
Elin berulang kali menghela nafas , dadanya terasa sesak oleh pikiran yang berkecamuk di dalam pikirannya dan membuatnya seperti merasa kembali terhempas di dasar jurang setelah ia berusaha bersusah paya untuk mendaki , mungkin orang-orang lain tidak akan paham bagaimana ia sulit bertahan selama ini , mencoba untuk kembali bahagia dan baik-baik saja bersama perasaan yang hancur.
Kembali ia menarik nafasnya lebih dalam sambil terus menatap pada bias lampu taman di tengah rimbun dedaunan yang masih tersentuh air hujan , udara dingin malam tak membuatnya beranjak dari jendela kamar yang terbuka , " apa sekarang kau bahagia Gerry ? " tanyanya sambil menatap kearah langit malam , dan matanya terfokus pada satu bintang yang sangat terang lalu kembali mengingatkannya pada satu malam sebelum hatinya begitu hancur , " apa itu kau ? " gumamnya lagi dengan bibir yang bergetar.
" Aku sungguh tidak melupakanmu Gerry " ucapnya dengan suara tersendat oleh air mata yang tidak bisa tertahan untuk keluar , " bahkan mungkin tidak akan pernah " sambungnya dan kini air mata itu sudah mengalir semakin deras , berulangkali ia menyeka buliran kristal dari wajahnya namun karena perasaan yang begitu sesak oleh luka air mata itu seolah tidak bisa terhenti bahkan kini tangisan itu terdengar semakin pilu , " orang-orang tidak mengerti bagaimana aku bertahan selama ini Gerry , orang-orang tidak tahu bagaimana hancurnya aku setelah kau tinggalkan aku untuk selamanya , tidak mudah sungguh tidak mudah menjadi aku selama ini Gerry " racaunya dengan begitu hancur , mungkin tangisannya terlihat berlebihan untuk sebagian orang tapi hanya ia yang tahu bagaimana terlukanya saat kenangan pahit itu kembali di ungkit , mungkin orang lain berpikir itu hanya sebuah kalimat yang biasa untuk di bicarakan tapi untuk dia yang mengalami dan berada di posisinya saat ini bukan hal yang mudah , membuat dirinya untuk kembali bahagia setelah semuanya hancur tanpa tersisa sungguh sangat tidak mudah dan kembali lagi karena semua orang tak paham bagaimana menjadi dirinya selama ini.
" Maaf aku kembali mengganggumu malam ini , aku harap kau sungguh bahagia Gerry " ucapnya yang kini kembali menatap pada satu bintang yang masih terus bersinar terang kearahnya , bahkan saat ini sinarnya terlihat lebih terang dari sebelum ia menangis.
" Ah maafkan aku yang masih terlalu cengeng " sambungnya sambil menyeka air mata yang sesekali masih menetes , " kau pasti sudah begitu bahagia bersama putri-putri di surga "
Kali ini bibirnya tersenyum bersama mata sendunya yang masih tersisa air mata , " aku yakin kau juga pasti bahagia melihat keadaanku saat ini , dia lelaki yang tampan bukan ? , dan kau juga " katanya seolah-olah saat ini laki-laki di masa lalunya itu sedang mengajaknya berbicara.
" Dia sama baiknya sepertimu , yang membuatnya berbeda dia hanya sedikit dingin tapi tidak apa-apa aku sudah pernah menemukan lelaki yang humoris saat bersamamu" ujarnya tertawa , " kita harus sama-sama bahagia Gerry , walau di tempat yang berbeda " sambungnya dan kembali merasa hatinya terasa sesak terlebih untuk kalimat terakhir yang baru saja ia ucapkan.
Matanya kembali berkaca-kaca oleh rasa rindu yang tiba-tiba hadir , dan perlahan ia pejamkan bersama helaan nafas yang terdengar semakin berat,
semilir angin malam yang menerpa lembut wajahnya seolah memberi isyarat bahwa tidak ada yang salah menikmati rasa rindu untuk seseorang yang pernah mengisi begitu dalam hatinya , dan tidak ada yang salah kembali mengingat seseorang yang pernah menciptakan hari-hari yang penuh bahagia , meski itu hanya masalalu dan rasa rindu tidak bisa di salahkan ,karena tempatnya masalalu adalah sesuatu yang akan kita rindukan suatu hari nanti tentunya seperti dirinya saat ini.
Kenangan dan semua tawa akan lelaki itu kembali muncul di dalam pikirannya ,
test " buliran kristal itu kembali menetes , rasa rindu dan semua kenangan benar-benar membuat perasaanya kembali sesak , " mungkin kau memang ada untuk menjadi sebuah kenangan Gerry " ucapnya tanpa membuka mata , namun perlahan kenangan dalam pikiran itu perlahan meredup dan terganti oleh sesosok pria yang menghampirinya dengan tersenyum , sebuah senyum manis yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap kali melihatnya , " Daniel " gumamnya tersenyum tatkala menyadari bayangan laki-laki itu hadir di dalam pikirannya.
__ADS_1
Ia berdecih bersama senyum yang tak pudar, lalu perlahan matanya terbuka dan ia di buat terkejut saat melihat senyuman yang ada di pikirannya kini terlihat begitu nyata , " i love you nona Merlinda " ucap manis dari seorang pria dengan setangkai mawar merah di tangannya.
Mata Elin masih tidak berkedip , ia masih merasa begitu sulit untuk membedakan mana pikiran dan mana sebuah kenyataan , namun yang pasti senyum itu sama-sama begitu indah ,
" Cup "
Tanpa permisi Daniel mengecup gemas bibir kekasihnya , " jangan menatapku seperti itu " ucapnya yang kali ini berhasil membuat wanita itu tersadar , " aku kira kau hanya bayangan yang hadir dalam pikiranku Daniel " ucapnya begitu polos , namun berhasil membuat Daniel tersenyum semuringah.
" Baguslah jika aku juga berada di pikiranmu " ucapnya dan sesaat ia di kejutkan oleh pelukan yang tiba-tiba merengkuhnya dengan begitu kuat , " berjanjilah untuk terus mencintaiku Daniel " ucap Elin yang terdengar seperti sebuah permohonan yang begitu dalam.
" Semua yang aku lalui selama ini begitu sulit dan bersama kau semuanya terasa sangat mudah , aku sudah memiliki banyak harapan padamu Daniel dan aku tidak ingin lagi kecewa " sambungnya dengan suara yang mulai terdengar begetar , Daniel masih terdiam dengan tubuh yang bergerak untuk memperat rengkuhannya dan berulang kali mengecup dalam ujung kepala kekasihnya , " kau tidak perlu khawatir , aku sudah menjanjikan hidupku untukmu " ucapnya bersungguh-sungguh dan tidak ada keraguan di dalamnya.
" Aku mencintaimu Daniel " ucapnya begitu dalam.
" Aku pun begitu dan aku mohon jangan pernah meragukannya "
~
Semua orang masih terdiam dan menunggu dengan sabar di meja makan untuk menanti dua orang yang belum hadir di antara mereka , " apa ucapanku kita sungguh menyinggungnya Green ? " tanya Amel yang memang terlihat gusar di tempatnya , dan berulang kali ia melihat ke arah lorong besar sebagai pembatas ruang makan dari rumah mewah itu.
" Kita bicarakan lagi padanya nanti " balas Green yang tak kalah cemas.
__ADS_1
" Apa yang sudah terjadi ? " tanya Nathan yang memang sangat penasaran apa penyebab Elin menjadi begitu dingin dan memilih untuk tidak begabung pada mereka , " tanpa sadar kami mengungkit tentang kak Gerry padanya " jelas Green dengan penuh sesal.
Mata Nathan dan Alfin membesar seketika , dan beruntungnya disana hanya ada mereka berempat karena Viona memilih untuk tidur lebih awal bersama Naina.
" Kenapa kalian melakukan itu ? " bentak Nathan tanpa sadar dengan mata yang terpejam sesaat , " dimana pikiran kalian saat mengungkit hal yang kalian tahu itu sangat menyakitkan untuknya " sambungnya tanpa menurunkan nada bicaranya , Green dan Amel benar-benar terdiam bahkan saat ini lidah tajam Green seolah tidak berfungsi karena ia menyadari tidak ada pembelaan untuk kesalahannya.
" Tidak mudah menjadi dia sayang dan kalian pasti tahu itu " sambung Alfin kepada Amel dengan nada bicara yang berbeda dari Nathan.
" Kami sungguh tidak sengaja melakukannya "
" Mulai sekarang jangan pernah lagi melakukan itu , kalian tidak pernah tahu seperti apa sakitnya saat luka yang berusaha untuk di sembuhkan , lalu tanpa sengaja kembali terbuka " ucap kembali Nathan yang membuat Green dan Amel benar-benar terdiam.
" Jangan menganggap enteng perasaan orang lain , sekali pun itu untuk sebuah candaan " tambahnya begitu serius dan kini Green sudah menundukkan kepalanya , ia benar-benar tidak berpikir jika perkataan yang begitu sepele sudah berhasil membuat sahabatnya terluka dan sekarang ia benar-benar menyesalinya.
" Jika bukan dia yang mulai berbicara, maka kalian tidak boleh mengungkitnya " ucap Nathan dengan nada bicara yang sedikit lebih santai.
" Jangan lagi mengulanginya " tambahnya dengan lembut sambil mengusap lembut ujung kepala istrinya ,
Green kembali menegakkan kepalanya dan menatap sendu kearah suaminya " aku sungguh tidak sengaja " ucapnya penuh sesal.
" Aku tahu , kau tidak mungkin dengan sengaja menyakiti sahabatmu sendiri " balas Nathan dan berusaha menenangkan istrinya yang terlihat begitu menyesal dan merasa bersalah , begitu pun Alfin pada Amel yang sudah menangis di dalam pelukkannya.
__ADS_1