Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Selamat Ulang Tahun Sayang ( Daniel )


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, beberapa kali Elin mencuri pandang ke arah wanita paruh baya di sampingnya, " Mam... " panggilnya pelan.


" Hemmm.. " sahut Viona. Dengan wajah yang sejak tadi nampak semuringah, " ada apa nak ? " sambungnya saat menyadari Elin terus menatapnya dengan heran.


" emm.., Mami kenapa terus tersenyum ? " tanya Elin, yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


" Apa begitu ? " tanya balik Viona. Namun, ujung bibirnya tidak berhenti melengkung.


Elin mengangguk, " sejak kita keluar dari Plaza, Mami tidak berhenti tersenyum ".


" Benarkah ? " sahut Viona tak menyangka, lalu kemudian tertawa, " Mami hanya begitu senang hari ini. Belanja bersamamu membuat suasana hati Mami begitu damai " jelasnya dengan mata yang memandang penuh arti pada calon menantunya. Walau itu juga termasuk dari rasa bahagianya saat ini. Namun, bukan itu alasan yang sesungguhnya dari senyum di bibirnya yang tidak berakhir.


" Baguslah Mam. Kalau begitu aku juga ikut senang " sahut Elin tersenyum, " apa mami ingin mampir kemana lagi, sebelum kita pulang ? " tanyanya sambil mengendalikan mobil yang ia lajukan di jalanan jakarta.


Viona tidak menjawab. Namun, tangannya bergerak mengambil benda pipihnya yang berada di dalam tas, " sepertinya tidak nak. sebaiknya kita langsung pulang. Daddymu sudah menunggu ! " balasnya setelah melihat pada layar handphonenya.


" Baik Mam. Katakan pada Daddy bahwa Mami akan segera sampai " ucap Elin tertawa, dengan melajukan mobilnya lebih cepat, dan Viona ikut tertawa dari tempat duduknya.


Kini mobil yang membawa Elin dan Viona telah tiba di halaman rumah keluarga Vernandes, " nak ayo masuk " seru Viona, seraya bergerak keluar dari dalam mobil.


Ia menyadari sikap Elin yang sepertinya enggan untuk turun.


" Sepertinya aku tidak mampir ya Mam. Badanku sudah begitu lengket dan ingin cepat mandi " ucapnya pada Viona.


Wanita paruh baya itu terdiam sejenak, seraya merubah raut wajahnya menjadi memelas.


" Dan sudah malam, untuk aku pulang sendiri " sambungnya lagi.


" Sebentar saja hemm.., orang-orang pasti akan bertanya kenapa kau tidak mampir " pinta Viona. Kini Elin yang terdiam sejenak. Sebenarnya, bukan ia tidak ingin mampir, hanya saja ia sudah kepalang kesal karena pesannya yang tidak di balas, sementara di rumah itu di pastikan ia akan bertemu dengan penyebab suasana hatinya yang kacau.


" Baiklah. Hanya sebentar ya mam. Setelah itu aku harus pulang ".


" Siap " balas Viona tersenyum senang.


Dahi Elin sedikit berkerut saat masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan siapa-siapa disana. Rumah megah itu begitu hening untuk di tinggali orang-orang yang cukup ramai.


Bahkan tidak terdengar suara rewel dari si kecil Naina, yang biasanya sudah terdengar dari ambang pintu utama.

__ADS_1


" Apa semua orang sudah tidur Mam ? " tanyanya heran, sambil mengamati setiap sudut ruang yang ia lewati.


" Ntahlah. Mungkin saja " jawab Viona sekenanya, karena matanya ikut melihat kesana kemari, dengan dahi yang sedikit berkerut. Bahkan masih sempat ia mencari benda pipihnya pada saat itu.


" Apa Daniel juga pergi Mam ? " tanya Elin kembali, di sela pandangannya yang menatap heran pada sekelilingnya.


" Ayo kita ke taman belakang. Mungkin semua orang sedang berada disana " ajak Viona dan Elin mengangguk, seraya ikut bergerak. Tapi baru saja ia ingin melangkah tiba-tiba sepasang tangan mendekap ke dua matanya. Bahkan terasa ada suatu benda yang di kalungkan di tubuhnya.


" Astaga, ada apa ini ? " serunya di tengah matanya yang tertutup, dan kini matanya tidak lagi tertutup oleh sepasang tangan, melainkan berganti dengan selembar kain.


" Ya ampun, siapa yang melakukan ini ? " teriaknya ke susahan di tengah pandangannya yang gelap, sementara tidak ada terdengar suara yang bisa ia kenali., " Green apa ini kau. Aku yakin ini ulahmu " racaunya, dan ucapannya itu berhasil membuat suara tawa tertahan terdengar.


" Green jangan gila. Apa yang ingin aku lakukan, buka mataku " serunya menjadi-jadi, di tengah tubuhnya yang kini di bawa bergerak dari tempatnya, " Mam, help me " pintanya pada Viona. Namun, suara wanita paruh baya itu tidak lagi terdengar.


Langkah Elin kini terhenti, saat langkah seseorang yang membawanya juga berhenti, " Green jangan membuatku takut. Aku sungguh akan memukulmu setelah ini " racaunya begitu kesal. Namun, di tengah pandangannya yang gelap ia bisa merasakan ada banyak penerangan di hadapannya. Kemerlipan cahaya mulai terasa dari sudut matanya yang tertutup. Dan perlahan kain penutup di matanya pun terbuka.


" Surpriseee " teriak semua orang bersamaan, tepat ketika ia membuka matanya.


Pandangan Elin tertegun, pada kue ulang tahun di hadapannya dan bersamaan jantungnya berdegub begitu cepat, bahkan tubuhnya hampir bergetar saat ini.


Matanya kini teralih pada setiap wajah yang berada disana. Dan menemukan semua orang terdekatnya.


Tidak ada ekspresi dari wajahnya saat ini, dan itu berhasil membuat suasana gembira semua orang kini perlahan menghening.


" Green kau tahu aku tidak suka ini " ucapnya lemah, menatap pada sahabatnya yang kini berdiri tidak jauh darinya.


" Sayang... " panggil Daniel begitu lembut.


" Kami semua tahu apa yang terjadi. Tapi mulai sekarang cobalah untuk tidak membenci hari ini lagi. hari dimana kau di lahirkan " ucapnya pada Elin dan perlahan Green juga mendekat, " sudah saatnya aku bergembira untuk hari kelahiranmu Elin. Karena kami sendiri Gembira, karena kau ada di tengah kami " ucapnya begitu tenang dan menatap dalam pada sorot mata Elin yang kini juga menatapnya.


" Tidak ada lagi yang harus di sesali. Bukankah sekarang semuanya sudah membaik ? " sambungnya dengan senyum yang begitu teduh.


" Jangan mengutuk hari ini lagi " tambah Green, " Sekarang kau sudah melihat sisi baik dari buruknya hari itu, bukan ? "


Elin terdiam sejenak dan menatap lamat pada senyum Green, lalu beralih pada wajah semua orang yang kini menatapnya penuh arti dan menunggu wajah bahagia darinya.


" Lepaskan semuanya Elin. Kau lihat semua orang ada untukmu hari ini... " lanjut Green, sambil mengarahkan tangannya pada semua orang.

__ADS_1


" Lilinnya hampir meleleh " ucap Elin tiba tiba. Membuat Green kebingungan dengan maksudnya, " maksudmu ? " tanyanya heran.


" Lilinnya hampir meleleh Green " seru Elin dengan nada yang meninggi, sambil menunjuk pada kue di hadapannya.


" Oh astaga " balas Green ikut panik, " tolong cepat nyanyikan lagu ulang tahun " serunya pada semua orang dan tanpa menunggu semua orang bernyanyi.


" Selamat ulang tahun, Selamat ulang tahun, selamat ulang, selamat ulang, selamat ulang tahuuuunnn..... " nyanyi semua orang dengan begitu tergesa-gesa mengingat lilin yang hampir habis meleleh.


" Elin tiup lilinnya " teriak Green dan Amel yang kini ikut mendekat ke sisi mereka.


Elin masih sempat tersenyum melihat keberadaan Amel di dekatnya, lalu menarik nafas begitu dalam untuk meniup lilin-lilin yang bertebaran di atas kue ulang tahun untuknya.


" Selamat ulang tahun Eliiinnnnnn... " teriak Green, Amel begitu gembira. dan juga Meili, Nathan dan Alfin.


" Selamat ulang tahun nak " seru orang-orang tua yang berada disana. Tidak ada orang tua yang tidak hadir malam ini, bahkan kedua orang tua Green dan Amel juga ikut berada disana untuk merayakan hari kelahirannya.


" Selamat ulang tahun sayang " ucap Daniel dengan begitu lembut, suara beratnya terdengar begitu maskulin malam ini. Bahkan ia terlihat begitu tampan dengan jas putih yang yang ia gunakan, serta terlihat semakin romantis bersama tumpukan mawar di tangannya.


" Ini tidak adil. Bagaimana bisa kalian begitu cantik, sementara penampilanku seperti ini " protes Elin di tengah ucapan semua orang. dan do'a-doa untuknya kini berganti menjadi gelak tawa semua orang.


" Masih sempatnya kau protes dengan hal seperti ini " seru Green.


" Apa kau tidak lihat penampilan Daniel. Kalau seperti ini aku terlihat seperti upik abu dan pangeran Green " protesnya, membuat semua orang tidak berhenti tertawa.


" Mau apa bentukmu. Semua orang tahu kau Queen di hati pangeran kota New York " timpal Amel dan Daniel mengangguk menyetujui, " Terima dulu bungaku sayang " pintanya.


" Astaga Maaf. Bukan maksud mengabaikan " ucap Elin sambil mengambil bunga mawar di tangan Daniel.


" Tidak begitu juga Elin. Kau benar benar tidak ada romantis-romantisnya " protes Green pada tingkahnya.


" Memangnya mau gimana lagi " balasnya tidak mengerti.


" Mungkin maksud Green seperti ini " ucap Daniel dengan tangan yang bergerak menarik wajah Elin ke hadapannya, dan tanpa ijin ia mengecup ranum bibir perempuan itu di hadapan semua orang.


Mata Elin membulat seketika dengan tubuh yang sudah mematung. Bagaimana tidak, ia baru saja berciuman di hadapan kedua orang tuanya saat ini.


Jantungnya berdegub begtiu cepat, bahkan jika tidak di tahan, mungkin tubuhnya sudah ambruk saat ini, akibat menahan rasa malu yang luar biasa.

__ADS_1


" Sekali lagi selamat ulang tahun sayang " ucap Daniel tanpa rasa bersalah, setelah mengecup cukup lama bibirnya.


__ADS_2