
" Oh astaga " seru Green tiba-tiba, membuat semua orang menoleh ke arahnya, " ada apa juga denganmu ? " tanya Amel yang menjadi kesal dengan tingkah ke dua sahabatnya yang mendadak aneh.
" Aku baru ingat dulu Nathan pernah mengatakan kalau sebenarnya kak Daniel dan Elin pernah bertemu di sini. dan aku yakin sepertinya sekarang Elin baru saja mengingatnya " ujar Green dan semua orang tercengang dengan mata yang membulat, " tunggu, tunggu jelaskan dengan benar. Aku masih tidak paham " kata Amel, begitu pun Hannah dan Meili dengan ikut mengangguk.
" Jadi dulu di saat pertama kita ke kemari bersama Almarhum kak Gery. Ternyata Elin telah bertemu kak Daniel disini ".
" Kau serius ? " ujar Amel terperanga dan Green mengangguk, " kak Daniel masih mengingat Elin, tapi perempuan itu tidak " lanjutnya dengan tertawa.
" Jadi pada hari pernikahanmu sebenarnya itu bukan pertemuan pertama kali mereka tapi yang kedua kali dan Kak Daniel langsung mengenal Elin pada saat itu. tapi kau tahu sendiri, Elin tidak mungkin dia mengingat orang yang tidak di kenal darinya apalagi jika itu hanya pertemuan sesaat ".
" Memangnya dimana mereka bertemu ? , bukannya saat itu Elin terus bersama kita ? " ujar Amel sambil berusaha terus mengingat setiap kejadian pada liburan mereka saat itu.
" Sepertinya disini. Aku juga tidak tahu jelas bagaimana pertemuan mereka yang aku tahu dari Nathan bahwa sebelum mereka bertemu di hari pernikahanmu, mereka telah bertemu sebelumnya ".
" Ini benar-benar sebuah takdir " ucap Meili dengan kepala yang sedikit menggeleng karena tak percaya.
" Hemm... " kata Green mengangguk, " jadi sebenarnya pada saat itu kak Gery lah yang sudah mempertemukan Elin dengan jodoh dia yang sebenarnya ".
" Apa Gery itu mantan ke kekasih Elin ? " tanya Meili.
Green dan Amel langsung saja berpandangan , lalu kemudian mengangguk, " hemm.. " seru mereka bersamaan.
Meili langsung saja terkekeh ," Santai saja denganku. dan aku pun juga sudah tahu tentang itu, dulu Elin pernah menceritakannya padaku.
Hanya saja aku sudah sedikit lupa " katanya.
" Kak Gery adalah kakakku Meil " sambung Amel, dengan wajah yang kini sedikit berubah menjadi sendu, " dia pergi tidak lama setelah kami pulang dari liburan disini "lanjutnya dengan sedikit menarik nafas.
" Takdir benar-benar tidak bisa di tebak. Ternyata ini alasan kenapa dia begitu ingin datang kemari pada saat itu. dan sekarang aku baru paham, bahwa ternyata pada saat itu Tuhan sudah mengatur waktu dimana Elin dan kak Daniel bertemu dan itu lewat rencananya " sambung Amel dengan mata yang mulai berkaca-kaca, " dan kakak-ku seperti sudah mengetahui bahwa dia akan pergi begitu cepat, lalu sebelum itu ia ingin Elin sudah bertemu dengan lelaki yang akan menjadi jodoh dia yang sebenarnya " lanjutnya yang kini dengan air mata yang mengalir. Namun dengan segera ia menepis air mata itu, " maaf Meil aku sungguh tidak bermaksud apa-apa " ucapnya dan Meili langsung saja menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Bahkan aku hampir menangis saat mengetahui kejadiannya seperti ini Mel " ujar Meili menjadi ikut terharu, lalu tanpa pamit terlebih dahulu ia langsung memeluk tubuh Amel, " bukan merasa bersyukur atas kepergian kakakmu tapi, andai saat ini aku bisa bertemu dengan kakakmu, aku ingin mengatakan begitu banyak terimakasih padanya dan pengorbanannya hingga Elin bertemu kakakku ".
" Ini sudah jalannya Meili, kadang takdir memang semenakjubkan itu " balas Amel di dalam pelukan mereka, dengan sedikit menghela nafas yang begitu pelan ketika ia harus bersyukur di tengah hati yang juga merasa sedih.
" Sekarang aku benar-benar percaya dengan kalimat. Bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dengan kebetulan " ucap Meili dan semua orang mengangguk membenarkan.
***
Ke empat lelaki masih asik berbincang ketika Elin tiba-tiba datang menghampiri Daniel dan duduk di hadapan lelaki itu tanpa permisi terlebih dahulu pada semua orang. Membuat obrolan mereka terhenti dan menjadi fokus pada kehadirannya.
" Ada apa sayang ? " tanya Daniel kebingungan. Begitu pun semua orang.
" Apa kau ingat wajahku ? " tanyanya tiba-tiba. dan itu berhasil membuat semua orang yang berada disana tertawa karena pertanyaanya yang konyol.
Dahi Daniel mengerenyit karena kebingungan, " lihat benar-benar wajahku Daniel. Apa kau mengingat sesuatu " kata Elin dengan sedikit memaksa lelaki di hadapannya untuk menatapnya dengan cermat.
" Sayang pertanyaan macam apa itu ? " ujar Daniel tidak mengerti, " aku tentu saja mengingat wajahmu. Bahkan wajahmu terus saja mengisi pikiranku " sambungnya dengan dahi yang semakin berkerut.
Daniel terdiam sesaat, lalu kemudian tersenyum saat menyadari bahwa perempuan di hadapannya kini sedang mencoba membuatnya untuk mengingat sesuatu, " apa sekarang kau sudah mengingatnya ? " katanya berbalik bertanya.
" Maksudnya ? , tunggu apa maksudmu kau sebenarnya sudah mengingat hal ini ? " hardik Elin dan Daniel mengangguk secara perlahan dengan menahan senyumnya, " bahkan aku sudah mengingatmu dari sejak pertama kita bertemu " ucapnya dengan begitu yakin.
Sementara kini bergantian Elin yang terdiam dengan tercengang, " jadi kau sudah mengingatnya dari sejak awal ???? "
" Hmmmm.. "
" Lalu kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu ? " seru Elin dengan sedikit berteriak.
" Aku memang sengaja. Karena aku ingin tahu sejauh mana takdir membawa kita " sahut Daniel dengan santai dan Elin kembali terdiam untuk mengontrol ke-terkejutannya , " ini benar-benar gila " gumamnya tidak percaya.
__ADS_1
" Kau yang begitu jahat karena tidak mengenaliku " ucap Daniel dengan tertawa dan Elin langsung saja berdecih, " bukan begitu. Tapi sekarang aku baru menyadari, pantas saja selama ini aku tidak merasa asing dengan senyummu " ujar Elin dengan anggukan kecil.
" Jadi kau hanya menginggat senyumku saja huh.. "
" Ya memangnya apalagi yang harus ingat.. " sahutnya tanpa rasa bersalah.
Sementara semua orang kini masih terdiam menyimak dengan kebingungan, kecuali Nathan yang sekarang sedang tersenyum melihat tingkah sepasang manusia di hadapan mereka.
" Jadi dia sudah mengingatnya Rem ? " tanya Nathan dan Daniel mengangguk.
Mendengar itu Elin langsung saja menoleh kepadanya, " Kakak juga tahu kami pernah bertemu sebelumnya ? " tanyanya semakin terkejut dan Nathan mengangguk, " bahkan Daniel sudah mengatakan padaku, pada saat pertama kali kalian bertemu ".
" Pada saat itu aku juga tidak percaya " sambung Nathan tertawa
Elin berdelik , " Lalu kenapa kakak tidak mengatakannya padaku huh " katanya sedikit ketus.
" Seperti kata Daniel. Aku juga ingin melihat seperti apa takdir membawa kalian " ujar Nathan yang kini tertawa begitu lebar.
Dan tiba-tiba tiga ke empat perempuan yang tadi berada di kolam renang, kini datang ikut bergabung dan masing-masing mengambil tempat untuk duduk, " jadi Lin, kau sudah mengingat kalau sebelum kau pernah bertemu kak Daniel ? " celetuk Green dan itu membuat mata Elin kembali membesar, " kau juga mengetahuinya Green ? ".
" Hemmm.. " balas Green mengangguk.
" Kalian benar-benar jahat " seru Elin.
" Ini bukan permainan takdir tapi kalian yang mempermainkan aku " sambungnya semakin kecewa. berbeda dengan semua orang yang kini justru tertawa karena mimik wajahnya, kecuali Alfin dan Mike yang memang sedikit belum paham dengan apa yang terjadi saat ini, " kami bukan ingin mempermainkanmu tapi ingin membuat ini menjadi surprise saat kau mengetahuinya,dan benar saja kan ... " kata Green tertawa.
"Hemm.., aku benar-benar terkejut. Bahkan sangat terkejut saat mengetahui kalau sahabatku sendiri telah begitu jahat karena merahasiakan semua ini dariku " cercah Elin. lalu beranjak dari hadapan Daniel. Namun, geraknya terhenti karena tangan Daniel lebih dulu menghentikannya, " jangan marah sayang, harusnya kau lebih fokus pada takdir kita bukan pada kami yang tidak memberitahukan ini padamu " katanya dengan begitu lembut, lalu menatap lamat pada bola mata Elin ," Kau tahu pada saat kita bertemu kembali dan setelah itu kita harus berpisah lagi. Aku mengatakan pada Tuhan, jika suatu hari kita kembali bertemu lagi itu berarti kau memang di takdirkan untukku " ucapnya dengan bersungguh-sungguh, " lalu benar kita bertemu lagi di New york. Padahal pada saat itu aku tidak mengetahui kalau kau sekolah disana dan tidak pernah berpikir bahwa takdir akan semudah itu untuk membuat kita bertemu kembali "
" Sampai hari ini jika mengingat itu, aku benar-benar masih tidak menyangka " katanya tersenyum. Namun perlahan senyum itu memudar saat menyadari apa yang kini tengah terjadi.
__ADS_1
Elin tidak lagi banyak bicara dan tanpa peduli pada semua orang dia langsung memeluk tubuh Daniel dengan begitu erat, " aku benar-benar tidak menyangka bahwa takdir hidupku begitu keren " ucapnya, membuat semua orang menjadi tertawa.
" Kelak aku akan menceritakan ini pada anak kita. Mereka harus tahu kalau Ibu dan Ayah-nya di pertemukan oleh permainan takdir " sambungnya dengan sambil tertawa, berbeda dengan Daniel yang kini hanya bisa tersenyum hambar, " dan kini takdir benar-benar mempermainkan kita " batinnya dengan hati yang hancur.