
Suara tepuk tangan semakin terdengar nyaring saat Elin dan Hannah berjalan ke arah tengah panggung menuju beberapa orang yang sedang menunggu mereka dengan memegang sebucket bunga.
Elin terus menarik nafasnya , dan menggengam erat jari jemari Hannah yang juga sedang menggenggam tangannya , ia tak cukup percaya diri untuk menatap ke arah semua orang , " Angkat kepalamu dan tersenyum " pinta Hannah di sela langkah mereka.
" Aku malu " jawab Elin pelan , namun tetap mencoba untuk perlahan mengangkat wajahnya , dengan tetap menundukkan pandangannya , " tatap semua orang , dan perlahan kau akan mulai percaya diri " kata Hannah memberi saran ,dan ia terus melangkah dengan begitu percaya diri , karena itu memang ke ahliannya sebagai seorang model.
" Selamat untuk anda " ucap laki-laki yang bertugas sebagai pembawa acara , dengan memeluk tubuh Elin dan menepuk pundaknya dengan penuh bangga , lalu berlanjut pada Hannah yang tempatnya tidak kalah penting untuk kesuksesan besar pada acara itu.
" Tolong berbalik , kalian harus melihat hasil vote terbaik kalian " pinta pembawa acara untuk mengarahkan dua wanita itu untuk menghadap kearah menitor yang memperlihatkan hasil vote semua orang pada rancangannya.
Elin tertegun menatap ke arah layar menitor , hidung mancung miliknya mulai memerah karena air mata yang tertahan di pelupuk mata , ia benar-benar tidak menyangka kalau hasil desainnya akan mendapat sambutan sebanyak ini , berulangkali ia melebarkan matanya untuk melihat angka jumlah vote yang mencapai ratusan ribu yang berada di urutan teratas , dan itu benar-benar tertulis di sisi nama perusahaan mereka.
" Kau terlihat begitu terkejut nona " ujar pembawa acara sedikit tertawa pada Elin.
" Dia masih tidak menyangka dia mendapatkan ini " timpal Hannah menjelaskan dengan microphone yang berada di tangannya.
" Sekarang mari kita kembali menatap ke depan , aku sungguh tidak sabar ingin berbincang dengan kalian berdua dan aku yakin semua orang juga ikut penasaran ,seperti apa perancang yang sudah mampu mengalahkan perancang-perancang hebat negara ini " ujar pembawa acara.
Mereka kembali menghadap kearah penonton , dan Elin mulai memberanikan diri untuk melihat kearah semua orang , ia mengalihkan rasa gugupnya dengan meremas kuat pangkal bucket yang baru saja ia terima di tangannya , bibirnya melengkung saat melihat Meili , Mike , Reymond dan juga Viona yang juga sudah berada di kursi penonton melambaikan tangan padanya dan perlahan rasa percaya diri di dalam tubuhnya kembali muncul.
" Hallo nona Hannah , sepertinya aku ingin berbincang lebih dulu denganmu " kata pembawa acara dengan begitu bersemangat.
" emmm..ya , tapi disini bukan aku bintangnya " sahut Hannah tertawa dengan tangan yang merangkul pundak Elin , di ikuti suara penonton yang semakin riuh di tempat duduknya masing-masing.
" Anda benar , tapi kehadiranmu disini sangat menarik "
" Ya karena aku mantan kekasih dari pemilik perusahaan ini , dan ini memang sudah menjadi strategi kami sejak awal " ujar Hannah dengan santai , membuat semua orang yang berada di kursi penonton tertawa , tak terkecuali Elin.
" Jadi ini memang sudah di rencanakan ? , aku mengira kalau ini pertanda kalian telah kembali menjalin hubungan " kata pembawa acara menyela , dan Hannah segera menggelengkan kepala , " untuk kembali menjalin hubungan asmara itu tidak mungkin lagi , tapi kami benar-benar kembali membuat hubungan yang sangat baik dengan menjadi sahabat , disisi lain aku merasa bersalah karena telah membuat kalian tertipu , tapi aku juga bersyukur karena dengan begitu rencana kami berhasil " jelas Hannah , yang membuat penonton semakin riuh dengan suara tawa , dan berhasil membuat suasana menjadi santai.
" Tapi ini belum seberapa , karena akan ada yang lebih mengejutkan dari ini " tambahnya tersenyum dan melirik pada Elin yang sudah berdelik padanya ,
" tolong jangan membuat kami penasaran nona " sambung pembawa acara dan ucapan itu seperti mewakilkan semua orang.
" Memang seperti itu sebuah strategi " sahut Hannah tertawa.
" Oke baiklah aku tidak akan memaksa , tapi kau sungguh luar biasa malam ini "
" Ya, aku juga merasa seperti itu " sahutnya dengan begitu percaya diri , membuat gedung itu tidak berhenti bergemuruh oleh suara tawa , " dan ini untuk pertama kalinya aku merasa begitu percaya diri " sambungnya dengan serius , dan perlahan suara hingar bingar penonton mulai melemah oleh perkataan dan tatapan Hannah yang terasa menyentuh.
__ADS_1
" Aku merasa harus benar-benar bertanggung dengan pekerjaanku kali ini , mungkin karena aku sedang membawa hasil rancangan dari sahabatku sendiri " lanjutnya dengan tangan yang kembali merangkul pundak Elin , membuat semua penonton langsung bertepuk tangan untuknya.
" Boleh aku mengucapkan sesuatu untuk sahabatku ini " pintanya pada pembawa acara dan laki-laki itu mengangguk , " tentu dan gunakan waktumu dengan baik , karena semua orang di kota ini sedang melihatmu " ujarnya sedikit tertawa.
Hannah menatap dalam wajah Elin , dan sesaat ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air mata haru yang mulai ingin menetes , " sebenarnya hari ini pertama kalinya aku kembali berjalan di atas panggung setelah beberapa masalah yang aku lewati akhir-akhir ini , dan sebelum hari ini terjadi , aku sudah sedikit menyerah dengan pekerjaanku sebagai seorang model dan memilih untuk menjalani hidup yang biasa , tapi karena dia .. " ucapnya menggantung dengan suara yang mulai bergetar , lalu menarik nafas perlahan untuk meredahkan rasa emosi , " aku berterimakasih karena dia berhasil membuat aku menyadari kalau ternyata menjadi model adalah diriku yang sesungguhnya dan aku memang terlahir untuk menjadi seorang model " lanjutnya , membuat suara tepuk tangan penonton kembali terdengar.
" Aku sudah begitu banyak bicara ,jadi aku akan memberikan microphone ini padanya " ucapnya lagi , dengan tangan yang mengusap matanya yang mulai berair , dan segera memberikan microphone di tangannya pada Elin.
" Aku tidak menyangka kalau anda adalah orang yang sangat menyenangkan " ucap pembawa acara , sebelum akhirnya berpaling pada perempuan yang masih berdiri disisi Hannah.
" Selamat malam nona ? " sapanya pada Elin ,dan perempuan itu mengangguk dengan tersenyum kaku , ia masih belum bisa untuk begitu santai berada di tengah-tengah orang yang sedang menatap ke arahnya.
" Nona Merlinda " lanjutnya , setelah memastikan nama itu tertulis di teks yang ada di layar monitor dan Elin kembali mengangguk , " saya sungguh kagum pada hasil karya anda " .
" Terimakasih " sahut Elin dengan senyuman yang mulai terlihat santai.
" Boleh kita sedikit berbincang ? "
" Tentu "
" Bagaimana perasaan anda saat ini ? "
" Perasaan saya , tentu terkejut , ini jauh dari apa yang saya bayangkan " jelas Elin , bersama suara penonton yang mulai meredam dan menyimak dengan serius perbincangan yang ada di tengah panggung , " Ya anda benar , saya juga tidak menyangka karya perancang terkenal negara ini di kalahkan oleh anda , emm..maaf , maksud saya nama anda masih sangat baru untuk dunia Fashion , tapi berhasil mencetak angka vote terbesar disepanjang perayaan acara Fashion Show ini "
" dan anda berhasil membuat produk kalian kembali bangkit " .
" itu memang tujuan utama saya , dan ternyata Tuhan memberi lebih dari apa yang saya harapkan "
" Anda sungguh perempuan yang berhati tulus " puji kembali pembawa acara di ikuti suara tepuk tangan penonton yang kembali bergemuruh di seluruh ruangan.
" Aku yakin anda mempunyai ucapan terbaiknya untuk orang-orang yang mendukung anda selama ini " sambung pembawa acara dan mempersilahkan Elin untuk berbicara dengan microphone yang berada di tangannya.
" Terimakasih " ucapnya , lalu terdiam sesaat untuk menelan ludah yang mulai tercekat di tenggorokannya , " Maaf aku masih begitu gugup " lanjutnya tersenyum , dan tidak lama suara tepuk tangan begitu kencang terdengar dari tempat orang-orang terdekatnya duduk , " kau luar biasa nona Merlinda " teriak Meili , yang akhirnya di ikuti tepuk tangan oleh semua orang.
Ia menghela nafasnya bersama mata yang mulai berkilau oleh buliran kristal air mata yang siap jatuh kapan saja , namun masih tetap berusaha untuk ia tahan , " terimakasih untuk semua dukungannya , ini ucapan dari hatiku yang paling dalam " ucapnya dengan kepala yang ia tundukkan di hadapan semua orang , dan itu benar-benar terlihat sangat menyentuh.
" Aku bukan seorang perancang.. " sambungnya , yang kemudian terdiam sesaat untuk melihat semua reaksi penonton dan ada beberapa dari mereka yang terlihat sedikit terkejut , " aku hanya seorang karyawan magang di perusahaan D.RMS " lanjutnya dengan tersenyum, dan semua orang kembali bertepuk tangan.
" Terimakasih " ucapnya lagi ,setelah tepuk tangan pujian itu di berikan untuknya.
__ADS_1
" Aku akan sedikit banyak bicara " katanya pada pembawa acara dan laki-laki itu tersenyum dengan tangan yang mempersilahkan perempuan itu untuk melanjutkan bicaranya tanpa harus merasa tertekan oleh durasi waktu.
" Karena ini seperti mukjizat yang luar biasa untukku , jadi pertama-tama aku harus berterimakasih pada Tuhan " katanya , lalu kemudian terdiam sesaat untuk berdoa dengan kedua telapak tangan yang mengadah begitu dekat dengan wajahnya , semua orang tersenyum dengan sikapnya yang terlihat begitu mulia.
" Sebenarnya sampai saat ini aku masih begitu tidak percaya diri untuk berbicara di hadapan kalian semua " ucapnya lagi setelah ucapan terimakasihnya pada Tuhan telah selesai ia sampaikan , " tapi aku selalu teringat dengan ucapan wanita yang begitu aku hormati " sambungnya dan melemparkan senyum teduhnya pada Viona yang juga sedang tersenyum penuh haru kearahnya , " beliau mengatakan , aku harus mengangkat wajahku karena aku pantas bangga dengan hasil kerja kerasku ini , dan ya kalimat itu berhasil membuatku berani melihat ke arah kalian " lanjutnya dan kembali berbicara setelah tepuk tangan semua orang sedikit meredah.
" Aku harus mengucapkan terimakasih pada banyak orang , terutama pada kedua orang tuaku yang tidak bisa hadir disini , bahkan mungkin mereka tidak tahu jika sekarang aku sedang membuat mereka sedikit bangga " ujarnya tertawa , namun mata berkaca-kacanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Hannah kembali merangkul pundak Elin , " orang tuamu pasti bangga padamu " bisiknya memberi semangat , namun kalimat itu berhasil membuat bendungan air mata Elin tidak bisa lagi tertahan , membuat ia harus menunduk untuk menyembunyikan tetesan air mata yang sudah mengalir deras tanpa pamit , " Elin kami bangga padamu " teriak Meili dari tempatnya , ia merasa begitu kesal karena tidak bisa memeluk tubuh sahabatnya itu.
" Maaf aku begitu cengeng " ucapnya setelah berhasil meredahkan rasa emosi bercampur haru di dalam dirinya dan kembali mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah memerah oleh tangisan , " Terimakasih untuk semua orang yang sudah begitu percaya padaku untuk menyelesaikan rancangan ini , sebenarnya aku sedikit menyesal karena telah begitu percaya diri untuk menyanggupi tugas ini , tapi ternyata hasilnya luar biasa dan sekarang kalian bisa bangga padaku " lanjutnya yang kali ini berhasil membuat suasana haru berubah menjadi suara tawa , " Terimakasih Sharen , kau juga sangat berjasa disini dan jika aku mendapat hadiah tentu aku akan membagimu " ucapnya pada Sharen yang kini sedang tertawa kearahnya , di ikuti suara tawa penonton yang kembali bergemuruh.
" dan aku juga sangat berterimakasih padamu " sambungnya yang kini ucapan itu di tunjukan pada Hannah , " disini aku di bayar , jadi anda tidak perlu terlalu berterimakasih " balas Hannah tertawa.
" Dan untuk keluarga Remkez , Terimakasih banyak atas dukungan dan kepercayaannya padaku " ucapnya bersungguh-sungguh dengan membungkukkan tubuhnya menghadap kearah tempat duduk Reymond , Viona , Meili dan Mike.
Semua orang-orang itu membalasnya dengan tersenyum hangat , kecuali Meili yang berdelik kearahnya dan Elin tahu perempuan itu pasti sedang kesal , karena ia terdengar seperti sedang mengucapkan terimakasih pada orang lain , tapi dirinya punya alasan kenapa melakukan itu , " Sekali lagi terimakasih untuk dukungan kalian semua" lanjutnya yang kembali di tunjukan pada semua orang.
" Apa tidak ada ucapan terimakasih untuk orang yang paling spesial ? " tanya MC menyela , membuat Elin terdiam sesaat dan matanya kembali melihat ke arah kursi penonton , namun seseorang yang ia cari benar-benar tidak ada disana , " dia tidak disini jadi aku tidak perlu mengucapkan itu " ucapnya dengan dada yang begitu sesak.
" Kau terlihat begitu kecewa nona " ujar pembawa acara dan Elin membalasnya dengan tersenyum kecut.
" Apa harapanmu setelah ini ? " tanyanya lagi.
" Harapan ? , sebenarnya aku bukan orang yang sering menaruh harapan untuk hal apapun karena aku orang yang paling takut kecewa .. " jawabnya dengan begitu dalam , lalu menarik nafas sebelum kembali melanjutkan bicaranya , " tapi aku akan sangat bekerja keras setelah ini , semoga ini menjadi awal yang baik untuk karierku dan ya , akhirnya kali ini aku mempunyai harapan.. " katanya sedikit tertawa.
" Boleh kami tahu apa harapan anda ? "
" emm...hanya hal kecil tapi begitu besar untukku , jika suatu hari nanti kesempatan seperti ini kembali terjadi padaku , aku ingin kedua orang tuaku berada di kursi penonton untuk melihatku lebih nyata , karena aku ingin mengucapkan kata terimakasih di tempat yang membuat mereka sedikit bangga padaku , dan aku juga berharap kedua sahabatku berada disana nanti " ucapnya dengan suara bergetar dan ia harus kembali menunduk karena air mata yang kembali mengalir di wajah halusnya , perasaannya begitu sensitif setiap kali mengingat orang-orang yang begitu ia rindukan.
" oohh..kau benar-benar memiliki hati yang hangat " ucap pembawa acara yang ikut tersentuh oleh harapan kecil Elin.
" Baiklah terimakasih untuk perbincangannya dan obrolan singkat ini berhasil membuat kami cukup mengenal anda nona " lanjut pada Elin sebelum akhirnya mengakhiri percakapannya mereka.
Elin kembali menegakkan wajahnya , untuk tersenyum pada semua orang sebelum ia kembali ke belakang panggung , namun tatapan matanya tiba-tiba tersentak , bahkan membulat dengan sempurna saat melihat beberapa orang yang tidak mungkin berada disana ,namun tiba-tiba hadir di kursi penonton dan tersenyum lebar kearahnya , " apa ini mimpi " ujarnya tidak percaya.
Pembawa acara terlihat mendapat interupsi melalui headphone yang berada di telinganya yang terhubung ke bagian auditorium , " baik " balasnya pelan , sebelum kembali pada tugasnya , " nona Hannah terimakasih untuk waktunya , dan sukses untuk anda " ucapnya pada model terbaik di acara itu dan setelah melemparkan senyuman pada semua orang , Hannah berjalan meninggalkan panggung.
" Anda tetap disini " pintanya pada Elin dan perempuan itu mengangguk , namun tatapannya tidak berhenti melihat kearah beberapa orang yang baru saja hadir di kursi penonton , " sepertinya acara ini tidak akan sempurna jika CEO D.RMS tidak hadir di panggung ini " ucap pembawa acara , bersamaan dengan itu laki-laki bertubuh gagah dengan balutan jas berwarna navy naik ke atas panggung , sekejap suara teriakan histeris penonton kembali bergemuruh , membuat Elin mengalihkan pandangannya untuk ikut melihat pada kehadiran seseorang yang berhasil membuat gedung itu kembali riuh bahkan lebih dari sebelumnya.
__ADS_1
Ia yang tadi tidak fokus pada pembicaraan pembawa acara , menjadi ikut terkejut dengan mata yang kembali membesar saat melihat laki-laki yang sudah membuatnya begitu kecewa , tiba-tiba hadir disana dan tersenyum manis padanya.
" Sepertinya aku benar-benar sedang berhalusinasi " gumamnya tidak percaya pada kejutan yang tiba-tiba hadir untuknya.