Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Romansa Pengantin Baru


__ADS_3

" Morning ", sapa Meili, saat tiba di hadapan meja makan. Ia sedikit terkesiap ketika menemukan Reymond disana, " morning princes ", jawab lelaki paruh baya itu tersenyum. Dan Meili ikut tersenyum, walau sedikit hambar.


Ini pagi mengejutkan untuknya, mendapati lelaki paruh baya itu ada di meja makan, untuk menikmati sarapan bersama.


" Kau tidak membalasku ", tegurnya pada Daniel.


" Ya morning ", balas Daniel sekenanya.


" Aku masih ngantuk Meili. Jangan menggangguku ", katanya lagi.


" Masih ngantuk ?", serbu Meili ,"memang apa yang kau lakukan sepanjang malam huh. Setelah makan malam, aku tidak melihat kalian keluar kamar tidur ", sambungnya. Reymond tersenyum saat itu. Dan Daniel masih dengan wajah mengantuknya, mengidahkan celotehan Meili.


" Oh ya, aku lupa kalian pengantin baru ", katanya lagi, setelah tersadar oleh senyum Ayahnya.


" Awas saja kalau istrimu tidak cepat hamil ", katanya lagi. Mata kantuk Daniel bereaksi, menatap tajam padanya, " apa yang akan kau berikan padaku, kalau kakak iparmu segera hamil huh ?".


" Tidak ada ".


" Lantas kenapa kau menantangku ? ".


" Siapa yang menantangmu ?, dasar tamak. Memangnya kau mau apa lagi dariku. Harta di keluarga ini, hampir sepenuhnya milikmu, jadi apalagi yang aku minta huh ", sergah Meili.


" Kenapa jadi membicarakan harta ", sambung Daniel.


" Memang apa yang kau minta dariku ".


" Ya bisa saja tenaga, kau akan menjaga kakak iparmu ".


Meili terdiam sejenak, " boleh kalau seperti itu. hitung-hitung aku belajar ". katanya tersenyum. Daniel menatapnya heran, begitu pun Reymond.


" Belajar. Seperti yang akan menikah saja ", sergah Daniel.


" Memang akan, sebentar lagi ", sahut Meili sekenanya. Reymond dan Daniel saling bertatapan.


Dan bersamaan, dari arah dapur Elin dan Viona datang kemeja makan.


" Morning Mam, morning kakak ipar ", kata Meili menyapa.


" Morning Meil ", balas Elin, sembari duduk di samping Daniel.


" Morning my princes. Kau sudah bangun ? ". tanya Viona seperti tak percaya, Meili mengangguk, " kalau aku tidak bangun, aku masih di kamar mam ", protesnya.


" Kau juga sudah mandi ? ", kata Viona lagi. Seperti benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dan Meili kembali mengangguk, sambil mengambil Sandwich, " Jerry menyuruhku mandi ", ucapnya sambil mengunyah.


Semua orang saling bertatapan, mendengar itu. Bahkan mata Viona sedikit membesar, lalu tersenyum, begitu pun Elin.


" Sepertinya kita akan cepat kembali ke Indonesia lagi ", ujar Elin menyambung, Melirik ke arah Meili. Tapi perempuan itu mengangguk, seolah membenarkan, dan membuat semua orang di meja makan kembali bertatapan, " aku akan secepatnya kembali ke Indonesia ", katanya tanpa malu.


" Mau Mami temani ", timpal Viona. Dan Meili menggeleng, " aku harus menyelesaikan ini sendiri Mam ".


" Kalian baru ikut. Kalau kami akan kembali tunangan ", katanya lagi.


" Jadi ini benar tentang Jerry ? ", sambung Elin.


" Memangnya siapa lagi !".


" Akhirnya kau benar-benar memilih dia Meil ? ", tanya Elin lagi, dan saat itu Meili terdiam sejenak.


" Kenapa harus kembali tunangan, bukannya kalian sudah tunangan kemarin ". Viona tiba-tiba menimpali.


" Itu hanya pertemuan Mam, lagi pula saat itu aku belum menyukainya ".


" Kalau nanti itu terjadi. Sebaiknya keluarga mereka yang datang kemari ". kata Daniel ikut bergabung dalam obrolan itu.


" Kenapa jadi kau yang mengatur ", sahut Meili.


" Aku punya hak Meili ", ucap Daniel tegas. Dan setelah itu, ia berhasil mendapat cubitan dari tangan Elin, " memangnya apa yang salah sayang. Aku kakaknya, aku punya hak, untuk mengatur bagaimana rencana pertunangannya ". katanya protes pada Elin.


" Keputusanmu ada pada urutan ketiga. Masih ada Papi dan Mami ", ucap Elin tegas.

__ADS_1


Tanpa sadar semua orang menoleh ke arah Reymond. Kehadiran pria itu, di meja makan, di pagi hari, memang masih terasa asing. Ini sudah sangat lama tidak terjadi. Dan Daniel, terbiasa menjadi pemimpin dalam keluarga itu.


" Tidak seperti itu nak. Suamimu pemimpin di keluarga ini ", ucap Reymond tersenyum. Suasana menghening .


" Mam ada apa dengan Sandwichmu hari ini ? ", celetuk Meili, di tengah keheningan.


" Apa tidak enak ? ", sambung Elin cepat.


" Hemmm ", Meili mengangguk begitu jujur.


" Astaga maafkan aku. Abaikan saja Sandwichnya ", sergah Elin, dengan mengambil piring penuh potongan Sandwich di atasnya.


" Tidak apa-apa nak. Seperti itu lah orang belajar ", kat Viona mencegah.


" Kau yang membuatnya sayang ? ", tanya Daniel, dengan menatap pada istrinya. Elin mengangguk lemah.


" Astaga maafkan aku kakak ipar. Sungguh aku tidak bermaksud ", ucap Meili gelagapan. Ia menjadi sangat bersalah, saat melihat wajah sedih Elin, " sungguh maafkan aku. Tidak Sandwich buatanmu tidak begitu buruk ", katanya meralat kembali ucapannya, sambil ingin kembali mengunyah potongan yang masih di tangannya. Tapi Elin, lebih dulu menyambarnya, dan meletakkan kembali, Sandwich dengan satu gigitan bekas Meili, ke atas piring.


" Jangan memaksakan diri. Aku khawatir kalian akan sakit perut ", katanya tersenyum. Tapi sinar matanya begitu kecewa. Bukan pada ucapan Meili, tapi pada hasil masakannya.


" Tidak-tidak apa nak. Seperti itu orang belajar. Dulu juga Mamimu begitu ", kata Reymond, " bahkan lebih parah ", sambung Viona tertawa. Sungguh itu tidak pernah terjadi. Mereka hanya ingin menyenangkan hati menantu kesayangannya itu. Viona perempuan yang serba bisa dalam segala hal, dan itu lah alasan Reymond, mencintainya dulu. Viona, wanita yang mengagumkan.


Elin terlihat lebih tenang, meski masih memegang piring di atas Sandwich buatannya. Dan tangan Viona bergerak mengambil potongan itu, " jangan cemas. Seperti itu lah orang belajar nak. Usahamu bangun pagi demi belajar membuat ini, jauh lebih kami hargai ", katanya sambil membawa potongan itu mendekat ke arahnya, begitu juga Reymond.


Saat itu, Meili memukul kecil bibirnya. Ia semakin merasa bersalah, setelah mengetahui usaha Elin pagi ini. Dan ia, tak lagi bisa mengucapkan apapun.


Daniel tiba-tiba bergerak dari duduknya, mengambil semua Sandwich yang ada dalam piring, " jangan di makan lagi ", titahnya. Elin menatapnya terkejut, " tolong masukan ini ke dalam kotak makanan, dan siapkan. Saya akan membawanya ke kantor ", titahnya lagi pada pelayan.


" Kau mau membawa bekal ini ? ", sergah Elin, dan Daniel mengangguk, " aku ingin makan, makanan buatan istriku sepanjang hari ", ucapnya tersenyum manis.


Viona mengulum bibirnya saat itu.


" Jangan sayang. Kau akan sakit perut ". kata Elin merebut kembali piring Sandwich.


" Tidak akan ", balas Daniel, dengan menarik kembali piring itu.


" Aku akan membuatkannya lagi nanti ".


" Ya, jangan hanya bisa mengomentari ", timpal Daniel. Dan ia tak melawan, rasa bersalahnya pada Elin sangat besar. Meski ingin sekali, ia memaki kakaknya saat itu, " Bagaimana kalau nanti Mam ?", sergahnya.


Viona menatap bingung, " apanya ? ".


" Belajar bikin Sandwich ", sahutnya. Viona sedikit tersentak mendengar itu, " kau yakin ? ".


" Yakin, aku tidak tahu juga apa yang akan aku lakukan hari ini. Jerry tidur, jadi sebaiknya aku belajar masak saja ".


Semua orang saling melempar pandangan saat itu, dan sedikit mengulum bibirnya. Termasuk Elin, sejenak dia melupakan kecewanya oleh rasa dari Sandwich buatannya pagi ini.


" Enak ", ucap Reymond, yang akhir berhasil menggigit sandwich yang sejak tadi terus tertunda. Lalu, kemudian Viona menyusul menggigit makanan itu, " ya enak ", katanya seperti menggantung. Melirik pada Elin, yang menatap cemas pada mereka. Daniel seolah tak mau kalah, dengan ikut menggigit sandwich yang baru ia ambil, dari piring di tangannya.


" Serius enak ? ", tanya Elin memastikan.


Rahang Daniel mengeras saat itu. Menahan untuk mulutnya tidak memuntahkan isi di dalamnya, dan ia mengangguk, " sangat enak sayang ", katanya setelah berhasil menelan makanannya. Tapi saat itu wajahnya sedikit memerah.


" Kau yakin sayang ? ", sergah Elin.


Daniel kembali mengangguk, " hanya perlu sedikit belajar lagi ", katanya memberitahu. Meili memperhatikan semua wajah orang di atas meja, kecuali Elin. Dan Ia mengulum bibirnya untuk tak tertawa saat itu juga. Ia memang merasa bersalah pada Elin, tapi ia tak membenarkan yang di lakukan oleh Viona, Reymond dan Daniel. Mereka bertiga, benar-benar sedang berbohong, demi untuk tidak membuat kecewa perempuan itu.


Rasa Sandwich itu sangat mengecewakan, seolah, sayur, keju, daging lapis dan Roti tidak menyatuh di dalam lapisan itu.


" Morning ", sapa Reza, yang datang dengan jas berwarna abu-abu, warna yang menjadi andalannya.


" Duduk Reza, sarapan bersama kami ", pinta Viona, sang Nyonya besar dari rumah itu. Dan Reza tak mungkin menolaknya, meski perutnya hampir meledak oleh makanan saat itu.


Ia mengambil tempat duduk di seberang Daniel.


" Reza ", panggil Elin lemah.


" Ya Nyonya Muda ", balasnya sembari mengangguk. Semua orang menatap panik, saat Elin mengambil piring sandwich dari tangan Daniel.

__ADS_1


" Ini milikku sayang ", sergah Daniel mencegah, mempertahankan piring itu di tangannya.


" Reza harus mencobanya. Kalau dia juga mengatakan rasanya tidak buruk, aku baru yakin ", titah Elin.


" Ini milikku, aku tidak mau membaginya dengan siapa pun ".


" Satu potong saja. Aku harus memastikannya ", kata Elin, bersikukuh ingin mengambil makanan hasil buatannya.


Daniel mencuri pandang pada Viona saat itu, lalu bergantian pada Reymond. Sementara Meili, sudah menutup mulutnya, menahan untuk tidak tergelak saat itu juga.


" Reza, aku membuat sandwich pagi ini. Mau kah kau mencobanya ? ", kata Elin, menyodorkan piring sandwich yang berhasil ia rebut dari tangan suaminya.


" Tentu Nona, dengan senang hati ", balas Reza tersenyum senang, seraya mengambil sepotong makanan itu, dan tanpa menunggu ia menggigitnya. Pupil matanya, membesar setelah itu.


Dan bersamaan, Meili benar-benar mendekap rapat mulutnya.


" Pasti enakan Reza, ini buatan pertama istriku ", tukas Daniel tersenyum. Tapi matanya berdelik pada lelaki itu, bahkan nyaris membesar.


" Sungguh enak Reza ? ", tanya Elin tak yakin. Lelaki itu bahkan belum menelan makanan buatannya itu, dan beberapa detik kemudian, itu terjadi, tapi wajahnya memerah.


" Enak Nyonya ", katanya memberitahu, sambil melirik pada Daniel, " bahkan sangat enak " tambahnya.


" Habiskan potongan itu, kalau begitu ", titah Daniel padanya. Dengan sangat berat, Reza mengangguk, seraya memasukan kembali potongan sandwich itu, ke dalam mulutnya.


" Semua sisa ini akan aku bawa ke kantor. Dan hari ini aku berbaik hati, untuk membaginya denganmu ", kata Daniel lagi. Mata Reza kembali membesar mendengar itu, dan saat itu juga, ia berhasil menelan potongan sandwich di mulutnya, tanpa mengunyahnya.


" Cepat habiskan makananmu Reza, kita sudah hampir terlambat ", sergah Daniel. Reza, langsung meneguk air minum di hadapannya, lalu menggigit lagi potongan sandwich, lalu kemudian minum lagi.


" Pelan-pelan Reza ", ucap Elin, " kau sungguh suka dengan sandwich buatanku ". katanya lagi, dan pria itu mengangguk.


" Sayang, nanti bagi sisa sandwich itu padanya juga ", katanya pada Daniel, " tentu", sahut lelaki itu dengan mengangguk, " aku pasti akan membagikanya, dia pekerja terbaikku ", lanjutnya.


Reza menatap pada sisa potongan sandwich di atas piring, " empat potong ", gumamnya.


" Kau merasa kurang Reza", sergah Elin, yang mendengar gumamannya.


" Tidak, tidak Nyonya muda, ini cukup ", katanya sembari menggeleng. Dan saat itu, ingin sekali Meili pergi dari meja makan, dan tertawa sepuasnya tanpa terlihat oleh Elin.


" Kalau begitu nanti, khusus aku akan membuatkannya untukmu ", kata Elin tersenyum, dan Reza mengangguk dengan terpaksa. Ia bukan seseorang pembohong, tapi hari ini, ia melakukannya demi menyenangkan hati perempuan itu, dan demi gajinya tidak di potong oleh Daniel.


" Sebentar, aku akan memasukkan ke dalam kotak makanan ", kata Elin, seraya ingin membawa piring dengan empat potong sandwich di atasnya.


" Biar saya yang melakukannya Nyonha muda ", sergah Jemie, menghentikan kakinya yang mulai ingin melangkah. Elin menghela dan berdelik pada wanita itu. tapi sekarang bukan saatnya dia protes. Daniel sudah harus berangkat, dan dia harus segera menyiapkan sisa sandwich itu ke dalam kotak makanan, " biar aku saja Bibi ", katanya, sambil melangkah cepat, ke arah dapur mewah dalam kastil tempatnya tinggal.


Dari mulai kemarin ia kembali, ia lebih senang menyebut mansion besar tempat tinggalnya itu, menjadi kastil. Tidak ada alasan yang jelas sebabnya, tapi dia sungguh menyukainya.


Semua orang saling berpandangan, ketika Elin pergi dari meja makan.


" Tahan Reza, jangan kau muntahkan makanan itu disini ", titah Daniel. Dan Meili sudah tidak bisa menahan, untuk tidak tergelak saat itu, " Meili, tutup mulutmu ", sergah Daniel kembali,dan saat itu langkah kaki Elim, telah kembali ke arah meja makan, dengan membawa kotak makanan, di tangannya.


" Terimakasih sayang ", ucapnya, menyambut kotak makanan itu, lalu beranjak dari duduknya.


" Pegang dengan baik ", katanya memberi kotak itu pada Reza, " ini makan siang terbaik kita hari ini ", tambahnya. Sungguh saat itu, Reza ingin memutahkan kembali makanan yang setengah mati ia telan.


Meili tidak berhenti tergelak, saat Elin, Daniel dan Reza, sudah menghilang dari ruang meja makan. Ia bahkan sampai memegangi perutnya sendiri, " kocak ", katanya dengan bahasa Indonesia, dan saat itu Viona langsung menoleh. Ia sangat terkejut ketika mendengar perempuan itu, mengucapkan kata persuatif. dan Meili tidak sepasih itu dalam berbahasa Indonesia. Tapi selama berada di indonesia, tanpa sepengetahuannya, perempuan itu mempelajari setiap kata bahasa itu. Bahkan bahasa-bahasa gaul yang sering di ucapkan oleh Green dan Amel. Ia seperti sangat berminat, untuk membuat dirinya menjadi perempuan Indonesia.


" Hentikan Meili. Kakak iparmu akan segera kembali dan dia akan menemukan kau tertawa ", sergah Reymond.


" Ini terlalu lucu papi ", sahutnya sambil terus tertawa, " sungguh kalian masih punya waktu untuk memuntahkan sandwich itu ", katanya lagi. Dan saat itu, wajah memerah Reymond tidak bisa berbohong.


~


Daniel mengecup dahi Elin, " terimakasih usahanya untuk membuat sandwich pagi ini ", ucapnya. Sungguh kali ini dia tidak berbohong, dia benar-benar menghargai hal itu, dan Elin mengangguk dengan tersenyum. Ia benar-benar senang karena hal itu, " sampai bertemu nanti ", ucapnya pada Daniel.


" Aku akan menjemputmu nanti siang ". ucap Daniel, mulai ingin beranjak.


" Apa sebaiknya kita bertemu langsung disana ", kata Elin memberi saran, tapi Daniel langsung menggeleng, " kita harus pergi bersama ", titahnya tanpa ingin di bantah, dan Elin mengalah, " baiklah ", jawabnya tersenyum.


Daniel yang hampir sampai ke ambang pintu mobil, tiba-tiba kembali lagi ke hadapan Elin, " ada apa ?, Apa ada sesuatu yang tertinggal ", tanyanya panik.

__ADS_1


" Kecupan. Aku lupa mengecup bibir istriku ", sahut Daniel tersenyum lebar, dan tanpa menunggu jawaban perempuan itu, ia menyergap bibir ranumnya, ********** dengan sangat mani, semanis paginya hari ini. tapi tak termasuk, sandwich.


Reza menghela, melihat adegan romantis di hadapannya, " romansa pengantin baru ", gumamnya. Dan kembali menghela, ketika menatap kotak makanan di tangannya, " hariku akan benar-benar tersiksa hari ini", katanya mengeluh. Dan saat itu, perutnya kembali merasa mual.


__ADS_2