Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Semangat Jerry


__ADS_3

" Apa kalian sudah saling mengenal ? " tanya Karin, ibu Jerry. Sementara Viona sudah tersenyum dari tempatnya.


" Bisa di bilang begitu " sahut Jerry, lalu kembali tersenyum ke arah Meili yang masih terdiam.


" Benarkah ? " sambung Karin, " baguslah, dengan begini kalian jadi semakin mudah untuk saling mengenal, bukan begitu Viona ? ".


" Itu semua kita serahkan kembali ke mereka. Sesuai yang kemarin kita bicarakan, tugas kita sekarang hanya mempertemukan mereka, selanjutnya merekalah yang memilih " sahut Viona dengan tersenyum penuh arti, " tapi aku harap mereka tidak menutup diri untuk saling mengenal lebih dalam, tidak ada salahnya di mulai dengan berteman bukan ? " sambungnya.


" Tentu, putraku pasti akan mau. Lagi pula dia tidak memiliki kekasih karena dari dulu aku sudah mengatakan bahwa dia sudah di jodohkan " jelas Karin tertawa, dan itu membuat pandangan Meili sedikit terkesiap.


" Ma... " seru Jerry menegur perkataan ibunya.


" Kita kembalikan lagi ke mereka lagi " timpal Viona, dengan sedikit melihat ke arah putrinya, " yang terpenting mereka sudah kita pertemukan dan nak Jerry tolong merasa terbeban, setelah ini kau berhak memilih jodohmu ".


" Aku sudah memilihnya tante " jawab Jerry begitu cepat, " aku tetap bertahan dengan perjodohan ini, ya walau pun mungkin putri anda tidak menyukaiku tapi tidak ada salahnya aku sedikit berjuang saat ini " tambahnya, dan ucapan itu mendapat tepuk tangan dari arah tiga perempuan yang tidak jauh dari sana, " semangat Jerry " teriak Green dan Amel bersamaan, " kami bersamamu Jer " tambah mereka lagi. Sementara Elin berada di dalam rasa dilema saat ini, tidak menolak. Namun sedikit mengganjal untuk memberi dukungan.


" Kau harus mendukung Elin, setidaknya akan lebih gampang jika iparmu juga orang Indonesia " bisik Green.


" Tapi tidak temanku sendiri juga kali Green " sahut Elin berdelik.


" Aku rasa itu memang lebih baik Elin. Jerry sama gilanya denganmu, dan itu tidak akan mempersulitmu nanti, setidaknya saat kita punya rencana liburan bersama " jelas Green.


Elin terdiam sejenak, " ya kau benar Green, tapi bagaimana kekasih Meili disana ".


" Itu biar menjadi urusan Meili jadi jangan kau pikirankan "


" Tidak bisa begitu Green, Aku juga harus memikirkan perasaan Meili, dia berhak menentukan siapa jodohnya "


Mendengar cercahan Elin, Green menghela nafas, " dukunganmu juga tidak akan menentukan Elin, Meili masih berhak memilih tapi dengan kau mendukung dia bersama Jerry, setidaknya itu akan sedikit merubah hatinya, lagi pula Jerry lelaki yang sangat baik dan kau tahu itu, jadi tidak ada salahnya kita mendukung Jerry saat ini ".


" Apa aku tidak terkesan mengkhianati Green ".


" Mengkhianati itu kalau kau yang berselingkuh dengan Jerry, Elin. Saat ini kau hanya mendukung mereka " pekik Green kesal, " kenapa telmi mu bisa tidak hilang-hilang sih " sambungnya, membuat Amel kembali menahan tawa.


" Baiklah " ucap Elin pelan.


" Baiklah apa ? " ulang Green.


" Ya baiklah, aku mendukung Jerry "


" Good Elin " sahut Green, " Jer semangat, Elin juga berada di pihakmu " serunya, dan itu membuat Meili ikut menoleh ke arah mereka dengan mata yang memandang kesal.


" Maaf Meil, tapi Jerry lelaki yang baik kok " ucap Green.


" Thanks Green " timpal Jerry tersenyum.


****


Sebelum pulang Karin memeluk erat tubuh Viona, " aku harap anak kita mau berjodoh " bisiknya di dalam pelukan, " aku sungguh hanya ingin berbesan denganmu Viona " sambungnya lagi, dengan sedikit heleaan nafas.

__ADS_1


" Malam ini mulai lah berdoa " balas Viona tertawa.


" Itu pasti "


" Semoga setelah ini kita kembali bertemu untuk hal yang lebih serius " ucap Karin.


" Aku harap juga begitu Karin. Tapi sebelum itu kau harus menjadi tamu undangan di dalam acara pernikahan putra sulungku " sambung Viona yang lagi-lagi kembali tertawa, ntah apa yang membuat suasana hatinya begitu senang saat ini.


" Ya benar, hampir saja aku lupa kalau kau akan mempunyai menantu sebentar lagi, apa calon menantumu juga ada disini "


" Itu dia " balas Viona sambil menunjuk ke arah Elin, " Nak " panggilnya pada perempuan yang kini justru sedang asik bicara bersama putra Karin, dan juga Green dan Amel.


" Mami memanggilku ? " balas Elin dan Viona mengangguk, " kemarilah ".


" Ada apa Mam ? " tanya Elin, setelah ia berada begitu dekat dengan Viona dan juga Ibunya Jerry, " tidak ada apa-apa, Mami hanya ingin memperkenalkanmu dengan Ibunya Jerry, dia sahabat Mami ".


" Hallo Tante " ucap Elin seraya membungkuk ke arah Karin.


" Gadis yang sopan dan cantik " puji Karin sambil memegang lembut pipi halus Elin, " Terimakasih Tante ".


" Kalian sama-sama beruntung " ucap Karin tersenyum.


Meski sedikit bingung dengan ucapan itu. Namun Elin memilih tetap diam.


" Semoga di lancarkan untuk pernikahan kalian nanti " sambung Karin.


" Terimakasih Tante " balas Elin, " Mam kalau begitu saya kembali kesana " pamitnya pada Viona.


" Kalau begitu kami juga pamit Viona " ucap Karin kembali berpamitan.


" Ya terimakasih sudah datang, jangan lupa berdoa malam ini " serunya tertawa.


" Tentu " sahut Karin, " Jerry ayo " ajak pada putranya yang masih sedang mengobrol, " Ya ma " sahut lelaki itu sambil berangsur mendekat sambil berpamitan pada semua orang.


" Meili " panggil Viona pada putrinya. Perempuan itu tidak bergerak dari atas sofa sejak tadi, bahkan juga tidak bicara sepatah kata pun." Ya Mam " balasnya sambil mendekat.


Baru saja Meili mendekat, Karin langsung merengkuh tubuhnya, " terimakasih karena mau menemui putraku ya cantik, Tante sungguh berharap kau menjadi menantu tante " ucap Karin, sementara Meili hanya bisa tersenyum canggung, " sampai bertemu lagi tante ".


" Yaa tentu, Tante memang sangat berharap kita akan bertemu lagi, jaga dirimu ya cantik " sambung Karin sambil melepas pelukannya, " iya tante " balas Meili kaku.


" Jerry, pamit dengan Ibunya Meili "


" Ya Ma " sahut Jerry seraya mendekat, " Terimakasih Tante Viona " ucapnya pada Viona.


" Untuk apa ? " sahut Viona sedikit tertawa


" Untuk putrimu yang cantik " balas Jerry tertawa, lalu sesaat ia terdiam sambil mengamati wajah Viona, " tunggu, apa waktu itu tante yang bersama Elin ? ".


" Hemmm.. " sahut Viona tersenyum.

__ADS_1


" Astaga, apa saat itu tante sudah mengetahui aku ? " tanyanya lagi.


" Tentu "


" Kenapa tante tidak langsung mengatakannya saja saat itu, kalau tante adalah calon ibu mertuaku " ucapnya begitu percaya diri, dan itu cukup membuat diam Meili sedikit terusik dengan sebentar melihat ke arahnya.


" Tante suka kejutan " sahut Viona tertawa.


" Ya ya aku juga begitu tante, aku sungguh menyukai kejutan ini " balas Jerry, sambil melirik ke arah Meili yang kini juga melihat ke arahnya. Namun dengan cepat pandangannya ia alihkan.


" Benarkah, kalau begitu kita mempunyai kesamaan " sambung Viona.


" Ya, aku kesamaan ini cukup membuat kita terlihat cocok untuk menjadi menantu dan mertua " ucap Jerry yang membuat Viona tidak bisa menahan tawanya, " Tante suka humormu Jerry.


" Tapi aku sungguh tidak bercanda tante " ucapnya begitu sungguh-sungguh.


" Ya tante tahu itu " kata Viona, seraya bergerak lebih dekat ke arah Jerry, " Berjuanglah lebih keras, tante bersamamu " bisiknya dan itu membuat Jerry segera mengangguk dan tertawa.


" Kalau begitu kami pamit pulang tante"


" Ya, berhati-hatilah " balas Viona, yang kemudian sedikit terhenyak saat melihat Jerry mendekat ke arah Meili.


" Sampai bertemu lagi cantik " pamit Jerry begitu lembut. dan tanpa suara Meili hanya mengangguk tanpa berani melihat ke arahnya.


" Semangat Jerry " seru Green dan Amel.


" Thanks Guys " balasnya sambil berlalu menuju pintu.


Sementara Elin masih berdiri, menanti keluarga Jerry benar-benar pergi, " hati-hati Jer " ucapnya.


" Kau begitu sibuk " ucap seseorang dengan begitu manja . Namun berhasil membuatnya begitu terkejut, di tambah lagi dengan dagu yang di tautkan di atas bahu kirinya, " kau mengejutkan aku Daniel ".


" Tapi aku merindukanmu " ucap Daniel dengan begitu manja.


" Ceh "


" Apa kau tidak merindukan aku, hemm.. " rengek Daniel sambil memeluk pinggang Elin


" Tentu aku merindukanmu, tapi jangan seperti ini, tidak enak dengan orang lain yang melihat " balas Elin sambil melepas ke dua tangan Elin dari pinggangnya.


" Mereka akan paham sayang, bukankah sebentar lagi kita akan menikah "


" Daniel... " seru Elin dengan nada yang di tekankan.


" Ya baiklah " balasnya dengan wajah yang terlihat kesal dan perlahan bergerak menjauh. Namun geraknya terhenti saat Elin menarik tangannya.


Cup


Elin mengecup cepat pipi kanannya, " jangan ngambek karena hal kecil ya calon suamiku " ucapnya dengan begitu lembut dan itu berhasil membuat wajah kesal Daniel menjadi berbinar, " sekarang sudah selesai bukan ? " tanyanya dan Elin mengangguk, " kenapa ? "

__ADS_1


" Berarti sekarang waktunya kamu bersama aku " katanya begitu manja lalu menarik tangan Elin dan membawa wanita itu pergi dari hadapan semua orang.


__ADS_2