mendahului Daniel.
" Ayo berangkat Daniel, atau kau akan benar-benar terlambat nanti " teriaknya di sela langkah menuju pintu utama.
Melihat itu bibir Daniel melengkung begitu pun Viona yang tertawa kecil melihat tingkah putra dan calon menantunya , " jaga wanitamu , mami benar-benar menyukainya " ucap Viona saat Daniel ingin berpamitan , " pasti mam , kami pergi dulu " sahut Daniel tersenyum lalu beranjak menyusul Elin yang telah berjalan lebih dulu.
" Hati-hati " teriak Viona.
__ADS_1
" Yes mam "