
" Masuklah " teriak Daniel dari dalam ruangannya ," kenapa begitu lama ? " tanyanya sambil berjalan menghampiri pintu yang baru saja terbuka oleh kekasihnya.
" Hei ,ada apa ? " tanyanya lagi saat melihat perempuan itu terus terdiam tanpa merespon ucapannya , " emm .. ya " sahut Elin sedikit terperanjat.
" Ada apa ? " ulang Daniel dan Elin segera menggelengkan kepalanya.
" Ayo pulang " ajaknya sambil menarik jari-jari besar milik Daniel , " pekerjaanku belum selesai , apa kau mau menungguku sebentar saja "pintanya dengan begitu lembut.
Elin menganggukkan pelan kepalanya , namun tatapannya begitu kosong ," sayang apa yang sedang kau pikirkan ? " tanya Daniel kembali.
" Tidak , aku hanya sedikit kelelahan " katanya berkilah.
" Duduklah disini " pinta Daniel sambil mengarahkan tubuh perempuan itu pada soffa di dalam ruangannya , " apa kau ingin makan sesuatu "
" Tidak Daniel , lanjutkan saja pekerjaanmu "
" Kenapa menjadi ketus "
" Bukan seperti itu sayang , aku hanya ingin kita cepat pulang karena aku merasa begitu lelah "jelasnya dengan begitu lembut , Daniel kembali tersenyum , " tunggu ini hanya sebentar " ucapnya lagi sambil mengecup singkat pipi kekasihnya.
Elin menyandarkan tubuhnya di senderan soffa dan kembali teringat pada tulisan yang sedikit membuatnya jengkel , " kenapa bisa tulisan itu berada disana ? "
" Apa ada yang sengaja meletakkannya , tapi aku tidak mempunyai masalah pada siapa pun " tambahnya semakin bingung.
Drrttt drrrttt " handphone yang berada di atas meja berdering , mendengar itu Elin ikut beranjak dari duduk dan memperhatikan kekasihnya yang mulai bergerak untuk menerima panggilan telepon , " ya Reza " jawab Daniel sambil meleparkan senyuman pada kekasihnya , namun tidak bertahan lama senyum itu segera pudar berganti dengan wajah yang begitu terkejut bercampur kesal ,
Elin yang mengerti segera mendekat dan mengambil tempat untuk duduk di hadapan meja kerja kekasihnya , " bagaimana bisa ini terjadi ? " tanya Daniel yang terlihat semakin marah sambil mengusap wajahnya dengan begitu kasar dan itu tidak lepas dari tatapan Elin.
" Segera kemari dan jelaskan padaku dengan begitu rinci " ucapnya , lalu segera mengakhiri panggilan telepon.
Elin masih memilih untuk diam , walau ia sangat yakin kalau sedang terjadi sesuatu pada pekerjaan kekasihnya.
Klek " suara pintu yang baru saja terbuka oleh Reza.
" Oh maaf nona , saya tidak tahu anda disini " ucap Reza saat menemukan Elin di dalam ruangan majikannya ,
" aku akan menunggu di luar " ucap Elin yang langsung mengerti jika sedang ada pembicaraan serius antara asisten dan kekasihnya itu ," tidak ,kau harus tetap disini " kata Daniel yang langsung mencegah dengan menarik tangannya.
" Tidak apa-apa sayang , aku akan menunggu di luar "
" Aku bilang kau harus tetap disini " ucap Daniel dengan meninggikan suaranya , Elin sedikit terkejut, namun ia mengerti jika lelaki itu sedang berada di dalam pikiran yang tidak baik.
" Maaf sayang " ucap Daniel tersadar dan Elin segera memberikan senyuman dan anggukkan kepalanya untuk meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja dan mengerti.
__ADS_1
" Sunggu aku tidak apa-apa disini ? "
" Tentu sayang , kau sudah menjadi calon istriku jadi sudah sewajarnya kau mengetahui apa yang sedang membuat calon suamimu ini pusing " ujar Daniel yang sempat bercanda sebelum melanjutkan pembicaraan seriusnya pada Reza.
Reza memperlihatkan pesan E-mail yang baru saja di kirimkan oleh salah satu klien yang kecewa bahkan sampai ingin memutuskan kontrak kerja mereka , Elin yang menyimak sedari tadi ikut terkejut dengan permasalahan besar yang baru saja terjadi di perusahaan kekasihnya.
" Jadi mereka benar-benar menukar kain-kain itu dengan bahan yang palsu ? " gumam Daniel yang bertanya pada dirinya sendiri.
" Aku pikir juga seperti itu tuan " sambung Reza membenarkan.
" Apa yang harus kita lakukan tuan , waktu sangat singkat untuk kita kembali memproduksi semua kain-kain baru , dan aku pikir ini hanya salah satu klien yang cepat menyadari kecurangan ini " tambahnya lagi , membuat Daniel terlihat menghela nafasnya.
" Adakan meeting bersama Klien segera "
" Emm.. aku rasa rencana itu harus kita pikirkan kembali tuan , aku yakin orang-orang itu akan curiga dan takutnya mereka membuat rencana yang lebih buruk untuk perusahaan ini "
" Ya Reza benar sayang , semua orang yang salah dan saat kesalahannya hampir saja terungkap , maka mereka akan tidak berpikir untuk menghancurkan sekali lawannya " timpal Elin , membuat dua laki-laki di ruangan itu langsung melihat kearahnya.
" Maaf , aku sudah mencela " ucapnya begitu malu.
" Kau benar sayang " ucap Daniel sambil menepuk lembut kepala kekasihnya.
" Kalau begitu buat rencana satu persatu pada klien kita " tambahnya pada Reza dan laki-laki itu menganggukkan kepala.
" Ini sudah gila dan aku benar tidak akan mengampuni mereka " geramnya semakin kesal.
" Bagaimana ini tuan , fashion show tinggal beberapa pekan lagi dan mereka sudah mengungkapkan kekecewaannya untuk tidak menerima produk kita "
Daniel mengerang dan wajah yang sudah memerah untuk melampiaskan kemarahanya , " apa yang sebenarnya terjadi Reza ? " tanya Elin kembali mencela.
" Bagaimana itu bisa terjadi " ujar Elin begitu terkejut setelah mendengar cerita Reza.
" Dan bagaimana fashion show nanti jika tidak ada satu desainer pun yang ingin menggunakan produk kita ? " tambahnya yang ikut menjadi panik , karena ia salah satu orang yang ikut serta dalam pelaksana acara besar itu , " itu yang masih kita pikirkan nona " sahut Reza.
" Perintahkan untuk kembali memproduksi semua kain-kain itu " ucap Daniel.
" Tapi tuan waktu kita sudah begitu singkat dan siapa yang akan menggunakannya , semua perancang terkenal di negara ini seperti sudah kecewa dengan produk kita "
" Ikuti saja perintahku Reza dan produksi semampunya, aku akan terus berusaha untuk mencari Klien yang masih bisa membawa produk kita di acara itu nanti "
" Dan cari bukti untuk semua kecurangan tiga manusia itu , aku benar-benar tidak sabar ingin melihat mereka membusuk di penjara " ucap Daniel dengan wajah yang memerah karena begitu marah.
" Ayo " ajaknya begitu pelan sambil menarik tangan Elin , wajah marahnya seperti menghilang begitu saja saat berhadapan dengan kekasihnya itu.
__ADS_1
" Beritahu aku segera bagaimana perkembangannya " ucapnya pada Reza dan laki-laki itu kembali mengangguk.
~
Sepanjang perjalanan suasana begitu hening dengan pikirannya masing-masing , Daniel terus saja diam dan Elin memilih untuk tidak banyak bicara.
" Boleh aku bawa mobilmu ? " tanya Daniel tiba-tiba , Elin segera melihat kearah laki-laki itu , " ini juga mobilmu , kenapa kau harus bertanya "
" Tidak , ini sudah milikmu sepenuhnya "
" Walaupun sudah milikku sepenuhnya tapi kau sangat juga berhak atas barang-barangku , karena kau calon suamiku " jelas Elin,membuat tersirat sedikit senyuman dari garis bibir Daniel.
" Terimakasih " ucapnya tiba-tiba dan membuat Elin bingung.
" Kau sudah membuatku begitu tenang " tambahnya yang langsung mengerti arti dari raut wajah kekasihnya.
" Ceh " desis Elin dan ikut tersenyum , " kau pasti bisa ," ucapnya , sambil memeluk dan menyenderkan kepalanya pada lengan berotot milik Daniel.
" Aaaahhh , aku benar-benar bersyukur memiliki kamu di saat seperti ini " ujar Daniel yang ikut menyenderkan kepalanya pada kepala yang tersandar di lengannya.
****
" Morning Bim " sapa Elin yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Hai Elin " balas Bimo yang terlihat begitu senang dengan kedatangan perempuan itu , " kau datang begitu pagi hari ini ? "
" Ya , bangunku lebih awal " sahut Elin tertawa , namun lengkungan garis bibir itu tiba-tiba meredup saat kembali menemukan secarik kertas yang terlipat di atas mejanya.
Perlahan ia mengambil benda tipis itu , namun urung untuk segera membukanya ,
" apa ini milikmu Bim ? " tanyanya pada satu-satunya orang yang bersamanya disana.
" Tidak , bahkan dari pertama aku tiba disini aku sudah melihat benda itu "
" Benarkah ? "
" Memang apa itu ? " tanya Bimo yang ikut penasaran.
" Tidak , hanya kertas kosong dan aku pikir ini milikmu "
Bim-Bim kembali menggelengkan kepalanya , " mungkin kau menginggalkannya kemarin " ujar laki-laki itu , " mungkin " sahut Elin sambil mengangguk lemah dan terus menatap secarik kertas yang kini sudah berada di tangannya.
" Wanita jal*ng , tinggalkan Daniel atau aku akan memberitahukan pada semua orang kalau kau adalah wanita yang sudah merusak hubungan Daniel dan Hannah , dan aku yakin satu negara ini akan menyerangmu " tulisan yang tertulis di dalam kertas yang baru saja di buka oleh Elin , mata perempuan itu membesar bersama cairan bening yang siap tumpah di wajah halusnya.
__ADS_1
" Kau kenapa Elin ? " tanya Bimo dan ia segera menggelengkan kepalanya , " aku hanya sedang rindu pada keluargaku " katanya berkilah dengan senyum palsu yang ia paksakan.