Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tidak Memihak ( Green )


__ADS_3

Suasana di dalam mobil menghening. Bersama Amel yang terus menatap keluar jendela.


Berulang kali Elin dan Green memberi isyarat pada Alfin. Menanyakan ada apa dengan wanita itu. Namun, sang suami hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, " tidak apa apa " ucap bibirnya bergerak dengan tanpa suara.


Dan saat mobil sudah kembali ke pekarangan rumah keluarga Vernandes. Amel keluar lebih dulu, dan tanpa kata meninggalkan semua orang.


" Kak, kau yakin dia tidak apa-apa ? " tanya Green pada Alfin. Sementara Elin kini terdiam dan menatap sendu pada punggung Amel yang pergi.


" Dia sedikit perasa hari ini. Dan pasti akan kembali bicara setelah perasaan baik-baik lagi. Jangan terlalu di pikirkan " jelas Alfin. Hari ini bicaranya sedikit lebih serius dari apa yang biasa ia lakukan.


Itu mungkin karena suasana hatinnya yang belum kembali normal, setelah situasi yang membuat emosinya cukup terkuras.


" Ini seperti bukan dia " ucap Green yang ikut melihat pada punggung Amel.


" Jangan di pikirkan. Setelah cukup tenang dia pasti akan kembali bicara pada kita " lanjutnya pada Elin. Dan wanita itu hanya mengangguk lemah. Namun, tidak bisa di pungkiri diamnya Amel, membuat pikiran dan perasaannya menjadi gundah saat ini.


Mereka masuk ke dalam rumah dan menemukan para orang tua yang kini sedang berkumpul di dalam ruang keluarga. Dengan Meili yang ikut berada disana. Namun, raut wajahnya terlihat begitu kesal.


" Kalian sudah kembali ? " seru Wilna riang. Namun, senyumnya memudar saat melihat mata kedua putranya memerah.


Ia tahu apa yang sudah terjadi, tapi ia memilih diam.


" Mandilah. Setelah itu kembali lagi kemari " pintanya pada anak-anaknya.


" Ada apa bunda ? " tanya Nathan menatap serius. Bersama nada suara yang masih terdengar sedikit serak, " apa ini sesuatu yang penting ? " tanyanya lagi.


" Tidak kak. Ini hanya tentang perjodohanku " Kata Meili menyambung. Dan semua mata orang yang baru datang membesar mendengar itu.


" Jangan bercanda Meili ! " seru Green tidak percaya.


" Apa aku terlihat bercanda Green " sahut Meili begitu serius.


" Mam... " seru Daniel mendekat, " apa ini tidak terlalu cepat. Rencana pernikahanku saja belum selesai " protesnya.


" Ini hanya pertemuan nak. Adikmu tidak akan langsung menikah saat ini" jelas Viona, " Kau tahu waktu kita begitu singkat disini " sambungnya.


" Tidak bisakah itu nanti saja "


" Bisa saja. Tapi sambil menunggu hari pernikahanmu. Tidak ada salahnya Meili bertemu dengan calon suaminya "


" Ini Gila " umpat Meili, dengan langsung beranjak dari duduknya, lalu pergi tanpa pamit meninggalkan semua orang.


" Mam Kau lihat !. Dia belum siap untuk hal ini dan kenapa harus terjadi hal seperti ini. Ini bukan jaman dahulu yang masih harus di jodoh-jodohkan mam " protesnya dan ini untuk kali pertamanya ia bersuara tentang masalah perjodohan adiknya, " Meili berhak menentukan jodohnya sendiri " lanjutnya begitu lantang.


" Daniel tenang " seru Elin sedikit meninggikan nada bicaranya.


lalu lelaki itu menarik nafas begitu dalam, " Mam kasian Meili.. " protesnya lebih tenang.


" Ibumu hanya ingin membuat mereka bertemu Daniel. Setelah itu biar mereka sendiri yang menentukan " timpal Wilna. " Ibumu sudah terlanjur berjanji, untuk menjodohkan adikmu dengan anak teman sekolahnya ".


" Tapi itu jika mereka berdua setuju setelah bertemu nanti. Bukankah pertemuan itu memang sebaiknya lebih cepat terjadi ? " sambung Wilna. Meski Daniel tidak mengangguk. Namun, rahang yang tadi sedikit mengeras kini perlahan kembali normal.


" Aku mohon jangan memaksanya, jika memang dia tidak tertarik nanti " ucapnya dan Viona mengangguk setuju.

__ADS_1


Kini suasana kembali tenang, " Ayo sayang. Kau bisa mandi di kamarku " ajaknya begitu enteng.


Semua mata kembali membesar saat mendengar itu, tak terkecuali Elin sendiri.


" Kau bilang apa tadi nak ? " tanya Viona pelan. Namun, menekankan setiap perkataannya.


Dahi Daniel sedikit berkerut, " Apa ada yang salah ? " tanyanya tanpa rasa bersalah. " apa ada yang salah ? " ulang Viona dengan mata yang membulat.


" Iya mam. Memang apa yang salah kalau Elin mandi di kamarku " protesnya.


" Otakmu yang salah " sahut Elin berdelik.


Semua orang kini tertawa, kecuali Daniel yang terlihat kebingungan.


" Biar Elin mandi di kamarku kak. Dia juga tidak membawa baju ganti, jadi dia bisa langsung menggunakan bajuku nanti " ujar Green pada Daniel


" Mam, cepat nikahkan. Sepertinya Dia benar-benar sudah tidak sabar " seru Nathan pada Viona untuk menggoda Daniel yang kini terlihat sedikit kesal, " padahal tadi aku tidak berpikir apa-apa " ucapnya pelan. Lalu ikut meninggalkan semua orang.


~


" Green... " panggil Elin pelan. sambil duduk di atas sofa, setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian perempuan itu pada tubuhnya.


" Hemm.. Ada apa ? " balas sang pemilik nama, yang kini tengah duduk di hadapan cermin.


Sesaat Elin terdiam dan sedikit menghela nafas, " aku terus memikirkan Amel. Apa menurutmu dia marah ? " tanyanya, bersama raut wajah yang begitu cemas.


Mendengar itu, Green ikut menghela nafas, " Dia tidak mungkin marah. Hanya saja mungkin situasi tadi membuat dia sedikit tidak nyaman. Kita harus mengerti bahwa yang kita datangi tadi adalah makam kakaknya. Aku rasa semua adik akan merasakan demikian Elin ".


Green menggeleng, " tidak sekarang. Lakukan itu setelah dia sudah ingin bicara ".


" Tapi kapan Green. Kondisi seperti ini membuatku tidak nyaman dan aku yakin Daniel juga begitu "


Green kembali terdiam sesaat, " apa menurutmu kita temui dia sekarang ? ".


" Itu lebih baik " balas Elin mengangguk. Mereka beranjak dari tempatnya masing-masing dan keluar dari dalam ruang tidur Green menuju kamar tidur Amel.


Cukup lama Green dan Elin berdiri di hadapan pintu kamar tidur Amel. Sampai akhirnya pintu kamar itu berbunyi oleh ketukan tangan Green, " Mel, ini aku dan Elin. Apa kau tidur ? " serunya dari balik pintu.


Mereka terdiam sesaat, menunggu jawaban dari dalam kamar. Namun nyatanya tidak ada balasan, " Mel.. " ulang Green, seraya kembali mengetuk pintu.


Elin mendekat, " Mel, apa kau marah " sambungnya dengan nada yang begitu lemah.


" Jangan seperti ini. Tolong bicara, jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman " lanjutnya. Wajahnya begitu tidak tenang menunggu jawaban dari dalam ruangan.


Klek


Pintu terbuka. Namun, yang keluar dari balik pintu bukanlah orang yang di tunggu.


" Masuklah " ujar Alfin.


" Sedang apa Amel kak ? " tanya Green dan Elin bersamaan.


" Tiduran, dan ia terus diam sejak tadi. Mungkin dengan kalian, dia akan bicara " kata Alfin dengan sedikit menghela nafas, " apa tidak apa apa kami masuk kak ? ".

__ADS_1


" Hemm.., silahkan " kata Alfin mengizinkan tapi ia sendiri keluar dari dalam ruang tidurnya, meninggalkan dua wanita itu, bersama istrinya.


" Mel... " panggil pelan Green, seraya melangkah dengan begitu hati-hati.


Alfin benar. Perempuan yang sedang di cemaskan kini tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya memang terpejam, tapi Green tahu perempuan itu tidak sedang tidur. Tarikan nafas yang sedikit lebih cepat, serta wajah yang terlihat tidak tenang. Membuat Green begitu yakin.


Di dekatinya ranjang tidur perempuan itu, " Mel, kami tahu kau tidak tidur " ucapnya dengan begitu tenang, " ada apa Mel ? " sambungnya.


Elin masih terdiam dengan menatap wajah terpejam Amel, " apa kau marah padaku " sambungnya di tengah suasana yang menghening.


Dan ucapan itu berhasil membuat tubuh terbaring Amel merespon. Dahinya sedikit berkerut, bersama tarikan nafas yang cukup dalam, " aku tidak marah " ucapnya dengan mata yang masih terpejam.


" Lalu kenapa, tiba tiba kau langsung pergi ?, dan kenapa kau terus diam Mel " balas Elin.


Amel kembali menghela nafas, " Jika kau jadi aku. Apa kau akan kuat menyaksikan mantan kekasih kakakmu, berada di makam kakakmu bersama calon suaminya ? " ucapnya, lalu menjedah sesaat, " Tolong kali ini posisikan aku sebagai adik Gerry. Bukan sahabatmu, Aku sungguh tidak marah Elin, dan aku juga sulit menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini... " sambungnya. Nada bicaranya begitu tenang. Namun, begitu emosional.


Green kini ikut terdiam. Ia sungguh berada di dalam kondisi yang sulit.


Di satu sisi ia paham bagaimana cemasnya jadi Elin dan di satu sisi ia juga mengerti bagaimana jadi Amel saat ini.


" Harusnya aku tidak membawa Daniel kesana. Maafkan aku Mel. Aku sungguh tidak bermaksud melukaimu.. "ucap Elin lemah.


" Tidak perlu meminta maaf. Kau pasti punya alasan untuk membawa kak Daniel kesana dan aku mengerti. Hanya saja mungkin hari ini aku begitu sensitif ".


" Aku sungguh hanya ingin tidur saat ini. dan aku harap kalian mengerti " sambungnya lebih dingin.


Elin dan Green saling menatap, " baiklah. Tidurlah " ucap Green. Namun, kakinya belum beranjak dari sana, " Kami sungguh mengerti perasaanmu Mel. tapi kau juga harus mengerti bagaimana menjadi Elin.. "


" Green.. " seru Elin di tengah ucapannya.


" Kau pasti tahu. Butuh ribuan kali untuk dia berpikir membawa kak Daniel ke makam kakakmu hari ini. Jangan membuatnya merasa bersalah di tengah kondisi yang sudah membaik Mel. Kau tahu bukan, selama ini dia lah orang yang paling terpuruk setelah kepergian kakakmu " lanjut Green. Ada ketegasan di tengah nada bicaranya yang tenang.


Amel kini terdiam di tengah tempat tidurnya.


" Aku sungguh tidak memihak pada siapa pun. dan aku mengerti bagaimana menjadi kalian berdua " sambung Green, " aku hanya melihat dari kondisi yang terbaik saat ini. Kau sendiri tahu, suasana kita begitu kacau beberapa tahun belakangan ini. Tawa kita hampa, keceriaan kita menghambar. Tidak ada yang baik-baik saja setelah kepergian kak Gerry, dan kau sendiri menyadari bahwa kita kehilangan sosok Elin karena itu ".


" Aku bukan bermaksud untuk menyalahkanmu Mel. Tapi jika sikapmu terus seperti ini, itu sama saja kau tidak ingin Elin bahagia ".


" Green.. " seru Elin kembali.


" Aku bicara yang sebenarnya Elin. Kita bersahabat begitu lama, tidak ada yang lebih menyakitkan dari kondisi kita beberapa tahun belakangan ini. Semua hancur, hanya karena satu orang yang kehilangan dirinya. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi ".


" Tapi Green. kita juga harus mengerti kondisi Amel ".


" Aku sangat mengerti Elin. Aku sudah memposisikan diriku menjadi kalian berdua " balasnya begitu tegas, " keluarlah lebih dulu Elin " pintanya serius.


Walau setengah ragu. Namun, Elin tetap melangkah keluar meninggalkan ruang tidur Amel.


" Mel.., kau tahu bukan bagaimana kondisi Elin, kita sudah berusaha untuk membuat dia membaik. Jika kau seperti ini, semua yang kita lakukan akan menjadi sia-sia Mel. Dia akan kembali menyalahkan dirinya sendiri. Walau kau sedikit kecewa, minimal jangan perlihatkan itu padanya " ucap Green, setelah Elin benar-benar pergi dari dalam ruangan.


" Aku sungguh mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku harap kali ini kau lebih dewasa " lanjutnya.


" Bicaralah, setelah kau membaik Mel. Kami menunggu " ujarnya, sebelum akhirnya ikut meninggalkan ruang tidur perempuan yang menjadi saudara iparnya.

__ADS_1


__ADS_2