Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Menggoda dan Karma


__ADS_3

Mata Elin mengercap saat sinar matahari pagi mulai masuk dari cela gorden dan mengganggu tidur lelapnya , di bukanya perlahan mata yang masih mengantuk untuk menerawang ruang yang masih sedikit asing dari penglihatan namun seperti mengenalinya , " oh tidak " setengahnya berteriak dengan menutup mulutnya lalu dengan sedikit ragu ia menengok ke arah samping ia terbaring dan seketika itu saja jantungnya hampir lepas , " bagaimana ini terjadi , aku benar-benar ingat kalau aku tidak mabuk tadi malam " gumamnya bersama ketakutan karena sepagi ini telah menemukan dirinya berada di kamar Daniel dan tidur di tempat yang sama bersama laki-laki itu.


Segera ia menyimbak selimut yang menutupi tubuhnya dan lagi-lagi matanya membesar saat menemukan dirinya tidak lagi menggunakan pakaian seperti yang ia gunakan tadi malam, " oh no , Daniel bangun Daniel " panggilnya berteriak sambil menggerakkan tubuh yang masih tertidur lelap di sampingnya.


" emmm... " balas Daniel tanpa membuka mata.


" Daniel bangun " teriaknya kembali.


" ada apa sayang ? aku masih mengantuk"


" Daniel bangun , jelaskan kenapa kita bisa tidur bersama dan apa yang sudah kita lakukan ? " tanyanya tidak sabar , mendengar ocehan itu mata Daniel seketika terbuka lalu menatap lamat-lamat pada tubuh kekasihnya yang kini sedang menatapnya dengan begitu serius.


" Oh... " ucapnya singkat dengan bibir yang tersenyum lalu memejamkan kembali matanya.


" Daniel... " teriak Elin begitu kesal hingga membuat ia lupa jika teriakannya itu akan membuat semua orang tahu apa yang sedang terjadi , " sayang kenapa kau begitu khawatir , bukankah sebentar lagi kita akan menikah " ucap Daniel begitu santai , Elin terdiam dengan mata yang membulat sempurna dengan tenggorokan yang tercekat untuk kembali berbicara.


" Aku akan siap kapan saja untuk menikahimu asal tidak hari ini karena itu begitu mendadak " ujar Daniel kembali yang kini memilih ikut bangun dari tidurnya , bahkan dengan santai ia beranjak dari tempat tidur dengan memperlihatkan dadanya yang terbuka.


" Da..da..ni..el apa kau serius ? " tanya Elin terbata-bata dengan wajah yang sedikit memucat.


" Tentu aku serius sayang , jika kau ingin kita menikah besok tentu aku tidak akan menolak " balasnya tersenyum singkat pada Elin lalu berjalan kearah tempat penyimpan pakaiannya , " bukan itu Daniel " teriak Elin.


" Lalu apa sayang ? " balasnya kembali.


" emmm.. apa benar kita telah melakukan itu tadi malam ? "


Mendengar pertanyaan itu sekejap saja bibir Daniel melengkung dengan sempurna sambil memasangkan kembali pakaian di tubuhnya , " melakukan apa ? " tanyanya kembali dan senyum tadi harus ia tahan saat kembali menghadap pada kekasihnya ,


" emmm itu.. sudahlah Daniel kau pasti tahu apa yang aku maksud "


" Aku tidak akan tahu jika tidak di jelaskan sayang "


" Sudahlah " sahut Elin yang kini menjadi jengkel dengan mata yang menatap tajam pada Daniel.


" Ya jangan di pikirkan , untuk hal apapun yang terjadi padamu aku pasti akan bertanggung jawab "


" Jadi benar kita sudah melakukannya huh ? "

__ADS_1


" Apa kau tidak ingat sayang ? " Daniel kembali bertanya dengan tawa yang setengah mati ia tahan dengan Elin menggelengkan pelan kepalanya dengan tatapan penuh cemas , " sangat di sayangkan padahal kau begitu menikmatinya tadi malam " katanya lagi dengan Elin yang sudah terdiam dan memucat.


" Mandilah " pintanya pada Elin dan tanpa protes perempuan itu menurut dengan beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi , " kau sungguh ingin mandi sayang ? "


" Bukankah kau yang menyuruhku"


" Emmm..ya , tapi kenapa kau tidak lagi bertanya tentang apa yang terjadi tadi malam ! "


Elin menghentikan langkahnya dan kembali menghadap ke arah Daniel , " bukankah kau yang bilang untuk jangan khawatir dan akan bertanggung jawab untuk apapun yang terjadi padaku " ujar Elin dan Daniel mengangguk membenarkan.


" Jadi kenapa aku harus bertanya lagi " sambungnya enteng , Daniel sedikit membesarkan matanya atas reaksi kekasihnya kali ini , " tapi apa kau tak penasaran seperti yang terjadi sebenarnya ".


" Tidak , aku pasti akan tahu jika aku sudah mengingatnya nanti " sahutnya lalu kembali berjalan ke arah kamar mandi.


Tak menunggu pintu kamar mandi tertutup rapat Daniel sudah mendekap mulutnya menahan agar suara tawanya tak terdengar oleh calon istrinya itu ," kenapa kau begitu polos sayang " ujarnya dengan satu tangannya lagi mendekap perut yang terasa sakit karena manahan tawa.


Klek " pintu tiba-tiba kembali terbuka dan Daniel dengan sigap menghentikan tawanya , " apa yang mengganti pakaianku juga kamu ? " tanya Elin dari balik pintu kamar mandi yang setengah terbuka.


" Ya siapa lagi " jawab Daniel sembari mengangguk , " ya benar juga " balasnya lagi lalu kembali menutup pintu.


Daniel benar-benar di buat tertawa sejadi-jadinya dengan tingkah calon istrinya yang begitu polos dan bodoh bersamaan.


" wowww " puji Viona dengan mata yang sedikit membesar saat melihat sarapan di meja makan pagi ini.


" Morning Mam " sapa Green dengan celemek yang terpasang di tubuhnya serta spatula yang berada di tangannya , " kenapa kau begitu repot-repot nak " ujar Viona saat mengetahui makanan di atas meja adalah hasil karya dari wanita mudah di hadapannya , " ini tidak merepotkan mam , hari ini hari terakhir kami disini dan aku begitu penasaran seperti apa dapur rumah orang-orang kota New York " balas Green tertawa.


" Hanya Nasi goreng dan rendang " sambungnya lagi.


Wajah Viona benar-benar berbinar menatap makanan di hadapannya , " mami memang sedang merindukan makanan ini " ujarnya begitu terharu.


" Sebenarnya makanan ini kurang cocok untuk di makan pagi hari tapi karena aku sudah membuatnya , aku rasa semua orang tidak akan menolak "


" Tentu " Balas Viona tertawa.


" Terimakasih Green " ucapnya lagi.


" Kenapa harus berterimakasih mam , justru aku yang harus meminta maaf karena tanpa ijin sudah menyabotase dapur mami " balasnya tertawa dengan Viona yang ikut tertawa , " Mami sungguh berterimakasih karena berkatmu mami bisa menikmati makanan ini lagi ".

__ADS_1


" Sama-sama mam , cepatlah pulang ke Indonesia disana aku pasti akan masak setiap hari untuk mami "


" Benarkah ? "


" Tentu , sebagai ganti selama disini mami sudah menjaga Naina "


" Itu memang maunya Mami Green " sahut Viona sambil berangsur duduk , " apa yang lain masih tidur ? " tanyanya lagi karena tidak menemukan siapa-siapa selain beberapa pelayan dan mereka berdua di meja makan.


" Nathan sedang mandi , mungkin Amel dan Alfin juga akan segera menyusul kemari " jelas Green dan Viona mengangguk.


" Tolong bangunkan Tuan muda dan calon nyonya muda " pinta Viona pada salah satu pelayan yang berdiri tidak jauh darinya , Green yang baru saja ingin kembali ke dapur menghentikan langkahnya , " emmm.. sepertinya mereka tidak disini mam " katanya sedikit ragu.


" Maksudku mungkin Elin sudah pergi pagi-pagi sekali karena tadi aku sudah ke kamarnya dan dia tidak ada " lanjutnya menjelaskan walau ada kebohongan disana karena ada sesuatu yang harus ia tutupi.


" Benarkah , kemana menantuku sepagi ini ? , kalau begitu bangunkan saja Tuan muda "


" Emm.. mungkin kak Daniel juga ikut pergi bersama Elin mam " timpal Green lagi.


" Maaf tapi saya sudah bangun pagi sekali nona dan tidak ada satu pun orang yang pergi pagi tadi " timpal salah seorang pelayan , " mungkin mereka pergi sebelum kau bangun " potong Green cepat.


" Tapi mau kemana mereka pergi pagi-pagi sekali ? " ujar Viona bingung.


" Mungkin ada sesuatu yang mereka lakukan untuk pernikahan mereka mam "


" Ya mungkin saja " balas Viona lagi dan Green segera menghela nafas legah setelah berhasil menutupi kenyataan kalau sepasang manusia itu mungkin sedang tidur berdua di dalam apartemennya , walau kenyataan sebenarnya ia salah.


~


" Sayang boleh aku pinjam bajumu lagi ? , aku tidak mungkin keluar ke kamarku dalam keadaan seperti ini " ujar Elin yang baru saja selesai dari mandinya.


Mendengar itu Daniel yang sedang berkutat dengan benda pipihnya mendongakkan pandangannya dan matanya di buat tidak berkedip oleh pandangan menakjubkan pagi ini , " sayang " panggilnya pelan pada Elin.


" Hemm.. dimana bajumu ? , apa aku boleh mengambilnya sendiri ? " tanya Elin tanpa mengetahui jika ia telah berhasil membuat sepasang mata menatap tidak berkedip padanya , " sayang kenapa kau hanya menggunakan handuk ? " tanya Daniel dengan sedikit terbata-bata.


" itu sebabnya aku ingin meminjam bajumu "


" Maksudku kenapa kau begitu berani dengan seperti ini di hadapanku "

__ADS_1


Elin menghentikan gerakannya tiba-tiba dan melihat pada dirinya sendiri yang hanya menggunakan sehelai handuk yang terlilit di tubuhnya, " memangnya kenapa ? bukankah kau sudah melihat semuanya tadi malam " balasnya begitu santai lalu kembali mencari pakaian Daniel yang bisa ia gunakan dan mau tidak mau ia harus kembali membelakangi lelaki itu dan menampakkan kemolekan tubuhnya yang hanya terlilit handuk.


sedangkan Daniel harus menelan paksa ludahnya karena pemandangan di hadapannya saat ini , " ini sangat menggoda namun juga seperti karma untuk diriku sendiri " gumam Daniel sambil mengusap kasar wajahnya karena ada sesuatu yang harus tertahan sepagi ini.


__ADS_2