
Elin terkejut ketika sepasang tangan merengkuh tubuhnya erat," berhenti menangis sayang. Aku sungguh tak suka melihat kau seperti ini", ucap serak dari tubuh yang mendekap punggungnya.
Daniel terbangun, ketika Elin terisak. Hatinya tersayat melihat perempuan itu memeluk erat binder yang di berikan kedua sahabatnya tadi malam. Tangis perempuan itu seperti tak akan berakhir. Dan ia tak kan bisa kembali tidur, jika perempuan itu masih terus seperti itu.
Dengan air mata berlinang, Elin menoleh padanya, lalu mendekapnya dengan begitu erat, " please berhenti. Melihatmu seperti ini, membuatku merasa bersalah", ucap Daniel, dengan tangan yang mengusap lembut pada punggung istrinya itu.
Elin menarik tubuhnya dari pelukan, menghela begitu dalam, dan menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya, " kau pasti belum tidur ? " tanya Daniel dan ia mengangguk, " aku tidak bisa tidur", jawabnya serak, lalu matanya melihat kembali pada binder yang masih berada di tangannya.
Daniel mengambil benda itu, lalu meletakkannya ke atas nakas yang berada tidak jauh dari mereka, " kau akan terus menangis jika terus melihatnya", titahnya, dan Elin tak ingin membantah hal itu, " tidurlah sayang,kau harus istirahat walau hanya sepejam ", pintanya, dan Elin mengangguk. Tubuhnya mengikuti saja ketika Daniel membaringkannya kembali ke atas ranjang, dan sempat lelaki itu mematikan lampu yang tadi sempat ia hidupkan.
" Tidurlah", kata lelaki itu sekali lagi, sambil mengelus kepalanya. dan di dalam cahaya remang, tubuhnya di rengkuh begitu erat. Namun, terasa sangat lembut.
Mencium aroma tubuh lelaki itu, mampunya lebih relax. Dan sedikit kesedihannya tersisihkan oleh arome itu. Matanya kemudian terpejam, tak cukup sepuluh menit ia berada di dalam dekapan, matanya sembabnya sudah tertidur.
Meski mengetahuinya, tangan Daniel belum ingin berhenti mengelus kepala istrinya. Ia membiarkannya sampai wanitanya itu benar-benar tertidur lelap.
Elin terbangun tepat pukul tujuh pagi, dua jam sebelum keberangkatannya ke Bandara. Hampir empat jam ia tertidur, dan selama itu berhasil membuat lingkaran matanya menggelembung dan membuatnya sulit untuk membukanya.
Ia tersenyum ketika melihat keadaan wajahnya di dalam layar handphone, " seperti mata Spongebob", gumamnya tertawa, dan setelah itu, ia menyadari kalau suaminya tak lagi berada di atas kasur, dengan cepat ia beranjak dari pembaringannya, lalu keluar dari dalam ruang tidurnya itu.
" Mba dimana suamiku ", tanyanya saat bertemu pada salah satu orang yang membantu di rumahnya itu, " Tuan ada di teras belakang Non, sedang ngobrol sama bapak", jelas perempuan setengah baya di hadapannya.
" Terimakasih mba ", ucap Elin yang langsung berjalan menuju tangga.
" Sayang ", serunya dengan nafas yang sedikit tersengal, oleh langkahnya yang begitu cepat saat menuruni anak tangga.
" Kau sudah bangun ? " tanya Daniel sedikit tersentak, ia terkejut ketika perempuan itu, tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
Elin mengangguk, " ayah ", sapanya kemudian pada Bimo.
Dan bersamaan Mala datang bergabung. Saat itu, tidak ada yang ingin bertanya, mengapa matanya menggelembung. Semua orang hanya melihatnya sesaat, lalu kembali pada obrolan mereka.
" Mba bilang pada Ibu, kau tidak membawa membawa barang-barangmu ! ", ujar Mala memulai pembicaraan, Elin mengangguk. Dan saat itu, Bimo menjeda obrolannya bersama Daniel.
" Daniel tidak menyuruhku membawa apapun, kecuali foto-foto dan benda-benda yang akan aku rindukan nanti ", kata Elin menjelaskan. Mala tak ingin memprotes hal itu, memang semestinya, anaknya menuruti kemauan suaminya.
Dan ia tak akan ragu, kalau putrinya akan kekurangan pakaian nanti.
__ADS_1
" Aku hanya tidak ingin, dia merasa kalau rumah ini bukan lagi tempatnya pulang ", jelas Daniel pada Mala dan Bimo, dan laki-laki paruh baya itu langsung menyetujui pikirannya, " anggap saja kalau saat ini, kau sedang mempunyai dua rumah, jadi saat kembali kesini, kau juga tidak perlu membawa apapun sayang", katanya lagi pada Elin. Dengan mata menggelembungnya perempuan itu tersenyum.
" Pergi mandi. Sebentar lagi kita sarapan ", titah Mala dan Elin langsung mengangguk. Dia sungguh tak berniat untuk melewatkan apapun pagi ini, pagi terakhir sebelum kepindahannya ke New York.
" Kau sudah mandi ? ", tanyanya pada Daniel dan laki-laki itu mengangguk.
Mata sembabnya membesar mengetahui itu " kau curang ", katanya seraya ingin bergerak pergi. Dan Daniel tersenyum, " apa kau ingin mandi berdua ", serunya tanpa peduli ia berada di hadapan Ayah mertuanya, " kalau kau mau, aku tidak akan menolak untuk mandi lagi", sambungnya, Elin segera memutar tubuhnya, " jaga bicaramu Daniel. Ayahku menyimpan senapan di rumah ini ", balasnya. Bimo yang saat itu sedang menyesap kopi, menjadi terhenti karena ucapannya, lalu kemudian tertawa.
" Benar Ayah ? ", tanya Daniel penasaran ,dan Bimo mengangguk, " untuk jaga-jaga", sahut sekenanya. Tapi kalimat itu berhasil membuat Daniel melipat bibirnya, dan sedikit menyesal dengan ucapannya tadi.
Pagi ini, menu di meja makan terlihat sangat berlebihan, bahkan Seni terperanga ketika sampai di hadapan meja, tapi ia tak berkomentar apapun. Ia menyadari, semua makanan yang berada di atas meja, adalah makanan kesukaan kakak perempuannya.
Bahkan Elin sempat menghela nafas saat melihat semua hidangan pagi ini. Sebelum pergi, ternyata Ibunya memberikan beban padanya, yaitu memakan semua hidangan yang sudah di siapkan pagi ini. Dan semua itu harus muat di perutnya yang tipis.
Sementara Daniel, sudah di siapkan Sandwich untuk sarapannya. Sungguh tak adil memang, tapi selera mereka berbeda, lelaki itu tak mengonsumsi makanan berat di pagi hari.
Elin menyendokkan nasi uduk ke piring Seni. Dan tersenyum ketika gadis remaja itu melihat padanya, " kau harus belajar yang rajin ", pintanya dan Seni mengangguk, " jangan lupa juga bantu Ibu ", sambungnya dan saat itu, Tama bergabung di meja makan," jangan menjadi beban keluarga seperti dia ", sindirnya. Seni tertawa mendengar itu. Sementara yang sedang di sindir seperti tak peduli, " aku juga ", pinta lelaki itu, sambil menyodorkan piring kehadapannya.
Bimo bereaksi melihat itu, " apa kau tidak bisa sendiri ? " tegurnya.
" Kenapa hanya ayam goreng dan sambal ? " kata Daniel, menegur isi piring Tama yang di berikan oleh istrinya, " dia tidak bisa makan, makanan yang banyak lauknya ", kata Elin menjelas. Tama memandangnya saat itu. Padahal selama ini dia tidak pernah memberitahu kebiasaannya itu. Tapi ternyata perempuan itu mengamatinya.
" minta lagi kalau ayam gorengmu sudah habis ", titah Elin dan ia mengangguk. Dirinya merasa sedikit terharu saat itu, tapi tak mungkin mengungkapkannya.
" Kalau Seni nanti juara kelas, Seni bisa minta apapun pada kakak ", ucap Elin yang kembali berinteraksi pada adik bungsunya. Senyum gadis itu mengembang, " sungguh apapun kak ? ", tanyanya memastikan dan Elin mengangguk.
" Aku ", kata Tama tiba-tiba menimpali. Elin langsung berdelik padanya, " Kalau kau, kau boleh minta apapun jika satu semester saja kau tidak membuat onar sekali pun", titahnya.
" Setuju ", sahut lelaki itu lantang.
" Kau harus bersekolah dengan benar", kata Daniel menyambung. Tama menoleh padanya, " kau satu-satunya yang akan meneruskan semua usaha Ayah ", lanjutnya. Kalimat itu seperti sihir yang tidak bisa membuat Tama tidak mengangguk.
" Liburan sekolah nanti, kakak akan kemari untuk menjemput kalian ke New York ", tambah Daniel. Senyum Tama merekah, begitu pun Seni. Tapi justru yang tidak tersenyum istrinya sendiri. Walau sebenarnya perempuan itu begitu senang, tapi ajakkan pada adiknya itu tidak pernah lelaki itu bicarakan padanya, " terimakasih ", ucapnya lemah, dengan menyentuh lembut tangan lelaki itu.
" Seni harus memberitahu kakak, kalau dia membuat onar lagi ", pintanya dan Seni mengangguk, sementara orang yang di maksud hanya cengar cengir tanpa merasa terbebani.
Elin berpamitan lebih awal dari meja makan. Ia harus kembali ke kamarnya untuk memastikan tidak ada benda yang terlupakan untuk di bawanya nanti. Meninggalkan Bimo, Tama, dan suaminya yang masih mengobrol. Sementara Mala sudah kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan yang akan di bawanya nanti. Sempat kemarin ia menolak, supaya tidak merepotkan, tapi wanita paruh baya itu bersikukuh ingin menyiapkannya. Dan dirinya tidak mungkin menolak. Semua makanan buatan Ibunya itu, pasti akan ia rindukan nanti.
__ADS_1
" Jam berapa kita pergi kebandara ? ", tanya Tama, saat menyelesaikan suapan terakhir ke mulutnya.
" Kau ikut ? " balas Ayahnya, seperti tak percaya dan ia mengangguk.
" Sebentar lagi ", kata Daniel menimpali, setelah mastikan pada arloji di tangannya. Saat ini benda itu telah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Mendengar itu, Tama bergegas dari duduknya, " berarti aku harus bersiap", gumamnya dengan beranjak.
" Tama ", panggil Bimo tiba-tiba. Dan Tama menghentikan cepat gerakkannya, " ada apa Ayah ? ", tanyanya heran. Tanpa bicara lelaki paruh baya itu meletakkan sesuatu ke atas meja makan. Dan mata Tama berbinar melihat itu, " ayah mengembalikannya ? ", tanyanya tak percaya.
" Tidak akan kalau bukan kakakmu yang meminta ", sahut Bimo. Meski begitu, senyum Tama tetap mengembang. Di ambilnya cepat benda kecil yang akhirnya kembali lagi padanya, " terimakasih Ayah ", ucapnya begitu senang.
" Berterimakasih pada kakakmu. Kalau bukan dia yang merayu, Ayah tidak akan memberikannya", ucap Bimo.
" Baik Ayah ", sahut Tama, yang sudah berlari menuju anak tangga dengan membawa kunci mobil mewahnya.
Ia menepati janjinya dengan tidak kembali ke ruang tidurnya lebih dulu, tapi berjalan menuju ruang tidur Elin.
" Ada apa lagi ? ", tanya perempuan itu, ketika menyadari keberadaannya di ambang pintu, " ayah sudah mengembalikannya ", katanya memberitahu, sambil mengangkat kunci mobil di tangannya. Elin hanya melihat sekilas, " usahakan jangan lagi membuat onar Tama. Aku tidak ada disini untuk menolongmu ", ucapnya serius, dengan tubuh yang kesana kemari di dalam ruang tidurnya.
Saat itu tama tak protes, ia justru masuk ke dalam ruang itu, lalu duduk di tepian ranjang.
" Jangan sering meninggalkan rumah. Meski Ayah ada, tapi kau harus mengontrol rumah ini.. "
" Ayah sudah tua ", sambung Elin, dan kali ini, ia bicara dengan melihat wajah adiknya, " Sekarang, kau yang bertanggung jawab di dalam rumah ini ", katanya lagi dan Tama masih diam, " kau dengar ? ", titah Elin.
" Hemmm.. " sahut Tama mengangguk.
" Kau harus mulai dewasa Tama, jangan lagi hanya memikirkan dirimu sendiri.., aku sungguh hanya mengandalkanmu untuk menjaga Ayah dan Ibu ", katanya memberitahu dan Tama mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Apa kau dengar ? " bentak Elin.
" Iya kakak ", sahut Tama, " mana mungkin aku tidak menjaga Ayah dan Ibu ".
" Aku serius Tama ", sergah Elin, " hanya kita yang Ayah dan Ibu miliki. Seni masih kecil, aku jauh, dan berarti hanya kau yang bisa di andalkan", sambung Elin. Kali ini Tama kembali mengangguk, dan wajahnya serius.
" Selalu beri kabar padaku, sekecil apapun yang terjadi di rumah ini ", pinta Elin lagi dan Tama kembali mengangguk.
" Kau tidak akan cepat kembali ? " tanya Tama tiba-tiba. Elin menoleh padanya, " aku bahkan tidak tahu kapan akan kembali lagi ", sahutnya dan setelah itu, mereka menghening.
__ADS_1