
Elin dan ke dua orang tuanya, baru saja menginjakan kaki di halaman rumah keluarga Vernandes.
" Sepertinya kita yang paling terakhir datang " seru Elin , saat melihat mobil orang tua Amel dan Green sudah berada disana.
" Gara-gara Ayah kamu ini. Hampir saja kita terlambat " sahut Mala sambil berjalan cepat menuju ke kediaman megah keluarga Vernandes. Sementara Bimo hanya tersenyum santai dengan cercahan istrinya sambil ikut berjalan.
" Hai semuanya " sapa Elin pada semua orang yang kini tengah berkumpul di ruang keluarga.
" Kau sudah datang nak " sahut Wilna dengan wajah yang berbinar sambil berjalan mendekat ke arahnya, melihat itu bibir Elin melengkung, " sepertinya Bunda sangat bahagia hari ini " katanya pada Wilna.
" Tentu, bahkan sangat bahagia " sahut Wilna dengan garis bibir yang semakin merekah.
" Jadi itu benar Bunda ? " tanya Elin dengan mata yang membesar dan Wilna mengangguk, " Ya Tuhan terimakasih " ucap Elin dengan kedua tangan yang mengadah, " dimana dia Bunda ? " katanya menanyakan keberadaan Amel.
" Sepertinya masih di kamarnya ".
" Baiklah, kalau begitu aku ingin menemuinya " ucapnya seraya bergerak untuk beranjak.
" Emmm.. nak " seru Wilna mencoba menghentikan langkahnya.
" Ya Bunda ! "
" Emmm.., Meili sepertinya lebih membutuhkanmu saat ini " kata Wilna dengan nada bicara yang sedikit tertahan, meski begitu Elin dengan cepat mengerti maksud dari perkataannya, " dimana dia Bunda ? " tanya Elin, dengan wajah yang semula berbinar kini berubah sedikit lebih panik.
" Di kamar tidurnya. Dari tadi pagi dia belum keluar dari sana " jelas Wilna, mendengar itu dengan cepat Elin bergegas menuju letak ruang tidur calon adik iparnya.
" Hai Elin, kau sudah datang " sapa Green yang baru datang dari arah berlawanan.
" Hai Green " balas singkatnya, sambil berlalu dengan langkah yang tergesa-gesa.
" Kau mau kemana ? " tanya Green mencoba menghentikan.
" Ke kamar tidur Meili " jelas singkat Elin, sambil terus berlalu.
Melihat keadaan itu, Green menatap pada Ibu Mertuanya, " ada apa Bunda ? " tanyanya menjadi heran.
" Sejak tadi Meili belum keluar dari dalam kamarnya " jelas singkat Wilna yang kini menatap sendu panda pintu ruangan yang berada di lantai dua rumahnya.
Mendengar itu, Green ikut bergerak dan memutar tubuhnya untuk menyusul langkah Elin.
" Nak " panggil Wilna sambil menjangkau tangan menantunya.
" Ya Bunda " sahut Green dengan langkah kaki yang kini berhenti.
" Kau tetap disini. Biarkan Elin menggunakan perannya dengan baik. Mungkin Meili akan menjadi lebih terbuka jika hanya berdua dengannya " jelas Wilna, dan Green terdiam sejenak, " ya bunda benar " sahutnya.
__ADS_1
" Tentu, kau bantu Bunda saja disini. Sebentar lagi keluarga itu akan datang "
" Baik Bunda "
***
Elin terdiam sejenak di hadapan pintu yang menjadi kamar tidur Meili di dalam rumah keluarga Vernandes.
" Ini ke mau-anmu Mam, dan aku tidak pernah menginginkan ini " ucap suara lantang dari dalam ruangan, " satu langkah pun aku tidak akan keluar dari dalam ruangan ini " sambungnya lagi.
Elin semakin tertegun dari hadapan pintu.
" Meili. Jangan membuat malu keluarga kita " ucap suara yang tidak kalah lantang dari suara sebelumnya dan Elin sangat tahu siapa pemilik dari suara itu.
" Membuat malu Mam. Bukan aku yang membuat malu tapi kau yang terlalu memaksakan keinginanmu, kau Egois Mam, sangat Egois " teriak dari dalam ruangan, bersamaan dengan suara isak tangis yang mulai terdengar.
Dengan cepat Elin mendekat ke sisi pintu, " Ini Elin, boleh aku masuk " ucapnya lembut sambil mengetuk penutup ruangan di hadapannya.
Sesaat di dalam ruangan terdengar menghening.
Klek
Pintu terbuka dan memperlihatkan Viona yang berada di sisi pintu, " Masuklah nak " pintanya pada Elin.
Ia semakin tertegun saat melihat wajah calon Ibu Mertuanya yang begitu kacau, yang kini telah duduk di atas sofa dengan wajah yang tertunduk, dan melihat pada Meili yang kini mematung di atas tempat tidurnya, dengan tangan yang sesekali bergerak menyeka air matanya yang mungkin masih mengalir.
" Mam ada apa ini ? " tanyanya begitu pelan dan sangat hati-hati.
Dari tempat duduknya, Viona menghela nafas, " Dia tidak ingin menemui keluarga itu " jelasnya.
" Tolong bantu Mami Elin. Tolong bicara padanya, dia tidak bisa melakukan ini " sambungnya, dengan tatapan yang begitu memohon pada Elin.
" Dia hanya perlu menemuinya Elin. Pernikahan itu tidak akan terjadi saat ini " sambungnya lagi.
" Mam, jangan mendesak orang lain untuk keinginanmu. Aku tidak akan berubah dengan pendirianku " timpal Meili dengan nada yang begitu tegas. Membuat Viona semakin tertunduk.
Sementara Elin sempat kebingungan untuk mengatasi situasi di hadapannya saat ini, sampai akhirnya ia memutuskan untuk bergerak mendekat ke arah Meili, " Mam bisa tinggalkan kami berdua "pintanya begitu sopan pada Viona.
Wanita paruh baya itu mengangguk, lalu beranjak dari dalam ruangan, meninggalkan dia dan Meili.
" Aku tidak suka seperti ini Elin. Aku juga punya hak untuk memilih dengan siapa aku akan menikah " ucap Meili bersuara dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya yang kini terlihat sedikit memerah. Sementara Elin masih terdiam dengan menatap kearah Meili.
" Mami benar-benar egois " sambung Meili yang kini semakin terisak.
Elin bergerak merengkuh tubuh calon adik iparnya, dan itu membuat isak tangis Meili yang kini berada di dalam pelukannya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
" Meil, coba untuk berpikir tenang sesaat. Aku tidak membela Mami dan aku sangat mengerti berada di posisimu " ucap Elin sembari mengusap lembut punggung Meili, " kau anak yang sangat baik, dan aku yakin kau tidak akan mungkin ingin membuat orang lain memandang kecewa pada keluargamu " sambungnya, lalu terdiam sejenak, " seperti yang Mami bilang kau hanya perlu bertemu mereka Meil, itu tidak akan membuat kau menikah saat ini juga, tapi kalau kau tetap menolak untuk bertemu, maka dari saat ini juga kau membuat pandangan terhormat pada keluargamu akan menghilang di mata orang lain ".
" Aku yakin memang tidak mudah menjadi dirimu saat ini, tapi berusahalah untuk menghargai kedatangan mereka, setidaknya cukup itu saja yang kau lakukan untuk saat ini Meil "
Perlahan isak tangis Meili memudar di dalam pelukannya, " kau hanya perlu menghargai, itu sudah paling terbaik untuk kau lakukan saat ini dan dengan begitu, kau sudah membuat nama baik keluargamu tetap terjaga Meil ".
" Aku yakin kau tidak akan setega itu untuk membiarkan Mami dan Papi di cercah oleh orang lain hanya karena hal ini. Situasi ini masih bisa di atasi Meil"
" Kau hanya perlu menemui mereka " tambahnya dengan sangat lembut, dengan kalimat akhir dari semua perkataannya pada Meili.
Perlahan Meili mulai menarik tubuhnya dari dalam rengkuhan Elin, menyeka sisa air matanya lalu menarik nafas begitu dalam, " jam berapa sekarang ? " tanyanya pada Elin.
" Tujuh, satu jam lagi mereka akan datang "
" Apa satu jam cukup untuk aku bersiap ? " tanya Meili, mendengar itu mata Elin kembali membesar, " jadi kau mau menemui mereka ? "
" Sekali lagi kau menanyakan hal itu, aku akan kembali mengurungkan niatku " sahut Meili sambil begerak dari atas tempat tidur.
" Oke oke, tenang Nona. sekarang apa yang ingin kau lakukan ? "
" Pergi mandi, setelah itu bantu aku menata rambutku "
" Siap Nona Muda Remkez " balas Elin begitu senang, " hari ini aku menyadari sepertinya aku cocok menjadi seorang motivator " tukasnya tertawa, membuat Meili yang berada di ambang pintu kamar mandi masih sempat menoleh ke arahnya, " ceh " decih Meili memandang kesal, Namun dengan bibir yang sedikit melengkung.
" Kau hanya punya waktu 3 menit untuk mandi nona muda Remkez, jadi pergunakan dengan baik " ancam Elin pada Meili, " kau gila, bagaimana bisa aku mandi dengan waktu yang begitu singkat "cercah Meili.
" Dengan kau masih bicara, waktumu sudah berkurang hampir satu menit "
" Dasar gila " umpat Meili dengan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
" Dua menit tiga puluh lima detik " seru Elin sambil menahan tawa.
" Diam Elin " teriak Meili dari dalam kamar mandi, " kau membuatku tidak bisa membedakan mana botol sabun dan shampoo " pekiknya, membuat Elin semakin tertawa.
Ting
bersamaan sebuah pesan masuk ke dalam handphonenya.
" Elin bagaimana ? " tulis pesan yang di kirim oleh Green.
" Aman, kabari jika keluarga itu sudah datang " balasnya.
" Siap, kau memang bisa di andalkan " tulis Green dalam balasan pesannya.
" Ya aku memang sekeren itu Green " gumamnya begitu percaya diri saat menatap pada pesan yang di kirim oleh Green padanya.
__ADS_1