
" emmm tunggu " ujar Elin membuat keduanya ikut menghentikan geraknnya masing-masing , " apalagi Elin , jangan bilang kalau kau berubah pikiran " sahut Amel dengan cemberut , karena ia yang paling bersemangat dalam hal ini.
" Tidak , aku tidak merubah pikiranku tapi sepertinya kita tidak mungkin keluar dengan make up dan pakaian seperti ini " jelasnya ,membuat ke dua sahabatnya kembali berpikir , " kau benar Elin , tiga laki-laki menyebalkan di luar pasti akan curiga " sambung Green membenarkan.
" Gunakan pakaian yang biasa saja " pintanya yang kembali mencari pakaian yang ia gunakan sebelumnya.
" Yang benar saja Elin , sejak kapan kita berpenampilan biasa saja untuk sebuah pesta " cercah Amel dengan wajah cemberut.
Plak
Tangan Green mendarat di kepala Amel begitu saja , " kenapa kau masih saja begitu bodoh huh , kita bisa menukar pakaian kita di dalam mobil " geramnya sedangkan Amel masih meringis oleh rasa perih akibat tangan perempuan itu , " kau sudah melakukan kekerasan Green " protesnya yang justru membuat Elin tertawa dari tempatnya.
" Hentikan tingkah kalian , kalau ingin cepat-cepat berpesta " teriaknya , dan berhasil membuat dua perempuan itu cepat bergegas.
~
" ingat , katakan nanti pada mereka kalau kita ingin pergi ke apartemenku " ucap Elin dan kedua sahabatnya mengangguk.
" Mel pastikan mulutmu bicara dengan benar nanti " tambah Green supaya perempuan itu tidak salah bicara dan menggagalkan semuanya , " siap " jawabnya dengan mengangkat kedua ibu jari tangannya.
~
Alfin baru saja selesai membuat tiga gelas kopi instant lalu kemudian membawanya ke arah sofa dimana mereka sedang menikmati suasana malam-malam terakhir di kota New York , ntah mengapa ia begitu rajin malam ini walau semua pekerjaan itu bisa teratasi oleh pelayan-pelayan dirumah Daniel " Bagaimana bisa orang tuamu berpikir untuk membuat rumah seluas ini Rem " ucapnya setelah langkahnya semakin dekat dengan keberadaan sahabat dan saudaranya.
" Ntahlah , kadang aku juga berpikir seperti itu " sambung sang pemilik rumah sambil tertawa.
" Untuk membawa kopi kemari pun aku benar-benar butuh tenaga untuk berjalan karena begitu jauh "
" Padahal rumah Nathan sudah begitu besar tapi rumahmu lebih... "
" Kenapa kau bicara seolah itu bukan rumahmu huh " potong Nathan membuat laki-laki itu tidak lagi melanjutkan bicaranya ,bahkan mimik wajah Nathan memperlihatkan dengan begitu jelas kalau ia tidak suka dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut saudaranya itu , " ya maksudku rumah kita " balas Alfin segera demi menghindari perdebatan , karena ia yakin ia tidak akan menang dalam hal itu.
Tak tak tak " suara langkah kaki pada anak tangga berhasil membuat tiga pria itu mengalihkan tatapannya.
" Sayang kenapa belum tidur ? " tanya Daniel yang langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah wanita yang kini masih menuruni anak tangga ,
Jantung Elin sedikit berdebar dan khawatir jika dirinya tidak bisa berbohong dan memang ia tidak mahir dalam hal itu terlebih pada orang-orang yang begitu ia cintai.
" Emmm , kami tidak bisa tidur " jawabnya setengah gugup dan tangannya menggenggam erat pada outer yang kini sedang membalut tubuhnya , " apa kalian ingin bergabung ? " sambung Nathan.
" Tidak sayang " sahut sang istri , sambil tersenyum dan berusaha sesantai mungkin ia berjalan mendekat pada sofa dimana suaminya kini duduk .
__ADS_1
" Amel dimana Green ? " tanya Alfin yang tidak melihat keberadaan istrinya disana dan bersamaan suara langkah kaki menuruni anak tangga kembali terdengar.
" Ayo " ajak Amel begitu enteng membuat kedua sahabatnya saling berpandangan dan Elin terlihat menelan ludahnya.
" Sayang kami bosan disini , dan kini kami penasaran seperti apa apartemen tempat tinggal Elin " sambung Amel manja sambil berjalan menuju kearah suaminya , " apa kalian mau kesana sekarang ? "
" Ya sayang "
" Kalau begitu kami juga ikut " sambung Daniel.
" emmm..jangan " ujar Elin yang tanpa sadar kalau ia sedikit berteriak dan membuat Dani sedikit terkejut , " emm maaf sayang aku tidak bermaksud berteriak , dan emm biarkan kami pergi sendiri , kami hanya sedang ingin melewati waktu bersama " sambungnya dengan nada yang begitu lembut dan sesantai mungkin walau sebenarnya kakinya sudah bergetar karena takut.
Daniel tersenyum lalu merapatkan tubuhnya pada Elin , " Baiklah jangan pulang terlalu malam " ucapnya sambil mengecup dalam pada ujung kepala perempuan itu.
" Terimakasih sayang " ucapnya tersenyum kaku.
" Kalau begitu kami pergi dulu " pamit Green pada suaminya , begitu pun Amel " Bye sayang " ujarnya pada Alfin.
" Tunggu " ucap Alfin tiba-tiba membuat tiga perempuan itu harus menghentikan langkahnya dengan perasaan yang sedikit panik , " ada apa lagi sayang hemmm? " sahut Amel.
" Apa itu ? " tunjuk Alfin pada ransel yang sedang berada di punggung istrinya.
" oh eemmm ini... "
" Ya ini pakaian kotor Elin , kenapa apa kau ingin melihatnya sayang ? " timpal Amel dan Alfin dengan cepat menggelengkan kepalanya , " pergilah dan jangan pulang terlalu larut " ucapnya lagi.
" iya suamiku " balas Amel lalu kembali berjalan menuju pintu utama.
" Telepon jika ingin di jemput " ucap Daniel pada Elin dan perempuan itu mengangguk dengan senyum yang di penuhi rasa bersalah.
" Tuhan please berbaiklah pada kami malam ini , walau sebenarnya selama ini kau sudah begitu baik " racau Amel sambil berjalan masuk ke dalam salah satu mobil Daniel berwarna hitam yang saat ini akan di gunakan oleh Elin , karena ia tidak mungkin menggunakan mobilnya yang hanya memiliki dua kursi.
~
Mobil hitam itu telah sampai di perkarangan rumah Vale yang masih menjadi tempat tinggal sementara Hannah , " ayo masuk " ajak Elin pada kedua sahabatnya dan dua perempuan itu begitu bersemangat untuk turun dari dalam mobil.
" Aku sudah menunggu kalian sejak tadi " ucap Hannah sambil membuka pintu , " kau pasti tahu ada begitu banyak drama yang harus kami lakukan untuk sampai kemari " sahut Elin sambil berjalan masuk ,
" aku sudah menebaknya " ujar Hannah tertawa.
" Hai Hannah " sapa Green dan Amel bersamaan.
__ADS_1
" Hai , ayo masuk dan cepat ganti pakaian kalian karena kita sudah tidak punya banyak waktu " balasnya dengan terus tertawa , " aku curiga kalau kalian tidak benar-benar berniat untuk menemaniku mencari Meili " ucap Elin dan tiga perempuan itu hanya menanggapinya dengan tertawa bersamaan , " adik iparmu sudah besar Elin dia tidak akan hilang di kotanya sendiri , dan yang kita lakukan hanya ingin tahu dimana keberadaannya lalu ikut bersenang- senang " ujar Hannah.
" Ternyata kau sama gilanya dengan mereka " tunjuk Elin pada kedua sahabatnya.
" Dan juga kau sendiri " balas Green yang berbalik menunjuk kearahnya.
Hampir satu jam berlalu namun ke empat perempuan itu baru saja selesai bersolek dengan pakaian yang sudah sangat siap untuk berpesta , " oh ini benar-benar di luar perkiraan " ucap Green saat melihat dirinya di cermin dengan pakaian minim yang ia gunakan , " tubuhmu benar-benar masih seperti tubuh seorang gadis " puji Hannah.
" Kau bercanda Hannah , ini terlihat bagus karena aku menggunakan pakaianmu "
" Kau salah nona pakaian terlihat bagus karena siapa yang menggunakannya bukan karena bajunya "
" Terimakasih dan maaf telah merepotkanmu "
" Aku senang di repotkan " balas model itu lagi ,
Green tersenyum senang menatap melihat tubuhnya di cermin , ia tidak percaya bahwa tubuh ibu satu anak ini masih begitu cocok dengan mini dress berwarna silver dengan punggung yang terbuka , lalu kemudian ia geraikan rambut panjangnya ke belakang berusaha untuk menutupi sedikit punggungnya namun justru itu membuatnya terlihat semakin seksi dengan bibir sensual yang ia miliki , yang saat ini ia pemanis dengan lispstik berwarna Edgy Plum.
Sedangkan Hannah ia terlihat simple namun tetap elegan dengan gaun mini berwarna hitam di tubuhnya dan sedikit berbeda ia memilih mengikat rambutnya membuat leher jenjangnya terlihat begitu seksi.
" Amel Elin apa kalian belum selesai " teriak Green dan kemudian suara kaki saling beradu mulai terdengar berjalan keluar dari dalam ruang tidur Hannah , " i'm done " ucap Amel sambil memutar tubuhnya untuk memperlihatkan rok mini berwarna putih dan tube top hitam yang ia gunakan , " kau benar-benar terlihat seperti remaja Amel " puji Hannah padanya.
" Terimakasih nona model , kau juga sangat cantik " balasnya.
" Bagaimana dengan penampilanku ? " tanya Elin yang baru saja bergabung.
" Perfect " puji tiga temannya bersamaan.
" Kalian yakin ? "
" Tentu Elin , kau memang selalu begitu cocok dengan penampilan ini " puji Green yang tidak berhenti menatap penampilan Elin yang kini sedang menggunakan tube top berwarna kuning terang dan celana jeans serta highheels berwarna senada dengan tube top yang iya gunakan.
" Benar-benar tidak akan ada yang menyangka kalau salah satu dari kita adalah seorang ibu beranak satu " ujar Hannah memuji penampilan mereka.
" Kau terdengan memuji dan menyindir secara bersamaan Nona " balas Green namun dengan bibir yang tertawa.
" Tidak , tidak aku sungguh memuji Green "
" Jangan di pikirkan , aku tahu itu " ucap Green yang masih tertawa dan ia tahu kalau Hannah sedang berusaha menjelaskan kalau ia benar-benar tidak bermaksud untuk menyindir.
" Come guys , aku sungguh tidak sabar untuk menggoyangkan kakiku " teriak Amel yang sudah berjalan untuk menuruni anak tangga , " ingat kita ingin mencari Meili Mel , bukan untuk berjoget " omel Elin sambil mengambil beberapa barang yang akan ia bawa.
__ADS_1
" Ya itu " balas perempuan itu sambil mengangguk.