
Kini waktunya Elin yang mendekat ke sisi makam, setelah Green dan Nathan sedikit menjauh.
Semakin dekat langkahnya. Maka semakin melemah kakinya. Ia seperti kehabisan tenaga untuk mendekat ke sisi makam.
Tangannya bergetar, saat meletakkan mawar putih ke atas makam. " aku kembali " ucapnya dengan tenang. Namun, deru nafasnya berpacu lebih cepat.
" Bagaimana kabarmu ? " tanyanya begitu pelan. Saat ini bibirnya seperti tidak mampu berucap.
Di tatapnya lebih lama pada tulisan di atas batu nisan di hadapannya. Seperti Alfin, ia terpaku pada waktu yang tertulis untuk kepergian lelaki itu, " sudah lama ya " ungkapnya tersenyum hambar.
Dadanya semakin sesak saat ini. Namun, ia masih bisa menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
" Ger.., Aku yakin kau pasti sudah tahu untuk kedatanganku kemari " ucapnya dalam diam, dengan terus memandang batu nisan di hadapannya, " aku harap kau ikut bahagia " sambungnya lemah.
" Sebentar lagi aku akan menikah Gerry.. " ucapnya dan kali ini kalimat yang keluar dari mulutnya mulai tersendat.
Ia terdiam sejenak untuk menarik nafas begitu dalam, " apa disana kau senang dengan kabar ini ? " tanyanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia kembali terdiam. bibirnya seperti tidak mampu berucap, walau sesungguhnya ada banya kalimat yang ingin ia ungkapkan.
Matanya semakin sendu, menatap pada benda tak bernyawa di hadapannya.
" Aku merindukanmu Gerry " ungkapnya dalam diam, bersama mata yang terpejam sesaat.
" Aku membawanya kemari dan tidak bermaksud untuk melukaimu " katanya sambil melihat pada Daniel yang masih berdiri dengan tenang tidak jauh darinya.
" Sayang kemarilah " pintanya. Saat Daniel mendekat ke sisi makam, saat itu pula tiba-tiba Amel pergi dari sana.
Semua saling menatap heran dan panik. Namun, tidak ada yang mencoba untuk menghentikan langkahnya. Karena mereka memilih mengerti, bagaimana menjadi perempuan itu.
" Tetaplah disini. Biar aku yang menyusulnya " ucap Alfin, sambil ikut menjauh dari makam dan berlari mengejar langkah istrinya.
Elin menatap pada Green. dan perempuan itu mengangguk, memberi isyarat. Bahwa tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan untuk kepergian tiba tiba Amel dari sisi makam.
Daniel sudah berada disisi Elin dan ikut menatap pada makam di hadapannya, " dia orangnya Gerry. Dia calon suamiku dan aku yakin kau pasti sudah tahu " kata Elin kembali berbicara pada benda tak bernyawa di hadapannya.
__ADS_1
" Kau lihat wajahnya Gerry. Aku baru tahu kalau ternyata dulu kita pernah bertemu dengannya. Takdir begitu lucu bukan, atau memang saat itu kau sengaja membawaku ke Lombok, supaya aku bertemu dengannya " ujarnya dengan bibir yang sedikit melengkung. Ia mengungkapkan itu di dalam diamnya. dan setelah itu ia kembali terdiam sejenak.
Dan tanpa ia ketahui Daniel terus memandang ke arahnya. Melihat jelas pada mata sendu yang terus melihat ke arah makam, " Menangislah, jika ingin menangis sayang " ucapnya tiba tiba.
Membuat Elin langsung menatap ke arahnya, " sungguh " katanya lagi, dengan bibir yang tersenyum.
" Kau tidak boleh menahannya, hanya karena aku " ucapnya dengan tenang. Mendengar itu, air mata yang tertahan di pelupuk mata Elin akhirnya terjatuh, " menangislah. Sungguh kali ini aku akan membiarkannya " katanya lagi.
" Kau lihat Gery. Ini lah yang membuat dia bisa menggantikan tempatmu " ucap Elin kembali menatap pada makam di hadapannya.
" Tidak. Tempatmu tidak terganti kawan " potong Daniel yang ikut melihat ke arah makam, " Kau masih ada di hatinya dan aku mengerti. Kita memiliki cerita yang berbeda di hidupnya dan aku menghargai ceritamu "sambungnya dengan tersenyum.
" Dan kau tidak perlu lagi khawatir. Aku pasti akan menjaganya dengan baik. Aku berjanji " ucapnya bersungguh-sungguh.
" Aku yakin kau laki-laki yang luar biasa. Hingga semua orang begitu sulit untuk kehilanganmu. Andai waktu bisa di putar, aku begitu ingin bertemu denganmu Teman "
Daniel kembali terdiam sejenak, " Seperti kataku, jangan lagi khawatir. Aku sungguh akan menjaga dan mencintai dia dengan baik " ucapnya sekali lagi, seraya memegang lembut batu di hadapannya.
" Aku menunggu disana " katanya pada Elin. Lalu beranjak di sisi makam dan tetap membiarkan calon istrinya berada disana. Ia sangat mengerti, pasti ada begitu banyak hal yang ingin perempuan itu ungkapkan disana. Walau itu bukan tentangnya, tapi itu tidak membuatnya khawatir.
Elin kembali sendiri disisi makam dan kembali menarik nafas begitu dalam, " aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi. Padahal ada begitu banyak hal yang ingin aku ungkapkan padamu " ucapnya.
" Ini bukan kisah di dalam Novel bukan ?. Aku sungguh tidak ingin ini menjadi akhir dari cerita kita Gerry. Ini bukan sebuah kisah yang harus berakhir setelah mereka menemukan kebahagiannya masing-masing. Kau sungguh tidak akan pernah berakhir di cerita semua orang "
Elin menyeka air matanya, " setelah ini. Mungkin ntah kapan lagi aku akan datang kemari. Tapi aku harap kau mengerti. Karena bukan berarti aku telah melupakanmu ".
" Aku senang telah menjadi bagian cerita dalam hidupmu dan kau menjadi bagian cerita dalam hidupku " ungkapnya tersenyum.Namun sorot matanya tak berhenti berkaca-kaca " Ternyata kisah kita hanya sebatas ini, hanya menjadi bagian dari cerita hidup kita masing-masing ".
" Gerry... " panggilnya dengan begitu tenang, " Terimakasih. Terimakasih untuk banyak hal yang pernah ada karenamu. Terimakasih telah membuat cerita hidupku begitu menarik dan...." ucapnya terhenti sesaat, " Terimakasih karena pernah ada di hidupku " ungkapnya dengan begitu dalam, dan tanpa sadar air mata kembali menetes tanpa pamit, " Berbahagialah di tempatmu Gerry dan aku bahagia disini " sambungnya dengan tangan yang kembali bergerak mengusap batu nisan di hadapannya.
Dan saat itu air matanya kembali mengalir begitu deras. Hatinya perih saat menyadari bahwa ini akan menjadi akhir dari cerita panjang mereka.
Kembali ia teringat untuk beberapa tahun yang tidak mudah untuk ia lalui. Hari hari yang berat setelah kepergian lelaki itu dan waktu dimana ia harus menerima bahwa lelaki itu benar-benar tidak akan pernah ada lagi.
Tangisnya pecah saat kembali membayangkan masa masa sulit itu dan menyadari bahwa semua sudah berlalu. Dan ia bisa untuk sampai pada hari ini.
__ADS_1
Green yang masih berdiri disana tidak bisa membendung air matanya. Di dekatinya tubuh rapuh Elin yang tengah menangis di atas makam, " luapkan semuanya. Tidak apa-apa, kau pantas mengenangnya kembali. Tapi hanya untuk hari ini. Karena esok kau harus siap untuk kembali kehidupanmu yang baru " ucapnya sambil memegang lembut pundak wanita itu.
" Dan dia pasti bahagia untukmu " sambungnya.
Elin tidak lagi mengucapkan apapun. Hanya suara isak tangis yang terus bergema dalam keheningan di antara udara yang semakin dingin dan di bawah awan yang mendung, " Aku pergi Gerry " pamitnya dengan sisa air mata yang masih mengalir.
" Kelak kita pasti akan bertemu kembali. Dan aku harap saat itu kau masih mengenaliku sebagai seseorang yang mempunyai cerita di hidupmu ".
" Bahagia lah dalam damai Gerry dan sekali lagi terimakasih, karena pernah ada " ucapnya dengan semua emosi yang tersisa, sebelum pergi, ia kembali menatap pada makam lelaki itu, " Selamat tinggal Gerry. Tapi ini bukan menjadi akhir " ucapnya dalam diam, lalu melangkah bersama dengan Green yang terus berada di sisinya.
Dan bersamaan rintik hujan turun. Membasahi tangkai demi tangkai bunga yang di letakkan di atas makam.
Hari ini bumi seolah menjadi saksi, dari kisah sepasang manusia yang berakhir di atas batu nisan.
Tidak ada yang menjadi egois dan tidak ada yang bisa di salahkan dalam cerita itu. Semua berhak untuk kembali bahagia. Dan Bumi seolah memberi tetesan terakhir untuk kisah yang tidak bisa bersatu.
Tangan Daniel terulur pada wanita yang kini menatapnya dengan sendu. " Tidak apa apa " ucapnya begitu lembut dan tulus.
" ayo " Ajaknya untuk pergi. Elin mengangguk dan menyambut tangannya, " Terimakasih karena telah mengerti " ucapnya sama seperti yang ia katakan sebelumnya.
Dan bergantian kini Daniel yang mengangguk, " Karena dalam hal ini aku memang harus mengerti " balasnya tersenyum.
Elin kembali melihat ke makam yang kini mulai basah oleh air hujan. Namun, terlihat begitu indah bersama beberapa tangkai bunga di atasnya. dan bersamaan cahaya matahari kembali muncul, seolah mendesak di tengah rintik hujan.
" Aku harap ini pertanda. Bahwa kau memberi restu " ucapnya pada kilau cahaya matahari sore.
" Sekali lagi terimakasih Gerry dan Selamat tinggal " ucapnya bersama helenaan nafas yang begitu dalam.
Walau kini kakinya berat melangkah. Tapi ia harus pergi, bukan karena hujan tapi karena memang cerita mereka telah usai, dan rintik hujan seolah menjadi penutup dari kisah mereka.
" Sampai bertemu di surga " sambungnya begitu dalam. dan bersamaan sebuah tangan merengkuh tubuhnya, " sekarang ceritamu bersamaku. Mari kita buat kisah yang lebih menarik " ucap Daniel dengan tersenyum.
Di tengah mata yang memerah bibir Elin kini melengkung, " Ayo, dan berjanjilah untuk tidak pernah mengakhirinya, kecuali jika itu takdir " balasnya dan Daniel mengangguk.
" Janji " ucapnya sambil mengarahkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
Elin tertawa, lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Daniel, " Janji " balasnya bersungguh-sungguh dan saat itu juga tiba-tiba rintik hujan berhenti dan matahari sore semakin bersinar terang. " Kau lihat sayang dunia ikut mengikat janji kita " ucap Daniel tersenyum.
Elin mengangguk, dan sesaat kembali melihat pada makam, " Terimakasih " ucapnya sekali lagi. Sebelum akhirnya dia benar-benar pergi.