Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Aku Mohon


__ADS_3

Elin sudah kembali dengan lipatan tangan yang terplester oleh bekas jarum suntik pengambilan darah dan beruntungnya ia memiliki golongan darah B rhesus positif yang sama dengan golongan darah yang dimiliki oleh Daniel , seolah semua di lancarkan tanpa hambatan.


Setibanya , Hannah langsung merangkul tubuhnya , " kau benar-benar begitu hebat Elin " ucap Hannah menatap kagum , bagaimana bisa perempuan itu masih berpikir untuk mendonorkan darahnya dengan tubuh yang begitu lemah.


" Sama sepertimu " ucap Elin tersenyum , ia benar benar terlihat begitu kuat namun dengan perasaan yang begitu hancur , tidak ada pilihan lain selain membuatnya untuk berdiri tegar dan ia tidak ingin keterpurukannya hanya akan membuat beban orang lain , walau ia begitu sulit untuk kembali berada dalam keadaan yang menakutkan seperti ini , di hantui oleh perasaan takut untuk kembali kehilangan dan


yang berbeda sekarang , ia masih memiliki kesempatan untuk mencegah itu kembali terjadi , dan Elin tidak ingin menyia-nyiakan hal itu hanya dengan menangis.


" Meili " panggil seorang wanita paruh baya yang baru saja datang bersama beberapa orang penjaga , " Mam " panggil Meili dan berjalan begitu cepat untuk menghampiri ibunya , " Apa yang terjadi ? " tanya Viona dengan suara bergetar.


Meili menghela nafasnya karena begitu bingung apa yang harus ia jelaskan pada Viona , " Ayo duduk mam " ajaknya dengan merangkul tubuh yang terlihat begitu tidak berdaya , " Kita hanya perlu berdoa dan kak Daniel pasti akan baik-baik saja " lanjut Meili berusaha kembali memberi ketenangan pada ibunya.


" Hannah " panggil Viona tanpa sadar , saat melihat perempuan yang sudah menjadi mantan kekasih anaknya itu tiba-tiba berada disana , Hannah mendekat dengan sedikit ragu , " Apa kabar Nyonya Remkez " sapanya memeluk wanita paruh baya itu , " Kau juga berada disini ? " tanya ambigu Viona dan Hannah menangguk pelan.


" Dia sudah menemani kami sejak tadi mam "sambung Meili menjelaskan , ia begitu takut kalau ibunya akan bersikap dingin pada Hannah , perempuan yang tidak di sangka akan menyakiti hati kakaknya itu.


Viona tidak lagi menjawab , matanya sudah beralih menatap perempuan yang sedang terdiam dengan pandangan mata yang menatap satu arah dan belum menyadari kehadirannya , " Dia siapa Meili ? " tanyanya , " Dia Elin mam " jawab Meili yang langsung mengerti dengan melihat arah pandangan mata ibunya.


" Elin "panggil Meili , namun perempuan itu masih tidak beranjak dari lamunannya.


" Lin " ulang Hannah bergantian sambil mendekat kearah perempuan itu , " emm.. ya Hannah " jawabnya.


" Kemarilah Elin " panggil Meili , mata Elin tertegun saat melihat perempuan paruh baya yang duduk di sisi Meili dengan penampilan yang terlihat begitu anggun bersama rambut bergelombang yang tergerai begitu rapi.


Elin beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Meili dengan perasaan begitu canggung , " Elin , ini ibuku dan Daniel " jelas Meili , dan tidak menunggu perempuan itu sudah menundukkan tubuhnya begitu hormat serta mencium punggung tangan Viona , membuat wanita paruh baya itu menatap tertegun kearahnya.


" Maaf saya tidak menyadari kehadiran anda nyonya " ucapnya begitu sopan , " duduklah nak , aku mengerti perasaanmu pasti sedang cemas sama sepertiku " kata Viona tersenyum , ntah mengapa seiring tangan yang berjabat bersama perempuan itu membuat hatinya tiba-tiba menghangat dan menjadi sedikit lebih tenang.

__ADS_1


" Dia pasti akan baik baik saja " ucapnya lagi dengan tangan yang memegang lembut tangan Elin , jantung Elin seperti tersentak karena begitu tidak menyangka dengan perlakuan begitu baik dari ibu kekasihnya itu , padahal ini untuk pertama kalinya mereka bertemu , " Ya , dia pasti akan baik-baik saja Nyonya dan anda juga harus tetap tenang " kata Elin dan membalas usapan pada tangannya.


Semua orang tersenyum melihat pemandangan yang begitu mengharukan , tak terkecuali Hannah ,


ia juga ikut merasa senang melihat kedekatan Elin bersama ibu dari mantan kekasihnya itu.


Klek " pintu kembali terbuka , membuat semua orang yang berada disana langsung berdiri , " Dokter Albert " ucap Viona mendekat saat melihat laki laki berpakaian serba biru itu keluar dari balik pintu , " Bagaimana keadaan putraku ? " tanyanya tanpa menunggu.


" Tindakan darurat sudah kami lakukan Nyonya.. " jelasnya menggantung , " lalu ? " sambung Meili yang langsung mengerti kalau ada sesuatu yang sudah terjadi , " Tapi kondisi tubuhnya kembali kritis " jelas Dokter Albert dengan menghela nafas , " Anda tidak tetap tenang Nyonya , kami pasti akan berusaha semampunya " ucapnya untuk menyakin pada Viona.


" Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada putraku Dokter Albert ? "


" Tuan muda sedang mengalami syock Hypovolemik Nyonya dan itu sudah berakibat fatal pada organ jantung dan tekanan darahnya " jelas Dokter Albert " dan kondisi tubuhnya sedang begitu lemah " lanjutnya lagi.


Brukk " suara yang membuat semua orang melihat kearahnya , " Elin " teriak Meili , saat melihat tubuh perempuan itu sudah tergeletak di lantai , Mike tidak lagi menunggu , ia segera mengangkat tubuh perempuan itu bersama dokter Albert yang sudah berlari menuju unit gawat darurat , " Kau tetap disini Meili , biar aku yang menjaga Elin " ucap Hannah mencegah Meili yang ingin ikut beranjak.


" Kenapa semua begitu kacau " gumam Meili prutasi dengan tubuh yang terduduk tidak berdaya di kursi tunggu rumah sakit.


~


" Apa yang terjadi ? " tanyanya lagi ,saat menyadari ruangan berwarna putih yang begitu tidak asing dari penglihatannya ," kau tiba-tiba tidak sadarkan diri " jelas Hannah.


Elin terdiam dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur yang berbalut kain putih itu , " jangan paksakan dirimu Elin " ucap Hannah mencegah , karena seperti apa katakan oleh dokter kondisi tubuh perempuan itu begitu lemah , " aku sungguh tidak apa-apa Hannah " ucapnya.


" Tapi kau harus istirahat Elin "


" Aku tidak bisa terus berdiam disini , sementara kekasihku sedang berjuang untuk hidup " ucapnya begitu emosi dengan tangan yang ingin melepas paksa jarum infus yang berada di punggung sebelah tangan kiri.

__ADS_1


" Jangan lakukan itu , kau akan melukai tanganmu sendiri " teriak Hannah , " jangan melakukan apapun , aku akan memanggil suster untuk membantu membukanya " lanjutnya lalu segera menekan tombol yang berada disisi tempat tidur.


~


" Maaf aku begitu lancang , tapi tolong perbolehkan aku untuk melihat keadaannya " ucap Elin begitu memohon dengan wajah yang telihat begitu pucat , Meili memutar tubuhnya dan menatap begitu terkejut pada Elin yang baru saja datang di ikuti Hannah yang berlari dari arah belakangnya .


Dokter Albert yang sedang berbicara bersama Viona , ikut tertegun melihat kedatangan perempuan yang beberapa jam yang lalu t


tiba-tiba saja tidak sadarkan diri , " Nona , kenapa ada sudah keluar ? " ucap Dokter Albert.


" Aku ingin melihat Daniel " ucap Elin begitu memohon , " tapi kondisi anda sedang tidak memu.. "


" Biarkan dia melihatnya " potong Viona , membuat dokter pribadi keluarganya itu segera menganggukkan kepalanya.


" Terimakasih Nyonya " ucap Elin tanpa sadar dan segera berjalan masuk menuju pintu yang baru saja di buka oleh dokter Albert.


~


Elin tidak bisa menahan air matanya , saat melihat tubuh laki-laki yang dia cintai sedang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya , " Kenapa ini bisa terjadi ? " ucapnya dengan menangis , padahal baru beberapa jam yang lalu mereka masih berbicara dalam sebuah perdebatan.


" Maafkan aku , karena telah begitu egois untuk tidak peduli dengan penjelasanmu "


" Bangun Daniel , aku mohon "


" Aku mohon " ulangnya dengan tangisan yang terdengar semakin pilu , " aku mohon Tuhan ,untuk sekali ini saja tolong berikan keajaibanmu , aku sungguh tidak ingin kembali kehilangan orang yang aku cintai " ucapnya dengan tangan yang mencekram dadanya , rasanya masih begitu sakit jika harus kembali mengingat bagaimana ia terpuruk karena sebuah kehilangan.


" Daniel aku mohon bangunlah , aku sungguh mencintaimu dan aku tidak ingin semua berakhir dengan cara apapun , aku ingin kita terus bersama bahkan selamanya " lanjutnya dengan terus menangis tanpa menyadari bahwa sudah ada sepasang bola mata yang sudah terbuka dan tersenyum karena ucapannya.

__ADS_1


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚


__ADS_2