
Hari ini Daniel sudah di bolehkan untuk kembali ke rumah. Tubuh gagah yang menggigil kemarin pagi, saat ini terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Wajahnya berseri dengan senyum yang merekah.
" Kenapa calon istriku belum bisa pulang dokter ? " tanya Daniel yang kini duduk disisi ranjang Elin.
" Nona Merlinda masih harus istirahat disini Tuan " jelas Dokter dengan sedikit tertawa.
Daniel menatap pada kekasihnya yang masih terbaring, dengan perempuan itu tersenyum padanya, " apa yang kau rasakan sayang ? " tanyanya, dengan mimik wajah cemas.
" Aku memang masih pusing " jelas singkat Elin.
" Tapi tidak ada yang serius kan dokter ? " tanya Daniel kepada dokter Bima yang masih berada disana.
Dokter Bima terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala, " nona hanya masih harus istirahat saja " jelasnya tersenyum.
" Baiklah saya tinggal dulu. Jangan lupa minum obatnya teratur jika ingin cepat pulang ya Nona Merlinda " katanya lagi pada Elin.
Daniel mendengus, " kalau seperti ini sama saja aku masih belum keluar dari rumah sakit " ucapnya dengan heleaan nafas.
" Kenapa begitu tuan ? " sahut Dokter Bima sedikit heran.
" Ya dokter. Selama calon istriku disini tentu aku juga tidak akan kemana-mana, tetap disini sampai dia juga di nyatakan pulang " jelasnya, membuat semua orang yang berada di ruangan terkekeh.
" Padahal pagi ini aku bersemangat datang kemari untuk menjemputmu Rem " ujar Nathan, di ikuti Alfin yang mengangguk, " Harusnya kita datang membawa pakaian dan satu pelayan kemari " katanya.
" Dasar bodoh. Apa kau kita ini hotel berbintang huh " cercah Amel.
" Bunda lihat menantumu mengatakan anakmu bodoh " seru Alfin mengadu pada Wilna. Melihat itu mata Amel membesar ke arah Alfin, " aku tidak sengaja bunda " ucapnya dengan wajah memelas.
" Jangan di biasakan berkata seperti itu pada suami Amel. Biar anak bunda memang kadang suka bodoh, tapi dia kepala rumah tangga dan juga pemimpin untukmu " ucap Wilna dengan menahan tawa.
Mata Alfin membesar oleh ucapan ibunya," Bunda kenapa harus ada kadang bodohnya sih " serunya tak terima.
" Karena memang seperti itu kok " sahut Wilna. Mendengar itu Amel langsung memberikan mimik wajah yang mengejek pada suaminya, " rasain di katain bunda " cercahnya tertawa.
" Tapi Amel juga tidak boleh gitu " ucap Wilna lagi.
" Iya Bunda "
" Bagaimana pun suami di tetap suami. Pemimpin yang harus di patuhi dalam rumah tangga kita ".
" Ini untuk semua juga " tambah Wilna lantang.
__ADS_1
Green yang semula ingin mengejek Amel menjadi langsung diam dengan wajah yang menunduk.
" Untuk Green dan Nathan juga gitu. Kita seorang istri harus hormat dengan suaminya. Bunda berkata seperti ini, bukan karena Nathan dan Alfin anak bunda tapi karena memang seperti itu kebenarannya. Sebagai ibu, Bunda harus menegur jika itu tidak baik "ucap Wilna yang mendapat anggukkan oleh Mala.
" Elin dan Daniel juga harus seperti itu nanti ".
" Iya bunda " sahut Elin dan Green bersamaan.
" Hidup para suami " seru Alfin dengan bangga, begitu pun Nathan dan juga Daniel yang sebentar lagi akan menjadi suami.
" Eeeiitt. Tapi seorang suaminya juga sebaliknya, jangan karena merasa harus di hormati malah jadi semena-mena dengan istri, itu juga tidak boleh. Di larang keras " ucap Wilna, dengan menekankan setiap kata di ujung perkataannya.
" Dengerin tuh kata Bunda di larang keras " sambung Amel.
" Bunda pasti tahu, anak bunda tidak mungkin seperti itu. Anak-anak bunda adalah suami idaman. Suami yang mencintai istrinya dengan segenap jiwa raga " timpal Alfin dengan percaya diri.
" Dih.. " sergah Amel semakin kesal. Dan dengan cepat menutup mulutnya kembali.
" Mel.. " tegur Green berdelik.
" Terimakasih untuk Tausiah pagi ini bunda " kata Alfin dengan menahan tawa, membuat wanita paruh baya itu berdelik ke arahnya, " becanda bunda " ucapnya dengan menangkup bibirnya.
" Kalau begitu bunda pulang dulu. Green dan Amel tetap disini jaga Elin " ucap Wilna dan kedua perempuan itu mengangguk.
" No no,sepasang manusia yang akan menikah tidak boleh di tinggal berdua, karena godaan dari setan semakin kuat " cercah Wilna.
" Astaga bunda Bunda " erang Daniel, " kami sudah sering berdua tapi tidak pernah terjadi apa apa bun" katanya membantah.
" Itu dulu. Kalau sekarang setan menggodanya dua kali lipat. Bunda takut kali ini kamu enggak kuat "
Mendengar itu tawa dalam ruangan pecah. Terlebih Alfin dan Nathan, " sabar Rem tinggal sebentar doang " ucap Alfin di sela tawanya.
" Ayo Ibu Elin kita pulang. Anda juga harus istirahat, biar yang menemani Elin, Green dan Amel. Aku yakin dia akan lebih cepat sembuh kalau di temani kedua sahabatnya " seru Wilna.
Amel dan Green dengan cepat mengangguk, " itu pasti bunda " sahut Green.
" Kalian tidur disini saja sampai Elin sembuh. Nathan dan Alfin pulang kerja juga kemari.Biar Naina sama bunda dulu ".
" Siap Bunda " sahut bersamaan dari dua pasang anak-anaknya. Begitu pun Daniel yang ikut mengangguk.
" Kalau begitu bunda tinggal dulu "pamit Wilna
__ADS_1
" Ya bunda "
" Ayo Ibu Elin " ajaknya pada Mala.
Wanita paruh baya itu mendekat pada putri sulungnya, " apa tidak apa-apa ibu pulang ? " tanyanya pada Elin.
Elin mengangguk lemah, " Ya ibu. Ibu harus istirahat. Green dan Amel pasti akan menjagaku dengan baik, jadi ibu tenang saja ".
" Baiklah. Hubungi ibu jika kau menginginkan sesuatu. Ibu akan kembali besok "
" Hemmm " sahut Elin.
Wilna dan Mala kini telah pergi dari ruang rawat Elin dan Daniel, meninggalkan anak muda yang berpasang-pasangan.
" Aku seperti Flashback " ujar Amel.
" Hemm.., Aku juga " sahut Green tertawa, " dulu kita semua juga pernah tidur di rumah sakit, karena aku jatuh di sekolah waktu hamil Naina " katanya kembali mengingat masa lampau mereka.
" Iya waktu itu kau punya kamar tidur sendiri bersama kak Nathan. Sementara aku, Elin, Alfin dan kak Ge.... " sambung Amel yang terhenti sesaat, " harus tidur di sofa " sambungnya begitu pelan dan mengutuk dirinya sendiri karena telah salah bicara.
" Kau benar benar membuat rusak pagi ini Mel " cercah Green, sementara Nathan dan Alfin sudah tertawa.
" Baiklah kami juga sepertinya harus berangkat ke kantor sekarang " pamit Alfin serius, dan Nathan dengan cepat melihat kepada alroji di tangannya, " astaga hampir saja kita terlambat Fin " serunya dan langsung bergegas.
" Sayang ayo antar kami ke bawa " pintanya pada Green dengan mata yang sedikit membesar, memberi isyarat. Untungnya Green langsung mengerti, " ayo " balasnya dengan ikut bergerak.
" Ayo Mel ".
" Aku disini saja Green " balas Amel.
" Sayang aku tidak turun ya " lanjutnya pada Alfin.
Green mendengus. Lalu memutar langkahnya cepat menuju saudara iparnya itu, " kau selalu saja tak paham maksud orang lain " cercahnya kesal sambil menarik tangan perempuan itu pergi, " Green aku capek kalau harus turun " keluh Amel.
" Kau harus turun. Biarkan Elin dan Kak Daniel berdua" bisik keras Green yang masih terdengar jelas di telinga Daniel dan Elin.
" Oh gitu maksudnya. Bilang dong Green " ucap santai Amel. Dan setelah itu ia melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan.
" Ayo sayang, aku akan mengantarmu sampai pintu mobil " ucapnya pada Alfin, membuat semua orang yang mendengar tertawa.
" Kak manfaatkan waktunya dengan baik, sebelum kami kembali " seru Green pada Daniel, lalu laki laki itu mengangguk tertawa," terimakasih telah mengerti" ucapnya, membuat Elin yang berada di atas ranjang berdelik.
__ADS_1
" Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu bukan ? " serunya. Namun, semua orang seperti tidak peduli dengan langsung berjalan meninggalkan ruangan.
" Ingat kata bunda Rem " ujar Alfin sebelum benar benar menghilang dari balik pintu.