
Ting " Ringtone pesan masuk di handphone Elin berbunyi dan letak benda itu berada di hadapan Daniel yang sedang sibuk dengan ipad kerjanya , sambil menunggu kekasihnya selesai membersihkan piring dan bekas mereka makan tadi.
" Sayang ada pesan masuk di handphonemu "
" Bukalah " sahut Elin yang terlihat masih sibuk di wastafel dapur.
" Kau serius mengijinkan aku membuka pesanmu ? " tanya Daniel tidak percaya , " ya , memangnya ada apa ? , aku tidak merahasiakan apapun padamu "
" Baiklah " sahut Daniel begitu bahagia , dengan begitu perempuan itu benar-benar mencintainya , karena telah mempercayakan benda yang menurut semua orang begitu pribadi.
Namun mata Daniel tiba-tiba menatap tajam pada pesan yang baru saja ia buka , dan membesarkan matanya saat melihat nama kontak pengirim " pesan dari siapa ? " tanya Elin mendekat.
" Kekasihmu ? " ucapnya begitu kesal sambil memberikan handphone itu pada pemiliknya.
" Maksudmu pesan darimu ? " tanya Elin sedikit bingung dan Daniel hanya diam dengan wajah yang di tekuk karena begitu kesal , dan Elin segera memeriksa pesannya ketika menyadari perubahan sikap dari lelaki itu , " oh ini pesan dari David sayang " katanya menjelaskan setelah melihat isi pesan dan nama pengirimnya , " dia hanya bertanya bagaimana keadaanku , karena tadi siang aku mengatakan aku sakit dan harus pulang " tambahnya namun Daniel masih terus terlihat kesal.
" Ya aku tahu , dia teman kerjamu itu bukan ? "
" Sepertinya dia menyukaimu " tambahnya semakin kesal.
" Sayang dia hanya khawatir sebagai rekan kerja "
" Ceh , aku ini laki-laki Elin , aku tahu bagaimana tingkah seorang laki-laki saat menyukai wanita ".
" Seperti apa yang kau lakukan pada wanita lain " .
" Aku tidak pernah melakukannya "
" Tidak pernah , tapi kenapa kau begitu tahu "
" emmm ya aku memang tahu , tapi aku tidak pernah melakukannya "
" Tunggu , kenapa kau jadi ingin melimpahkan kesalahanmu padaku "
" Aku tidak menyalahkanmu "
Tiba-tiba bel pintu apartemen itu berbunyi , membuat dua manusia itu berhenti berdepat dan melihat bersamaan kearah asal suara , " siapa yang datang semalam ini ? " tanya Elin.
" Mungkin kekasihmu itu " potong Daniel semakin kesal , membuat Elin berdelik menatap kearahnya , lalu berjalan menuju pintu.
" Tunggu "
" Ada apa huh , aku hanya ingin melihat siapa yang datang dan setelah itu kita bisa melanjutkan berdebatan ini ".
" Tetap disini , biar aku melihat siapa yang datang " ucap Daniel yang langsung berjalan menuju pintu.
" Ceh " desis Elin tersenyum karena merasa geli dengan tingkah kekasihnya.
~
Pintu baru saja di buka oleh Daniel , namun seorang perempuan langsung menerobos masuk dan berhamburan memeluknya , " aku sudah menghubungimu seharian " ucapnya dengan menangis.
" Ada apa Meili ? " tanya Daniel yang ikut panik dan Elin segera mendekat pada adik kakak itu.
" Ya , ada apa Meili , kenapa kau menangis ? " tambah Elin.
" Aku hanya khawatir padamu " jelas perempuan itu , " dan mami juga begitu mengkhawatirkanmu " tambahnya.
__ADS_1
Daniel sesaat terdiam dan mengerti maksud dari kekhawatiran adiknya yang mungkin sudah mengetahui kabar kecurangan di perusahaan keluarga mereka , " kenapa orang bisa melakukan hal yang begitu jahat " tambahnya dengan terus menangis dan memeluk erat tubuh kakaknya.
" Semua akan baik-baik saja Meili "
" Tapi kau sudah bekerja sangat keras untuk membangun perusahaan ini , dan orang-orang itu dengan mudahnya menghancurkan jerih payamu begitu saja "
" Berhentilah menangis Meili , setiap usaha tidak akan selalu berjalan lancar ".
" Ya aku mengerti , tapi ini terjadi dengan sengaja "
" Percayalah semua akan baik-baik saja Meili , walau sepertinya ini sedikit sulit " ucap Daniel dengan lemah, yang akhirnya memperlihatkan kesedihannya.
" Sekarang hentikan tangisanmu , kau sangat terlihat jelek Meili " tambahnya , yang dengan sengaja menggoda adiknya , supaya perempuan itu menghentikan tangisannya.
" Aku sudah terlahir cantik , bagaimana bisa aku jelek hanya karena menangis " ucap Meili tidak terima , melihat pemandangan mengharukan dari adik kakak itu membuat Elin ikut terharu bercampur legah , setidaknya itu membuatnya yakin kalau mereka akan terus saling membantu ," kenapa kau tersenyum ? " tanya Meili padanya.
" Itu karena dia geli dengan tingkahmu " sambung Daniel.
" Benarkah ? "
" Jangan dengarkan kakakmu Meili " timpal Elin dan melempar tatapan tajam pada Daniel yang sedang tertawa.
~
" Apa kau tidur disini Daniel ? "
" Tidak mungkin Meili , dia akan pulang sebentar lagi " jawab Elin menyambung.
" Kau mengusirku sayang ? "
" Tidak , tapi ini memang sudah larut dan kau harus istirahat" jelasnya pada Daniel yang terlihat sedikit kesal.
" Kau bisa pulang bersama Meili "
" Tapi aku juga tidak akan pulang " jelas Meili , membuat Elin terdiam seketika , " jadi maksudmu kau juga akan tidur disini ? "
" Ya , mana mungkin aku akan membiarkan Daniel tidur disini dan membiarkan kalian berdua "
" Kau menyebalkan Meili " ujar Daniel kesal , membuat dua perempuan itu tertawa bersamaan.
~
" Elin boleh aku pinjam pakaian tidurmu ? " tanya Meili dengan mata yang sudah sayu karena mengantuk.
" Ya , kau bisa mencarinya di lemari pakaianku yang berada di dalam kamar"
" Tidak apa-apa , aku mencarinya sendiri "
" Tentu, tidak ada barang berharga disana dan walau pun ada , aku sangat yakin kau tidak akan mengambilnya "
" Kenapa begitu ? "
" Karena kau pasti mempunyai yang lebih berharga dariku " jelas Elin tertawa , namun berbeda dengan Meili yang langsung mengerucutkan bibirnya , " apa Daniel sudah tertidur ? " tanya Meili , dan Elin ikut melihat kearah laki-laki itu dan melihat Daniel yang memang sudah terbaring di atas soffa dengan mata yang terpejam , " ya sepertinya dia sangat kelelahan " ucap Elin.
" Iya dia pasti sangat lelah dan begitu memikirkan tentang musibah ini " sambung Meili , yang menatap kakaknya dengan penuh Empati.
" Tidurlah Meili " .
__ADS_1
" Apa kau belum ingin tidur , ini sudah larut Elin "
" Aku akan segera menyusul , tapi aku harus menyiapkan kamar untuk dia terlebih dahulu " tunjuknya pada Daniel.
" Kau memang calon istri yang siaga " puji Meili tertawa , " apa kau membutuhkan bantuanku ? "
" Tidak , tidurlah Meili , kau juga sudah sangat mengantuk "
" Ya , aku memang merasa begitu lelah karena mencari kalian , yang ternyata sedang bersenang-senang " ucapnya sedikit kesal , namun bibirnya tetap melengkung , " maaf Meili , aku memang sengaja tidak mengaktifkan handphone kami karena aku ingin Daniel bisa terbebas dari pikirannya sementara "
" Aku tidak tahu kalau kalian akan begitu khawatir " tambahnya degan sangat menyesal , namun Meili justru berjalan mendekat padanya dan langsung memberikan pelukan yang begitu hangat , " kau tidak perlu merasa bersalah Elin , justru aku merasa sangat senang saat menyadari ada dirimu disisi kakakku "
" Kehadiranmu benar-benar sangat membantu " tambahnya , dengan semakin memperat pelukannya.
" Percayalah semua pasti akan segera baik-baik saja Meili "
" Ya aku juga sangat yakin , terlebih karena ada keberadaanmu , sang malaikat kebaikan "
" Malaikat kebaikan "
" Ya , mami yang mengatakannya , kalau kau seperti malaikat kebaikan yang di hadirkan di dalam keluarga kami , karena semenjak kehadiranmu semua menjadi begitu membaik , termasuk hubungan kami bersama papi "
" Itu bukan karena aku Meili , tapi karena memang sudah waktunya "
" Tidak , aku yakin Daniel tidak akan luluh secepat itu jika bukan karenamu " .
" Tidurlah , sepertinya kau benar-benar mengantuk "
" Ceh , kau selalu saja tidak terima dengan pujianku "
" Itu karena sangat berlebihan "
" itu tidak berlebihan , yang berlebihan jika aku memberikan hartaku padamu begitu saja, walau suatu hari itu pasti akan terjadi " ucap Meili tertawa.
" Cepatlah tidur, bicaramu sudah begitu ngawur " usir Elin tertawa.
" Ceh , apa kau sungguh tidak ingin aku bantu "
" Tidak ".
" Baiklah dan jangan menyesal " ucap Meili tertawa , lalu segera berjalan menuju kamar perempuan itu.
Sepeninggalan Meili , Elin segera membersihkan kamar kosong yang akan di tempati oleh Daniel , tidak ada rasa lelah ketika melakukan sesuatu untuk orang yang di cintai , walau tubuhnya juga terasa begitu remuk oleh angin pantai dan ombak sepanjang hari.
" Selesai " ucapnya tersenyum saat melihat tempat tidur yang sudah rapi oleh tangannya , dan segera beranjak untuk membangunkan Daniel yang masih tertidur begitu pulas di atas soffa.
" Sayang " panggilnya pelan .
" Sayang ayo bangun sebentar , aku sudah menyiapkan kamar tidur untukmu " tambahnya , namun laki-laki itu tak kunjung bergerak.
" Dia tidak bangun ,tapi aku tidak mungkin membiarkannya dia tetap tertidur disini " gumamnya dan menatap begitu lama pada wajah tidur kekasihnya , " bebannya pasti begitu berat " ucapnya dan hati yang merasa perih.
" Sayang " ulangnya , dan perlahan mata itu terbuka.
" Ayo pindah " tambahnya , namun bukannya terbangun Daniel justru menariknya kedalam pelukan.
" Sebentar saja seperti ini " ucap laki-laki itu dengan suara serak , dan Elin hanya bisa pasrah untuk membiarkan tubuhnya berada di dalam rengkuhan ,
__ADS_1
namun karena merasa begitu lelah , akhirnya ia ikut memejamkan matanya menunggu laki-laki itu melepas pelukannya , namun yang terjadi ia malah ikut tertidur dan melupakan rencana untuk tidur bersama Meili.