Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Maaf Papi Terlambat


__ADS_3

• Di New York


Seorang wanita kini tengah menangis di atas tempat tidurnya , " tolong jangan lakukan ini Reymond , tidak apa kau tidak sering kemari tapi aku mohon jangan tinggalkan aku ".


" Cukup Charlote " teriak tertahan dari laki-laki paruh baya yang kini tengah berdiri di ujung ruangan , " aku tidak ingin lagi menyakiti hati istriku " tambahnya.


" Istri ? , beraninya kau mengatakan kalimat itu di hadapanku " pungkas Charlote menjadi emosi.


" Kau lupa dia memang istriku "


" Lalu apa aku ini Reymond , aku lebih dulu memilikimu dari pada dia "


" Berhenti menjadi seperti ini , kesalahan ini sudah terjadi sangat lama dan aku tidak mungkin menyakiti dia lagi "


" Kau tega Reymond padahal selama ini aku bertahan karena aku yakin kau lebih mencintaiku " ucap Charlote lemah , " semua sudah berakhir kita sudah salah dari sejak awal Charlote , dia wanita yang tidak bersalah dan aku telah menyakitinya begitu lama ".


" Seandai saja aku tidak bertemu lagi denganmu waktu itu, semua tidak akan seperti ini " tambah Reymond seraya menghela nafas dengan begitu dalam.


" Apa kini kau menyesalinya huh ? "


" Ya bahkan sangat menyesalinya Charlote , aku begitu mudah terlena hanya oleh cinta masa muda yang belum berakhir " balasnya dengan penuh penyesalan , " aku mohon akhiri ini dan jangan kembali mencoba mengancam apapun hanya untuk aku datang kemari "


" Kau begitu naif Reymond , setelah semua terjadi dan sekarang justru kau ingin terlihat melimpahkan semua kesalahan ini padaku... "


" Memang seperti itu , memang seperti itu yang terjadi " potong Reymond dengan emosi yang masih di tahan untuk meluap , " jika kau tidak terus mengancamku dengan dengan ingin mengakhiri hidupmu , mungkin sudah sejak lama aku tidak akan lagi datang kemari "


" Kau , kau memang bajingan Reymond "


" Terserah apa katamu Charlote , aku sungguh tidak lagi peduli bahkan sekali pun saat ini kau ingin mengakhiri hidupmu aku sungguh tidak akan lagi peduli "


" Semua sudah cukup , sudah saatnya aku menebus kesalahanku pada keluargaku " ucapnya seraya bergerak dari ruang tidur yang membuat kepalanya terasa mendidih , " tidak aku tidak akan membiarkan kau pergi Reymond , kau milikku dan hanya milikku "


" Charlote ..." teriak Reymond , kali ini ia sungguh tidak bisa lagi menahan emosi dalam dirinya.


" Berhenti menjadi egois , kau harus sadar bahwa aku adalah seorang suami dari wanita lain "


" Aku tidak peduli , aku sungguh akan mengakhiri hidupku jika selangkah saja kau keluar dari rumah ini " ancam Charlote.


" Aku tidak peduli Charlote , bahkan jika itu benar terjadi kau hanya akan memperburuk dirimu sendiri di hadapan semua orang "


" Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan membela seorang wanita selingkuhan dari lelaki beristri sekali pun kau memilih mengkahiri hidupmu , jadi pikirkan baik-baik " ucap Reymond sebelum benar-benar menginggalkan ruang tidur itu , ia tidak lagi peduli pada isak tangis sebuah permohonan untuknya kini yang ada di pikirannya saat ini hanya ada keluarganya , ya keluarga yang sudah ia telantarkan dengan begitu lama.


" Kita ke bandara sekarang " perintahnya pada ajudan yang setia menunggunya di depan pintu rumah Charlote , "baik Tuan ".


" Kau harus membawa mobil lebih cepat , aku sungguh sudah tidak punya waktu lagi " pintanya dan laki-laki bertubuh besar itu mengangguk.


" Shitt , kenapa di saat seperti ini handphoneku harus mati " umpatnya dengan emosi yang tertahan , " Viona pasti sudah menungguku " gumamnya dengan sangat prustasi memikirkan istrinya yang mungkin kini sudah kecewa dengannya , tapi ia sungguh tidak punya pilihan selain mempercepat penerbangannya meski ia tahu ke datangannya tetap akan terlambat.


~


" Papi " teriak Meili girang dan ia segera berhamburan memeluk laki-laki paruh baya itu , " ternyata papi datang , tadinya aku sudah kecewa karena papi tidak kunjung datang "ucapnya begitu manja.


" Papi janji tidak akan lagi membuat kalian kecewa " ucap Reymond menatap serius pada putrinya ,


" Meili apa kau tidak akan membiarkan papimu untuk masuk " teriak Viona , lalu Meili tertawa dan menarik tubuh tegap Reymond untuk masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


" Kau pasti sudah kecewa karena papi tidak datang bukan ? " ujar Elin pada Daniel yang kini terdiam di sampingnnya , " papi tidak mungkin mengecewakan putranya " sambungnya dengan tersenyum dan itu membuat Daniel ikut tersenyum.


" Ayo " ajaknya kemudian.


" Kemana ? "


" Tentu menghampiri papi " jelas Elin , tapi sebelum mereka melangkah Reymond sudah lebih dulu datang menghampiri mereka dan tanpa pamit terlebih dahulu ia langsung memeluk tubuh putranya dengan begitu erat , " Maaf papi terlambat " ucapnya begitu dalam.


Daniel yang semula terdiam kini mulai bergerak membalas rengkuhan ayahnya , " itu jauh lebih baik dari kau tidak datang pap " balasnya tersenyum , " semua sudah berakhir nak , aku sudah benar-benar kembali pada kalian "


Daniel terdiam sejenak untuk mencerna perkataan ayahnya , " sungguh ? " tanyanya tidak percaya dan Reymond mengangguk dengan pasti , " tolong jangan lagi sakiti Mami hanya itu yang aku minta dari papi " ucap Daniel ,


sementara Reymond sudah terisak di balik punggunggnya , " maafkan kesalahanku ".


" Bukan aku orang yang pantas menerima permohonan maaf papi tapi Mami "


" Ya papi tentu akan melakukan itu pada Ibumu " ucap Reymond lalu melepas pelukannya sembari menyeka sisa air mata di pipinya , " berbahagialah " ucap pada putranya sebelum pelukannya beralih pada calon menantunya.


"Papi.. " panggil Elin lemah.


" Boleh papi memelukmu ? " tanya Reymond dan Elin mengangguk dengan tersenyum.


" Maaf aku terlambat nak , semoga kau tidak kecewa pada calon mertuamu ini " katanya dengan tertawa kecil , " itu tidak mungkin pap , justru aku sangat bahagia karena papi tetap ada disini.. "


" Meski itu terlambat " potong Reymond sembari melepas pelukannya , " emmm... " balas Elin yang hanya bisa tersenyum untuk membalas ucapan calon mertuanya itu.


" Selamat datang di keluargaku nak " ucapnya begitu bahagia dan Elin kembali mengangguk , " sayangi aku seperti putrimu sendiri " ucapnya.


" Itu pasti " sahut Reymond , " sekarang dimana orang tuamu ? " tanyanya lagi dan Elin segera menyadari kondisinya saat ini.


" Ini Tuan Remkez , ayahnya Daniel " katanya memperkenalkan Reymond pada kedua orang tuanya.


" Selamat datang tuan " ucap Bimo dengan menggunakan bahasa inggris dan tanpa menjawab Reymond langsung memeluk tubuhnya , " senang bisa menjadi sebuah keluarga " ucapnya membuat pelukan itu terlihat menjadi begitu hangat.


~


Semua sesi acara lamaran sudah selesai , tinggal kehebohan dari masing-masing orang yang ingin mengabadikan moment bahagia Daniel dan Elin.


Sementara para orang tua telah sibuk mengobrol dengan Bimo dan Reymond yang terlihat saling ingin lebih mengenal di temani oleh Banyu yang ikut berada disana.


" Ibu Elin duduklah disini " pinta Viona pada Mala sambil menepuk kursi yang berada di sampingnya , " sebagai calon besan kita belum sempat berjabat tangan " ucapnya tertawa , membuat Mala yang terlihat sedikit kaku kini mulai mencair dan mengulurkan tangannya ke hadapan Viona , " selamat datang nyo.... " ucapnya terhenti oleh Viona yang tiba-tiba memeluknya.


" Sekarang kita adalah sebuah keluarga " ucap Viona begitu bahagia.


" Ya nyonya"


" Jangan memanggilku seperti itu , anda bisa menyebutku dengan Mami Daniel atau apa saja asal jangan Nyonya , itu membuat kita terasa berjarak " protes Viona.


" Ya baiklah Nyo.. emmm maksudku Mami Daniel "


" Maaf aku masih terasa begitu kaku , rasanya begitu tidak sopan memanggil anda seperti itu "


" Tidak tidak , derajat kita sama aku seorang ibu dan anda juga seorang ibu jadi tidak ada yang membedakan di antara kita " pungkas Vioan dengan senyum teduh di bibirnya , " aku sungguh bahagia saat tahu bahwa Elin berasal dari Indonesia " sambungnya tertawa.


" Ya saya juga begitu saat tahu kalau Tuan Daniel , emm maksudku calon suaminya Elin memiliki darah Indonesia "

__ADS_1


" Memang tidak ada yang bisa menebak tentang sebuah jodoh padahal kita begitu jauh " kata Viona tertawa ,


" ya anda benar "


" Ibu Elin... "


" Ya Nyonya .. emm maksudku mami Daniel ? "


" Aku ingin membuang air kecil , boleh aku tahu dimana toiletnya "


" Astaga , ayo ayo aku akan mengantar anda "


" Tidak apa-apa , tunjukan saja dimana letaknnya "


" Tidak , ayo Nyonya aku akan mengantar anda "


" Anda memanggil aku seperti itu lagi.. " protes Viona dan Mala hanya bisa menyengir , " maaf aku sungguh belum terbiasa untuk memanggil anda seperti itu " ..


" Baiklah , kalau begitu untuk hari ini masih aku maklumi " balas Viona tersenyum sambil terus berjalan menuju toilet di dalam rumah Elin.


" Itu Nyonya " tunjuk Mala pada salah satu pintu di dalam rumahnya.


" Terimakasih , anda bisa pergi lebih dulu Ibu Elin "


" Tidak aku akan menunggu disini "


" baiklah kalau anda memaksa " ujar Viona tertawa lalu segera masuk ke dalam toilet.


Viona sudah kembali dari toilet , " sudah selesai ? " tanya Mala dan wanita paruh baya itu mengangguk.


" Rumah ini sangat nyaman " puji Viona sembari mengamati ke segala penjuru yang ia lewati dan ia terlihat begitu tertarik pada sebuah dinding yang di penuhi oleh hiasan berbagai bingkai foto , " boleh aku melihatnya ? " pamitnya pada Mala dan tentu saja wanita paruh baya itu mengangguk memberi ijin.


" ini sangat menggemaskan , aku sangat suka melihat foto keluarga seperti ini " pujinya sambil terus mengamati setiap gambar di hadapannya.


" Siapa ini ? " tunjuknya pada foto masa kecil Tama.


" Itu Tama adik laki-laki Elin dan Ini Seni adik bungsunya " jelas Mala pada setiap foto yang terpanjang , " masa kecil mereka terlihat menggemaskan " puji Viona tersenyum.


" Lalu dimana foto masa kecil Elin , aku ingin melihatnya "


" Dia tidak memiliki banyak foto waktu masa kecilnya Nyonya , hanya ada satu.. "


" Mana ? " tanya Viona tidak sabar ,dan Mala menunjuk pada bingkai foto yang berada sedikit lebih tinggi.


" Itu Elin " kata Mala tersenyum.


Deg


Viona tiba-tiba terpaku saat menatap sebuah gambar seorang gadis kecil yang di sebut Mala sebagai gambar masa kecil Elin , " ini sungguh Elin ? " tanyanya dengan tangan yang mulai bergetar dan Mala mengangguk , " dia gadis kecil yang sangat pintar Nyonya , bahkan di umur seperti ini pun ia jarang merengek walau hanya untuk sebuah permen " kata Mala sembari mengingat masa kecil Elin.


Sementara Viona kini benar-benar terdiam dengan jantung yang berdetak tak menentu karena sebuah foto di hadapannya telah berhasil mengingatkan sebuah kejadian yang begitu mengerikan yang pernah terjadi di dalam hidupnya.


" Ayo Nyonya " ajak Mala untuk kembali bergabung pada semua orang.


" Pergilah lebih dulu Ibu Elin , aku sungguh masih ingin disini " katanya menolak ajakan Mala , " apa tidak apa-apa aku tinggal ? "

__ADS_1


" tidak apa-apa " balasnya tersenyum hambar , lalu setelah Mala pergi ia kembali mengamati sebuah foto di hadapannya , " aku sungguh berharap itu bukan kau nak " ucapnya lirih dengan berpegang begitu kuat pada ujung meja untuk menahan tubuhnya yang hampir saja roboh oleh kenyataan pahit yang mungkin harus ia terima nanti.


__ADS_2