Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Aku Masih Perawan


__ADS_3

" Hei " sergah Daniel memeluk pinggang Elin, sembari mengecup punggung kepala istrinya.


Elin yang masih termenung di hadapan lemari pakaian tak pelak terkejut, " kau mengejutkan aku sayang ", ucapnya tersenyum kaku, lalu kembali melihat ke arah susunan pakaian Daniel yang baru ia rapikan tadi pagi.


" ada apa ? ", tanya Daniel heran melihat istrinya yang nampak sedang repot.


Elin menoleh sesaat untuk memastikan pertanyaan itu untuknya, lalu kembali melihat ke susunan pakaian, " aku hanya bingung pakaian mana yang akan aku bawa untukmu ".


" Maaf sayang, aku belum terbiasa " sambungnya, sebelum Daniel sempat menanggapi perkataan sebelumnya.


Lelaki itu hanya tersenyum, lalu kembali melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elin, " jangan repot-repot sayang, semua pasti sudah di siapkan ".


Mendengar itu dahi Elin mengkerut, " siapa yang akan menyiapkan pakaian kita, kalau bukan kita sendiri ".


" Mami " kata Daniel membalas cepat. Baru saja mata Elin membesar mendengar perkataannya, " Reza " sambungnya, " emmm, atau aku bisa minta bantuan manager hotelnya kalau kau mau, atau aku bisa meminta Reza menghubungi desiner terna... ".


" Sayaaaang cukup " titah Elin dengan bola mata yang menatap sinis, " aku ingin menyiapkan pakaian suamiku sendiri. Bukan orang lain. Apalagi Mami.. "


" Sangat tidak sopan sekali menyuruh Mami menyiapkan pakaian untuk kita " sambungnya menggerutu dan sedikit pelan.


" Tapi saat ini kan, kondisinya beda sayang "


Tapi Elin tak mengidah ucapan Daniel, dengan terus memilah pakaian di hadapannya. Sampai geraknya terhenti ketika tangan Daniel menarik tangannya, " sungguh ini tidak perlu, semua pasti sudah di siapkan disana " ucapnya menatap serius mata bulat istrinya.


" Oke " sambungnya dengan mengecup lembut punggung tangan Elin yang masih di dalam genggamannya. Seperti sihir, kecupan itu berhasil melemahkan sifat kukuh Elin yang tidak ingin merepotkan orang lain, " aku benar-benar tidak tahu akan ada acara lagi " ucap Elin sambil berangsur menutup pintu lemari pakaiannya.


" Aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti ini rencana Mami... "


" Tunggu, apa kau tidak suka sayang "


" Tidak, tidak seperti itu. Aku senang, ini hanya mendadak dan sedikit repot", sahutnya sambil tertawa dan berbaring ke tempat tidur. Dan Daniel tentu tidak mungkin untuk tidak menyusul istrinya.


" Mami pasti tidak mungkin membiarkan pernikahan kita hanya selesai dengan acara seperti tadi malam " kata Daniel dengan wajahnya yang begitu dekat dengan Elin. Dengan mata yang memandang penuh sihir, "dan aku pastikan acara hari ini bukan yang terakhir", sambung Elin ketika bibir Daniel menyisakan jarak satu milimeter dari bibirnya.


Daniel tidak menunggu lagi untuk menyesap lembut bibir merah mudah tanpa lipstik di hadapannya. Deru nafasnya mulai cepat begitu pun Elin. Matanya kini mulai menatap sayu pada bola mata Daniel yang memberi tatapan penuh cinta padanya. Dan mata itu terpejam ketika bibir Daniel tidak lagi bergulat dengan bibirnya. Ciuman lelaki itu kini berpindah ke leher jenjangnya, mencumbu setiap inci demi inci kulit bersih itu. Aroma manis Vanilla dari bodymist yang di gunakan Elin membuatnya semakin terangsang. Tidak ada lagi yang perlu ia pikirkan untuk tidak menyentuh lebih jauh tubuh wanita yang dia cintai itu. Semua miliknya. Miliknya sampai ia mati. Seperti itu lah Doanya ketika ia berada di dalam keadaan darurat saat pesawat yang membawanya kemarin hampir jatuh. "Elin belum menjadi milikku, jadi aku belum boleh mati Tuhan. Aku boleh mati ketika dia sudah menjadi milikku, dan Dia milikku sampai aku mati", kalimat itu yang terus ia ulang-ulang sampai keadaan kembali normal dan ia berada di dalam pesawat yang akan membawanya dan semua rombongan kembali ke Indonesia.


Elin melenguh saat ujung dadanya di sesap oleh Daniel seperti anak kecil yang menikmati es cream coklat. Dan ini rasa yang pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.


Kini ia pun menyadari pakaian yang sudah lepas dari tubuhnya. Tapi ia sudah lupa diri untuk saat ini. Yang ia ingat, hanya bahwa yang sedang mereka lakukan sudah halal terjadi.


Tok tok tok


Pintu tiba-tiba berbunyi tapi tak membuat pemilik ruangan tersadar.


Tok tok tok


Suara itu kembali terdengar. Dan berhasil membuat Elin membuyarkan sedikit angannya yang sedang melambung.

__ADS_1


Tok tok tok


Ketiga kalinya pintu berbunyi.


" Ya " jawabnya cepat. Sambil mengangkat kepala Daniel yang tengah berada tepat di hadapan selangkangannya, " sebentar sayang ada yang datang " katanya pelan pada Daniel. Lelaki itu mendengus kesal. Dengan tetap tidak berbergerak dari posisinya.


" Ini seni kak " suara dari balik pintu.


" Ya Dek. Ada apa ? ".


" Keluarga kak Daniel sudah datang kak. Begitu juga kak Green dan kak Amel "


Elin terdiam sejenak, lalu menatap ke Daniel yang masih tetap di posisinya.


" Katakan kami akan turun sebentar lagi " serunya dan membuat tidak ada lagi suara dari pintu. Kecuali langkah kaki Seni yang menjauh.


Ia melempar tatapan bingung ke arah Daniel, " kau mau lanjut sayang ? " tanya Daniel yang mengerti pada tatapannya, " aku terserah padamu " katanya sedikit ragu.


" Baiklah kalau begitu aku lanjutkan " kata Daniel yang kembali begerak menuju area sensitifnya. Perasaan Elin tidak lagi seperti tadi. Tidak lagi melayang ketika setengah pikirannya memikirkan orang-orang yang tengah menunggu mereka untuk turun.


Matanya memandang ke arah jam dinding. hampir jam dua siang. Dan memang sudah waktunya mereka berangkat ke bandara saat ini dan bersamaan dengan kegusarannya gerak Daniel terhenti, meski sebenarnya pikiran itu hampir melayang oleh rasa yang luar biasa yang baru saja laki-laki itu ciptakan, " ada apa sayang ? " katanya bertanya cepat.


" Tidak apa-apa " Balas Daniel tersenyum. Lalu bergerak mengambil bra yang ia gunakan lalu di pasangkan ke tubuhnya, " aku takut tidak bisa berhenti, kalau aku terus melanjutkannya" bisik Daniel tersenyum dan mata yang memandang nakal.


Lalu mendaratkan kecupan ketika Elin masih terpaku menatapnya, " ayo bersiap, semua orang sudah menunggu " kata Daniel dengan sangat lembut, bahkan lebih lembut dari yang biasa Elin pernah dengar.


" Untuk ? " balas Elin kebingungan.


" Rasa yang luar biasa " jawab Daniel tersenyum dan melepas pelukannya.


" Rasa luar biasa " kata Elin yang mengulang dengan kebingungan. Sifat alami telminya datang di saat yang tidak tepat saat ini, " ayo sudah saatnya kita bersiap. Semua orang sudah menunggu " ajak Daniel yang tidak ingin menjelaskan lebih jauh arti dari perkataannya.


" hmm iya " sahut Elin sekenanya, yang langsung tersadar ada yang lebih penting dari meminta penjelasan lebih lanjut dari rasa penasarannya.


~


Seperti yang ada di dalam tebakan Elin, semua orang tersenyum menggoda ke arahnya dan Daniel, ketika mereka turun.


" Sepertinya sepasang pengantin kita ini terlihat sangat lelah " kalimat godaan yang di lontarkan pertama kali oleh orang yang paling jail di antara semuanya. Siapa lagi kalau bukan Green, beruntungnya Amel sedang berada dimasa kehamilan mudanya dan Elin patut bersyukur waktu kehamilan itu tepat saat ini. Karena kalau tidak dua perempuan itu pasti sudah mengacau sejak tadi dan menghujani banyak pertanyaan tentang tadi malam.


Mata Elin hanya membesar memandang kearah Green yang sudah menyeringai.


" Tapi si Tuan Muda nampaknya lebih segar " sambung Nathan. Sepasang suami istri yang luar biasa memang. Dalam hal ini semua orang patut membenarkan Kalimat yang mengatakan kalau jodoh itu adalah cerminan dari diri sendiri. Contohnya adalah Green dan Nathan. Pasangan hasil dari perjodohan dan memang jodohnya. Jail, iseng, cerewet serta tampan dan cantiknya semua seperti sudah di takar kecocokannya.


" Sebaiknya simpan tenagamu Jo. Acara kita masih panjang " balas Daniel tertawa dan dengan santainya. Berbeda dengan Elin yang sudah merona menahan malu.


Green tak punya pikiran untuk berhenti menggoda Elin, " jadi bagaimana tadi malam rasanya ? " katanya berbisik. Tapi di buat terdengar oleh semua orang. Hingga tidak ada satu pun yang tidak tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


" Hentikan Green. Aku masih perawan " jawab Elin sekenanya dan tidak menyadari nada suara yang melengking dan arti ucapannya.


Semua orang terpaku bersamaan dan menatap bersamaan padanya dan Daniel.


Bahkan Daniel sendiri melihat ke arahnya. Ada sedikit kepanikan disana.


Dan tatapan itu berakhir ketika tawa Alfin pecah, lalu kemudian di ikuti Nathan.


" Memangnya kenapa kalau mereka belum melakukan " ucap Amel tiba-tiba, di tengah kepalanya yang sedang di pijat halus oleh tangan Alfin, " kenapa kau tertawa ? " katanya lagi pada suaminya sendiri.


" Dulu aku juga masih perawan di waktu malam pertama, bukankah kau tertidur pada saat itu " sambungnya begitu jujur. Seolah bergantian kini Daniel yang memulai tertawa lebih awal, " senjata makan tuan " ucapnya pada Alfin.


" Justru tadi malam aku yang tertidur", sambung Elin. Ntah keberanian dari mana ia berani membahas hal yang sedikit memalukan itu di hadapan ayahnya yang sedang berbicara dengan ayah mertuanya dan Banyu. Dan tak mungkin lelaki itu tidak mendengar.


" Suami-suami yang malang " ucap Nathan. Ada kemenangan di senyumnya hari ini. Berbeda dengan istrinya yang nampak kecewa karena tidak ada lagi bahan gurauan untuk menggoda Elin. Dan ia harus menunggu sampai besok lagi.


" Kau tidak apa-apa Mel ?" Tanya Elin mendekat, menatap perempuan itu yang tampak begitu lemah, " hemm, aku hanya butuh obat saja, dan semuanya akan normal saat aku sudah bertemu dokternya nanti ".


" Memang kita masih punya waktu bertemu dokter kandungan ? ".


" Dokternya sudah di Bali saat ini ".


" Yang aku bawa ini calon cucu keluarga Vernandes. Jadi kau bisa paham sendiri tanpa aku jelaskan " katanya melanjutkan, sebelum Elin kembali bertanya. dan perempuan itu langsung mengangguk paham.


" Ayo sudah waktunya kita berangkat " ajak Viona yang keluar dari ruang keluarga bersama Mala dan Wilna.


" Hai Mam " sapa Elin mendekat ketika melihat wanita paruh baya itu, dan tak lupa mengecup punggung tangannya, " hai menantuku " balas Viona tersenyum merekah.


Lalu Elin berpindah pada Wilna, " aura pengantin baru luar biasa " katanya tersenyum.


" Aku sudah kenyang makan godaan semua orang Bun " kata Elin yang secara tidak langsung memberitahu untuk berhenti menggodanya sebentar saja, dan Wilna hanya tertawa mendengar itu.


" Dimana yang lain Mam ? "


" Adikmu ?, emm dia menemani teman-teman kantormu dan sudah berangkat dari tadi pagi. Begitu pun Hannah dan Mike " jelas Viona sambil bergerak, " ayo, satu jam lagi pesawat kita berangkat " tambahnya dan semua orang bergegas tanpa menunggu.


" Mam, pakaian untuk kami amankan ? " kata Green di sela langkahnya menuju mobil.


" Kalian pasti tidak akan kecewa pada pilihan Mami " sahut Viona tersenyum bangga, lalu masuk ke dalam mobil yang berbeda.


" Hello Naina " sapa Elin pada gadis kecil yang berada di dalam gendongan suaminya.


" Hello Mama yiin " balasnya tersenyum.


Daniel mengulurkan tangannya, meminta Elin memasukan telapak tangan halusnya ke dalam genggaman tangannya. Dan tanpa menunggu Elin melakukan itu dengan senang hati, walau hanya itu berjalan menuju mobil.


" Mau kemana kita Naina ? " tanya Elin tertawa.

__ADS_1


" Baliiiiii " sahut gadis kecil itu dengan begitu senang.


__ADS_2