
Elin keluar dari dalam kolam renang dengan kemeja yang bercucuran dengan air, " benar-benar menyusahkan " ucapnya merutuki pakaian yang ia gunakan karena cukup kepayahan saat tadi ia berenang.
Dan tidak lama Hannah juga ikut menyusul dan mengambil tempat duduk di kursi panjang di sampingnya, " Ada apa ? " tanyanya pada Elin.
" Aku kesal dengan kemeja ini. Benar-benar merepotkan ! " sahut Elin dan dirinya tertawa, " calon suamimu memang seperti itu. Jadi kau harus mengerti " ucap Hannah dengan terkekeh seraya ingin menyesap jus orange yang berada di meja di hadapannya.
" Aku harap saat sudah menikah nanti, dia tidak menjadi laki-laki yang begitu posesif " ucap Elin.
" Banyak-banyak saja berdoa " kata Hannah tertawa. Lalu menyandarkan tubuhnya di sisi kursi, " Indonesia benar-benar sangat indah. Aku seperti tidak ingin kembali ke New York " katanya seraya menatap matahari sore yang tengah menunggu waktunya tenggelam.
" Kau bisa sering datang kemari Hannah. atau setiap aku pulang kemari kau bisa ikut denganku "
" Hemmm.., aku juga berencana seperti itu. Rasanya aku sudah mulai bosan tinggal di New York " kata Hannah dengan sedikit tertawa. Namun, tatapan matanya menerawang ke arah langit dengan tawa yang kemudian memudar, " atau mungkin juga karena aku sudah bosan hidup sendiri. Disini aku seperti merasa memiliki keluarga " lanjutnya, dan ia berbicara seperti tanpa sadar.
Elin menatap ke arahnya, " lalu kami ini apa ? , kalau kau merasa hidup sendiri huh " katanya marah.
Hannah langsung saja kembali tertawa, " bukan seperti itu. Aku yakin tanpa menjelaskannya kau pasti mengerti maksudku " jelasnya dengan begitu lembut, bersama senyum teduh yang penuh arti.
" Jangan lagi merasa seperti itu Hannah. Kami disini semua keluargamu " ucap Elin tak kalah lembut, " kau memiliki kami dan jangan lagi merasa sendiri ".
" Mungkin memang bukan seperti yang kau harapkan, tapi aku yakin. Semua orang disini sama sepertiku yang akan bersedia ada di saat kau membutuhkan apapun " lanjutnya dengan ucapnya begitu tulus.
Hannah kini terdiam dengan wajah yang sedikit tertunduk. Bahkan tangan kanannya mulai bergerak untuk menepis air mata yang tiba-tiba mengalir dari pipinya.
" Hannah apa kau menangis ? " tanya Elin yang langsung beranjak dari duduknya dan mendekat pada perempuan itu, " Hannah, apa perkataanku sudah menyakitimu ? " lanjutnya semakin takut.
Hannah mengangkat kepalanya, dengan mata yang memerah. Namun, bibirnya tersenyum, " aku menangis karena begitu bahagia Elin. Aku merasa amat bersyukur karena telah di pertemukan denganmu " jelasnya, membuat Elin sedikit menarik nafas legah, " kau membuatku takut Hannah " ucapnya dan ia tersentak saat tiba-tiba Hannah merengkuh tubuhnya dengan begitu erat, " terimakasih Elin. Berkatmu akhirnya aku benar-benar merasakan bagaimana memiliki keluarga " ucap Hannah yang terdengar begitu lirih.
" Ini bukan berkatku. tapi sudah jalannya seperti ini Hannah " kata Elin dengan tersenyum.
" Aku hanya jadi jembatan untuk kau bertemu dengan orang-orang ini. Jadi jangan membuatku seperti seorang malaikat " sambungnya sambil melihat pada Green , Amel serta Meili yang masih berada di kolam renang.
" Tapi kau memang memiliki hati seperti malaikat Elin, sungguh ".
" Jangan seperti itu , itu sungguh terdengar sangat berlebihan. Dan aku sedikit tidak suka jika di sebut seperti malaikat "
" Kenapa ? , bukankah itu sebuah pujian yang menakjubkan. tidak semua orang bisa di anggap malaikat oleh orang lain Elin... "
" Tapi malaikat tidak nyata Hannah " potongnya tersenyum hambar dan Hannah terdiam begitu saja, " Maafkan aku " ucapnya begitu serius, sementara kini Elin yang bergantian tertawa, " kenapa kau menjadi begitu serius huh ".
" Tapi kau benar. Aku baru menyadari kalau kata malaikat itu cocok di sematkan untuk mengenang kebaikan seseorang yang sudah pergi, bukan seseorang yang masih hidup seperti kita " jelas Hannah dengan ikut tertawa, dan kini bergantian menjadi Elin yang terdiam.
Deg
Tiba-tiba saja seseorang yang sejak tadi ingin ia hindari dari pikirannya kini kembali muncul , bahkan bayangan itu hadir dengan senyum teduh yang menyejukkan.
Begitu saja mata Elin terpejam dengan suasana hati yang kembali resah.
Tanpa sadar ia menghela nafas begitu dalam, membuat Hannah mendengar dan langsung menoleh ke arahnya , " Lin , ada apa ? " tanyanya menjadi cemas, " apa yang terjadi ? "
__ADS_1
" Tidak Hannah, aku baik-baik saja " katanya dengan kembali membuka matanya.
" Tapi wajahmu tiba-tiba saja memucat. Apa kau sakit Elin ? "
" Tidak. Tidak aku baik-baik saja Hannah "
" Sungguh ? "
" Hemm.., Aku hanya sedikit kedinginan " jelas Elin yang tentunya itu adalah sebuah kebohongan.
Green yang sudah menyudahi aktifitas renangnya ikut mendekat pada Elin dan Hannah, " ada apa ? " tanyanya pada dua perempuan itu.
" Ntahlah, tiba-tiba saja aku begitu cemas melihat Elin " kata Hannah menjelaskan dengan masih terlihat begitu khawatir, " aku baik-baik saja Hannah " kata Elin tertawa.
" Tidak Elin, aku melihat jelas wajahmu tiba-tiba saja langsung memucat dan kau menghela nafas dengan begitu kasar sampai aku bisa mendengarnya "
Green masih diam dan menatap lekat pada Elin dan tentunya perempuan itu menyadari hal itu, " aku sungguh baik-baik saja Green " katanya dengan tersenyum. Namun Green seperti tak percaya dengan begitu saja oleh ucapannya itu.
Tangannya langsung bergerak menyentuh dahinya, " tiba-tiba saja di muncul di pikiranku Green, bahkan dia tersenyum persis seperti malaikat " katanya begitu pelan dengan hidung yang mulai memerah, serta mata yang sedikit berkaca-kaca. Namun, tentunya ia akan menahan setengah mati untuk tidak menangis, karena disana ada Hannah yang tidak mengetahui apa-apa dan ada Meili yang tentunya tidak akan suka saat mengetahui kalau dirinya tengah menangis karena mengingat laki-lali lain, bukan kakaknya.
Green tidak mengatakan apapun, selain terus menatapnya dengan penuh empati dan memegang lembut pada tangannya, " kau harus mengontrol emosimu, ingat saat ini ada seseorang yang harus kau jaga perasaannya " ucapnya begitu pelan pada Elin dan perempuan itu mengangguk.
" Ada apa ini ? " tanya Meili dan Amel yang ikut mendekat dan menyudahi renang mereka.
" Tidak ada apa-apa " sahut Green.
" Apa kalian sudah selesai ? " tanya Elin berusaha mengalihkan keadaan mereka seperti semula, " Hemmm.., aku seperti mulai menggigil " kata Meili tertawa.
" Tentu Meil "
" Tapi kau begitu pucat "
" Aku hanya sedang kedinginan " kata Elin berbohong.
" Kalau begitu masuklah "
Elin bercih, " Ceh, kau membuatku seolah seperti anak kecil Meili "
" Bukan begitu, aku hanya takut kau sakit dan Daniel pasti akan sangat cemas " jelas Meili dengan tertawa.
" Sungguh aku baik-baik saja Meil. Aku masih ingin disini untuk menikmati sunset " kata Elin sambil melihat ke arah langit yang mulai memerah dan semua orang ikut melihat ke arah pandangannya.
" Kenapa pantai menjadi tempat yang sangat sempurna untuk melihat matahari terbenam ya ? " ucap Amel, membuat semua orang terdiam seakan untuk berpikir.
" Itu kelebihan yang di miliki pantai. Orang-orang akan mendatanginya hanya sekedar untuk menikmati sunset bersama suara ombak. Begitu pun yang di miliki gunung, orang-orang tahan untuk mendaki demi hanya untuk menikmati sunrise dengan setetes embun. padahal semua orang bisa menikmati hal itu walau hanya di atas tempat tidur , tapi pantai dan gunung membuat kita menikmatinya dengan suasana yang jauh berbeda dan lebih indah " kata Green dan semua orang mendengarkannya dengan kepala yang mengangguk membenarkan.
" Keindahan yang tidak dapat di beli dengan uang " timpal Meili.
" Tapi jika tidak punya uang kita tidak akan sampai kesini Meili " sambung Amel dan semua orang tertawa.
__ADS_1
" Ya itu berarti, bahwa tidak ada keindahan yang bisa di capai dengan mudah. Seperti hidup " sambung Green.
" Matahari sore ini benar-benar luar biasa. bisa-bisanya membuat wanita-wanita gila mendadak menjadi realistis " ucap Elin dan kembali membuat semua orang tertawa.
Semua perempuan yang berada disisi kolam masih enggan beranjak meski angin sore mulai menusuk di tubuh yang hanya di tutupi oleh sedikit lembaran kain itu.
Mereka sibuk menikmati langit senja dengan mengabadikan moment itu lewat camera di hape canggih mereka.
" Fale pasti sangat menyesal karena tidak ikut kemari " ujar Hannah terkekeh dengan sibuk pada layar hapenya.
" Kau mengirim foto kita pada dia ? " tanya Elin.
" Emmm.. tidak, aku hanya membagikannya lewat history whatsapp " sahutnya dengan terus tersenyum.
Dan tiba-tiba saja semua orang terkejut oleh Meili yang tiba-tiba mendadak beranjak dari duduknya dan berlari ke ujung resort yang berada di pinggir pantai.
Lama ia berdiri di sana sambil melihat ke arah sekitar. Lalu kemudian kembali lagi kepada semua orang, " ada apa Meil ? " tanya Elin, dengan semua orang yang ikut penasaran.
" Dari tadi aku terus merasa tidak asing dengan tempat ini. Dan aku baru sadar, sepertinya bangunan di sebelah adalah Resort milik keluarga kami " ujar Meili dengan sedikit anggukan.
" Kau serius Meil? " tanya Elin yang langsung terperanjat dari duduknya.
" Hemmm.., aku juga baru mengingatnya kalau kaluarga kita juga memiliki Resort di pulau ini. Dan aku bingung kenapa Daniel tidak membuka Resort itu juga, padahal hanya bersebelahan dari resort ini "
" Karena resort ini sudah sangat cukup untuk kita Meil. Jadi kenapa harus membuka resort lagi " sambung Green, " dan lagi pula bisa-bisanya kau lupa mempunyai Resort disini " lanjutnya terkekeh.
" Jadi kau bayangkan saja Green seberapa banyak harta keluarga mereka " timpal Amel ikut tertawa.
" Bukan seperti itu. Sudah sangat lama aku tidak datang kemari jadi aku sedikit lupa " kata Meili menjelaskan.
dan Elin tiba-tiba mengubah posisi duduknya dengan menghadap pada Meili, " Kapan terakhir kalian kemari ? " tanya Elin menatap serius.
" Ntahlah aku sudah lupa, mungkin sudah sangat lama.Tapi dulu Daniel sering sesekali datang kemari "
" Kapan Daniel kemari ? " tanya Elin yang kembali begitu serius dan semua orang menjadi heran dengan tingkahnya termasuk Meili, " memangnya ada apa Elin ? " tanyanya menjadi bingung.
" Serius kapan dia terakhir kemari Meili ? "
" Ntahlah aku juga tidak ingat, tapi yang pasti itu sebelum ia menjadi sangat sibuk seperti sekarang ".
" Meil apa bisa mengingat kapan waktu itu ? "
" Memangnya ada apa Lin ? " tanya Green yang menjadi semakin penasaran dan begitu pun semua orang.
" Seingatku terakhir kali ia kemari mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Kau bisa menanyakan sendiri padanya lin "
" Apa dulu rambutnya pernah panjang ? "
" Hemmm.., sepertinya pernah. ya ya rambut Daniel pernah panjang dan terkahir kali dia memotongnya sebelum mengambil alih perusahaan"
__ADS_1
" Memangnya kenapa Elin ? , Kau membuat kami penasaran " timpal Green tidak sabar. Namun bukannya menjelaskan, Elin justru beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam resort, " nanti kalian akan tahu " teriaknya pada semua orang sebelum akhirnya ia menghilang dari balik tembok resort dan meninggalkan semua orang dengan rasa penasaran.