Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Pikiran Kotor Elin


__ADS_3

Wajah Green terus berbinar hari ini dan begitu bersemangat melakukan tugasnya sebagai Nyonya muda tertua di keluarga Vernandes dimana ia harus mengatur segala hal yang ada di rumah mewah milik keluarga itu , karena Wilna telah menyerahkan tugasnya sebagai Nyonya besar padanya.


" Ada apa denganmu sayang ? " tanya Nathan yang bingung dengan tingkah istrinya dan baru saja Green ingin menjelaskan tiba-tiba saja handphone yang berada di atas nakas berdering , membuat Green menghentikan niatnya dan berjalan menuju benda itu.


" sudah ku sangka " katanya tersenyum lalu dengan cepat menjawab panggilan yang belum tersambung padanya.


" Ya Nona muda Remkez " ucapnya dengan begitu bersemangat dengan garis bibir yang terus melengkung , " Ceh " decih Elin dari seberang telepon dengan terdengar sedikit tertawa.


" Bagaimana jadi kalian berangkat hari ini ? "


" Tentu , aku menghubungimu karena itu "


" Ya ya baguslah kau memberi tahu dan kami memang sudah tidak menunggu ke datangan kalian "


" Apa keluargamu sudah tahu Elin ? "


" Emmm... "


" Jangan bilang kau belum memberitahu apapun pada Ibu dan Ayahmu "


" Tidak Green bahkan aku lebih dulu memberi tahukan ini pada mereka "


" Jadi apa yang membuat kau terdengar gundah huh "


" Aku hanya bingung akan dimana keluarga Daniel tinggal saat disana nanti , aku sedikit tidak enak jika mereka terus berada di hotel , sementara tidak mungkin juga di rumahku "


" Astaga kau memang selalu bodoh di waktu yang tidak tepat , kenapa memusingkan hal yang demikian Elin , apa kau lupa sahabatmu ini siapa ? , tentu rumah kami masih sangat cukup untuk menampung keluarga mertuamu " ujar Green sombong , namun dengan bibir yang terbuka lebar karena tertawa.


" Tenanglah kami sudah pernah membicarakan ini pada bunda dan Dia yang menginginkan keluarga Daniel untuk berada di rumah ini ketika berada disini nanti " lanjutnya.


" Apa kau serius , apa itu tidak merepotkan ? "


" Kau terlalu banyak basa-basi Elin bahkan dari sebelum kami mengatakan ini , kami sudah menyiapkan segalanya jadi kau tidak perlu khawatir , oke "


" Tapi Hannah dan Mike juga ikut "


" Rumah ini hampir sebesar hotel bintang lima Elin, apa kau masih lupa huh "


" Ya ya baiklah , sekarang kau terlihat sangat berkuasa Nyonya muda Remkez " kata Elin menggoda dan Green spontan saja tertawa ," memang bunda sudah meneruskan kekuasannya padaku sang Nyonya muda Senior " sahutnya dengan terus tertawa.


" Untung saja kau yang lebih dulu menjadi menantu di keluarga itu , andai saja Amel yang lebih dulu mungkin kau sudah di OSPEK darinya "

__ADS_1


" Iya kau benar , mungkin aku akan berada di dalam aturannya "


" Sekarang dimana Nyonya muda junior itu ? "


" Ntahlah mungkin masih di kamarnya , apa kau ingin berbicara padanya "


" Tidak Green biar simpan saja semua cercahannya saat aku disana nanti , aku yakin dia yang akan paling cerewet nanti "


" Itu sudah bisa di tebak dan emm..nanti aku yang akan menjemputmu di bandara " .


" Kau memang terbaik Green , baiklah sampai bertemu disana nanti "


" Bye Green "


" Bye Elin " tutup Green pada panggilan teleponnya.


" Apa mereka jadi datang hari ini ? " tanya Nathan penasaran yang sejak tadi ikut menyimak sambil bersiap untuk berangkat ke kantor.


" Ya , nanti sore aku yang akan menjemputnya ke bandara "


" Aku juga akan ikut " sambung Nathan cepat.


" Tidak , aku akan pergi bersama Amel "


" Aku akan pulang cepat hari ini "


" Ya ya terserah padamu "


" Kenapa menjadi ketus "


" Terserah padamu sayang " ulang Green dengan menjadi begitu lembut , namun sambil menghela pelan nafasnya.


" Tapi aku sungguh tidak sabar mereka tiba disini dan rumah ini pasti akan sangat ramai " lanjutnya dengan wajah yang kembali ceria , " ya , awas saja kalau kalian berani kembali punya rencana untuk datang ke club secara diam-diam "


" Kenapa harus mengungkit hal itu sih "


" Harus , sebelum terjadi aku sudah harus mengingatkannya "


" Itu tidak akan terjadi , kami tidak akan pergi ke club dengan diam-diam "


" Tapi dengan terang-terangan maksudmu "

__ADS_1


" Ya kau sendiri yang mengatakan jangan pergi diam-diam bukan " balas Green tertawa yang dengan sengaja menggoda suaminya.


" Kau memang istri yang nakal " geram Nathan sambil mencubit gemas wajah Green lalu mendaratkan kecupan di wajah halusnya.


~


Di rumah keluarga Vernandes semua orang nampak sibuk dengan semua aktifitasnya masing-masing.


Viona yang terus kesana kemari dengan segala kesibukannya , begitu pun Daniel yang terus berkutat dengan benda pipihnya untuk menyelesaikan semua pekerjaan kantor sebelum ia terbang menemui calon mertuannya nanti.


Sementara Elin kini tengah di sibukkan oleh Daniel yang memintanya untuk menyiapkan pakaian yang akan ia bawa ke Indonesia nanti , " Apa dia sedang mengujiku untuk menjadi calon istrinya huh " gerutu Elin yang kini tengah berdiri di tengah ruang Walking Closet milik Daniel dan ini pertama kalinya ia berada disana.


" Astaga aku benar-benar tidak tahu pakaian apa yang akan ia gunakan nanti dan lagi pula kenapa ruang pakaian ini harus begitu besar huh " gumamnya yang terus menggerutu oleh kebingungan dari mana ia akan memulai pekerjaannya itu.


dan perlahan ia bergerak menuju rak tempat dimana pakaian kemeja tersusun disana lalu mengambil beberapa pakaian itu dan menaruhnya di atas tempat dimana ia akan mengumpulkan semua pakaian Daniel sebelum ia menyimpannya di dalam koper.


" Apalagi ??? " gumamnya bingung setelah semua pakaian Daniel terasa sudah cukup untuk di bawa.


" Oh ya pakaian dalamnya , masa iya dia tidak akan mengganti pakaian dalamnya nanti " katanya berbicara dan tertawa sendiri , lalu kembali berjalan menyusuri ruangan walking closet untuk mencari dimana tempat laki-laki itu menyimpan pakaian dalamnya , " harusnya ada pelayan yang menunjukkannya padaku " katanya terus menggerutu karena belum kunjung menemukan apa yang ia cari , sampai akhirnya matanya menemukan beberapa laci.


" Oh my God " ucapnya dengan jantung yang berdebar dan tangan yang bergetar saat mencoba ingin menyentuh pakaian dalam Daniel , " Ternyata sebesar ini ukurannya " ucapnya tertawa geli dengan pikiran nakal yang berada di otaknya.


" Sayang apa yang kau lakukan disana ? " tanya Daniel tiba-tiba dan berhasil membuat Elin terkejut dengan perasaan yang sangat malu , " kau mengejutkan aku Daniel " katanya sambil bergerak dengan cepat untuk meletakkan kembali benda yang berada di tangannya.


" Kenapa wajahmu begitu merah sayang ? " tanya Daniel sambil tersenyum menggoda pada Elin , " emmm benarkah ? , mungkin karena disini sangat panas " sahutnya berkilah.


" Tidak mungkin sayang , kau lihat ACnya sudah berada di angka optimal " tunjuk Daniel pada alat pendingin yang berada di dalam ruangan itu.


Wajah Elin semakin memerah dengan lidah yang tercekat untuk kembali membela diri , " aku tahu apa yang ada di pikiranmu " bisik Daniel pelan padanya , membuat mata Elin membesar seketika.


" Tenang sayang , sebentar lagi kau akan segera merasakannya " sambungnnya dengan senyum yang menggoda.


" Apa yang tengah kau katakan Daniel ? , aku tidak sedang memikirkan apapun "


" Benarkan ? , tapi kenapa wajahmu semakin memerah huh " ucap Daniel yang tersenyum begitu lebar saat berhasil menggoda calon istrinya , " hentikan Daniel " teriak Elin dengan pipi yang sudah memerah seperti kepiting rebus , " baiklah aku akan pergi supaya kau dengan leluasa bercengkrama dengan pikiranmu "


" Kau memang sudah gila Daniel "


" Ya aku memang gila karena memikirkan seperti apa malam pertama kita nanti " balas Daniel tertawa lalu berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan pakaian dengan Elin yang akan siap mengamuk padanya.


" Ceh , otakku jadi ikutan kotor " gumam Elin tertawa setelah Daniel tidak lagi disana, " tapi aku juga penasaran seperti apa malam pertamaku nanti " sambungnya dengan pipi yang kembali bersemu merah.

__ADS_1


" Memikirkannya saja sudah mendebarkan bagaimana jika itu akan terjadi , astaga Elin buang jauh-jauh pikiran kotormu itu " gumamnya dengan tertawa geli dan pipi yang menghangat.


__ADS_2