Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Aku Kakaknya


__ADS_3

" Sayaang please angkat teleponku " kata Elin memohon, sambil menatap layar handphone di tengah aktivitasnya membawa mobil. Ia menarik nafas ketika teleponnya berakhir tanpa jawaban, dan saat itu, laju mobilnya sudah semakin dekat dengan gerbang masuk halaman kantor polisi.


Sekali lagi ia menghubungi Bimo dan Mala, tapi masih tak ada jawaban dan sekali lagi mencoba menghubungi suaminya, kembali tidak ada jawaban.


Ia bergegas saat itu juga, untuk masuk ke dalam kantor polisi, dan melupakan benda pipihnya di atas dashboard mobil.


" Ada yang bisa kami bantu ? " tanya seorang laki-laki muda, dengan seragam coklatnya. Sorot matanya terkesiap, memperhatikan penampilan Elin .


" Saya kakak Ratama Deka. Dimana adik saya ? " cercah Elin panik.


Dahi polisi itu berkerut, " kakak ? " katanya mengulang.


" Iya ", balasnya dengan suara meninggi, " dimana adik saya pak ? " sambungnya semakin tidak sabar.


Polisi itu mengarahkannya ke salah satu ruangan dan Elin bergegas tanpa menunggu.


" Kak " panggil Tama yang sedang duduk di hadapan meja, dengan seorang laki-laki paruh baya di hadapannya, " Tama, apa yang terjadi ? " seru Elin. Jaraknya masih beberapa meter dari tempat Tama berada.


Mata lelaki itu sedikit membesar ketika tubuh kakaknya semakin dekat.


" Pak apa yang terjadi dengan adik saya ? " Sergah Elin, pada laki-laki paruh baya yang sedang duduk menghadap Tama. Mata Elin mengintari ruangan itu, dan menemukan beberapa orang lain disana. Dua perempuan muda yang terlihat seumuran dengan adiknya, dan seorang perempuan yang terlihat lebih tua sendikit darinya.


" Anda siapanya saudara Tama ? " tanya bapak itu.


Mata Elin membesar, tiba-tiba dia menjadi emosi mendengar pertanyaan itu, " SAYA KAKAKNYA PAK " balasnya, ia tekankan setiap kata-katanya, " tadi kan saya sudah bilang, SAYA KAKAKNYA RETAMA DEKA " katanya sekali lagi.


Tama menarik tubuhnya untuk bergantian duduk dengannya, " dia kakak saya pak " kata Tama menimpali.


Lelaki paruh baya itu, memandang penuh selidik dan kemudian tersenyum, " apa kau yakin dia bukan pacarmu " katanya.


Sekali lagi Elin menarik nafasnya dalam-dalam, " Paaakkk.. ".


" Sudah berulang kali saya bilang saya kakaknya " sambungnya, ia benar-benar menekankan bicaranya saat itu. Sorot matanya, bahkan melemparkan tatapan tajam.


" Jujur saja mba. Kalian tidak mirip sama sekali "


Elin kembali menarik nafas dalam-dalam dan setengah mati menahan emosi. Tapi ia tak bisa menepis ucapan polisi menyebalkan di hadapannya. Wajahnya dan Tama memang jauh berbeda.


" Dia sungguh kakak saya pak " kata Tama kembali mencoba meyakinkan lelaki di hadapannya. Elin sedang merogoh tas tangannya saat itu, " Kenapa kakakmu lebih kecil ".


Deg


Elin menghentikan gerakannya. Kembali menarik nafas panjang, " pak " serunya yang terdengar nyaris seperti bentakan, " anda lihat adik saya setinggi ini " katanya dengan menggerakkan tangannya ke tubuh Tama, " apa normal kalau saya lebih tinggi dari ini lagi huh. Memangnya seorang kakak harus lebih tinggi dari adiknya. Memangnya kalau saudara mukanya juga harus sama ya. Disini sebenarnya bapak sebagai polisi apa petugas sensus penduduk sih.. " cecarnya. Mata Tama membesar melihat itu. Untuk kali pertamanya dia melihat kakaknya bicara lantang seperti ini pada orang yang lebih tua. Bahkan lebih tepatnya membentak.


Polisi di hadapannya kini terdiam seketika. Mimik wajahnya tak nyaman saat itu, lalu berpura-pura sibuk membalikan berkas di hadapannya.


Sementara Elin, setelah mencecar lelaki paruh baya di hadapannya ,kini ia sibuk kembali merogoh tasnya, " shitt " umpatnya geram.


" Ada apa ? " tanya Tama.


" Handphoneku ketinggalan di mobil ".


" Memangnya kau mau apa ? "


" Telepon ibu. Biar Ibu yang menjelaskan ke bapak ini, kalau kita saudara " katanya menyindir. Tama menahan tawa mendengar itu, dan laki-laki paruh baya di hadapannya menunduk seketika, " ya saya sudah percaya mba " katanya lemah.


" Sekarang beritahu saya, apa yang terjadi pada adik saya pak ? " tanyanya dengan emosi yang sudah kembali normal.


" Adik anda, menabrak mobil adik saya mba " kata perempuan yang lebih tua dari tiga perempuan lain yang berada di dalam ruangan itu. Elin menoleh, ia sedikit berempati saat itu, tapi saat mendengar gaya perempuan itu bicara, justru dia menjadi kembali kesal.


Matanya menelisik pada dua perempuan muda lainnya, " tidak ada cidera " katanya enteng, " adik anda terlihat baik-baik saja " sambungnya.


Lalu meneliti pada tubuh Tama, " apa kau ada cidera ? " tanyanya, Tama menggeleng. Ia kemudian bangun dari duduknya, menatap lebih dekat setiao jengkal tubuh adiknya itu, " Kakimu tidak sakit, apa kepalamu terbentur ? " cercahnya. Belum sempat Tama menjawab. Perempuan tadi kembali bicara," Hello mba, yang jadi korban disini itu adik saya, buka adik anda" katanya.


Elin langsung berbalik badan, "Memangnya kalau adik saya yang menabrak, dia pasti aman huh, dia pasti tidak akan cidera ?, apa maksud anda begitu " cecarnya dengan nada tinggi.


" Kak " panggil Tama pelan.

__ADS_1


" Ya adik anda terlihat baik-baik saja, apa yang harus di khawatirkan ".


" Adik anda juga terlihat baik-baik saja mba " sahut Elin tidak mau kalah.


" Sebenarnya adiknya yang mana sih ? " tanyanya pelan pada Tama. Lelaki itu mengarahkan bibirnya pada satu perempuan berbaju warna magenta. Dan Elin mengangguk ketika sudah mengetahui.


" Intinya adik anda menabrak mobil adik saya " ucap perempuan itu lagi.


Elin belum membalas ucapannya. Dan berbalik melihat ke arah Tama, " kau benar menabraknya ? " tanyanya. Tama diam sesaat, " aku baru saja keluar dari tempat parkir, tiba-tiba mobil dia datang " katanya menjelaskan.


Mendengar itu, Elin menghadap pada pak polisi yang sejak tadi tetap diam di tempatnya tanpa menyela dan berkomentar, sementara perempuan tadi sudah menggerutu.


" Pak tolong jelaskan, siapa yang sebenarnya salah disini " pintanya pada polisi.


" Ya adik anda " kata perempuan itu menimpali.


" Anda disini sebenarnya siapa? , kakaknya atau polisi lalu lintas huh, seperti lebih paham dengan aturan lalu lintas yang benar " sahut Elin, matanya menatap sinis pada perempuan itu.


" Ya bisa di lihat dong. Jelas adik anda salah mba. Dimana-mana kalau mau keluar dari tempat parkir itu harus di pastikan dulu tidak ada mobil yang mau lewat ".


" Mba, yang namanya tempat parkir itu aturannya bukan seperti di jalan raya. Harusnya adik anda jangan seenaknya melaju, jelas di dalam area seperti itu, orang bisa saja tiba-tiba keluar dari tempat parkirnya ", balas Elin


" atau mba sendiri juga tidak tahu aturan di tempat parkir "sambungnya. Wajah perempuan di hadapannya memerah, " Jangan sembarang bicara ya mba ".


" Anda yang jangan sembarang menuduh adik saya yang salah ".


" Kak " kata Tama kembali memanggil. Begitu pun adik perempuan itu, " aku yang salah kak, karena tidak melihat dia kelua... "


" Jangan mau mengalah " bentak kakaknya memotong, " di harus mau ganti rugi kerusakan mobil kamu " sambungnya.


Elin tertawa hambar mendengar itu, " jadi intinya anda mau minta adik saya ganti rugi ".


" Ya jelas, kenapa anda takut tidak mampu mengganti kerugiannya ya".


Elin memutar bola matanya mendengar itu. Mengelus dadanya dengan tangannya sendiri. Memandang pada Tama, dan lelaki itu menggeleng kecil, memberi isyarat padanya untuk tidak tersulut emosi.


" Sepertinya memang takut tidak bisa mengganti rugi " kata perempuan itu menyeletuk.


Rahang Elin semakin mengeras mendengar itu, " memang apa mobil adiknya ? " tanyanya pada Tama.


" Toy*ta Yaris " sahut Tama singkat. Dan bersamaan polisi di hadapan mereka mulai ingin bicara, " biar tidak usah lagi di tentukan siapa yang salah pak, kami akan mengganti semua kerugian mobil adik perempuan ini " potong Elin setengah berteriak, sambil menunjuk ke arah perempuan yang kini berbisik pada adiknya sendiri, " memang apa mobilnya ? " tanya perempuan itu. Yang masih terdengar jelas di semua telinga yang berada disana.


" Ferar* " sahut adiknya pelan. Mata perempuan itu membesar seketika, dan sedikit sungkan untuk kembali melihat pada Elin.


" Baguslah " katanya, " berarti dia harus mampu mengganti kerusakan mobil kamu ".


" Sebenarnya disini, adik kalian sama-sama salah " kata pak polisi tiba-tiba. Mata perempuan tadi terbelalak dan Elin tersenyum, " bukankah itu berarti harus saling mengganti rugi kerusakan pak ? " katanya dan polisi mengangguk, " jika tidak ingin di perpanjang, dan di buat laporan. Ya seharusnya seperti itu " sahutnya.


" Apa mobilmu ada yang rusak ? " tanya Elin pada Tama.


" Bumpernya sedikit rusak " jawab Tama dengan berat hati.


" Anda dengar mba, bumper mobil adik saya rusak " katanya lantang pada perempuan yang kini menatap tak menerima.


" Pak tidak bisa seperti ini dong. Tidak mungkin kedua-duanya sama-sama salah " kata perempuan itu memprotes.


" Apa mau saya jelaskan secara rinci peraturannya mba " balas pak polisi. Perempuan itu terdiam sejenak.


" Jadi disini yang sebenarnya takut mengganti rugi kerusakan itu siapa ? " kata Elin bergumam, tapi nadanya di buat sangat lantang.


Adik perempuan itu kini tertunduk, tepat saat Elin menoleh ke arahnya.


" Seharusnya yang bicara itu adik anda bukan anda " kata kakak nya tiba-tiba, " laki-laki kok sembunyi di ketiak kakak perempuan ".


Elin kembali naik pitam mendengar itu, " memangnya kenapa kalau saya yang bicara huh. Salahnya dimana kalau dia meminta bantuan kakak perempuannya. Saya satu-satunya kakaknya. Anda juga datang kesini untuk membela adik anda, bukan?. Seorang adik itu, mau dia laki-laki atau perempuan, sama-sama harus di bela " ucap Elin kembali mencecar. Tama memandanginya saat itu, " dia adik saya. Saya tidak akan terima kalau adik saya di salahkan ya " sambungnya, matanya membara menatap perempuan itu.


" Jadi ini maunya gimana ?" tanya polisi membentak.

__ADS_1


" Ya terserah, mau di buat menjadi khasus atau ganti rugi pun kami tidak masalah " sahut Elin.


Sementara perempuan tadi masih diam.


" Anda sendiri maunya gimana mba ? " tanya polisi padanya.


" Saya akan menentukan sidangnya segera kalau anda juga ingin ini di khasuskan. Tapi selain menghadapi persidangan, kalian juga harus membayar uang denda kelalaian peraturan di area parkir dan juga tetap wajib membayar uang ganti rugi kerusakan masing-masing ", kata pak polisi menjelaskan.


Yang terlihat terpuruk disana, justru adik perempuan itu. Dia terus menunduk, tanpa berani mengangkat kepalanya.


" Saya memilih berdamai dan mengganti rugi " kata kakaknya, dengan sangat terpaksa. Semua orang di dalam ruangan mengetahui jelas. Elin tersenyum penuh kemenangan saat itu juga.


" Minta nomor teleponnya " kata perempuan itu pada adiknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan. Tanpa berani kembali menatap Elin.


" Tanda tangani ini " pinta pak polisi, menyodorkan selembar kertas putih dengan tulisan. Tama, orang pertama yang mencantumkan tanda tangannya disana, kemudian adik perempuan itu.


" kalian harus bertukar nomor telepon " pintanya lagi, dan dua anak muda itu menurut.


" Jadi, kalau ada salah satu dari kalian tidak menepati janji. Maka pihak yang di rugikan bisa melaporkan kemari. Ini bukti tertulisnya telah kalian tanda tangani " kata pak polisi menjelaskan. Tama mengangguk, begitu pun perempuan di sampingnya, meski kini wajahnya terlihat pucat.


Bersama temannya, perempuan itu keluar lebih dulu dari dalam ruangan.


" Pak kami tidak akan menuntut ganti rugi " ucap Elin pada polisi, Tama kembali memandanginya saat itu, " tapi kami berjanji akan mengganti rugi semua kerusakan mobilnya " sambungnya. Polisi itu tersenyum dan mengangguk.


" Kami permisi pak " pamit Tama dan Elin mengikuti dengan menganggukan kepala.


" Jadi kalian bukan pacaran ? " tanya polisi itu dengan tertawa, tepat saat kedua kakak beradik itu berada di ambang pintu.


" Pak, besok ibu saya akan kemari untuk menjelaskan " balas Elin kesal dan polisi langsung tergelak saat itu, " kalau kembali lagi besok, pastikan anda memakai sandal yang benar, mba " katanya.


Elin segera melihat ke arah kaki. Matanya membesar saat melihat kakinya terpasang dengan sandal yang berbeda, sandal rumah. Alas kaki yang seharusnya tidak di pakai untuk berada disana.


Ia merutuki dirinya sendiri, terlebih saat melihat celana yang ia gunakan, " oh my god " pekiknya, menyadari hanya celana pendek berbahan sipon tipis yang tertambat disana.


" Apa kau tidak sempat bercermin sebelum pergi " ujar Tama.


" Kau yang membuatku buru-buru pergi " balasnya kesal. Mendengar itu Tama justru tertawa, sambil mengikuti langkah cepat kakaknya untuk keluar dari dalam kantor polisi.


Tiba-tiba perempuan itu berhenti, matanya menemukan perempuan yang tadi berada di dalam ruangan kini berada di area parkir kantor polisi bersama kakaknya. Meski tidak mendengar jelas, Elin dapat menebak, perempuan itu tengah di marahi.


" Ada apa ? " tanya Tama heran melihatnya berhenti. Elin menunjuk ke arah perempuan tadi.


" Kau sudah memberitahunya kalau kita tidak akan menuntut ganti rugi "


Tama menggeleng.


" Beritahu sekarang ", pintanya dan Tama menurut dengan langsung mencari benda pipihnya di saku celananya, " apa kerusakan mobilnya sangat banyak ? " katanya lagi. Tama kembali menggeleng, " hanya bumpernya juga ".


" Minta nomor rekeningnya. Biar aku saja yang membayar ganti ruginya "ucap Elin, sambil terus memandangi perempuan itu, yang kini terlihat mulai terisak.


" Syukurlah, jadi aku tidak perlu menghadap Ayah", gumam Tama


" Kau memang kakakku ? " serunya tiba-tiba, ia membuat Elin terkejut, dengan tangan besarnya yang tiba-tiba merangkul, " tanganmu berat Tama " protes Elin.


Cup


Laki-laki muda itu melayangkan kecupan di pipi Elin, " terimakasih kakakku " katanya berseru. Elin yang semula ingin marah, berubah menjadi tersenyum.


" Ceh, menggelikan " ucapanya. Mereka berjalan beriringan menuju parkir, " perempuan itu cantik ya ".


" Siapa ?, Lira " kata Tama menebak.


" Jadi namannya Lira ?, darimana kau bisa tahu namanya Lira huh ".


" Dari kertas perjanjian tadi " sahut Tama santai, Elin urung untuk kembali mencecarnya, " kalau saja kakaknya bukan seperti nenek lampir. Aku pasti sudah menyuruh kau memacarinya " katanya, dan Tama tertawa mendengar itu, " bagaimana semisalnya kalau aku tetap mau memacarinya " ucapnya. Elin langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam pada lelaki itu, " Demi Tuhan, aku sungguh tidak ingin mempunyai saudara ipar seperti kakak perempuan itu Tama ", ucapnya. Matanya menatap serius, membuat Tama kembali tergelak, " aku hanya bercanda kakak. Lira Cantik, tapi Bodynya tidak begitu menarik " ucapnya.


Mata Elin membesar, " Kau " erangnya pada Tama, " aku akan bilang pada ayah kelakuanmu Tama " teriaknya, karena Tama sudah berhamburan berlari menuju letak mobilnya.

__ADS_1


" Jangan seperti itu dong. Dulu kau sering pergi dugem, aku tidak pernah mengaduh pada Ayah " kata Tama membalas dan Sekejap mulut Elin bungkam. Ia sungguh mati kutu saat itu, " sial, dari mana dia tahu kalau aku sering pergi dugem dulu " katanya menggumam.


__ADS_2