
Jerry baru saja meletakkan tas kerjanya ke atas meja, lalu melonggarkan sedikit ikatan dasinya. Dan saat itu,garis bibirnya terangkat, bahkan sebelum itu. Sepanjang jalan menuju kantor ia tak berhenti tersenyum.
Padahal ia mulai merasakan tulang rahangnya sedikit kaku, tapi lengkung bibirnya, seperti tidak bisa di tahan.
" Kau mengejutkan aku ", pekiknya, ketika berbalik badan, dan menemui Nado, berdiri tepat di hadapannya. Teman kerjanya itu menyeringai, " sepertinya kondisimu sudah sangat baik hari ini ", ujar lelaki itu, matanya menatap penuh selidik.
Jerry berusaha mengulum senyumnya saat itu, dan membuat senormal mungkin dirinya.
" Apa perempuan itu sudah membalas cintamu ? ".
Jerry terkesiap,dan Nado langsung tertawa saat itu. Bahkan, lelaki kelahiran asli pulau Dewata itu tergelak tanpa henti, " mudah sekali di tebak ", katanya.
Wajah Jerry memerah, meski tak terlihat jelas.
Kemudian Nado melemparkan beberapa berkas file ke atas meja, " tanda tangani itu, semua orang sudah kesal menunggu ", katanya memberitahu. Kali ini Jerry kembali terkesiap, lalu menatap pada semua file di hadapannya.
" Kau masih hanya akan menatapnya huh ? ", pekik Nado, lalu menghela begitu dalam, " Hallo pak Boss, apa jiwamu belum juga kembali ", katanya begitu kesal, seraya melambaikan tangan ke hadapan wajah lelaki itu.
" Kenapa menumpuk seperti ini ? ", tanya Jerry menyeletuk, dan Nado kembali menghela, " kau tanya aku kenapa ? ", katanya berbalik bertanya.
" Sepertinya memang jiwamu belum kembali ke tempatnya ", katanya semakin kesal, " Tuhan, kalau saja aku tidak makan dari pekerjaan ini, sudah aku tinggalkan teman bodoh ini ", gumamnya mengumpat.
Tak sadar Jerry tersenyum mendengar itu, lalu tanpa kembali bertanya, ia menyoretkan tanda tangannya ke atas kertas, lebih dari sebelas kertas yang akan ia tanda tangani pagi itu.
" Serius Nado, kenapa berkasnya menumpuk seperti ini ?", tanyanya serius. Mimik muka Nado seperti ingin menelannya hidup-hidup saat itu juga, " ingin sekali aku menyekik lehermu ini Jerry ", geramnya.
" Kau benar-benar tak ingat huh !, kalau kau sudah seperti zombie beberapa hari ini. Setiap aku datang keruanganmu, kau seperti orang bodoh yang hanya melamun, dan saat aku kembali lagi kau sudah pergi. Jadi bagaimana berkas-berkas ini tidak menumpuk ", cercahnya semakin geram.
Jerry terpaku sejenak, " apa aku sungguh seperti itu ? ", katanya tak percaya.
" Kau ingin aku memperlihatkannya dari cctv ? ", tukas Nado.
" Kau sungguh menyebalkan beberapa hari ini ", tambahnya lagi, " dan juga kemarin ", sambungnya, dan kali ini kalimatnya lebih di tekankan, bahkan matanya sedikit menyala saat mengatakan itu.
" Bisa-bisanya kau pulang tanpa memberitahu ".
" Memangnya apa yang terjadi di Jakarta ? ", katanya ingin tahu.
" Hidup dan Matiku ada disana Nad ", sahut Jerry, matanya menatap serius. Sekali lagi Nado, menghela dalam, demi menahan emosinya yang sudah menggunung dan siap meletus.
" Kenapa kemaren tidak mati saja sekalian", umpatnya kesal. Menarik berkas di hadapannya,dan membawanya pergi.
Jerry tersenyum, sambil terduduk di sisi meja kerjanya. Kalau saja lelaki itu bukan teman kecilnya. Mungkin pagi ini terakhir kali lelaki itu bekerja bersamanya.
" Hei Jerry ", panggil lelaki itu, dengan tiba-tiba mendekat kembali. Jerry yang memang sedang memperhatikannya, sedikit tersontak.
Wajah Nado saat itu, seperti sangat penasaran, " Kita mendapat email dari perusahan New York ", katanya memberitahu. Mendengar itu tubuh Jerry bereaksi, dia langsung bangun dari duduknya.
" Aku lihat itu dari perusahaan besar, sangat besar malah. Aku tak mengerti, kenapa mereka langsung memberikan proyek baru, bukan menawarkan lagi. Seperti kau sudah menanda tangani kontrak dengan mereka. Bukan hanya satu proyek saja, tapi tiga proyek, dan itu real. Aku sudah memeriksa semua proyek itu ".
Jerry masih mematung mendengarkan.
" Apa itu, fake email ? ", ujar Nado menerka-nerka, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya lagi, " tidak, tidak aku sudah memeriksa hal itu juga ".
" Tapi Jer, aku masih ragu. Bagaimana perusahan sebesar itu menggunakan Vendor kita. Bahkan proyek yang mereka tawarkan, sebelumnya sudah pernah ingin di berikan pada Vendor-vendor besar ".
" Pelajari saja semuanya berkas yang mereka berikan ".
" Dengan sangat teliti ", tambah Jerry.
Nado melongo mendengar itu. Bukan hanya karena proyek tiba-tiba ini, ia terkejut. Tapi raut wajah Jerry. Lelaki itu begitu serius,dan ia sangat mengenali wajah itu, wajah yang hanya beberapa kali ia lihat, ketika pria itu menangani sesuatu hal yang begitu penting, " kau yakin ? ", tanyanya, Dan Jerry mengangguk dengan sungguh-sungguh.
" Memangnya kau tidak ragu ? ", tanyanya lagi dan Jerry menggeleng, " kali ini harus lebih serius Nad, bukan hanya pekerjaan yang aku pertaruhkan disini ", tukasnya.
__ADS_1
Nado masih terhenyak, " kau yakin dengan proyek ini ? ", tanyanya sekali lagi. Dan Jerry pun tetap kembali mengangguk, " ingat Nad, kau harus mempelajarinya dengan teliti ".
Meski belum mengerti, Nado mengangguk, dan matanya masih menatap penuh selidik pada Jerry. Ia sungguh penasaran, apa yang membuat lelaki itu langsung begitu serius dalam proyek yang ia katakan, padahal dia belum membacanya.
" Kembalikan wajahmu seperti tadi ", titahnya, dan Jerry kembali terkesiap, dia melemparkan tatapan tak mengerti, " tadi saat kau datang, wajahmu berseri-seri seperti bunga liar di pinggir jalan pantai Kuta ", katanya mendetail maksdunya.
Mata Jerry membesar, " Bangsat, maksudmu bunga liar ", katanya tak terima, meski kemudian ia tertawa.
" Ya sangat mirip seperti bunga itu ", ucap Nado, menunjuk pada wajah Jerry yang tertawa, dan lelaki itu segera mengulum bibir.
" Kau selalu cepat bisa di tebak kalau sedang jatuh cinta ", sergah Nado, sambil berlalu meninggalkan ruang Jerry. Meninggalkan laki-laki itu yang kini terdiam.
Baru saja Nado menutup pintu ruangannya, ia sudah berjalan cepat menuju cermin yang sengaja di letakan di sudut ruang. Ia menatap dengan lamat wajahnya sendiri, " biasa saja ", gumamnya. Dan saat itu, pintu ruangannya kembali terbuka oleh Nado, dan ia terperanjat saat itu juga.
" Dua puluh menit lagi kita ada pertemuan ", ucap lelaki itu, sambil mengulum bibirnya menahan tawa.
Hari ini Nado tak henti menghela nafas, oleh lelaki yang terus bersamanya sepanjang hari.
Beberapa menit sekali, ia menemukan Jerry melihat pada alrojinya di tangannya, lalu kemudian melihat ke layar handphonenya. Terus seperti itu, sepanjang hari.
Sebelum meeting, dan setelahnya, yang pertama kali lelaki itu lihat adalah handphonenya, bahkan saat makan siang. Hidangan di hadapannya, seperti tidak lebih menarik dari benda pipihnya itu.
Dan saat ini, mereka baru saja selesai dengan pertemuan bersama klien, dan beruntungnya ini yang terakhir. Seperti itu gumam Nado, sepanjang pertemuan. Beruntung ini yang terakhir, gumamnya tak berhenti, karena sepanjang pertemuan itu, Jerry terlihat sangat gusar, bahkan tak segan-segan memeriksa handphonenya di hadapan klien. Satu kali lagi saja pertemuan mereka. Nado yakin dia akan gila hari itu, karena ulang Jerry.
" Kalau aku yang menjadi klien itu. Sungguh aku akan membatalkan kontrak perkerjaan ini ", katanya bergumam, di perjalanan mereka menuju letak mobil Jerry.
Lelaki itu menoleh padanya, " apa kau memang setidak waras ini kalau jatuh cinta huh ", pekik Nado, " sepertinya aku harus minum obat darah rendahku hari ini ", katanya lagi, seraya menepuk tengkuk lehernya, dan tanpa rasa bersalah Jerry tertawa.
Dan bersamaan handphonenya berdering. Garis bibirnya merekah saat memandang layar benda itu, bahkan Nado bergidik mendapati wajahnya, " kau sungguh menggelikan Jerry ", umpatnya. Tapi lelaki itu tak lagi peduli ucapannya.
Dengan mata berbinar, dan bibir yang terkulum menahan senyuman, lelaki itu menjawab panggilan telepon di handphonenya.
" Kau sudah bangun ? ", tanya begitu lembut, bahkan sangat. Sampai Nado ingin memuntahkan semua isi dalam perutnya saat itu.
" Aku baru selesai bertemu dengan klien. Sungguh aku tidak bohong ".
Nado menoleh cepat saat itu, memandangi Jerry dengan kedua alisnya yang bertaut, lalu menggeleng, " benar-benar dan sangat menggelikan ", gumamnya.
" Sebentar saja. Aku akan cepat sampai ke apartemen, lalu langsung menelponmu ".
" Sungguh ".
" Tiga puluh menit. Beri waktu aku tiga puluh menit ", kata Jerry pada teleponnya, dan Nado kembali menoleh padanya dengan mata yang semakin membesar, " tiga puluh menit ", katanya bergumam, " dia lewat mana tiga puluh menit. Lewat angin ", sambungnya, dan saat itu Jerry telah selesai dengan panggilan teleponnya.
" Kau teman terbaikku ", kata lelaki itu merangkul tubuh Nado. Dan Nado mengerenyitkan dahi, " aku sungguh aku mengumpat padamu, jika saat ini kau memintaku pulang dengan taksi ".
Dan saat itu, Jerry langsung menyeringai, " maaf kawan. Sungguh aku akan mengganti rugi biayanya ", katanya tanpa rasa bersalah.
" Kau hanya mengantarku kembali ke kantor Jerry. Lalu kau bisa segera pulang. Apa itu memakan waktu yang banyak huh ".
" Aku sudah berjanji tiga puluh menit. Jika harus kembali lagi ke kantor, aku butuh satu jam Nado ".
" Dengan siapa kau berjanji huh, sampai kau mengorbankan pertemanan kita ", pekik Nado kesal, dan ini kesekian kalinya juga ia kesal hari ini, karena ulah lelaki itu.
" Kau tak perlu tahu siapa. Tapi ini menyangkut kebahagian dan masa depanku Nado ".
" Kau benar-benar sudah gila. Pergilah kau sial, aku sungguh tidak ingin lagi melihat wajahmu ", ucap Nado semakin meradang, dan Jerry justru hanya tertawa, dan benar-benar meninggalkan lelaki itu, " maafkan aku teman ", serunya, sambil membawa mobilnya berlalu.
" Aarrrrrrggghhhhh ", teriak Nado, meluapkan kekesalannya, " ingin sekali aku memukul wajahnya ".
•••
" Tidak lebih tidak kurang bukan ", kata Jerry dengan bibirnya tersipu, saat Meili menjawab teleponnya, padahal pada saat itu baru selangkah kakinya masuk ke dalam apartemen. Dan tepat di tiga puluh menit kemudian, setelah ia, menutup terakhir kali panggilan itu.
__ADS_1
Dan selang beberapa detik, handphonenya berbunyi dan ia tersenyum. Meili kembali melayangkan panggilan video call padanya, " apa kau tidak percaya padaku ", ucapnya. Perempuan yang berada di balik layar, dengan mata sembab bangun tidur, menggeleng, " aku ingin melihat wajahmu ", ucapnya serak.
Saat itu Jerry setengah mati menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, meski ia tahu pasti sia-sia. Garis itu, pasti tidak bisa di hentikan.
" Kau belum mandi ? " tanya Jerry mengalihkan.
" Sebentar lagi. Aku masih ingin melihat wajahmu ".
Jerry memalingkan wajahnya dari layar kamera. Ia sungguh tidak bisa menahan senyumnya saat itu.
" Bagaimana hari ini ? ", tanya Meili, dengan suara yang masih serak.
" Sangat baik ", sahutnya langsung, seperti mulutnya bergerak tanpa terkendali.
" Apa mimpimu indah ? ", katanya berbalik bertanya. Saat itu, ia menyadari obrolan mereka yang begitu kaku, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan dari perbincangan mereka. Lidahnya masih kaku, untuk berbincang pada perempuan, " tak seindah saat ini ", sahut Meili. Jawabannya terdengar seperti rayuan, tapi itu lah yang terjadi.
Tidurnya tidak nyenyak, karena tak sabar menunggu pagi, dan bertukar kabar pada lelaki itu.
Jantung Jerry di buat terpompa tak menentu oleh Meili. Ia sungguh sulit untuk menyembunyikan pipinya yang merona, " apa rencanamu hari ini ? ", tanyanya mengalihkan.
" Bertukar kabar denganmu, apa lagi selain itu ? " sahut Meili dengan sejujurnya.
" Kau tidak ada jam kuliah hari ini ? ".
" Aku masih libur ".
" Kau pasti menambah liburmu sendiri ". celetuk Jerry dan Meili langsung tergelak, " kau begitu cepat mengetahui tentangku ", katanya.
" Lalu apa yang ingin kau lakukan sepanjang hari ini ".
" Bukankah aku sudah bilang ingin bertukar kabar denganmu. Astaga, maaf. Kau pasti sibuk ".
" Tidak juga ", balas Jerry, seraya menoleh pada laptop di atas meja. Dan ia membatin saat itu, " waktumu tengah malam nanti ", katanya pada laptop. dan tersenyum.
" Siapa yang sedang kau lihat ? ", celetuk Meili dengan kedua alis yang bertaut.
" Tidak ada ".
" Tidak mungkin. Kau tersenyum Jerry ".
" Sungguh tidak ada sayang ". ujar Jerry, dan Meili sempat terhenyak sesaat, oleh ujung kata yang di ucapkan lelaki itu, " arahkan camera belakangmu ", titahnya.
Jerry tertawa, dan menuruti keinginan perempuan itu, " tidak ada siapa-siapa bukan. Hanya ada laptop ".
" Jangan hanya kesitu, tapi ke segala ruangan ", titahnya lagi dan Jerry tetap menurutinya, " tidak ada kan. Aku tidak akan bohong padamu ", ucapnya, dan Meili menyeringai, " mandilah ", perintahnya.
" Apa yang ingin kau lakukan ? ".
" Siapa, aku ? ".
" Aku juga akan mandi. Kemudian sarapan, dan mungkin, hari ini aku ingin belajar membuat kue ".
" Untuk apa belajar membuat kue ? ", tanya Jerry heran.
" Untukmu, untuk siapa lagi. Aku ingin jadi istrimu yang serba bisa nanti ", celoteh Meili. Ia tak tahu, kalau ada jantung yang hampir meledak karena perkataannya, " belajar membuat kue dulu, lalu belajar memasak... ".
" Padahal tidak harus begitu ", kata Jerry memotong, dan Meili menatapnya, " aku menerima apapun ", sambungnya. Tapi pada saat itu, Meili justru menggeleng, " aku harus serba bisa. Di rumah kita nanti tidak akan ada banyak pelayan, jadi aku harus terbiasa melakukannya sendiri ", katanya berangan-angan. Pupil mata Jerry membesar mendengar itu. Ia sungguh tak menyangka, perempuan itu akan memikirkan ucapannya pada saat mereka berjalan di tepian pantai malam itu.
Dan yang lebih membuatnya terkesima. Perempuan itu seolah ingin melakukannya, seolah bersiap untuk hal itu.
" Sungguh aku tidak akan membuat kau sampai harus seperti itu Meili ", ucapnya serius, " sesulit sekali pun aku. Tapi aku tidak akan membuat kau kesulitan ", katanya lagi, kesungguhannya terlihat jelas dari sorot matanya saat itu.
Dan Meili tersenyum, " aku tahu, hanya saja aku memang ingin melakukannya ", sahutnya. Saat itu, mereka sama-sama memalingkan wajah mereka dari layar. Mereka sama-sama malu, untuk menunjukan rona pipi yang memerah karena saling tersipu.
__ADS_1