
" Hay Meili " sapa Mike , sebelum ia berjalan dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
" Hay Mike " balas Meili , kemudian segera menghampiri Elin yang masih terpenung menatap ujung jalan.
" Apa yang sedang kau lihat Elin " tanya Meili sambil ikut melihat ke arah pandangan mata Elin.
" Kau mengejutkan aku Meili " ujar Elin sambil mengelus dadanya.
" Sorry " kata Meili tertawa.
" Apa kau masih ingin tetap disini ? " tanya Meili , dan Elin tertawa sambil menggelengkan kepalanya "Apa kau pergi bersama Mike " tanyanya lagi sambil berjalan beriringan menuju gedung Parsons School.
" Elin " teriak Meili , karena perempuan itu tidak menjawab pertanyaannya " astaga , kenapa kau berteriak Meili ? " ucap Elin terkejut diikuti semua orang yang juga menatap kearah mereka.
" Kau tidak menjawab pertanyaanku "
" Memang apa yang kau tanyakan ? " ujar Elin yang memang tidak mendengar.
" Apa yang sedang kau pikirkan Elin ? " tanya balik Meili , Elin terdiam sesaat kemudian menggelengkan kepalanya " kau jangan membohongiku , kalau pikiranmu sedang berada di sini , tidak mungkin kau tidak mendengarku " jelas Meili.
" Sungguh tidak ada apa apa Meili " kata Elin berkilah , karena memang tidak mungkin mengatakan kalau ia memang sedang memikirkan Daniel yang tidak lain adalah kakaknya Meili.
" Baiklah kalau kau tidak ingin menceritakannya padaku , tapi katakan kenapa kau bisa datang bersama Mike ? "
" Astaga aku hampir lupa kalau kalian tinggal di apartemen yang sama " lanjut Meili.
" Kami bertemu di lobby apartemen , dan dia menawarkan ntuk pergi bersama , aku menerima ajakkannya karena waktuku yang sudah hampir terlambat , dan itu sungguh tidak sengaja " jelas Elin , dan Meili menyimak sambil menahan bibirnya untuk tertawa , " kenapa kau begitu takut Elin , aku hanya bertanya " ujar Meili yang akhirnya tidak mampu menahan mulutnya untuk tertawa.
" Apa yang lucu Meili ? " tanya Elin heran.
" Apa kau tidak sadar , kau berbicara seperti sedang menjelaskan pada pacarmu " jelas Meili.
" Sungguh " tanya Elin yang bingung pada dirinya sendiri.
" Sudahlah , sepertinya kau masih lelah karena perjalananmu " ujar Meili dengan merangkul pundak Elin , lalu melanjutkan langkah mereka.
" Sampai bertemu Elin , setelah jam pelajaran pertama selesai aku akan langsung menghampirimu " ucap Meili saat mereka berada di lantai gedung Seni Kreatif dan Desain tempat Elin belajar.
Sedangkan Meili , ia harus menaiki dua kali lagi tangga eskalator atau lift untuk mencapai kelasnya , dan akhirnya setelah berpikir panjang Meili memutuskan untuk mengambil Study Bisnis dan Management di Parsons School , walau ia sendiri belum yakin , yang penting ilmunya akan berguna jika nanti Daniel meminta untuk ikut andil dalam mengurus perusahaan keluarga mereka .
" Bye Meili " balas Elin , yang kemudian segera masuk kedalam kelas , karena sebentar lagi dosen mata pelajaran pertama akan segera datang.
****
Wajah Daniel begitu tidak bersahabat pagi ini , bahkan saat memasuki lobby kantor , ia mengabaikan semua sapaan para karyawan.
dan hanya Reza yang memberanikan diri untuk berbicara pada Daniel dan itu untuk hal yang di anggap paling penting untuk di bicarakan , sebenarnya laki laki muda itu sudah terbiasa menghadapi mood tidak baik dari Tuannya.
Namun yang membuat Reza bingung , kenapa Daniel tiba tiba kembali dingin seperti ini , setelah beberapa hari yang lalu , laki laki itu terlihat begitu bahagia dengan senyum yang tidak pudar dari bibirnya , bahkan untuk pertama kalinya Reza melihat wajah Daniel seperti itu , tapi hari ini wajah itu berubah menjadi 180° , tanpa garis senyum , yang terlihat hanya tatapan tajam dan wajahnya yang dingin.
" Kau bisa pergi Reza , dan beri tahu aku jika meeting akan segera di mulai " ucap Daniel yang sedang berhenti di depan pintu ruang kerjanya.
" Baik tuan , hubungi saya jika ada sesuatu yang anda butuhkan " kata Reza yang masih tetap berdiri di belakang Daniel.
tanpa menjawab ucapan Reza , Daniel segera masuk ke dalam ruangannya , meninggalkan Reza yang langsung menarik nafas legah karena bisa terlepas dari Daniel , walau hanya sebentar tapi waktu itu cukup untuk mengatur detak jantungnya yang sedari tadi terus berdetak cepat karena menahan cemas menghadapi Daniel .
__ADS_1
" Kau harus bertahan jantung " gumam Reza seraya pergi meninggalkan ruangan Daniel.
~
Daniel terdiam dengan mata yang menatap ke luar gedung , dinding yang hanya di lapisi kaca , tentu membuat kota New York terlihat begitu jelas dari sudut ruang kerjanyal , namun bukan itu yang menjadi fokus utamanya saat ini , matanya menatap kota New York namun pikirannya masih tertinggal di Parsons School.
" Kenapa dia harus bersama Mike ?, dan kenapa aku harus kembali berurusan dengan laki laki sialan itu " gumam Daniel , rasa emosi yang sudah meredah selama tiga bulan ini kembali muncul , ia masih tidak bisa menyangka sampai hari ini , laki laki yang sudah ia anggap seperti adiknya , malah berselingkuh dengan kekasihnya sendiri.
Tidak ada penjelasan tentang bagaimana awal perselingkuhan itu bisa terjadi , walau setengah tak percaya tapi Daniel sudah memastikan dengan mata dan kepalanya sendiri , dua manusia terdekatnya itu sedang berciuman di dalam sebuah club malam.
Walau ia begitu penasaran bagaimana bisa Hannah berselingkuh dengan Mike , namun rasa penasaran itu terus ia buang dari pikirannya , tidak ada alasanmya untuk tahu , semua sudah jelas , perselingkuhan itu terjadi dengan kesadaran mereka , dan Daniel tidak ingin kembali membuka lukanya hanya untuk mengetahui alasan hubungan sialan itu terjadi .
" Apa aku berlebihan karena tidak menyapanya , tapi aku tidak bisa menyembunyikan rasa cemburuku " kata Daniel yang kembali merasa cukup geram mengingat keadaan tadi pagi " tapi dia tidak salah Daniel , dia tidak tahu tentang perasaanmu dan tidak tahu kalau kau membenci dia bersama laki laki lain , terlebih itu Mike " lanjutnya lagi yang berbicara pada dirinya sendiri.
" Astaga kau memang berlebihan Daniel , bagaimana setelah kejadian ini malah membuat hubungan kalian semakin buruk "
" Tidak mungkin seorang Daniel kalah sebelum berperang , kau harus melakukan sesuatu , " lanjutnya ,
tidak salah jika orang yang melihatnya akan berpikir bahwa laki laki tampan itu sudah gila , karena ia terus berbicara sendiri tanpa ada lawan bicaranya .
~
" Ini untukmu " ucap Meili sambil memberikan kotak makan pada Elin , " apa ini meil ? " tanya Elin bingung.
" Roti Coklat panggang dan Sandwich " jelas Meili " makanlah , walau sudah dingin tapi itu sangat special " lanjutnya dan Elin tersenyum saat melihat isi dalam kotak makanan itu.
" Tentu special karena ini hasil buatanmu sendiri " kata Elin tertawa dan ia memilih Sandwich untuk menu pertama yang masuk ke dalam mulutnya " sangat enak Meili " ucapEelin dengan mata berbinar " sungguh ? " tanya Meili tersenyum.
" Ya ini sangat enak , rasanya begitu pas dengan roti yang begitu lembut " jelas Elin yang begitu bersemangat mengunyah makanannya.
" Akan aku pikirkan jika ilmu yang aku dapatkan di sini tidak berguna " sahut Meili tertawa , " tapi ini bukan buatanku lin , ini buatan ibuku " jelasnya , " benarkah ? , aku sungguh beruntung hari ini , katakan pada ibumu aku sangat menyukainya , ini Sandwich terenak yang pernah aku coba " ucap Elin dengan wajah yang begitu terharu.
" Kau harus mencoba roti coklatnya juga "
" Tentu meili , bahkan aku takkan membiarkan ini tersisa sedikit pun " ucap Elin , setelah menghabiskan dua potong Sandwich , ia mengambil roti coklat dan segera menggigitnya " apa keluarga kalian pembuat roti Meili " tanyanya , yang membuat Meili sedikit tersedak dengan pertanyaan polos sahabatnya itu , " tidak Elin , keluargaku hanya penikmat roti bukan pembuat roti " jelas Meili sambil menahan bibirnya untuk tertawa , " emm.. aku pikir keluargamu pembuat roti enak ini " katanya lagi.
" Apa kau sungguh tidak mau Meili ? " tanya Elin memastikan dan Meili menggelengkan kepala " habiskan jika kau memang begitu menyukainya "
" Kau tahu kenapa roti itu begitu special ? "
" Karena ini buatan ibumu " jawab Elin tertawa.
" iya, itu juga salah satu alasannya , tapi yang lebih special karena Sandwich itu di berikan oleh Daniel untukmu " jelas Meili , membuat Elin tiba tiba terdiam dengan mulut yang masih di penuhi makanan.
" Aku pikir , kau menjadi orang special untuknya " lanjut Meili tertawa.
" Itu tidak mungkin Meili , kami tidak memiliki hubungan apapun " bantah Elin.
" Ceh, aku sangat mengenal kakakku Elin , kau tahu selama ini dia tidak pernah membagi Sandwich itu padaku , walau aku juga tidak pernah membiarkannya menyentuh roti coklatku , makanan ini sangat berharga untuk kami , karena di buat langsung oleh tangan ibuku " jelas Meili dengan tersenyum.
" Mungkin kami akan membiarkan roti ini membusuk dari pada harus membaginya pada orang lain , tapi sekarang untukku itu tidak lagi , karena aku sudah memiliki kamu , sahabat yang tidak kalah berharga dari roti coklat buatan ibuku ,
dan aku bisa pastikan begitu juga Daniel , dia tidak akan memberikan Sandwich itu padamu , kalau saja kau tidak sama berharga untuknya "
Elin terdiam , rasanya roti yang ia makan tiba tiba menjadi susah untuk di cernah " mungkin dia memberikannya karena merasa sudah kenyang Meili , kau terlalu berlebihan , kakakmu tidak mungkin menganggapku seistimewah itu " ucap Elin berusaha untuk menyangkal , karena itu sangat tidak mungkin baginya , tidak ada yang special selama pertemuan singkat antara ia dan Daniel , walau sebenarnya , hatinya sedikit menghangat saat Meili mengatakan hal mustahil itu .
__ADS_1
" Itu pasti tidak mungkin , kalau yang di katakan Meili itu benar , kenapa dia tidak menyapaku tadi pagi , bahkan terlihat seperti sengaja mengabaikan " batin Elin yang tanpa ia sadari raut wajahnya berubah menjadi sedih .
" Aku tidak memaksa kau untuk percaya Elin , tapi yang perlu kau tahu , aku tidak pernah bercanda saat mengatakan tentang keluargaku " ujar Meili tersenyum namun dengan tatapan yang begitu serius .
" Aku pergi dulu " pamit Meili yang beranjak dari duduknya.
" Mau kemana ? "
" Aku harus mengurus mobilku " jelas Meili.
" kotak makanan mu "
" Bawalah pulang , itu masih menyisakan satu Sandwich dan kau harus menghabiskannya Elin, karena aku sudah mengatakan kalau Sandwich itu sangat special untukmu " ucap Meili yang kemudian pergi lebih dulu meninggalkan Elin yang menatap kosong pada kotak makanan miliknya.
" Bercandamu kali ini tidak lucu Meili " gumam Elin yang tanpa sadar menghela nafasnya.
****
" Apa aku juga harus menyimpan sisa Sandwich ini " ujar Elin yang tiba tiba menyayangkan sepotong Sandwich itu untuk di makan , " astaga ,aku akan benar benar menjadi gila " lanjut Elin merutuki ke bodohannya .
" Itu sangat tidak mungkin , Meili pasti bercanda dengan ucapannya , tidak mungkin Daniel menganggapku seperti itu ,
iya , itu tidak sangat mungkin , sangat tidak mungkin " gumam Elin sepanjang menaiki lift menuju lantai apartemennya .
ting " pintu lift terbuka.
" Aku harus tidur , agar pikiran gila ini pergi bersama mimpi " ucapnya sambil berjalan keluar dari dalam lift menuju pintu apartemen " oh my god , otakku benar benar sudah gila " ucap Elin terkejut karena melihat bayangan Daniel sedang bediri di sisi pintu apartemennya .
Elin terus melanjutkan langkahnya dengan pikiran bahwa laki laki yang ia lihat adalah halusinasi dari otaknya.
" Kenapa kau tidak mau hilang , astaga kenapa bayangannya malah semakin nyata " lanjutnya yang berada semakin dekat pada bayangan Daniel.
" Mungkin sekarang aku sedang berada di alam mimpi , ini pasti hanya mimpi " ujar Elin yang meyakinkan dirinya sendiri , karena tidak mungkin tiba tiba Daniel berada di depan pintu apartemennya , dan sekarang sedang menatapnya dengan tersenyum , senyum manis yang slalu berhasil membuat jantung Elin berpacu lebih cepat.
" Apa kau mengabaikanku ? " tanya Daniel , Elin yang baru saja ingin membuka pintu , kembali memutar wajahnya menatap tidak percaya pada bayangan yang sedang mengajaknya berbicara .
" Kau terlihat sungguhan " ujar Elin , dengan mata yang menatap tidak berkedip pada Daniel.
" Apa yang terjadi padamu ? " tanya Daniel panik dengan kedua tangan yang menangkup pada pipi Elin .
" Apa aku masih berhalusinasi , tapi sentuhan tangannya seperti nyata " ucapnya lagi yang masih menatap tidak percaya pada tubuh Daniel di hadapannya.
" Hey , aku memang nyata " kata Daniel yang mendekatkan wajahnya , bahkan sangat dekat pada wajah Elin.
Bola mata Elin membulat sempurna , saat menyadari kalau wajah yang berada tepat di hadapannya ini , bukan lagi bayangan halusinasi seperti yang ia pikirkan.
" Apa sekarang aku masih terlihat seperti halusinasi ? " tanya Daniel dengan bibir yang ia tahan untuk tertawa .
" Ini sangat memalukan " gumam Elin dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat , segera ia membuka pintu dan masuk ke dalam apartemen , tidak peduli dengan Daniel yang masih berdiri di depan pintu.
" Kau slalu saja membuatku gemas " gumam Daniel dengan bibir yang terus tersenyum karena tingkah konyol Elin.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚
__ADS_1